Share

Bab 3

Author: Berry
Aku mengikuti arah pandangannya, menatap jemari tangan Oliver yang bertautan dengan jemari Evelyn.

Jari-jari Oliver menggenggam erat jemari Evelyn, seakan takut Evelyn akan terluka sedikit saja. Sementara aku, aku hanyalah seorang penyusup yang tidak diinginkan.

"Nggak perlu." Aku mengalihkan pandanganku dengan tenang. Suaraku terdengar datar tanpa emosi sedikit pun. "Aku nggak pantas menerima ucapan selamat ulang tahun darimu."

Oliver tertegun. Mungkin dia tidak menyangka reaksiku akan seperti ini. Sebelumnya, seberapa sering pun Oliver menyakitiku, aku akan selalu datang mendekat dengan penuh harap. Akan tetapi, kali ini, aku benar-benar lelah. Hatiku sudah benar-benar putus harapan.

Evelyn bergerak pelan di pelukan Oliver. "Oliver, jangan salahkan Kak Bella. Dia cuma lagi kalut. Kak Bella, jangan marah pada Oliver. Sebenarnya, dia masih mikirin Kakak. Hanya saja, karena aku lagi nggak sehat, dia terpaksa harus menjagaku."

Aku malas berpura-pura ramah pada Evelyn. Aku tetap berjongkok di samping reruntuhan, membantu membalut luka anak buahku yang cedera.

"Mau sok jadi orang bermoral sampai kapan?" Jason berjalan menghampiriku dan menatapku dengan penuh penghinaan. "Sekarang, baru peduli pada orang lain? Kenapa nggak mikir betapa konyolnya dirimu sebelumnya? Tanpa tahu malu, kamu mengejar Oliver selama 12 tahun. Sekarang setelah hamil, kamu malah sok jual mahal? Kamu pikir dengan cara ini, Oliver bakal berubah pikiran?"

Aku tidak menengadah dan terus melilitkan perban pada anak buahku. Aku malas meladeni Jason.

"Bicara!" Jason makin marah melihatku mengabaikannya. "Apa kamu merasa begitu terzalimi? Aku kasih tahu ya, kamu sama sekali nggak menderita! Evelyn ribuan kali, bahkan puluhan ribu kali lebih baik dari dirimu. Dia lembut, baik hati dan sedang sakit parah. Wajar kalau Oliver milih dia! Meski kamu mengandung anak Oliver, kamu nggak ada apa-apanya dibanding seujung kuku Evelyn. Kamu bahkan nggak pantas jadi pembantu Evelyn!"

Oliver mengerutkan keningnya dalam-dalam. "Bella, sebenarnya apa maumu? Mengikutiku sampai ke sini, lalu membuat keributan tanpa alasan. Kamu nggak bisa, tahu diri sedikit saja?"

Evelyn bersandar di pelukan Oliver, terbatuk pelan beberapa kali, lalu berkata dengan lemah, "Oliver, jangan marah. Kak Bella cuma sedang terlalu sedih. Bagaimana kalau aku bicara baik-baik dengan Kakak, agar dia mau pulang dan istirahat dulu?"

Tepat setelah Evelyn selesai bicara, tiba-tiba terdengar dentuman keras dan seluruh dermaga baru itu berguncang hebat.

Lampu sorot di atas kepala bergoyang seakan mau jatuh. Sementara itu, kontainer yang belum sepenuhnya runtuh di kejauhan sana mengeluarkan suara decitan besi yang memekakkan telinga. Lalu, selembar pelat besi raksasa meluncur ke arah mereka bertiga.

Tanpa ragu sedikit pun, Oliver mendorongku ke arah jatuhnya pelat besi itu, sementara dia sendiri memeluk Evelyn erat-erat dan mundur beberapa langkah dengan cepat untuk menghindari bahaya.

Suara dentuman keras terdengar saat pelat besi itu menghantam tubuhku dengan keras. Rasa sakit yang luar biasa langsung menyapu seluruh tubuh, terutama kaki kiriku yang terasa seperti dipatahkan secara paksa. Pandanganku menjadi gelap, tubuhku tersungkur ke tanah dan kesadaranku mulai menghilang.

Dalam keadaan setengah sadar, aku melihat Oliver menunduk untuk menenangkan Evelyn. Dia bertanya apakah Evelyn terluka dengan tatapan penuh kecemasan dan kekhawatiran. Sementara itu, Oliver sama sekali tidak melirikku.

Jason juga ikut mendekat. Dia bertanya dengan penuh perhatian apakah Evelyn baik-baik saja. Mereka sama sekali tidak peduli padaku yang terbaring di tanah dengan darah yang terus mengalir.

Ternyata, di dalam hati mereka ... aku benar-benar tidak berharga.

...

Saat kembali terbangun, aku sudah terbaring di ranjang rumah sakit. Kaki kiriku dibalut gips yang tebal. Rasa sakitnya menusuk sampai ke tulang. Ruang perawatan itu kosong melompong, tidak ada satu orang pun yang datang menjengukku.

Perawat masuk, mencabut jarum infus di tanganku, lalu berkata dengan agak lega, "Kamu benar-benar beruntung. Cuma patah kaki kiri dan luka-luka ringan. Kalau pelat besi itu meleset sedikit saja dan menghantam perutmu, bayimu pasti nggak akan selamat."

Aku menatap langit-langit. "Sejak awal, aku memang nggak berniat mempertahankan anak ini. Tolong bantu aturkan, agar aku bisa melakukan operasi aborsi sesegera mungkin."

Perawat itu tertegun sejenak, tetapi tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya mengangguk lalu melangkah keluar.

Tepat di saat itu, Oliver meneleponku. Suaranya penuh dengan kemarahan yang meluap-luap. "Bella, sebenarnya apa yang kamu inginkan? Kamu nggak tahan melihatku bersikap baik pada Evelyn, jadi sengaja membuat keributan di dermaga hingga memicu ledakan kedua?"

Aku tidak mengatakan apa-apa, hanya mendengarkan amarahnya dengan tenang.

"Dulu, kamu terus-menerus menyebar fitnah kalau Evelyn dan ibunya yang mencelakai ibumu sampai mati!" Suaranya terdengar makin kejam. "Padahal, ayahmu sendiri yang bilang kalau ibumu bunuh diri karena gila! Tapi, kamu masih saja nggak mau menyerah. Kamu bilang, Emma menipumu dan Jason ke ruang bawah tanah untuk disiksa!"

"Aku sudah lama menyuruh orang untuk menyelidikinya, hal semacam itu nggak pernah ada!" teriak Oliver. "Jason sudah menceritakan semuanya padaku. Kamulah yang membuat Jason celaka sampai kepalanya terbentur dan hilang ingatan. Evelyn-lah yang menyelamatkan Jason setelah dia terluka! Evelyn yang merawat Jason!"

"Aku nggak pernah sekalipun berniat menikahimu." Nada bicara Oliver penuh dengan penghinaan. "Anak itu cuma kecelakaan!"

Oliver terus mencaciku tanpa henti, melemparkan semua kesalahan kepadaku. Aku mendengarkannya, tetapi tidak merasa emosi sedikit pun. Aku hanya merasa begitu lelah.

Tepat di saat itu, suara perawat terdengar dari pintu ruang perawatan. "Bu Bella, operasi aborsi sudah siap. Silakan ke ruang operasi sekarang juga."

Oliver di ujung telepon langsung terdiam. Setelah beberapa saat, dia bertanya dengan tidak percaya, "Kamu mau menggugurkan anak itu?"

Aku mengembuskan napas pelan. Suaraku terdengar tenang tanpa emosi. "Benar. Begitu operasiku selesai, kita batalkan pertunangan ini."

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Sary Bhulank
seru tp penuh emosi
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Hadiah Perpisahan untuk Bos Mafia   Bab 9

    Tiga tahun kemudian, aku menjadi penguasa paling berpengaruh dalam sejarah dunia mafia.Bisnis klan sudah menyebar ke seluruh dunia dan pengaruh "Mata Ular" juga makin besar. Tidak ada lagi yang berani memancing amarahku. Aku memiliki pengikut yang tidak terhitung jumlahnya. Mereka sangat setia dan rela mati demi diriku.Jason juga sudah banyak berkembang. Dia bukan lagi si bodoh yang gampang ditipu seperti dahulu. Sekarang, Jason adalah asisten kepercayaanku yang membantuku menangani urusan klan sehari-hari dan menangani berbagai krisis. Cara kerjanya tenang serta berpengalaman, sehingga dia mendapat kepercayaan penuh dari para tetua.Malam itu, setelah menyelesaikan pekerjaan, aku kembali ke vilaku.Begitu turun dari mobil, aku melihat seseorang berdiri di depan pintu. Pria itu kurus kering, rambutnya memutih dan tatapan matanya tampak keruh. Pria itu kehilangan satu matanya, kakinya pincang hingga harus bertumpu pada sebatang tongkat kayu. Pakaiannya juga compang-camping dengan bau

  • Hadiah Perpisahan untuk Bos Mafia   Bab 8

    Oliver masih berlutut di lantai. Mulutnya tak henti-hentinya menggumamkan, "Aku salah." Namun, aku bahkan tidak sudi meliriknya sedikit pun. Pria seperti ini tidak layak mendapatkan maaf dariku, apalagi menampakkan diri di hadapanku."Bawa dia pergi, kurung di ruang bawah tanah," perintahku dengan dingin kepada anak buahku. "Biarkan dia merasakan sendiri penderitaan yang aku dan Jason alami di sana dulu."Oliver mengangkat kepalanya dengan ketakutan. "Jangan, Bella! Aku tahu aku salah. Lepaskan aku!""Melepaskanmu?" Aku mencibir. "Waktu aku dan Jason kelaparan, kedinginan dan dipukuli di ruang bawah tanah dulu, siapa yang melepaskan kami? Waktu ibuku dipaksa mati oleh kalian, siapa yang melepaskannya? Oliver, ini balasan yang pantas untukmu."Anak buahku maju, mencengkeram Oliver dan menyeretnya keluar.Oliver meronta-ronta dan menjerit histeris. Akan tetapi, tidak ada satu pun orang yang memedulikan dia.Melihat sosok Oliver yang tampak menyedihkan itu, tidak ada sedikit pun rasa kas

  • Hadiah Perpisahan untuk Bos Mafia   Bab 7

    Pada hari pertemuan para tetua klan, Oliver dan Evelyn berdiri di atas panggung, memberikan jaminan kepada para tetua bahwa mereka akan segera menyelesaikan krisis klan dan menstabilkan bisnis senjata api.Oliver berbicara panjang lebar mengenai rencananya, sementara Evelyn berdiri di sampingnya. Sesekali, Evelyn menunjukkan senyum lemah lembut demi menarik simpati.Tepat pada saat itu, pintu ruang pertemuan ditendang hingga terbuka lebar.Aku mengenakan pakaian kulit hitam dan kacamata hitam, diikuti oleh wakilku, Jessica, serta belasan elite dari "Mata Ular", melangkah masuk dengan aura yang mengintimidasi."Bella? Berani-beraninya kamu kembali!" teriak Oliver dengan terkejut dan marah sambil menunjuk ke arahku. "Pengkhianat sepertimu masih berani muncul di sini?"Aku melepas kacamata hitamku dan menatap Oliver dengan dingin. "Pengkhianat? Menurutku, pengkhianat yang sebenarnya adalah 'si cantik yang sakit-sakitan' di sampingmu itu. Juga, ayah mertuamu yang nggak punya hati nurani."

  • Hadiah Perpisahan untuk Bos Mafia   Bab 6

    Hari itu, bawahanku mengirimkan sebuah rekaman suara percakapan antara ayahku dengan pihak pasar ilegal. Di dalamnya, disebutkan dengan jelas bahwa demi mendapatkan dana ilegal dari transaksi senjata api tersebut, ayahku sengaja merusak jalur kontainer untuk memicu ledakan, lalu merekayasa kejadian itu seakan sebuah "kecelakaan."Ada juga laporan medis milik mendiang ibuku.Laporan itu menunjukkan bahwa sebulan sebelum kematiannya, Ibu terus-menerus dicekoki obat halusinogen yang menyebabkan Ibu mengalami gangguan mental, hingga akhirnya Ibu tewas karena "bunuh diri."Lalu, dokter yang meresepkan obat tersebut ternyata adalah kerabat jauh Emma, yang kini sudah berimigrasi ke luar negeri.Aku merapikan semua bukti tersebut dan mengirimkannya secara anonim kepada beberapa tetua klan yang selama ini tidak puas dengan Oliver. Para tetua ini adalah orang-orang lama yang ikut berjuang membangun kekuasaan bersama kakekku. Mereka memiliki ikatan emosional yang kuat dengan ibuku. Sejak dahulu,

  • Hadiah Perpisahan untuk Bos Mafia   Bab 5

    Setelah aku pergi, Jason menemukan sebuah mobil mainan saat sedang membereskan barang-barang di kamar Evelyn.Mobil itu adalah mainan yang kami mainkan bersama saat masih kecil. Dahulu, Jason tidak sengaja menghilangkannya dan menangis selama berhari-hari sampai akhirnya aku berhasil menemukannya kembali. Begitu melihat mobil mainan itu, ingatan yang sudah lama terkubur tiba-tiba meluap dalam benak Jason, seperti ruang bawah tanah yang gelap, bau apek yang menyengat, rasa lapar yang melilit perut, hingga tamparan keras dari Emma ….Serpihan-serpihan ingatan ini membuat Jason merasa kepalanya seakan mau pecah. Jason menggelengkan kepala, mencoba mengusir pikiran-pikiran tersebut. Akan tetapi, untuk pertama kalinya, kepercayaan Jason kepada Evelyn mulai goyah.Jason teringat ucapanku sebelumnya, teringat hal-hal yang janggal saat kematian ibunya dan sebuah pemikiran mengerikan mulai tumbuh di benaknya, mungkinkah semua yang kukatakan itu benar?Jason mengeluarkan ponselnya dan menghubung

  • Hadiah Perpisahan untuk Bos Mafia   Bab 4

    Berbaring di atas meja operasi, tanpa sadar aku pun meraba perut bagian bawahku. Di sinilah dahulu pernah tumbuh satu kehidupan kecil.Seharusnya, dia menjadi bukti cinta antara aku dan Oliver. Namun, kini, yang tersisa hanyalah ironi yang tiada berujung.Saat ahli anestesi bersiap melakukan suntikan, terdengar suara langkah kaki yang mengendap-endap dari arah pintu. Itu bukanlah perawat yang sebelumnya bertugas merawatku, melainkan seraut wajah asing dengan tatapan mata gelisah. Jemarinya menggenggam erat sebuah tabung suntik yang tertutup rapat.Seketika, hatiku langsung waspada. Benar saja, Emma akhirnya tidak tahan lagi untuk bertindak. Selama bertahun-tahun ini, dia menganggapku sebagai duri dalam daging. Tidak cukup menyudutkan ibuku hingga tewas sebelumnya, sekarang dia bahkan tidak melepaskan anak dalam kandunganku."Kamu dari departemen apa? Perawat yang bertugas merawatku sebelumnya bukan kamu," kataku, sengaja melambatkan nada bicara, sementara jemariku diam-diam meraba ke b

  • Hadiah Perpisahan untuk Bos Mafia   Bab 2

    Kata-kata pedas Oliver masih terngiang-ngiang di telingaku.Aku melepaskan cengkeramanku pada ponsel. Layar ponsel meredup dan sisa cahaya terakhir di mataku padam sepenuhnya.Dengan cepat, ujung jariku mengonfirmasi klinik aborsi. Klinik itu sudah kucari sejak lama dan letaknya sangat jauh dari der

  • Hadiah Perpisahan untuk Bos Mafia   Bab 1

    Angin malam membawa aroma asin ombak yang bercampur dengan wangi wiski yang dingin. Aku diam-diam bersembunyi di balik bayang-bayang kontainer nomor tiga di dermaga baru. Ujung jariku mencengkeram gaun malamku hingga kainnya kusut dan memutih.Sinar lampu sorot menembus kegelapan malam, menerangi ge

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status