LOGINCengkeraman Julian pada pergelangan tangan Elara terasa seperti borgol besi. Pria itu merebut ponsel dari jemari Elara dengan gerakan yang begitu cepat dan kasar, hingga tubuh Elara terhuyung menabrak dinding studio. Napas Julian yang memburu menerpa wajah Elara, menuntut kejujuran yang mematikan.
"Apa ini, Elara? Sejak kapan seorang murid menyembunyikan rahasia dari gurunya?" Suara Julian rendah, namun mengandung ancaman yang sanggup menghentikan detak jantung.
"Itu... itu bukan apa-apa, Julian. Hanya email pekerjaan yang salah kirim," Elara mencoba berbohong, namun matanya yang bergetar tidak bisa menipu pria di hadapannya.
Julian tidak menjawab. Ia membuka kunci ponsel Elara—yang ternyata sudah ia ketahui polanya entah sejak kapan—dan menatap layar yang masih menampilkan dokumen Laporan Audit Internal Atmajaya Group. Sudut bibir Julian terangkat, membentuk seringai sinis yang membuat bulu kuduk Elara berdiri.
"Salah kirim? Laporan yang akan menjebloskan Adrian ke penjara karena penggelapan dana triliunan rupiah ini kau sebut salah kirim?" Julian tertawa hambar, lalu melempar ponsel itu ke atas matras seolah benda itu adalah sampah.
"Kau... kau yang merancang ini semua, bukan?" Elara akhirnya meledak. Keberanian yang muncul dari rasa terdesak membuatnya berani menatap langsung ke mata predator Julian. "Kau mendekatiku, melatihku, menguasai tubuhku... hanya untuk memastikan aku tidak curiga saat kau menghancurkan suamiku dari dalam!"
Julian melangkah maju, memojokkan Elara hingga wanita itu tidak punya ruang untuk bernapas. Ia meletakkan satu tangannya di leher Elara, tidak mencekik, namun memberikan tekanan yang mengingatkan Elara pada posisinya yang rendah.
"Jangan berlagak suci, Elara. Bukankah kau juga menikmati setiap detik 'pengkhianatan' ini? Bukankah kau yang memanggilku karena suamimu tidak bisa menyentuhmu?"
"Aku memanggilmu untuk merasa hidup, bukan untuk menjadi kaki tangan dalam kejahatan!" Elara berteriak, air mata kemarahan mulai jatuh di pipinya.
"Hidup?" Julian berbisik tepat di depan bibir Elara. "Kau baru benar-benar hidup saat kau bebas dari bayang-bayang Adrian. Dalam tiga hari, kerajaan Atmajaya akan runtuh. Kau punya dua pilihan sekarang: Ikut tenggelam bersama pria yang mengabaikanmu selama tujuh bulan, atau bergabung denganku dan mengambil setengah dari sisa kekayaannya."
Elara tertegun. Tawaran itu begitu kotor namun sangat menggiurkan. Di satu sisi, ada Adrian—suami yang memberikan kemewahan namun memperlakukannya seperti pajangan dingin. Di sisi lain, ada Julian—pria yang membangkitkan gairahnya namun menggunakan dirinya sebagai pion balas dendam.
"Kenapa kau begitu membencinya, Julian? Apa yang dilakukan Adrian padamu?"
Wajah Julian mendadak berubah. Kilatan amarah yang murni muncul di matanya, menggantikan aura dominasi yang biasanya terkontrol. "Dia menghancurkan hidup adikku, Elara. Dia menggunakan kekuasaannya untuk menutupi kecelakaan yang membuat adikku cacat seumur hidup sebelum akhirnya memilih mengakhiri nyawanya sendiri. Adrian harus merasakan bagaimana rasanya berada di bawah kaki seseorang."
Keheningan yang mencekam menyelimuti studio. Elara bisa merasakan luka yang begitu dalam di balik ketangguhan fisik Julian. Ini bukan lagi soal latihan Kamasutra atau gairah yang terpendam. Ini adalah perang batin yang melibatkan nyawa dan kehormatan.
"Jadi, apa keputusanmu, Nyonya Atmajaya?" Julian menarik tangan Elara, menaruhnya di atas dadanya yang bidang, tepat di mana jantungnya berdetak kuat. "Kau mau menjadi korban, atau kau mau menjadi pemenang bersamaku?"
Elara menatap tangan Julian, lalu beralih ke ponselnya yang tergeletak di matras. Tiba-tiba, interkom di dinding berbunyi. Suara kepala pelayan terdengar panik.
"Nyonya! Tuan Adrian... Tuan Adrian membatalkan perjalanannya! Beliau baru saja masuk ke halaman depan dengan wajah yang sangat marah!"
Elara dan Julian saling berpandangan. Waktu mereka habis. Adrian pulang lebih cepat dari perkiraan, dan ia pulang bukan untuk berdamai.
"Putuskan sekarang, Elara. Atau kita berdua akan hancur malam ini," desak Julian, suaranya kini tenang namun mendesak.
Elara menarik napas panjang, lalu meraih ponselnya dan menghapus email laporan audit itu di depan mata Julian. Ia menatap Julian dengan tatapan yang kini sama gelapnya dengan pria itu.
"Aku pilih diriku sendiri, Julian. Mari kita hancurkan dia bersama."
Pintu studio digedor dengan sangat keras dari luar. Suara Adrian berteriak memanggil nama Elara dengan penuh amarah. Namun, Julian justru menarik Elara ke dalam ciuman yang sangat dalam dan menuntut, tepat saat gagang pintu mulai berputar karena dipaksa buka dari luar.
***
Suara alarm di dalam kabin pesawat amfibi itu berbunyi sangat melengking dan memekakkan telinga. Angka merah di layar kendali menunjukkan waktu tinggal dua puluh detik lagi sebelum ledakan menghancurkan mereka."Aris, cepat cari bomnya di bawah kursi! Kita tidak bisa melompat di ketinggian ini!" teriak Elara sambil mencoba menahan kemudi agar tetap stabil.Aris merangkak ke lantai pesawat dengan tangan yang masih gemetar karena cedera yang dialaminya tadi. Ia menemukan sebuah kotak hitam dengan kabel-kabel rumit yang tertanam langsung ke kerangka badan pesawat."Sial, ini bom rakitan tingkat tinggi! Smith benar-benar ingin kita mati di udara!" seru Aris sambil mencoba mencabut kabel secara acak.Kembaran Elara segera mendekat dan menyingkirkan tangan Aris dengan gerakan yang sangat cepat dan tenang. "Jangan disentuh sembarangan, Aris, bom ini terhubung dengan sensor detak jantung Elara lewat sinyal nirkabel."Elara menoleh dengan wajah pucat pasi, menyadari betapa liciknya rencana cad
Pria tua itu melangkah maju dengan tenang, sementara Aris masih mengerang kesakitan di lantai gua. Elara berdiri melindungi Aris, menatap tajam ke arah sosok yang terlihat sangat berkuasa itu."Siapa sebenarnya kamu? Kenapa kamu punya alat untuk melumpuhkan Aris secepat itu?" tanya Elara dengan suara gemetar namun tegas.Pria itu tertawa kecil sambil mengetukkan tongkat peraknya ke lantai batu yang lembap. "Panggil saja aku Tuan Smith, penyokong dana tunggal yang membuat riset ayahmu bisa terwujud hingga sejauh ini."Elara melirik ke arah kembarannya yang berdiri mematung di samping meja komputer tua. "Dia bukan barang milikmu, Smith! Dia adalah manusia, sama seperti aku!"Smith hanya tersenyum dingin, seolah menganggap perkataan Elara hanyalah angin lalu yang tidak berarti. "Dia adalah perangkat keras paling mahal yang pernah aku beli, dan sekarang saatnya dia pulang ke pemiliknya."Tiba-tiba, kembaran Elara mulai melangkah mendekati Tuan Smith tanpa ekspresi sedikit pun di wajahnya.
Elara berdiri mematung di pinggir pantai, matanya tak lepas dari sosok yang berjalan keluar menembus asap tebal. Wanita itu melangkah dengan tenang, sementara api di belakangnya masih berkobar melahap sisa-sisa laboratorium."Berhenti di sana! Siapa kamu sebenarnya?" teriak Aris sambil menodongkan senjata dengan tangan yang gemetar.Wanita itu berhenti tepat sepuluh langkah di depan mereka, wajahnya tampak sangat bersih seolah api tidak menyentuhnya sama sekali. Ia mengangkat tangannya yang memegang potongan kain hitam milik Diana, lalu menjatuhkannya ke atas pasir yang basah."Diana sudah selesai, dia tidak akan bisa mengejar kita lagi untuk selamanya," ucap wanita itu dengan suara yang terdengar sangat lembut namun datar.Elara merasa dadanya sesak, ia tidak bisa membedakan apakah itu adiknya yang klon atau justru ada sesuatu yang lain. "Apakah kamu... adikku? Bagaimana kamu bisa selamat dari ledakan sedahsyat itu tanpa luka sedikit pun?"Wanita itu menatap Elara dengan mata biru ya
Suara deru mesin helikopter di atas bangunan tua itu membuat debu berterbangan menutupi pandangan. Elara mencengkeram tangan kembarannya yang masih lemas, sementara Aris sudah bersiap di balik tembok dengan senjata di tangan."Mereka sudah di sini, Elara! Kita tidak punya waktu lagi untuk berdebat soal perasaan!" teriak Aris sambil mengintip dari balik celah jendela yang pecah.Pasukan Naga Hitam terjun menggunakan tali, mendarat dengan sangat senyap namun mematikan di sekeliling laboratorium. Elara melihat wanita di pelukannya mulai membuka mata, namun ada kilat biru yang aneh di dalam pupil matanya yang tadi redup."Kakak, berikan aku senjata. Aku bisa merasakan posisi mereka semua di dalam kepalaku sekarang," bisik klon itu dengan nada suara yang mendadak dingin.Aris melemparkan sebuah pistol cadangan ke arah klon tersebut meski masih ada keraguan besar di wajahnya. "Gunakan itu dengan benar, jangan sampai kau malah menembak punggung kami saat situasi menjadi kacau!"Pintu depan l
Elara terpaku di ambang pintu bangunan tua itu, menatap sosok yang berdiri beberapa meter di depannya. Wanita itu memiliki sorot mata yang sama, bahkan bekas luka kecil di dahi yang didapat Elara saat jatuh dari pohon waktu kecil pun ada di sana."Jangan dengarkan dia, Elara! Dia cuma gumpalan daging yang diisi data digital oleh Diana!" teriak Aris sambil mengarahkan senjatanya ke arah klon tersebut.Wanita itu tidak bergerak, ia justru tersenyum tipis yang terlihat sangat tulus sekaligus menyedihkan. "Ingat boneka beruang tanpa telinga yang Ayah berikan saat kita ulang tahun ke-tujuh? Namanya Barny, dan kita selalu menyembunyikannya di bawah kasur agar tidak diambil Diana."Elara merasa lututnya lemas mendengarkan rahasia kecil yang bahkan tidak pernah ia ceritakan kepada Aris maupun Master Rama. "Bagaimana kamu bisa tahu soal Barny? Ayah bilang boneka itu sudah dibuang saat kita pindah rumah!""Ayah tidak membuangnya, dia mengambil memori itu dan menanamkannya di kepalaku agar aku m
Sekoci kecil itu terombang-ambing di tengah luasnya Samudera Hindia yang gelap gulita. Elara menatap ke belakang, menyaksikan kapal induk raksasa itu perlahan ditelan ombak sambil membawa ribuan rahasia mengerikan ke dasar laut."Sudah berakhir, Aris? Semua klon itu... mereka benar-benar hilang?" tanya Elara dengan suara yang hampir hilang ditelan deru angin.Aris yang sedang berusaha menyalakan mesin motor sekoci hanya bisa terdiam dengan wajah yang sangat pucat. "Seharusnya begitu, tapi aku tidak yakin api bisa menghapus dosa sebesar yang Adrian lakukan di sana."Cahaya fajar mulai mengintip di ufuk timur, memberikan sedikit penerangan pada wajah Elara yang penuh dengan noda oli dan darah. Ia teringat lambaian tangan klon dirinya di pinggir dek tadi, sebuah ingatan yang membuatnya merasa sangat kedinginan."Tadi aku melihat salah satu dari mereka tersenyum, Aris, rasanya bukan seperti robot yang diprogram," bisik Elara sambil memeluk dirinya sendiri.Aris akhirnya berhasil menyalaka