แชร์

Bab 2

ผู้เขียน: Berry
Kata-kata pedas Oliver masih terngiang-ngiang di telingaku.

Aku melepaskan cengkeramanku pada ponsel. Layar ponsel meredup dan sisa cahaya terakhir di mataku padam sepenuhnya.

Dengan cepat, ujung jariku mengonfirmasi klinik aborsi. Klinik itu sudah kucari sejak lama dan letaknya sangat jauh dari dermaga baru.

Kali ini, aku akan memutus hubungan dengan Oliver dan mengakhiri obsesi selama 12 tahun ini untuk selamanya.

Aku berbalik meninggalkan dermaga. Angin malam yang membawa aroma garam menyapu pipiku, tetapi tidak mampu menghangatkan dinginnya hatiku.

Aku tidak pulang ke vila, melainkan mencari sebuah penginapan terpencil dan meringkuk di atas sofa. Kepingan-kepingan kenangan masa lalu menyerbu pikiranku, hingga akhirnya yang tersisa hanyalah kesunyian yang mematikan.

Dalam keadaan setengah sadar, ponselku tiba-tiba berdering. Telepon itu dari kepala pelayan klan. Suaranya terdengar gemetar karena panik. "Bu Bella, terjadi kekacauan di dermaga baru! Kontainer penyimpan senjata meledak secara nggak terduga. Setengah dari kapal kargo dan area bongkar muat di dermaga hancur total. Anda harus segera kembali untuk menangani inventaris aset dan penanganan anak buah yang terluka!"

Aku mencengkeram ponselku dan merasakan ironi di dalam hati. Sedalam apa pun dendam yang ada, urusan klan tetap harus diselesaikan.

Aku mengenakan pakaian, lalu memacu mobil semalaman untuk kembali ke dermaga baru.

Mobil berhenti di pintu masuk dermaga. Dari kejauhan, tampak kekacauan yang luar biasa. Kontainer-kontainer yang hangus tergeletak miring di tepi pantai, sebagian puing-puingnya jatuh ke laut dan menimbulkan noda minyak berwarna hitam. Rangka baja yang bengkok mengeluarkan asap tipis, sementara beberapa anak buah berjongkok di samping sambil bersih-bersih dengan wajah ketakutan.

Aku menarik napas dalam-dalam, menekan rasa mual yang muncul di perutku. Baru saja kakiku melangkah masuk ke dalam reruntuhan, tiba-tiba saja rasa sakit yang luar biasa menghantam punggungku. Tubuhku tertendang hingga jatuh tersungkur ke depan, menghantam keras lembaran besi kontainer yang hancur.

Serpihan logam tajam mengoyak telapak tangan dan lututku. Darah pun langsung merembes keluar.

"Bella, dasar jalang! Kamu benar-benar nggak mau pergi, ya?" Teriakan marah Jason meledak di belakangku. "Sudah kubilang kami sedang menangani urusan klan yang penting, kenapa kamu masih saja ke sini? Apa kamu sebegitu menginginkan laki-laki sampai nggak bisa hidup tanpa Oliver?"

Aku bertumpu pada lembaran besi untuk berdiri perlahan, menepuk debu yang menempel di tubuh, lalu berbalik dan menatap Jason dengan tajam.

Di depanku, sorot mata adikku itu hanya dipenuhi kebencian yang mendalam kepadaku.

Tiba-tiba saja aku tertawa. Suara tawaku terdengar dingin dan parau. "Jason, kamu sudah lupa bagaimana Emma memperlakukan kita?"

Wajah Jason langsung menjadi tegang. Kilatan rasa panik melintas di matanya. Namun, detik berikutnya kembali menjadi bengis. "Jangan bicara omong kosong di sini! Bibi Emma sangat baik padaku. Kamulah yang berhati busuk, selalu saja ingin mengadu domba!"

"Mengadu domba?" Aku melangkah maju, mendekati Jason. "Kamu lupa waktu kita umur sepuluh tahun, dia mengunci kita di ruang bawah tanah selama tiga hari tiga malam tanpa kasih kita makan dan minum? Kamu lupa waktu itu kamu menangis meraung-raung memanggil Ibu? Sekarang kamu memakai baju yang dia belikan dan membantu putrinya melawanku. Apa kamu bahkan sudah lupa bagaimana Ibu meninggal?"

Kematian Ibu sama sekali bukan karena kecelakaan. Ibu meninggal karena jebakan yang dirancang oleh Emma untuk menghancurkan reputasi Ibu di dalam klan, hingga akhirnya Ibu terpojok dan tidak punya jalan keluar.

Semua ini sudah kukatakan pada Jason berkali-kali, tetapi dia sudah termakan tipu daya Emma dan Evelyn hingga tak mampu lagi mengingatnya.

"Tutup mulutmu!" Jason menjadi kalap karena malu dan marah atas perkataanku. Dia mengangkat tangan, hendak memukulku.

Aku sudah waspada sejak awal. Aku bergeser ke samping untuk menghindar, lalu melayangkan tamparan keras ke wajahnya.

Kepala Jason terentak ke samping akibat tamparan itu. Jason memegangi pipinya sambil menatapku dengan tidak percaya. "Kamu berani memukulku?"

"Tamparan ini untuk Ibu," kataku dengan tatapan sedingin es. "Mulai saat ini, kamu bukan lagi adikku. Hubungan kita putus sampai di sini."

Jason gemetar hebat karena amarah yang memuncak. Baru saja amarahnya hendak meledak, tiba-tiba terdengar suara batuk lemah Evelyn dari arah belakang.

Aku menoleh, tampak Oliver sedang membopong Evelyn sambil berjalan dengan cepat ke arah kami. Evelyn bersandar di pelukannya dengan wajah pucat dan dahi sedikit berkerut, tampak seperti seseorang yang sedang begitu ketakutan.

Pandangan Oliver tertuju pada telapak tangan dan lututku yang berdarah. Dia terdiam sejenak. Tampak kilatan rasa bersalah melintas sesaat di matanya, tetapi segera digantikan oleh rasa tidak sabar.

"Kemarin aku lupa mengucapkan selamat ulang tahun padamu, Bella," kata Oliver dengan nada lembut yang terasa dibuat-buat. "Setelah urusan di sini selesai, aku akan menemanimu merayakannya untuk menebus kesalahanku."
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Hadiah Perpisahan untuk Bos Mafia   Bab 9

    Tiga tahun kemudian, aku menjadi penguasa paling berpengaruh dalam sejarah dunia mafia.Bisnis klan sudah menyebar ke seluruh dunia dan pengaruh "Mata Ular" juga makin besar. Tidak ada lagi yang berani memancing amarahku. Aku memiliki pengikut yang tidak terhitung jumlahnya. Mereka sangat setia dan rela mati demi diriku.Jason juga sudah banyak berkembang. Dia bukan lagi si bodoh yang gampang ditipu seperti dahulu. Sekarang, Jason adalah asisten kepercayaanku yang membantuku menangani urusan klan sehari-hari dan menangani berbagai krisis. Cara kerjanya tenang serta berpengalaman, sehingga dia mendapat kepercayaan penuh dari para tetua.Malam itu, setelah menyelesaikan pekerjaan, aku kembali ke vilaku.Begitu turun dari mobil, aku melihat seseorang berdiri di depan pintu. Pria itu kurus kering, rambutnya memutih dan tatapan matanya tampak keruh. Pria itu kehilangan satu matanya, kakinya pincang hingga harus bertumpu pada sebatang tongkat kayu. Pakaiannya juga compang-camping dengan bau

  • Hadiah Perpisahan untuk Bos Mafia   Bab 8

    Oliver masih berlutut di lantai. Mulutnya tak henti-hentinya menggumamkan, "Aku salah." Namun, aku bahkan tidak sudi meliriknya sedikit pun. Pria seperti ini tidak layak mendapatkan maaf dariku, apalagi menampakkan diri di hadapanku."Bawa dia pergi, kurung di ruang bawah tanah," perintahku dengan dingin kepada anak buahku. "Biarkan dia merasakan sendiri penderitaan yang aku dan Jason alami di sana dulu."Oliver mengangkat kepalanya dengan ketakutan. "Jangan, Bella! Aku tahu aku salah. Lepaskan aku!""Melepaskanmu?" Aku mencibir. "Waktu aku dan Jason kelaparan, kedinginan dan dipukuli di ruang bawah tanah dulu, siapa yang melepaskan kami? Waktu ibuku dipaksa mati oleh kalian, siapa yang melepaskannya? Oliver, ini balasan yang pantas untukmu."Anak buahku maju, mencengkeram Oliver dan menyeretnya keluar.Oliver meronta-ronta dan menjerit histeris. Akan tetapi, tidak ada satu pun orang yang memedulikan dia.Melihat sosok Oliver yang tampak menyedihkan itu, tidak ada sedikit pun rasa kas

  • Hadiah Perpisahan untuk Bos Mafia   Bab 7

    Pada hari pertemuan para tetua klan, Oliver dan Evelyn berdiri di atas panggung, memberikan jaminan kepada para tetua bahwa mereka akan segera menyelesaikan krisis klan dan menstabilkan bisnis senjata api.Oliver berbicara panjang lebar mengenai rencananya, sementara Evelyn berdiri di sampingnya. Sesekali, Evelyn menunjukkan senyum lemah lembut demi menarik simpati.Tepat pada saat itu, pintu ruang pertemuan ditendang hingga terbuka lebar.Aku mengenakan pakaian kulit hitam dan kacamata hitam, diikuti oleh wakilku, Jessica, serta belasan elite dari "Mata Ular", melangkah masuk dengan aura yang mengintimidasi."Bella? Berani-beraninya kamu kembali!" teriak Oliver dengan terkejut dan marah sambil menunjuk ke arahku. "Pengkhianat sepertimu masih berani muncul di sini?"Aku melepas kacamata hitamku dan menatap Oliver dengan dingin. "Pengkhianat? Menurutku, pengkhianat yang sebenarnya adalah 'si cantik yang sakit-sakitan' di sampingmu itu. Juga, ayah mertuamu yang nggak punya hati nurani."

  • Hadiah Perpisahan untuk Bos Mafia   Bab 6

    Hari itu, bawahanku mengirimkan sebuah rekaman suara percakapan antara ayahku dengan pihak pasar ilegal. Di dalamnya, disebutkan dengan jelas bahwa demi mendapatkan dana ilegal dari transaksi senjata api tersebut, ayahku sengaja merusak jalur kontainer untuk memicu ledakan, lalu merekayasa kejadian itu seakan sebuah "kecelakaan."Ada juga laporan medis milik mendiang ibuku.Laporan itu menunjukkan bahwa sebulan sebelum kematiannya, Ibu terus-menerus dicekoki obat halusinogen yang menyebabkan Ibu mengalami gangguan mental, hingga akhirnya Ibu tewas karena "bunuh diri."Lalu, dokter yang meresepkan obat tersebut ternyata adalah kerabat jauh Emma, yang kini sudah berimigrasi ke luar negeri.Aku merapikan semua bukti tersebut dan mengirimkannya secara anonim kepada beberapa tetua klan yang selama ini tidak puas dengan Oliver. Para tetua ini adalah orang-orang lama yang ikut berjuang membangun kekuasaan bersama kakekku. Mereka memiliki ikatan emosional yang kuat dengan ibuku. Sejak dahulu,

  • Hadiah Perpisahan untuk Bos Mafia   Bab 5

    Setelah aku pergi, Jason menemukan sebuah mobil mainan saat sedang membereskan barang-barang di kamar Evelyn.Mobil itu adalah mainan yang kami mainkan bersama saat masih kecil. Dahulu, Jason tidak sengaja menghilangkannya dan menangis selama berhari-hari sampai akhirnya aku berhasil menemukannya kembali. Begitu melihat mobil mainan itu, ingatan yang sudah lama terkubur tiba-tiba meluap dalam benak Jason, seperti ruang bawah tanah yang gelap, bau apek yang menyengat, rasa lapar yang melilit perut, hingga tamparan keras dari Emma ….Serpihan-serpihan ingatan ini membuat Jason merasa kepalanya seakan mau pecah. Jason menggelengkan kepala, mencoba mengusir pikiran-pikiran tersebut. Akan tetapi, untuk pertama kalinya, kepercayaan Jason kepada Evelyn mulai goyah.Jason teringat ucapanku sebelumnya, teringat hal-hal yang janggal saat kematian ibunya dan sebuah pemikiran mengerikan mulai tumbuh di benaknya, mungkinkah semua yang kukatakan itu benar?Jason mengeluarkan ponselnya dan menghubung

  • Hadiah Perpisahan untuk Bos Mafia   Bab 4

    Berbaring di atas meja operasi, tanpa sadar aku pun meraba perut bagian bawahku. Di sinilah dahulu pernah tumbuh satu kehidupan kecil.Seharusnya, dia menjadi bukti cinta antara aku dan Oliver. Namun, kini, yang tersisa hanyalah ironi yang tiada berujung.Saat ahli anestesi bersiap melakukan suntikan, terdengar suara langkah kaki yang mengendap-endap dari arah pintu. Itu bukanlah perawat yang sebelumnya bertugas merawatku, melainkan seraut wajah asing dengan tatapan mata gelisah. Jemarinya menggenggam erat sebuah tabung suntik yang tertutup rapat.Seketika, hatiku langsung waspada. Benar saja, Emma akhirnya tidak tahan lagi untuk bertindak. Selama bertahun-tahun ini, dia menganggapku sebagai duri dalam daging. Tidak cukup menyudutkan ibuku hingga tewas sebelumnya, sekarang dia bahkan tidak melepaskan anak dalam kandunganku."Kamu dari departemen apa? Perawat yang bertugas merawatku sebelumnya bukan kamu," kataku, sengaja melambatkan nada bicara, sementara jemariku diam-diam meraba ke b

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status