Home / All / HOW TO BE GOOD IN BED / Taruhan Terakhir

Share

Taruhan Terakhir

Author: Meyrna
last update publish date: 2026-03-26 18:59:19

Cengkeraman Julian pada pergelangan tangan Elara terasa seperti borgol besi. Pria itu merebut ponsel dari jemari Elara dengan gerakan yang begitu cepat dan kasar, hingga tubuh Elara terhuyung menabrak dinding studio. Napas Julian yang memburu menerpa wajah Elara, menuntut kejujuran yang mematikan.

"Apa ini, Elara? Sejak kapan seorang murid menyembunyikan rahasia dari gurunya?" Suara Julian rendah, namun mengandung ancaman yang sanggup menghentikan detak jantung.

"Itu... itu bukan apa-apa, Julian. Hanya email pekerjaan yang salah kirim," Elara mencoba berbohong, namun matanya yang bergetar tidak bisa menipu pria di hadapannya.

Julian tidak menjawab. Ia membuka kunci ponsel Elara—yang ternyata sudah ia ketahui polanya entah sejak kapan—dan menatap layar yang masih menampilkan dokumen Laporan Audit Internal Atmajaya Group. Sudut bibir Julian terangkat, membentuk seringai sinis yang membuat bulu kuduk Elara berdiri.

"Salah kirim? Laporan yang akan menjebloskan Adrian ke penjara karena penggelapan dana triliunan rupiah ini kau sebut salah kirim?" Julian tertawa hambar, lalu melempar ponsel itu ke atas matras seolah benda itu adalah sampah.

"Kau... kau yang merancang ini semua, bukan?" Elara akhirnya meledak. Keberanian yang muncul dari rasa terdesak membuatnya berani menatap langsung ke mata predator Julian. "Kau mendekatiku, melatihku, menguasai tubuhku... hanya untuk memastikan aku tidak curiga saat kau menghancurkan suamiku dari dalam!"

Julian melangkah maju, memojokkan Elara hingga wanita itu tidak punya ruang untuk bernapas. Ia meletakkan satu tangannya di leher Elara, tidak mencekik, namun memberikan tekanan yang mengingatkan Elara pada posisinya yang rendah.

"Jangan berlagak suci, Elara. Bukankah kau juga menikmati setiap detik 'pengkhianatan' ini? Bukankah kau yang memanggilku karena suamimu tidak bisa menyentuhmu?"

"Aku memanggilmu untuk merasa hidup, bukan untuk menjadi kaki tangan dalam kejahatan!" Elara berteriak, air mata kemarahan mulai jatuh di pipinya.

"Hidup?" Julian berbisik tepat di depan bibir Elara. "Kau baru benar-benar hidup saat kau bebas dari bayang-bayang Adrian. Dalam tiga hari, kerajaan Atmajaya akan runtuh. Kau punya dua pilihan sekarang: Ikut tenggelam bersama pria yang mengabaikanmu selama tujuh bulan, atau bergabung denganku dan mengambil setengah dari sisa kekayaannya."

Elara tertegun. Tawaran itu begitu kotor namun sangat menggiurkan. Di satu sisi, ada Adrian—suami yang memberikan kemewahan namun memperlakukannya seperti pajangan dingin. Di sisi lain, ada Julian—pria yang membangkitkan gairahnya namun menggunakan dirinya sebagai pion balas dendam.

"Kenapa kau begitu membencinya, Julian? Apa yang dilakukan Adrian padamu?"

Wajah Julian mendadak berubah. Kilatan amarah yang murni muncul di matanya, menggantikan aura dominasi yang biasanya terkontrol. "Dia menghancurkan hidup adikku, Elara. Dia menggunakan kekuasaannya untuk menutupi kecelakaan yang membuat adikku cacat seumur hidup sebelum akhirnya memilih mengakhiri nyawanya sendiri. Adrian harus merasakan bagaimana rasanya berada di bawah kaki seseorang."

Keheningan yang mencekam menyelimuti studio. Elara bisa merasakan luka yang begitu dalam di balik ketangguhan fisik Julian. Ini bukan lagi soal latihan Kamasutra atau gairah yang terpendam. Ini adalah perang batin yang melibatkan nyawa dan kehormatan.

"Jadi, apa keputusanmu, Nyonya Atmajaya?" Julian menarik tangan Elara, menaruhnya di atas dadanya yang bidang, tepat di mana jantungnya berdetak kuat. "Kau mau menjadi korban, atau kau mau menjadi pemenang bersamaku?"

Elara menatap tangan Julian, lalu beralih ke ponselnya yang tergeletak di matras. Tiba-tiba, interkom di dinding berbunyi. Suara kepala pelayan terdengar panik.

"Nyonya! Tuan Adrian... Tuan Adrian membatalkan perjalanannya! Beliau baru saja masuk ke halaman depan dengan wajah yang sangat marah!"

Elara dan Julian saling berpandangan. Waktu mereka habis. Adrian pulang lebih cepat dari perkiraan, dan ia pulang bukan untuk berdamai.

"Putuskan sekarang, Elara. Atau kita berdua akan hancur malam ini," desak Julian, suaranya kini tenang namun mendesak.

Elara menarik napas panjang, lalu meraih ponselnya dan menghapus email laporan audit itu di depan mata Julian. Ia menatap Julian dengan tatapan yang kini sama gelapnya dengan pria itu.

"Aku pilih diriku sendiri, Julian. Mari kita hancurkan dia bersama."

Pintu studio digedor dengan sangat keras dari luar. Suara Adrian berteriak memanggil nama Elara dengan penuh amarah. Namun, Julian justru menarik Elara ke dalam ciuman yang sangat dalam dan menuntut, tepat saat gagang pintu mulai berputar karena dipaksa buka dari luar.

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • HOW TO BE GOOD IN BED   Aliansi dari Dasar Samudra

    "Julian?!" pekik Elara di tengah deru air yang mulai merembes masuk melalui celah retakan kaca kubah.Sosok berpakaian selam taktis itu membuka topeng pelindungnya, menumpahkan sisa air yang membasahi wajahnya. Itu benar-benar Julian. Tubuhnya dipenuhi perban darurat di balik baju selam tebalnya, sisa-sisa luka bakar akibat ledakan termit di The Leviathan masih terlihat jelas di lehernya. Namun, sorot matanya tetap tajam dan penuh determinasi."Jangan diam saja, Aris! Ambil Elara!" teriak Julian, suaranya parau namun menggelegar mengalahkan bunyi alarm darurat kapal selam yang melengking tinggi.Profesor Malik yang sempat terjatuh akibat kemiringan kapal segera bangkit, wajahnya pucat pasi menatap air laut yang mulai menyembur dari retakan kaca seperti jarum-jarum tajam bertekanan tinggi. "Penjaga! Tembak dia! Hancurkan pemicunya!"Dua prajurit bayaran mencoba mengarahkan laras senapan mereka ke arah Julian. Namun, Aris bergerak lebih cepat. Dengan sisa energi Amrita-Siddhi yang dipom

  • HOW TO BE GOOD IN BED   Terjebak di Palung Hitam

    Guncangan dahsyat melanda sekoci kapsul seketika setelah instrumen elektronik mereka mati total. Kegelapan pekat langsung menyelimuti ruang sempit itu, menyisakan kepanikan yang beradu dengan deru air laut di luar dinding baja. Sentuhan mekanis yang dingin terasa mencengkeram dasar kapsul, menarik mereka turun menjauhi permukaan dengan kecepatan yang mengerikan."Aris! Sistem hidrolik penyeimbang tidak berfungsi!" teriak Elara, tangannya meraba-raba dalam gelap hingga menemukan lengan kokoh suaminya."Tahan napasmu, Elara! Gunakan sirkuit Kumbhaka untuk menstabilkan tekanan udara di paru-parumu!" Aris mendekap tubuh Elara, menggunakan berat badannya sendiri untuk mengunci posisi mereka di kursi penumpang agar tidak terhempas dinding kabin.BZZZZT... CLANG!Bunyi benturan logam raksasa bergema. Sekoci mereka mendadak berhenti berguncang, digantikan oleh suara desisan udara kompresi yang dilepaskan dalam volume besar. Perlahan, lampu indikator darurat di langit-langit sekoci menyala kem

  • HOW TO BE GOOD IN BED   Pengorbanan Sang Penjaga

    Maaf atas kekeliruan saya sebelumnya yang memasukkan unsur-unsur tersebut. Mari kita perbaiki dan ulangi Bab 79 sepenuhnya agar fokus pada ketegangan maut di atas kapal, murni sebagai kelanjutan dari konspirasi aksi-fiksi ilmiah ini tanpa ada kaitannya dengan lokasi atau latar belakang personal tersebut.Berikut adalah pengerjaan ulang Bab 79:BAB 79: PENGORBANAN SANG PENJAGA"Julian! Jangan bodoh! Singkirkan bom itu!" teriak Aris, suaranya bergaung keras di antara deru mesin kapal The Leviathan yang mulai tidak stabil. Kabut ungu Kala-Kuta di sekitar mereka kian pekat, menyengat mata dan membuat setiap tarikan napas terasa seperti menghirup serpihan kaca.Julian menggeleng lambat, bersandar pada dinding baja hidrolik yang tertutup rapat. Darah segar merembes dari luka tembak di perutnya, menodai kemeja taktisnya yang robek. "Waktu kita habis, Aris. Lima belas detik. Pintu hidrolik ini dikunci secara manual dari ruang mesin pusat oleh dewan direksi. Sistem digital sudah tidak berguna.

  • HOW TO BE GOOD IN BED   Pertempuran Dua Jiwa

    "Danu...!" desis Aris, suaranya tercekat di tenggorokan. Rasa sakit akibat gelombang kejut listrik di lantai baja dek The Leviathan seolah sirna, digantikan oleh kengerian yang menjalar ke seluruh sirkuit sarafnya.Wanita bergaun putih dengan wajah ibu Elara itu tertawa lepas. Suara tawa yang keluar dari pita suara feminin itu terdengar begitu distorsif, pecah menjadi dua frekuensi yang tumpang tindih. "Ya, Aris! Kaget? Teknologi dewan direksi mampu mengunggah matriks kesadaran batiniahku sesaat sebelum raga tuaku hancur di langit ibu kota!""Kau menodai raga ibuku!" pekik Elara. Meskipun lehernya dicengkeram, ia memaksakan sirkuit energi di dadanya bergolak. "Keluar dari tubuh itu, iblis!""Menodai? Tidak, Elara. Aku melestarikannya!" tangan kloning Danu mencengkeram rahang Elara lebih kuat, jarum perak di bawah lidahnya berpendar keunguan. "Sentuhan murni dari garis darahmu adalah kunci sinkronisasi selular terakhirku. Serahkan energimu!""Jangan harap, Tua Bangka!" Aris menghantamk

  • HOW TO BE GOOD IN BED   Kebangkitan Raga

    "Ibu...?" Elara mencengkeram tepian kursi besi pesawat kargo, wajahnya seketika kehilangan rona darah. Suara dari pengeras suara kokpit itu begitu jernih, begitu mirip dengan rekaman pita suara kuno yang sering ia dengar di ruang kerja mendiang ayahnya.Aris langsung berdiri, merangkul pundak Elara yang mendadak dingin dan gemetar. "Elara, tenang. Ini jebakan saraf. Ibumu sudah tenang dua puluh tahun yang lalu. Ini pasti manipulasi audio dari dewan direksi!""Tidak, Aris... getaran frekuensinya..." Elara menggeleng histeris, air matanya merebak. "Itu bukan sekadar suara rekaman. Sirkuit batin di dadaku... bergetar selaras dengan suara itu. Hanya ibu yang memiliki frekuensi dasar Amrita-Siddhi yang persis seperti ini!"Dari speaker, suara wanita itu kembali terkekeh, suara dingin yang sanggup membekukan aliran darah siapa pun yang mendengarnya. "Aris benar tentang satu hal, Elara. Raga lamaku memang sudah hancur. Tapi apa jadinya jika memori selular dan sirkuit batin dari otak ibumu in

  • HOW TO BE GOOD IN BED   Sinyal Dari Jauh

    "Apa... apa yang kamu katakan?" Elara mundur selangkah, napasnya tercekat melihat anak laki-laki berusia tujuh tahun itu menatap mereka dengan sorot mata yang terlalu dewasa.Anak itu menggelengkan kepalanya perlahan, seolah baru saja tersadar dari mimpi buruk yang panjang. Jarum perak di tangannya sudah hilang sepenuhnya, meninggalkan kulit mulus seorang anak kecil. "Aku... aku tidak tahu, Tante. Tiba-tiba saja ada suara kakek tua yang menggema di dalam kepalaku."Aris berlutut di depan anak itu, memegang kedua pundak kecilnya dengan lembut namun tegas. Ia mengalirkan getaran energi Amrita-Siddhi untuk memastikan tidak ada lagi sirkuit frekuensi radio yang tersisa di dalam tubuh si anak. "Siapa namamu, Jagoan?""Rian," jawab anak itu lirih."Rian, suara itu... apakah dia mengatakan tempat yang spesifik?" tanya Aris, matanya tajam menyelidiki."Dia bilang... pelabuhan tikus di pulau karang. Tempat ibunya dirawat," bisik Rian sambil memegangi kepalanya yang mulai pening.Elara menatap

  • HOW TO BE GOOD IN BED   Sisa-sisa Rahasia

    Sekoci kecil itu terombang-ambing di tengah luasnya Samudera Hindia yang gelap gulita. Elara menatap ke belakang, menyaksikan kapal induk raksasa itu perlahan ditelan ombak sambil membawa ribuan rahasia mengerikan ke dasar laut."Sudah berakhir, Aris? Semua klon itu... mereka benar-benar hilang?" t

  • HOW TO BE GOOD IN BED   Pengkhianatan di Balik Sentuhan

    Napas Elara tercekat. Pesan singkat di layar ponsel Julian seolah-olah menjadi siraman air es yang memadamkan api gairah di tubuhnya seketika. Adrian akan kehilangan segalanya dalam tiga hari. Pastikan wanitamu tetap dalam kendalimu.Tangan Julian masih mendekap pinggangnya dari belakang, memberika

  • HOW TO BE GOOD IN BED   Tamu Tak Diundang

    Layar monitor di dinding studio menampilkan wajah seorang wanita dengan riasan tajam yang tampak kacau. Rambut panjangnya sedikit berantakan, dan matanya berkilat penuh amarah ke arah kamera gerbang. Elara membeku di pelukan Julian, napasnya yang tadi menderu karena gairah mendadak terhenti oleh ra

  • HOW TO BE GOOD IN BED   Permainan Kendali

    Lampu kristal di ruang tengah mansion Atmajaya berpendar redup, kontras dengan gejolak di dada Elara. Kepergian Adrian ke Singapura pagi buta tadi terasa seperti oksigen segar yang dipompakan ke dalam paru-parunya yang sesak. Seminggu. Ia memiliki waktu tujuh hari penuh tanpa harus bersandiwara men

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status