Berbaring di atas meja operasi, tanpa sadar aku pun meraba perut bagian bawahku. Di sinilah dahulu pernah tumbuh satu kehidupan kecil.Seharusnya, dia menjadi bukti cinta antara aku dan Oliver. Namun, kini, yang tersisa hanyalah ironi yang tiada berujung.Saat ahli anestesi bersiap melakukan suntikan, terdengar suara langkah kaki yang mengendap-endap dari arah pintu. Itu bukanlah perawat yang sebelumnya bertugas merawatku, melainkan seraut wajah asing dengan tatapan mata gelisah. Jemarinya menggenggam erat sebuah tabung suntik yang tertutup rapat.Seketika, hatiku langsung waspada. Benar saja, Emma akhirnya tidak tahan lagi untuk bertindak. Selama bertahun-tahun ini, dia menganggapku sebagai duri dalam daging. Tidak cukup menyudutkan ibuku hingga tewas sebelumnya, sekarang dia bahkan tidak melepaskan anak dalam kandunganku."Kamu dari departemen apa? Perawat yang bertugas merawatku sebelumnya bukan kamu," kataku, sengaja melambatkan nada bicara, sementara jemariku diam-diam meraba ke b
Read more