Mag-log inDingin air Sungai Harpen yang menusuk hingga ke tulang, akan kuingat selamanya. Di kehidupan sebelumnya, aku adalah Davina Varensa, calon istri ketua mafia yang telah ditetapkan oleh Keluarga Marco, tapi aku dikhianati oleh tunanganku, Randy Marco, dan sepupuku Elise. Mereka merampas pertunanganku dan menguasai seluruh aset keluargaku. Pada akhirnya, dalam bentrokan antar keluarga itu, mereka hanya menjadikanku tameng, mendorongku hingga terpojok tanpa jalan keluar. Saat peluru menembus dadaku, aku melihat Randy melindungi Elise dengan ketat. Dan Richie Kornelis, sahabat masa kecilku yang selalu diam-diam mendukungku, tiba-tiba berlari seperti orang gila, memeluk tubuhku yang mulai dingin sambil meraung putus asa. Kupikir itu adalah cinta yang terlambat. Maka setelah terlahir kembali, tanpa ragu aku menendang Randy dari hidupku, menikah dengan Richie, dan menjadi istri ketua mafia Keluarga Kornelis. Kukira itu adalah awal yang baru, tapi tak kusangka takdir justru mempermainkanku dengan lebih kejam. Di hati kedua pria itu, dari dulu sampai sekarang, hanya ada satu wanita yang sama. Jika memang begitu ... aku memilih mundur dari permainan cinta palsu ini.
view moreSepuluh tahun kemudian.Di halaman klinik, pohon akasia itu sudah tumbuh sangat tinggi.Jeff sudah lulus dari fakultas kedokteran dan kembali ke desa, menjadi dokter tetap di klinik.Dia mengenakan jas putih dan sedang memeriksa pasien dengan serius. Tetapi begitu melihatku, dia kembali menunjukkan senyum cerah seperti saat kecil dulu."Mama Davina!" Dia berlari menghampiri, membawa sepucuk surat di tangannya. "Ini dari Nuyora."Aku menerima surat itu dan melihat tulisan tangan Tony yang begitu kukenal di amplopnya.Selama sepuluh tahun, surat darinya tidak pernah terputus, meskipun aku tidak pernah membalasnya.Aku membuka surat itu dan membacanya baris demi baris.[Nona Davina,][Dengan perasaan berat, saya memberitahukan bahwa Bos Richie telah meninggal dunia tiga hari yang lalu.][Bos pergi dengan tenang, dalam tidurnya. Dokter bilang, tubuhnya sebenarnya sudah sangat lemah sejak lama. Bos bisa bertahan selama ini pun sudah merupakan keajaiban.][Menjelang ajalnya, dia meminta saya
Setahun kemudian.Pernikahanku dengan James dilangsungkan di Domani, tepat di kafe kecil di tepi Sungai Tabera itu.Pemilik kafe menghias seluruh tempat dengan bunga-bunga, bahkan mengundang band terbaiknya.Moza dan Jeff dari Desa Masahi juga datang khusus dari Afreya.Jeff sudah tumbuh jauh lebih tinggi, mengenakan setelan jas dengan agak canggung, namun tersenyum sangat bahagia.Aku mengenakan gaun putih sederhana, tanpa tudung pengantin yang rumit, hanya menyelipkan setangkai bunga aster kecil di samping rambut.James berdiri di hadapanku, mengenakan jas biru tua. Rambut pirangnya tersisir rapi, meski tetap ada satu helai yang menjuntai bandel."Kamu sangat cantik," katanya pelan.Aku menjawab sambil tersenyum, "Kamu juga nggak kalah."Pendeta membacakan janji pernikahan, aku mendengarnya, namun pikiranku sedikit melayang.Aku teringat pada kehidupan sebelumnya, Davina yang mati di Sungai Harpen.Dia pasti tidak pernah membayangkan, di kehidupan ini, dia akan berdiri di bawah matah
Enam bulan kemudian.Proyek bantuan medis telah berakhir, dan aku bersama James kembali ke Domani.Saat pesawat mendarat, aku memandang kota abadi ini dari jendela, dan entah kenapa rasanya seperti pulang ke rumah."Mau ke mana dulu?" tanya James sambil menarik koper, tersenyum padaku.Aku menatap jalanan yang sudah terasa akrab, lalu berpikir sejenak. "Ke kafe di tepi Sungai Tabera."Kafe itu masih ada, dan pemiliknya tetap sang pria tua berambut memutih yang sama.Begitu melihatku, dia melambaikan tangan dengan gembira. "Davina! Kamu sudah kembali! Gimana Afreya?""Bagus sekali." Aku duduk dan memesan segelas Americano dingin.James duduk di seberangku, cahaya matahari jatuh di wajahnya, membuat mata birunya berkilau seperti permata."Davina …." Tiba-tiba dia membuka suara."Ya?""Ada sesuatu yang mau aku bilang."Melihat ekspresinya yang serius, entah kenapa aku merasa agak gugup.James menarik napas dalam-dalam. "Selama enam bulan ini, aku terus menunggu waktu yang tepat. Tapi kemu
Hari-hari di Afreya memang terasa sederhana namun penuh makna.Setiap pagi, aku dan James bangun diiringi suara ayam berkokok, lalu setelah membersihkan diri secukupnya, kami mulai menerima pasien.Malaria, tifus, kekurangan gizi … berbagai penyakit yang jarang ditemui di dalam negeri, di sini justru menjadi hal yang biasa.Sebulan kemudian, aku sudah bisa berkomunikasi dengan warga menggunakan bahasa lokal sederhana."Dokter, terima kasih." Seorang anak laki-laki menarik tanganku dan berkata dengan Bahasa Lingua yang terbata-bata.Namanya Jeff. Dia adalah pasien pertama yang kutangani sejak datang ke Afreya. Dia terkena malaria parah yang hampir merenggut nyawanya.Aku berjongkok dan mengusap kepalanya. "Kamu harus minum obat yang teratur, ya."Jeff mengangguk kuat, lalu mengeluarkan gelang anyaman dari sakunya. "Ini buat kamu."Aku menerima gelang sederhana itu. Meski sederhana, pemberian itu sarat dengan ketulusan, dan mataku terasa hangat.Malamnya, aku mengenakan gelang itu di tan
Keesokan paginya, Richie pergi ke wilayah lain untuk menangani sebuah perselisihan, sementara aku pergi ke rumah sakit untuk mengurus pengunduran diri.Seorang perawat melihatku dan tampak terkejut. "Dokter Davina, kamu benar-benar akan pergi?""Iya, aku akan melanjutkan studi ke Domani," jawabku sa
"Suamiku bawa kamu untuk diperiksa, terus aku gimana?" tanyaku perlahan namun tegas.Pasien dan perawat di sekitar menoleh. Wajah Elise sempat terlihat canggung, tetapi dia tetap berpura-pura sedih. "Davina, kenapa kamu pelit banget? Aku cuma minta tolong Richie sebentar."Richie mengernyit. "Davina
Keesokan paginya, begitu tiba di kantor rumah sakit, aku langsung melihat Randy.Dia duduk di sofa, menatapku dengan ekspresi yang sulit dibaca. "Davina, kamu tau Richie itu sebenarnya nggak suka sama kamu."Tubuhku sempat terhenti sejenak, namun nada bicaraku tetap tenang. "Itu bukan urusanmu."Di
Keesokan paginya, saat aku bangun, Richie sudah pergi mengurus keperluan keluarga.Baru saja keluar dari kamar, aku berpapasan dengan ibu Richie, Bu Sonya.Dia duduk di sofa kulit di ruang tamu, memainkan kalung mutiara hitam di tangannya, lalu menatapku dengan penuh penghinaan."Bangunnya siang ban












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Rebyu