MasukNapas Elara tercekat. Pesan singkat di layar ponsel Julian seolah-olah menjadi siraman air es yang memadamkan api gairah di tubuhnya seketika. Adrian akan kehilangan segalanya dalam tiga hari. Pastikan wanitamu tetap dalam kendalimu.
Tangan Julian masih mendekap pinggangnya dari belakang, memberikan tekanan dominan yang seharusnya membuat Elara merasa melayang. Namun kini, sentuhan itu terasa seperti lilitan ular yang siap meremukkan tulang rusuknya.
"Kenapa tubuhmu mendadak kaku, Elara? Fokus," bisik Julian di ceruk lehernya. Suara berat itu, yang tadinya terdengar sangat menenangkan, kini terdengar seperti ancaman yang nyata.
"Aku... aku hanya sedikit pusing. Mungkin karena gerakan tadi," kilah Elara. Ia berusaha sekuat tenaga agar suaranya tidak bergetar. Ia harus tetap tenang. Jika Julian tahu bahwa ia telah membaca pesan itu, ia tidak tahu apa yang akan dilakukan pria ini padanya.
Julian melepaskan pelukannya, namun ia tidak menjauh. Ia berdiri tepat di depan Elara, menatapnya dengan mata elang yang seolah bisa menembus tengkorak kepalanya. "Pusing? Atau kau sedang memikirkan sesuatu yang tidak seharusnya kau pikirkan?"
"Tidak ada, Julian. Aku hanya butuh minum." Elara melangkah menuju meja di sudut ruangan, tempat tas Julian tergeletak di samping botol air mineral.
Dengan gerakan secepat kilat, ia menyambar botol air, namun matanya kembali melirik ponsel itu. Layarnya sudah gelap. Ia merasa jantungnya berdegup begitu kencang hingga telinganya berdenging. Siapa yang mengirim pesan itu? Dan apa maksudnya dengan "tugas hampir selesai"?
"Minumlah. Kita akan melanjutkan ke posisi yang lebih menantang. Ananda Balasana. Penyerahan total," ucap Julian sambil berjalan mendekat.
Elara meneguk airnya dengan rakus, mencoba membasahi tenggorokannya yang kering kerontang. Ia berbalik, menatap Julian yang kini berdiri dengan angkuh di tengah matras. Pria ini begitu tampan, begitu menguasai, namun di balik itu semua, ia adalah sebuah misteri yang mematikan.
"Julian, boleh aku bertanya sesuatu?" Elara memberanikan diri.
"Aku tidak suka pertanyaan di tengah sesi latihan, Elara. Kau tahu aturannya."
"Hanya satu hal. Mengapa kau memilihku sebagai muridmu? Dengan reputasimu, kau bisa memilih wanita mana pun di Jakarta ini."
Julian terdiam sejenak. Sudut bibirnya terangkat, membentuk senyum tipis yang dingin. "Karena kau adalah milik Adrian Atmajaya. Dan mengambil apa yang menjadi milik seorang pria sukses adalah tantangan yang paling menarik, bukan?"
Jawaban itu seperti tamparan keras bagi Elara. Milik Adrian. Jadi, ia benar-benar hanya sebuah objek? Sebuah pion dalam permainan kekuasaan antara dua pria?
"Sekarang, kembali ke matras. Jangan biarkan pikiranmu mengganggu aliran energimu," perintah Julian dengan nada yang lebih tegas.
Elara menurut, namun kali ini hatinya tidak lagi pasrah. Ia mengikuti instruksi Julian, membiarkan pria itu mengatur posisi tubuhnya, menekuk kakinya, dan menekan punggungnya. Namun, di dalam kepalanya, Elara mulai menyusun rencana.
Ia harus tahu apa yang direncanakan Julian terhadap Adrian. Bukan karena ia masih mencintai suaminya—pria yang telah mengabaikannya selama tujuh bulan—tetapi karena ia tidak ingin menjadi korban dari kehancuran yang sedang dirancang.
Sesi latihan berlanjut dengan intensitas yang semakin meningkat. Julian menjadi lebih menuntut, lebih kasar, dan lebih dominan. Ia seolah ingin membuktikan bahwa ia benar-benar memegang kendali penuh atas tubuh dan jiwa Elara.
"Kau milikku di ruangan ini, Elara. Ingat itu," bisik Julian saat ia mengunci tangan Elara di atas kepala wanita itu.
"Ya... aku milikmu," jawab Elara, sebuah kebohongan yang manis di bibirnya, sementara matanya menatap tajam ke arah pintu keluar.
Tiba-tiba, suara notifikasi ponsel kembali terdengar. Kali ini dari ponsel Elara sendiri yang tertinggal di sofa. Julian melepaskan Elara dan menoleh ke arah ponsel itu.
"Sepertinya suamimu merindukanmu," sindir Julian.
Elara segera menyambar ponselnya. Namun, itu bukan dari Adrian. Itu adalah pesan dari nomor tidak dikenal dengan lampiran sebuah dokumen P*F berjudul: “Laporan Audit Internal Atmajaya Group – Rahasia.”
Dunia Elara seolah runtuh. Tiga hari. Julian tidak berbohong. Kehancuran Adrian sudah di depan mata, dan ia sedang berada di dalam pelukan pria yang memegang sumbunya.
Elara menyadari bahwa jika ia tidak bertindak sekarang, ia akan ikut tenggelam bersama Adrian. Namun, saat ia mencoba menyembunyikan ponselnya, Julian merebutnya dengan kasar. "Apa yang kau sembunyikan, Elara? Rahasia kecil untuk suamimu?"
***
"Danu...!" desis Aris, suaranya tercekat di tenggorokan. Rasa sakit akibat gelombang kejut listrik di lantai baja dek The Leviathan seolah sirna, digantikan oleh kengerian yang menjalar ke seluruh sirkuit sarafnya.Wanita bergaun putih dengan wajah ibu Elara itu tertawa lepas. Suara tawa yang keluar dari pita suara feminin itu terdengar begitu distorsif, pecah menjadi dua frekuensi yang tumpang tindih. "Ya, Aris! Kaget? Teknologi dewan direksi mampu mengunggah matriks kesadaran batiniahku sesaat sebelum raga tuaku hancur di langit ibu kota!""Kau menodai raga ibuku!" pekik Elara. Meskipun lehernya dicengkeram, ia memaksakan sirkuit energi di dadanya bergolak. "Keluar dari tubuh itu, iblis!""Menodai? Tidak, Elara. Aku melestarikannya!" tangan kloning Danu mencengkeram rahang Elara lebih kuat, jarum perak di bawah lidahnya berpendar keunguan. "Sentuhan murni dari garis darahmu adalah kunci sinkronisasi selular terakhirku. Serahkan energimu!""Jangan harap, Tua Bangka!" Aris menghantamk
"Ibu...?" Elara mencengkeram tepian kursi besi pesawat kargo, wajahnya seketika kehilangan rona darah. Suara dari pengeras suara kokpit itu begitu jernih, begitu mirip dengan rekaman pita suara kuno yang sering ia dengar di ruang kerja mendiang ayahnya.Aris langsung berdiri, merangkul pundak Elara yang mendadak dingin dan gemetar. "Elara, tenang. Ini jebakan saraf. Ibumu sudah tenang dua puluh tahun yang lalu. Ini pasti manipulasi audio dari dewan direksi!""Tidak, Aris... getaran frekuensinya..." Elara menggeleng histeris, air matanya merebak. "Itu bukan sekadar suara rekaman. Sirkuit batin di dadaku... bergetar selaras dengan suara itu. Hanya ibu yang memiliki frekuensi dasar Amrita-Siddhi yang persis seperti ini!"Dari speaker, suara wanita itu kembali terkekeh, suara dingin yang sanggup membekukan aliran darah siapa pun yang mendengarnya. "Aris benar tentang satu hal, Elara. Raga lamaku memang sudah hancur. Tapi apa jadinya jika memori selular dan sirkuit batin dari otak ibumu in
"Apa... apa yang kamu katakan?" Elara mundur selangkah, napasnya tercekat melihat anak laki-laki berusia tujuh tahun itu menatap mereka dengan sorot mata yang terlalu dewasa.Anak itu menggelengkan kepalanya perlahan, seolah baru saja tersadar dari mimpi buruk yang panjang. Jarum perak di tangannya sudah hilang sepenuhnya, meninggalkan kulit mulus seorang anak kecil. "Aku... aku tidak tahu, Tante. Tiba-tiba saja ada suara kakek tua yang menggema di dalam kepalaku."Aris berlutut di depan anak itu, memegang kedua pundak kecilnya dengan lembut namun tegas. Ia mengalirkan getaran energi Amrita-Siddhi untuk memastikan tidak ada lagi sirkuit frekuensi radio yang tersisa di dalam tubuh si anak. "Siapa namamu, Jagoan?""Rian," jawab anak itu lirih."Rian, suara itu... apakah dia mengatakan tempat yang spesifik?" tanya Aris, matanya tajam menyelidiki."Dia bilang... pelabuhan tikus di pulau karang. Tempat ibunya dirawat," bisik Rian sambil memegangi kepalanya yang mulai pening.Elara menatap
"Aris! Pegangan!" teriak Elara saat aspal di bawah kakinya mulai retak dan amblas ke bawah.Bus sekolah nomor 04 condong ke kiri, roda-roda besarnya menjerit slip di atas beton yang miring. Di dalam kabin, suara tangisan anak-anak yang semula kaku kini pecah, menyuarakan ketakutan murni manusiawi."Elara, lompat ke kap jip sekarang!" balas Aris. Ia meluncur turun dari atap bus, menahan benturan pada lututnya dengan sirkuit energi Amrita-Siddhi yang dipompa maksimal.Linda melepaskan anak panah mekanisnya di tengah guncangan. WUSH! Anak panah itu melesat, namun meleset beberapa sentimeter dari bahu Elara karena sedan hitamnya ikut merosot ke belakang. "Sialan! Mundur! Jalur ini mau roboh!" perintah Linda pada sopirnya."Kamu tidak akan bisa lari, Linda!" pekik Julian yang tiba-tiba muncul dari arah belakang jip, memegang kemudi jip tua pengawas kebun dengan tangan berdarah. "Aris, bawa anak-anak keluar! Aku tahan wanita ini!""Julian! Jangan gila, jembatan ini hancur!" teriak Aris samb
"Hentikan! Jangan gunakan anak-anak itu!" teriak Elara, suaranya melengking memecah keheningan jalur lingkar luar. Langkah kakinya seketika tertahan di atas aspal panas, matanya menatap nanar pada jarum-jarum perak organik yang menyembul dari balik kulit jemari anak-anak di dalam bus.Pria bertopeng gagak itu terkekeh rendah di balik jubah hitamnya. Bilah belati perak di tangannya mendesing pelan, memotong angin malam. "Kenapa begitu, Elara? Bukankah ini pemandangan yang indah? Ilmu biologi yang kau agungkan dan teknik saraf batin milik Silas kini menyatu dalam raga murni mereka.""Mereka bukan senjata, keparat!" bentak Aris, melangkah maju selangkah untuk memosisikan tubuh tegapnya di depan Elara. Otot-otot lengannya menegang, siap menyalurkan sirkuit energi Amrita-Siddhi yang baru saja pulih."Mundur, Aris!" pria bertopeng gagak itu menaikkan intonasi suaranya. "Satu sentuhan gelombang dari tubuhmu, dan sinyal radio frekuensi rendah dari topengku ini akan memicu denyut kejut di sara
"Apa maksudmu?!" teriak Elara, suaranya serak menahan getaran energi yang mendadak terputus. Kedua telapak tangannya masih basah oleh air kolam hulu yang kini telah jernih.Wanita berseragam militer itu tertawa kecil, melangkah maju sambil tetap mengunci pandangannya pada Julian yang tak berkutik di bawah todongan senjata laras pendek di pinggangnya. "Kalian terlalu naif. Danu dan Kepala Yayasan hanyalah umpan pengalih perhatian. Laboratorium di bawah sekolah itu? Itu cuma tempat pembuangan produk gagal dan inkubator purwarupa."Aris bangkit berdiri, menopang tubuh Elara yang lemas. Saraf panggulnya berdenyut tegang, efek dari pengurasan energi batin yang dipaksa berhenti tiba-tiba. "Jadi anak-anak yang di dalam video itu...""Mereka sudah dievakuasi sejak alarm kebocoran gas pertama berbunyi," sela wanita itu dengan senyum dingin yang mengingatkan pada Madam Vera. "Sepuluh anak dengan replikasi saraf Siddhi-Sankrama sempurna. Mereka ada di dalam bus sekolah nomor 04, bergerak lewat j