เข้าสู่ระบบTiga tahun kemudian, aku menjadi penguasa paling berpengaruh dalam sejarah dunia mafia.Bisnis klan sudah menyebar ke seluruh dunia dan pengaruh "Mata Ular" juga makin besar. Tidak ada lagi yang berani memancing amarahku. Aku memiliki pengikut yang tidak terhitung jumlahnya. Mereka sangat setia dan rela mati demi diriku.Jason juga sudah banyak berkembang. Dia bukan lagi si bodoh yang gampang ditipu seperti dahulu. Sekarang, Jason adalah asisten kepercayaanku yang membantuku menangani urusan klan sehari-hari dan menangani berbagai krisis. Cara kerjanya tenang serta berpengalaman, sehingga dia mendapat kepercayaan penuh dari para tetua.Malam itu, setelah menyelesaikan pekerjaan, aku kembali ke vilaku.Begitu turun dari mobil, aku melihat seseorang berdiri di depan pintu. Pria itu kurus kering, rambutnya memutih dan tatapan matanya tampak keruh. Pria itu kehilangan satu matanya, kakinya pincang hingga harus bertumpu pada sebatang tongkat kayu. Pakaiannya juga compang-camping dengan bau
Oliver masih berlutut di lantai. Mulutnya tak henti-hentinya menggumamkan, "Aku salah." Namun, aku bahkan tidak sudi meliriknya sedikit pun. Pria seperti ini tidak layak mendapatkan maaf dariku, apalagi menampakkan diri di hadapanku."Bawa dia pergi, kurung di ruang bawah tanah," perintahku dengan dingin kepada anak buahku. "Biarkan dia merasakan sendiri penderitaan yang aku dan Jason alami di sana dulu."Oliver mengangkat kepalanya dengan ketakutan. "Jangan, Bella! Aku tahu aku salah. Lepaskan aku!""Melepaskanmu?" Aku mencibir. "Waktu aku dan Jason kelaparan, kedinginan dan dipukuli di ruang bawah tanah dulu, siapa yang melepaskan kami? Waktu ibuku dipaksa mati oleh kalian, siapa yang melepaskannya? Oliver, ini balasan yang pantas untukmu."Anak buahku maju, mencengkeram Oliver dan menyeretnya keluar.Oliver meronta-ronta dan menjerit histeris. Akan tetapi, tidak ada satu pun orang yang memedulikan dia.Melihat sosok Oliver yang tampak menyedihkan itu, tidak ada sedikit pun rasa kas
Pada hari pertemuan para tetua klan, Oliver dan Evelyn berdiri di atas panggung, memberikan jaminan kepada para tetua bahwa mereka akan segera menyelesaikan krisis klan dan menstabilkan bisnis senjata api.Oliver berbicara panjang lebar mengenai rencananya, sementara Evelyn berdiri di sampingnya. Sesekali, Evelyn menunjukkan senyum lemah lembut demi menarik simpati.Tepat pada saat itu, pintu ruang pertemuan ditendang hingga terbuka lebar.Aku mengenakan pakaian kulit hitam dan kacamata hitam, diikuti oleh wakilku, Jessica, serta belasan elite dari "Mata Ular", melangkah masuk dengan aura yang mengintimidasi."Bella? Berani-beraninya kamu kembali!" teriak Oliver dengan terkejut dan marah sambil menunjuk ke arahku. "Pengkhianat sepertimu masih berani muncul di sini?"Aku melepas kacamata hitamku dan menatap Oliver dengan dingin. "Pengkhianat? Menurutku, pengkhianat yang sebenarnya adalah 'si cantik yang sakit-sakitan' di sampingmu itu. Juga, ayah mertuamu yang nggak punya hati nurani."
Hari itu, bawahanku mengirimkan sebuah rekaman suara percakapan antara ayahku dengan pihak pasar ilegal. Di dalamnya, disebutkan dengan jelas bahwa demi mendapatkan dana ilegal dari transaksi senjata api tersebut, ayahku sengaja merusak jalur kontainer untuk memicu ledakan, lalu merekayasa kejadian itu seakan sebuah "kecelakaan."Ada juga laporan medis milik mendiang ibuku.Laporan itu menunjukkan bahwa sebulan sebelum kematiannya, Ibu terus-menerus dicekoki obat halusinogen yang menyebabkan Ibu mengalami gangguan mental, hingga akhirnya Ibu tewas karena "bunuh diri."Lalu, dokter yang meresepkan obat tersebut ternyata adalah kerabat jauh Emma, yang kini sudah berimigrasi ke luar negeri.Aku merapikan semua bukti tersebut dan mengirimkannya secara anonim kepada beberapa tetua klan yang selama ini tidak puas dengan Oliver. Para tetua ini adalah orang-orang lama yang ikut berjuang membangun kekuasaan bersama kakekku. Mereka memiliki ikatan emosional yang kuat dengan ibuku. Sejak dahulu,
Setelah aku pergi, Jason menemukan sebuah mobil mainan saat sedang membereskan barang-barang di kamar Evelyn.Mobil itu adalah mainan yang kami mainkan bersama saat masih kecil. Dahulu, Jason tidak sengaja menghilangkannya dan menangis selama berhari-hari sampai akhirnya aku berhasil menemukannya kembali. Begitu melihat mobil mainan itu, ingatan yang sudah lama terkubur tiba-tiba meluap dalam benak Jason, seperti ruang bawah tanah yang gelap, bau apek yang menyengat, rasa lapar yang melilit perut, hingga tamparan keras dari Emma ….Serpihan-serpihan ingatan ini membuat Jason merasa kepalanya seakan mau pecah. Jason menggelengkan kepala, mencoba mengusir pikiran-pikiran tersebut. Akan tetapi, untuk pertama kalinya, kepercayaan Jason kepada Evelyn mulai goyah.Jason teringat ucapanku sebelumnya, teringat hal-hal yang janggal saat kematian ibunya dan sebuah pemikiran mengerikan mulai tumbuh di benaknya, mungkinkah semua yang kukatakan itu benar?Jason mengeluarkan ponselnya dan menghubung
Berbaring di atas meja operasi, tanpa sadar aku pun meraba perut bagian bawahku. Di sinilah dahulu pernah tumbuh satu kehidupan kecil.Seharusnya, dia menjadi bukti cinta antara aku dan Oliver. Namun, kini, yang tersisa hanyalah ironi yang tiada berujung.Saat ahli anestesi bersiap melakukan suntikan, terdengar suara langkah kaki yang mengendap-endap dari arah pintu. Itu bukanlah perawat yang sebelumnya bertugas merawatku, melainkan seraut wajah asing dengan tatapan mata gelisah. Jemarinya menggenggam erat sebuah tabung suntik yang tertutup rapat.Seketika, hatiku langsung waspada. Benar saja, Emma akhirnya tidak tahan lagi untuk bertindak. Selama bertahun-tahun ini, dia menganggapku sebagai duri dalam daging. Tidak cukup menyudutkan ibuku hingga tewas sebelumnya, sekarang dia bahkan tidak melepaskan anak dalam kandunganku."Kamu dari departemen apa? Perawat yang bertugas merawatku sebelumnya bukan kamu," kataku, sengaja melambatkan nada bicara, sementara jemariku diam-diam meraba ke b







