MasukAku pernah jatuh cinta pada sahabat ayahku, pria yang seharusnya kupanggil "Om", Kael Viraya. Awalnya, aku sempat berpikir dia juga mencintaiku. Kami bahkan punya janji konyol, yaitu kalau aku sudah berusia 27 tahun dan masih ingin bersamanya, kami akan bersama secara terbuka. Namun, lima hari sebelum ulang tahunku yang ke-27, tanpa sengaja aku mendengarnya berkata bahwa dia tidak pernah menyukaiku, bahwa dia akan menikahi cinta masa kecilnya. Seolah-olah itu belum cukup menyakitkan, dia bahkan berencana menjadikan pernikahan itu sebagai cara untuk benar-benar menyingkirkanku dari hidupnya. Jadi, akhirnya aku melakukan satu hal yang seharusnya sudah kulakukan sejak lama, yaitu menerima bahwa aku dan dia tidak akan pernah berada di dunia yang sama, lalu menghilang dari hidupnya untuk selamanya.
Lihat lebih banyakAhh…. I moaned as I felt another wave of orgasm.
I was catching my breath when tge second cock flew into my mouth.
“Ahh” I cried as I choked on it with tears flowing from my eyes which was as a result of pain and pleasure.
Then I felt another hand that forcefully grabbed my hands and placed it on his rock hard dick.
I was overwhelmed, I cried, I shivered
as I felt another wave of orgasm flow through my body. This one hit me like a thunder strike, my whole body jerking.
At this point I wanted them to stop,but all I could whisper was;
"Ruin me".
I'm not thinking straight at this point because I only realized the implications of my words after they had already fallen out of my mouth.
They looked at me with a smile , but it wasn't a normal smile.
It wasn't an innocent smile either.
It revealed something darker.
It was the kind that whispered quietly “you're gonna get what you asked for and more”.
A hand suddenly tilts my chin upwards more aggressively.
Someone leans close enough that I could feel his breath on my ear.
And just when I thought I was going to face the consequences of my words.
Beep.
Beep.
Beep.
My alarm starts ringing but it sounded like it was from a distance. I could care less about an alarm clock at this point. I didn't want them to stop.
The sound grew louder and louder. I couldn't ignore it anymore.
I jolt upright in my bed with my heart racing line I just ran a marathon.
The alarm keeps screaming until I reach over and slam my hand against it.
Looking around, I was in my room, all alone.
“Not again”. I whispered to myself.
I reached down to my pussy, I was soaking wet.
Again.
"Fuck, it was just another wet dream". I've been having a lot of this since last summer ".
This is getting ridiculous.
It's supposed to be just attraction or my ovulation hormones.
But it kind of seems like it's turning into an obsession.
As I was thinking, I remembered.
Ohh shit it was a Monday morning, I have classes and I'm running late for one already.
I hurriedly got into the shower, but the thoughts of the dream haven't left my head , so I set my shower very hot. The water began dropping against my skin. With every drop, I felt my thighs clench together.
“This is nott helping”. I let out a sigh of frustration.
I was hoping that the water was going to wash away all these bad thoughts and help me concentrate. But worse, it did the opposite. The memories rushing back.
I could feel their breaths against my ear.
I could feel the weight of their very masculine built over powering my every move.
“Stop”. I pressed my forehead against the cool tile, forcing my mind elsewhere. Nothing seems to be working
"Ohh fuck, I have to get them out of my head " . I convinced myself that just one rub will do the trick. I just needed to cvm to get them out of my head.
I rubbed my clit which was already swollen, I went faster because I needed to cvm fast, so I could release the tension and thought about the boys and "ohh sh!t another orgasm". I stayed there with my hands buried in my pussy as I jerked for a while.
“Finally I can move on with my day”.
I took a deep breath. I quickly showered and hurriedly left the house because my phone kept buzzing with calls and text messages from Chloe.
Chloe has been my best friend from middle school and now we are in the same college. She's so pretty, and has a set of triplet older brothers, they are soo hot- Lucien, Davian and Sabestian. Three names I had memorized before I even knew what they did to me. I hardly ever spoke to them. They hardly ever noticed me. And yet..... everytime I saw them, I burned.
By the time I reach campus, my pulse has finally settled.
As I got to class, I spotted Chloe. There was an empty seat beside her, she saved it for me . She always does. It's something we always do when either of us are late.
I took the seat beside her. She turned
"You're late early bird" she teased.
“If only you knew”. I murmur.
She raises a brow. “What??”.
“Nothing”. I replied sharply.
I forced a smile because.
If only she knew her brothers were the reason I wake up breathless most mornings..
If only she knew they were the reason I was late, she'd probably not speak to me for a month because she's told me before that they were off limits, they were always up to no good.
“They don't just fvck you, they posses you and ruin you!!!” She said to me while having a conversation half joking.
She laughed. I didn't because I believed her.
But that only makes it worse because I crave the danger in it.
Little does she know that I have been craving for them to ruin me!!!
The dang
er in it just makes me crave it more and more every single day and I'm going to do everything to get it.
Sudut Pandang Kael:Aku tidak bergerak.Sudah lama sekali aku hanya berdiri di sana, sejak Sera pergi bersama pria yang bernama Josh itu.Aku bahkan tidak ingat nama lengkapnya. Yang aku tahu, aku marah.Tidak, aku murka.Aku sendiri tidak benar-benar tahu kenapa. Mungkin karena di kepalaku, aku membayangkan pertemuan kami akan sangat berbeda.Dia seharusnya berlari ke arahku dengan tangan terbuka dan mata berkaca-kaca. Dia seharusnya jatuh ke pelukanku seperti dulu, seolah-olah tempatnya memang ada padaku.Namun, dia malah memeluk pria itu.Josh …. Siapa pun nama belakangnya. Apa dia kaya? Berpengaruh? Lebih baik dariku?Tidak. Tidak mungkin.Memang, bisnis kasinoku sedang tidak dalam kondisi terbaik, terutama setelah masalah dengan Eric dan semua kekacauan media yang dia sebabkan dalam hidupku.Para investor mundur. Bisik-bisik mulai terdengar. Terlalu banyak orang mulai menatapku seolah-olah aku tidak lagi sehebat dulu.Namun, aku masih punya nama, masih punya pengaruh di dunia mafi
Sudut Pandang Sera:Aku sama sekali tidak tahu bagaimana harus menjelaskan semua ini."Ayah. Ini sahabat terbaikmu, yang juga pria yang kamu suruh kupanggil Om, yang juga pria yang kucintai, yang memutus hubungan denganku dengan pernikahan palsu."Ya, jelas tidak mungkin.Sebelum aku sempat menyusun kebohongan yang masuk akal, Josh lebih dulu menundukkan kepala sedikit. "Aku tadi cuma bicara dengan Sera. Dia minta aku mengajaknya keluar sebentar untuk cari udara segar. Kalau kamu nggak keberatan, Pak."Di bawah tatapan penasaran ratusan anggota mafia, Josh menyelipkan jemarinya ke jemariku dengan sengaja, lalu mengangguk sopan pada ayahku.Tatapan ayahku beralih ke tangan kami yang saling menggenggam. Suasanya sontak terasa menegangkan untuk sesaat. Kupikir dia akan marah besar.Namun, dia justru diam sejenak, lalu tersenyum dan menepuk bahuku. "Pergilah. Biar Ayah yang urus di sini."Josh tidak menunggu. Dia menarikku perlahan menembus kerumunan dan aku membiarkannya. Tangannya terasa
Sudut Pandang Sera:Ayahku mengadakan pesta makan malam di salah satu hotel terbaik di pusat kota.Saat aku dan Josh tiba, aku kira cuma acara yang kecil dan tertutup, makan malam dengan paling banyak empat orang.Sebaliknya, aku langsung masuk ke aula dengan setidaknya seratus tamu, lampu kristal berkilau di atas kepala, dan gelas-gelas sampanye sudah saling beradu dalam perayaan."Astaga, ini pasti ulah Ayah," gumamku pelan."Sera!" Suara ayahku menggema di seluruh ruangan. "Semuanya, putriku sudah datang! Dialah yang berhasil menutup kesepakatan di kasino Keluarga Darama hari ini!"Detik berikutnya, aku langsung mendengar tepuk tangan meriah dari para tamu undangan. Aku bisa merasakan pipiku memanas."Josh," bisikku, malu setengah mati. "Aku nggak tahu acaranya bakal sebesar ini."Ini bukan sekadar makan malam keluarga. Ini pertemuan besar, ajang kumpul-kumpul semua keluarga mafia penting dalam radius ratusan kilometer. Tiba-tiba aku menjadi tidak yakin bahwa mengajak Josh adalah id
Sudut Pandang Sera:Sejak aku menyusul orang tuaku ke Ivia, hari-hariku penuh dengan usaha memahami seluk-beluk bisnis ayahku. Rapat, kunjungan, jabat tangan, nama-nama yang harus kuingat, dan angka-angka yang berusaha tidak kubenci ….Aku meyakinkan diri kalau semua kesibukan ini membantu menjaga pikiranku agar tidak kembali melayang ke Kota Noya, ke semua hal yang pernah berantakan di sana.Hari ini pun tidak berbeda. Saat salah satu staf ayahku sedang mengajakku berkeliling kebun anggur, menjelaskan soal jadwal panen dan tingkat keasaman anggur, ponselku tiba-tiba bergetar.Dari Lila."Kamu sudah dengar belum?" katanya bahkan sebelum aku sempat menyapa. "Vivian dan Eric sama-sama ditahan. Sedangkan Kael …. Kasino dan reputasinya lagi dihancurkan habis-habisan sama gosip. Seluruh dunia mafia Kota Noya lagi 'dibersihkan' besar-besaran."Nada suaranya terdengar sangat puas.Aku tidak berniat memadamkan semangatnya, tetapi jujur saja, aku sudah tidak peduli lagi. Jadi aku hanya mengatak
Sudut Pandang Sera:Vivian benar-benar sudah tidak waras.Aku berbalik tanpa berkata apa pun dan langsung berjalan menjauh. Bahkan belum sampai sepuluh langkah, tiba-tiba terdengar jeritan.Aku spontan menoleh, tepat saat melihat Vivian terjatuh dan terguling menuruni tangga.Sialnya, cuma aku yang
Sudut Pandang Sera:Aku dan Kael sudah membangun begitu banyak kenangan selama bertahun-tahun sampai aku sendiri sudah lupa berapa banyak.Setiap ulang tahunnya, aku selalu membuatkan kue untuknya. Pinggirannya gosong, bentuknya miring dan hampir hancur. Namun, itu jadi kebiasaan kami. Ritual kecil
Sudut Pandang Sera:Setelah menutup telepon, kesunyian terasa jauh lebih berat dari sebelumnya.Lima hari lagi, aku akan genap 27 tahun.Kalau hidup berjalan seperti yang dulu kupercaya, hari itu seharusnya menjadi awal dari hubungan kami, hari di mana janji itu akhirnya terwujud.Namun kenyataannya
Sudut Pandang Sera:Seperti biasa, hari ini aku mampir untuk memaksa Kael keluar makan malam. Namun, yang kudapat justru pengakuan bahwa dia tidak pernah menyukaiku dan justru menganggapku sebagai beban. Dia bahkan berencana menggunakan pernikahan palsu dengan cinta masa kecilnya untuk menghancurkan












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.