Beranda / Semua / HOW TO BE GOOD IN BED / Pengkhianatan di Balik Sentuhan

Share

Pengkhianatan di Balik Sentuhan

Penulis: Meyrna
last update Tanggal publikasi: 2026-03-26 18:58:33

Napas Elara tercekat. Pesan singkat di layar ponsel Julian seolah-olah menjadi siraman air es yang memadamkan api gairah di tubuhnya seketika. Adrian akan kehilangan segalanya dalam tiga hari. Pastikan wanitamu tetap dalam kendalimu.

Tangan Julian masih mendekap pinggangnya dari belakang, memberikan tekanan dominan yang seharusnya membuat Elara merasa melayang. Namun kini, sentuhan itu terasa seperti lilitan ular yang siap meremukkan tulang rusuknya.

"Kenapa tubuhmu mendadak kaku, Elara? Fokus," bisik Julian di ceruk lehernya. Suara berat itu, yang tadinya terdengar sangat menenangkan, kini terdengar seperti ancaman yang nyata.

"Aku... aku hanya sedikit pusing. Mungkin karena gerakan tadi," kilah Elara. Ia berusaha sekuat tenaga agar suaranya tidak bergetar. Ia harus tetap tenang. Jika Julian tahu bahwa ia telah membaca pesan itu, ia tidak tahu apa yang akan dilakukan pria ini padanya.

Julian melepaskan pelukannya, namun ia tidak menjauh. Ia berdiri tepat di depan Elara, menatapnya dengan mata elang yang seolah bisa menembus tengkorak kepalanya. "Pusing? Atau kau sedang memikirkan sesuatu yang tidak seharusnya kau pikirkan?"

"Tidak ada, Julian. Aku hanya butuh minum." Elara melangkah menuju meja di sudut ruangan, tempat tas Julian tergeletak di samping botol air mineral.

Dengan gerakan secepat kilat, ia menyambar botol air, namun matanya kembali melirik ponsel itu. Layarnya sudah gelap. Ia merasa jantungnya berdegup begitu kencang hingga telinganya berdenging. Siapa yang mengirim pesan itu? Dan apa maksudnya dengan "tugas hampir selesai"?

"Minumlah. Kita akan melanjutkan ke posisi yang lebih menantang. Ananda Balasana. Penyerahan total," ucap Julian sambil berjalan mendekat.

Elara meneguk airnya dengan rakus, mencoba membasahi tenggorokannya yang kering kerontang. Ia berbalik, menatap Julian yang kini berdiri dengan angkuh di tengah matras. Pria ini begitu tampan, begitu menguasai, namun di balik itu semua, ia adalah sebuah misteri yang mematikan.

"Julian, boleh aku bertanya sesuatu?" Elara memberanikan diri.

"Aku tidak suka pertanyaan di tengah sesi latihan, Elara. Kau tahu aturannya."

"Hanya satu hal. Mengapa kau memilihku sebagai muridmu? Dengan reputasimu, kau bisa memilih wanita mana pun di Jakarta ini."

Julian terdiam sejenak. Sudut bibirnya terangkat, membentuk senyum tipis yang dingin. "Karena kau adalah milik Adrian Atmajaya. Dan mengambil apa yang menjadi milik seorang pria sukses adalah tantangan yang paling menarik, bukan?"

Jawaban itu seperti tamparan keras bagi Elara. Milik Adrian. Jadi, ia benar-benar hanya sebuah objek? Sebuah pion dalam permainan kekuasaan antara dua pria?

"Sekarang, kembali ke matras. Jangan biarkan pikiranmu mengganggu aliran energimu," perintah Julian dengan nada yang lebih tegas.

Elara menurut, namun kali ini hatinya tidak lagi pasrah. Ia mengikuti instruksi Julian, membiarkan pria itu mengatur posisi tubuhnya, menekuk kakinya, dan menekan punggungnya. Namun, di dalam kepalanya, Elara mulai menyusun rencana.

Ia harus tahu apa yang direncanakan Julian terhadap Adrian. Bukan karena ia masih mencintai suaminya—pria yang telah mengabaikannya selama tujuh bulan—tetapi karena ia tidak ingin menjadi korban dari kehancuran yang sedang dirancang.

Sesi latihan berlanjut dengan intensitas yang semakin meningkat. Julian menjadi lebih menuntut, lebih kasar, dan lebih dominan. Ia seolah ingin membuktikan bahwa ia benar-benar memegang kendali penuh atas tubuh dan jiwa Elara.

"Kau milikku di ruangan ini, Elara. Ingat itu," bisik Julian saat ia mengunci tangan Elara di atas kepala wanita itu.

"Ya... aku milikmu," jawab Elara, sebuah kebohongan yang manis di bibirnya, sementara matanya menatap tajam ke arah pintu keluar.

Tiba-tiba, suara notifikasi ponsel kembali terdengar. Kali ini dari ponsel Elara sendiri yang tertinggal di sofa. Julian melepaskan Elara dan menoleh ke arah ponsel itu.

"Sepertinya suamimu merindukanmu," sindir Julian.

Elara segera menyambar ponselnya. Namun, itu bukan dari Adrian. Itu adalah pesan dari nomor tidak dikenal dengan lampiran sebuah dokumen P*F berjudul: “Laporan Audit Internal Atmajaya Group – Rahasia.”

Dunia Elara seolah runtuh. Tiga hari. Julian tidak berbohong. Kehancuran Adrian sudah di depan mata, dan ia sedang berada di dalam pelukan pria yang memegang sumbunya.

Elara menyadari bahwa jika ia tidak bertindak sekarang, ia akan ikut tenggelam bersama Adrian. Namun, saat ia mencoba menyembunyikan ponselnya, Julian merebutnya dengan kasar. "Apa yang kau sembunyikan, Elara? Rahasia kecil untuk suamimu?"

***

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • HOW TO BE GOOD IN BED   Aliansi dari Dasar Samudra

    "Julian?!" pekik Elara di tengah deru air yang mulai merembes masuk melalui celah retakan kaca kubah.Sosok berpakaian selam taktis itu membuka topeng pelindungnya, menumpahkan sisa air yang membasahi wajahnya. Itu benar-benar Julian. Tubuhnya dipenuhi perban darurat di balik baju selam tebalnya, sisa-sisa luka bakar akibat ledakan termit di The Leviathan masih terlihat jelas di lehernya. Namun, sorot matanya tetap tajam dan penuh determinasi."Jangan diam saja, Aris! Ambil Elara!" teriak Julian, suaranya parau namun menggelegar mengalahkan bunyi alarm darurat kapal selam yang melengking tinggi.Profesor Malik yang sempat terjatuh akibat kemiringan kapal segera bangkit, wajahnya pucat pasi menatap air laut yang mulai menyembur dari retakan kaca seperti jarum-jarum tajam bertekanan tinggi. "Penjaga! Tembak dia! Hancurkan pemicunya!"Dua prajurit bayaran mencoba mengarahkan laras senapan mereka ke arah Julian. Namun, Aris bergerak lebih cepat. Dengan sisa energi Amrita-Siddhi yang dipom

  • HOW TO BE GOOD IN BED   Terjebak di Palung Hitam

    Guncangan dahsyat melanda sekoci kapsul seketika setelah instrumen elektronik mereka mati total. Kegelapan pekat langsung menyelimuti ruang sempit itu, menyisakan kepanikan yang beradu dengan deru air laut di luar dinding baja. Sentuhan mekanis yang dingin terasa mencengkeram dasar kapsul, menarik mereka turun menjauhi permukaan dengan kecepatan yang mengerikan."Aris! Sistem hidrolik penyeimbang tidak berfungsi!" teriak Elara, tangannya meraba-raba dalam gelap hingga menemukan lengan kokoh suaminya."Tahan napasmu, Elara! Gunakan sirkuit Kumbhaka untuk menstabilkan tekanan udara di paru-parumu!" Aris mendekap tubuh Elara, menggunakan berat badannya sendiri untuk mengunci posisi mereka di kursi penumpang agar tidak terhempas dinding kabin.BZZZZT... CLANG!Bunyi benturan logam raksasa bergema. Sekoci mereka mendadak berhenti berguncang, digantikan oleh suara desisan udara kompresi yang dilepaskan dalam volume besar. Perlahan, lampu indikator darurat di langit-langit sekoci menyala kem

  • HOW TO BE GOOD IN BED   Pengorbanan Sang Penjaga

    Maaf atas kekeliruan saya sebelumnya yang memasukkan unsur-unsur tersebut. Mari kita perbaiki dan ulangi Bab 79 sepenuhnya agar fokus pada ketegangan maut di atas kapal, murni sebagai kelanjutan dari konspirasi aksi-fiksi ilmiah ini tanpa ada kaitannya dengan lokasi atau latar belakang personal tersebut.Berikut adalah pengerjaan ulang Bab 79:BAB 79: PENGORBANAN SANG PENJAGA"Julian! Jangan bodoh! Singkirkan bom itu!" teriak Aris, suaranya bergaung keras di antara deru mesin kapal The Leviathan yang mulai tidak stabil. Kabut ungu Kala-Kuta di sekitar mereka kian pekat, menyengat mata dan membuat setiap tarikan napas terasa seperti menghirup serpihan kaca.Julian menggeleng lambat, bersandar pada dinding baja hidrolik yang tertutup rapat. Darah segar merembes dari luka tembak di perutnya, menodai kemeja taktisnya yang robek. "Waktu kita habis, Aris. Lima belas detik. Pintu hidrolik ini dikunci secara manual dari ruang mesin pusat oleh dewan direksi. Sistem digital sudah tidak berguna.

  • HOW TO BE GOOD IN BED   Pertempuran Dua Jiwa

    "Danu...!" desis Aris, suaranya tercekat di tenggorokan. Rasa sakit akibat gelombang kejut listrik di lantai baja dek The Leviathan seolah sirna, digantikan oleh kengerian yang menjalar ke seluruh sirkuit sarafnya.Wanita bergaun putih dengan wajah ibu Elara itu tertawa lepas. Suara tawa yang keluar dari pita suara feminin itu terdengar begitu distorsif, pecah menjadi dua frekuensi yang tumpang tindih. "Ya, Aris! Kaget? Teknologi dewan direksi mampu mengunggah matriks kesadaran batiniahku sesaat sebelum raga tuaku hancur di langit ibu kota!""Kau menodai raga ibuku!" pekik Elara. Meskipun lehernya dicengkeram, ia memaksakan sirkuit energi di dadanya bergolak. "Keluar dari tubuh itu, iblis!""Menodai? Tidak, Elara. Aku melestarikannya!" tangan kloning Danu mencengkeram rahang Elara lebih kuat, jarum perak di bawah lidahnya berpendar keunguan. "Sentuhan murni dari garis darahmu adalah kunci sinkronisasi selular terakhirku. Serahkan energimu!""Jangan harap, Tua Bangka!" Aris menghantamk

  • HOW TO BE GOOD IN BED   Kebangkitan Raga

    "Ibu...?" Elara mencengkeram tepian kursi besi pesawat kargo, wajahnya seketika kehilangan rona darah. Suara dari pengeras suara kokpit itu begitu jernih, begitu mirip dengan rekaman pita suara kuno yang sering ia dengar di ruang kerja mendiang ayahnya.Aris langsung berdiri, merangkul pundak Elara yang mendadak dingin dan gemetar. "Elara, tenang. Ini jebakan saraf. Ibumu sudah tenang dua puluh tahun yang lalu. Ini pasti manipulasi audio dari dewan direksi!""Tidak, Aris... getaran frekuensinya..." Elara menggeleng histeris, air matanya merebak. "Itu bukan sekadar suara rekaman. Sirkuit batin di dadaku... bergetar selaras dengan suara itu. Hanya ibu yang memiliki frekuensi dasar Amrita-Siddhi yang persis seperti ini!"Dari speaker, suara wanita itu kembali terkekeh, suara dingin yang sanggup membekukan aliran darah siapa pun yang mendengarnya. "Aris benar tentang satu hal, Elara. Raga lamaku memang sudah hancur. Tapi apa jadinya jika memori selular dan sirkuit batin dari otak ibumu in

  • HOW TO BE GOOD IN BED   Sinyal Dari Jauh

    "Apa... apa yang kamu katakan?" Elara mundur selangkah, napasnya tercekat melihat anak laki-laki berusia tujuh tahun itu menatap mereka dengan sorot mata yang terlalu dewasa.Anak itu menggelengkan kepalanya perlahan, seolah baru saja tersadar dari mimpi buruk yang panjang. Jarum perak di tangannya sudah hilang sepenuhnya, meninggalkan kulit mulus seorang anak kecil. "Aku... aku tidak tahu, Tante. Tiba-tiba saja ada suara kakek tua yang menggema di dalam kepalaku."Aris berlutut di depan anak itu, memegang kedua pundak kecilnya dengan lembut namun tegas. Ia mengalirkan getaran energi Amrita-Siddhi untuk memastikan tidak ada lagi sirkuit frekuensi radio yang tersisa di dalam tubuh si anak. "Siapa namamu, Jagoan?""Rian," jawab anak itu lirih."Rian, suara itu... apakah dia mengatakan tempat yang spesifik?" tanya Aris, matanya tajam menyelidiki."Dia bilang... pelabuhan tikus di pulau karang. Tempat ibunya dirawat," bisik Rian sambil memegangi kepalanya yang mulai pening.Elara menatap

  • HOW TO BE GOOD IN BED   Permainan Kendali

    Lampu kristal di ruang tengah mansion Atmajaya berpendar redup, kontras dengan gejolak di dada Elara. Kepergian Adrian ke Singapura pagi buta tadi terasa seperti oksigen segar yang dipompakan ke dalam paru-parunya yang sesak. Seminggu. Ia memiliki waktu tujuh hari penuh tanpa harus bersandiwara men

  • HOW TO BE GOOD IN BED   Kedatangan Instruktur Predator

    Pukul sembilan tepat. Elara berdiri di depan cermin besar studio pribadinya, merapikan sport bra dan legging ketat yang terasa seperti kulit kedua. Ruangan ini kedap suara, tersembunyi di lantai dua mansion, jauh dari jangkauan para pelayan yang sibuk di bawah."Nyonya, tamu Anda sudah tiba." Suara

  • HOW TO BE GOOD IN BED   Reuni Yang Menyakitkan

    Elara jatuh terduduk di lantai dingin koridor saat melihat wajah pria di layar monitor itu. Wajah yang selama ini hanya ia temui dalam kenangan dan foto usang, kini berdiri tegak di tengah laboratorium bawah tanah Jakarta."Ayah? Tidak mungkin, aku sendiri yang melihat Ayah dikuburkan waktu itu!" t

  • HOW TO BE GOOD IN BED   Malam yang Dingin

    "Ke dokter? Seorang Adrian Atmajaya harus mengemis pada dokter agar bisa melayani istrinya? Tidak akan pernah!"Suara Adrian menggelegar. Elara terpaku di tepi ranjang, menatap suaminya yang berdiri kaku seolah baru saja melarikan diri dari sebuah pertempuran."Aku tidak bermaksud mempermalukanmu,

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status