Beranda / Pendekar / Hamba Belum Mati, Paduka! / Waktu Yang Semakin Tergerus

Share

Waktu Yang Semakin Tergerus

Penulis: DAUN MUDA
last update Terakhir Diperbarui: 2023-05-22 14:21:08

Aku menggelar semua keris lelaki yang bernama Warma di 'peken' atau pasar yang berada di tengah-tengah Desa Sojo. Kebetulan hari masih belum terlalu siang, pengunjung pasar juga masih berlalu lalang membeli kebutuhan, dan ada sebuah meja kayu tak bertuan yang kuangkat ke tengah pasar. 

Menjual keris-keris ini tidak jauh berbeda dengan ilmu negosiasi yang kupelajari saat di istana. Dan targetnya, aku harus bisa menjual beberapa keris Warma untuk ongkos menuju Wangsa Mahayana. 

"Bantu aku, Dewa. Bantu aku," gumamku kemudian mengambil dua keris yang terlihat paling menarik perhatian. 

Aku menghampiri seorang lelaki bertubuh gagah yang hanya memakai celana pendek sebatas lutut berwarna coklat tanpa baju. Kedua lengannya berotot dan rambutnya ditata rapi dengan sedikit gelungan di atasnya. Dan memakai alas kaki dari kulit hewan.

Dia pasti orang terpandang atau memiliki jabatan di Wangsa Canggal, tempatku berada saat ini. 

"Tuan, ada keris baru! Ini dari Wangsa Mahayana! Ini buatan Empu Dharmasetu! Pandai besi paling terkenal di Wangsa Mahayana!"

"Mana ada Empu Dharmasetu menjual kerisnya sembarangan! Kamu berbohong."

"Anda bisa mencobanya lebih dulu sebelum memutuskan ingin membelinya atau tidak, Tuan. Keris ini sangat tajam. Dan lihatlah ukiran ini, bukankah ini sama dengan ukiran keris buatan beliau?"

Dalam hati, aku ketar-ketir andai ketahuan jika keris itu bukanlah buatan Empu Dharmasetu. Karena aku paham sekali bagaimana kualitas keris buatannya yang khusus dibuat untuk para prajurit yang mengabdi pada istana Wangsa Mahayana. 

Lelaki itu nampak tertarik lalu memperhatikan dengan seksama ukiran yang berada di sangkur atau sarung keris. Lalu ia menarik keris sepanjang lima puluh centimeter itu hingga nampak ukiran seperti serat kayu dari bawah hingga ujung. 

"Ujungnya tidak sempurna," gumamnya. 

"Ini keris yang gagal dibuat oleh Empu Dharmasetu, Tuan. Lalu dia menyuruhku menjualnya dengan harga murah."

"Sejak kapan Empu Dharma tidak mau memperbaiki keris ciptaannya yang gagal?"

"Perunggu sudah banyak di datangkan di Mahayana, Tuan. Jadi Empu Dharma tidak kesulitan mencari bahan bakunya andai ada yang gagal dibuat."

"Kamu bagaimana bisa tahu hal ini?"

Aku terkekeh bangga lalu merangkai kebohongan lain demi menarik simpati lelaki gagah itu agar mau membeli keris yang entah itu buatan siapa. Kali ini aku harus berhasil agar bisa kembali ke Wangsa Mahayana. 

Begitu pasar mulai sepi, aku membungkus kembali keris-keris itu ke dalam kain coklat lalu menghampiri Warma yang sedari tadi duduk di bawah pohon yang rindang. Lalu menyerahkan lima puluh keping gobog atau setara dengan satu dirham. 

"Hanya terjual dua keris. Tapi cukup sebagai tambahan ke Wangsa Mahayana, kan?!"

"Baiklah. Ayo kita datangi pemilik bendinya."

***

Aku kembali ke gubuk Bibi Tyasih dengan peluh yang bercucuran. Pasalnya, rumah pemilik bendi ternyata cukup jauh ditambah cuaca sangat terik. 

Ini kali pertama aku berjalan sejauh ini karena selama menjadi putra mahkota, kemanapun aku pergi selalu menggunakan kuda atau bendi khusus kerajaan. Begitu matahari mulai terbenam dan sudah membersihkan diri, aku ikut duduk bersama Bibi Tyasih dan suaminya. 

Kami melahap singkong rebus dengan cabai dan garam yang dihaluskan sebagai makan malam. Maklum keadaan ekonomi keluarga ini tidak terlalu berada. 

"Bi, Paman, aku meminta izin pada kalian karena besok aku akan ke Wangsa Mahayana."

Keduanya menatapku dengan sorot tertegun. 

"Wira, kamu jangan mengigau. Mahayana itu jauh. Bisa berhari-hari sampai disana walau naik bendi."

"Aku tahu, Bi. Dan aku tadi sudah bertemu dengan pemilik bendi."

Kali ini mereka justru terkejut setengah mati mendengar ucapanku.

"Kamu baru mati suri dan sekarang mau pergi lagi? Wira, kesehatanmu belum benar-benar kembali."

Kepalaku menggeleng. "Aku akan semakin sakit kalau tetap berada di gubuk saja, Bi. Aku kesana karena ingin merantau. Aku ini laki-laki dan harus bisa membanggakan keluarga."

"Tidak, Wira. Jangan sekarang. Bibi tidak tega membiarkanmu pergi sejauh itu."

Beragam alasan yang kulontarkan pada Bibi Tyasih dan suaminya tidak serta membuat mereka mengizinkanku pergi. Mereka masih menganggap bahwa raga Grawira masih terlalu lemah. Padahal yang menjalankan tubuh keponakannya ini adalah jiwaku, Putra Mahkota Majafi.

Selain itu, aku baru tahu jika Grawira bukanlah lelaki bermental baja pada umumnya. Dia lelaki penakut apalagi untuk bepergian sejauh itu. 

Malam harinya saat aku akan menyelinap pergi dari gubuk ini, Paman dan Bibi Tyasih justru tidur di depan pintu gubuk. Padahal kemarin malam mereka tidur di dalam kamar mereka sendiri. Apakah mereka sengaja tidur di depan pintu untuk menghalau rencana kepergianku?

Bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan ketika waktu yang kumiliki juga semakin sedikit?

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Hamba Belum Mati, Paduka!   Ramuan Konspirasi

    Tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar. Membuat Pangeran Wikrama menghentikan langkahnya. Namun aku dan Rawati yang bersembunyi tetap waspada dengan jantung berdegub kencang.“Pangeran Grawira! Mohon segera ke balairung! Persiapan rapat pengukuhan sebagai Putra Mahkota harus segera dibicarakan!”Senyum kemenangan Pangeran Wirakrama tercetak jelas. Dan dia seketika lupa dengan tujuan awalnya mencari suara tidak jelas di kamarnya ini.Langkah Pangeran Wikrama terdengar menjauh menuju pintu.“Beri aku waktu sebentar,” ucapnya sembari mengambil jubah kebesarannya yang disulam dengan benang emas.Setelah Pangeran Wikrama melangkah keluar, aku melepaskan Rawati yang secara tidak sengaja kudekap cukup erat.Kami langsung menjauh dan tanpa sadar membentur langit-langit meja. Beruntung Pangeran Wikrama sudah pergi.“Maaf, Rawati,” ucapku.Dia hanya mengangguk dengan membetulkan pakaiannya yang tidak kenapa-napa dengan wajah sedikit memerah karena malu.Keheningan sejenak itu menyelimuti ruang

  • Hamba Belum Mati, Paduka!   Semoga Saja Berhasil

    Berbekal mengenakan pakaian prajurit curian, aku bisa memasuki istana dengan leluasa. Namun jika memiliki kesempatan, aku selalu bergerak cepat. Kulihat Rawati mulai memasuki istana dan dia mengangguk sangat pelan dengan menatapku. Dalam hati aku berdoa agar Rawati bisa memasuki kamar Pangeran Wikrama dengan alasan akan membersihkannya. "Kamu kenapa, Wira?" tanya seorang prajurit yang sedang berjaga denganku. Aku berpura-pura memegangi perut sambil memasang wajah kesakitan. "Sepertinya aku tidak enak perut. Aku mau ke belakang sebentar. Tolong kamu yang berjaga sebentar ya?""Cepatlah! Sebelum panglima menghukummu!"Dengan setengah berlari aku menuju belakang namun di balik bangunan aku segera berbelok ke arah istana Pangeran Wikrama. Lalu dengan amat hati-hati, aku menyelinap masuk. "Biar aku saja yang membersihkan kamar Pangeran Wikrama. Kamu beristirahatlah." Itu suara Rawati. Dia sedang berbicara dengan seorang dayang yang biasanya membersihkan kamar Pangeran Wikrama. "Apa

  • Hamba Belum Mati, Paduka!   Kepercayaan Tidak Penuh

    "Bagus!" gumamku lalu tersenyum puas ketika anak panah telah menancap sempurna di pohon pisang bidikanku. Lalu tangan kananku menarik tali kuda dan membuatnya berhenti perlahan. Begitu kepalaku menoleh ke arah dimana Rawati berdiri dan memperhatikan, dia hanya memandangku dengan tatapan banyak kebimbangan. Aku turun dari kuda lalu mengikatkan talinya ke salah satu pohon lalu mendekati Rawati. "Aku tidak memaksamu untuk percaya. Tapi tolong bantu aku. Tolong cari tahu kapan penobatan Pangeran Wikrama akan dilangsungkan." "Bagaimana kalau kamu ternyata seorang pengkhianat?" "Waktuku hanya empat puluh hari lagi. Jika dihitung dari sekarang, tersisa tiga puluh hari saja, Wati. Aku tidak memiliki banyak waktu untuk berbohong. Lihat saat hari keempat puluh nanti. Raga yang kudiami ini akan kembali menjadi sosok Grawira yang sebenarnya. Aku meminta tolong padamu, Rawati." Kemudian aku berbalik menuju kuda untuk mencari strategi baru bagaimana cara menguak rahasia mati suri yang kualam

  • Hamba Belum Mati, Paduka!   Berkuda Sekaligus Memanah

    "Ampun, Baginda Raja! Saya hanya mengingatkan. Dari pada nanti akan terjadi kudeta seperti Wangsa Samara hingga membuat sang raja dihabisi oleh rakyatnya." Aku memberanikan diri sedikit mendongak untuk melihat raut wajah Baginda Raja, ayahku. Terlihat dia begitu kesal dengan bibir mengerucut dan alis menukik tajam. Lalu Pangeran Wikrama membisikkan sesuatu di telinga Baginda Raja kemudian beliau mengangguk kecil. Ekspresinya sedikit mengendur ketika mendapat bisikan kecil dari Pangeran Wikrama. Entah apa yang adikku itu katakan hingga Baginda Raja menurut. Beliau mengambil nafas sebanyak mungkin lalu menghembuskannya kasar dihadapan para patih yang duduk dihadapannya. "Baiklah, kita tunda seperti rencana awal." Aku ikut melega mendengar keputusan Baginda Raja karena setidaknya aku bisa menyusun rencana selanjutnya. Setidaknya aku harus tahu secara pasti kapan tanggal penobatan Pangeran Wikrama. Begitu acara usai, aku segera menuruni tangga lebih dulu lalu bergerak cepat mening

  • Hamba Belum Mati, Paduka!   Titisan Dewa Yang Tidak Bisa Menjadi Panutan

    Setelah mendapat informasi kapan Pangeran Wikrama akan dilantik menjadi putra mahkota, aku tidak kembali ke istana tempat ragaku terbaring lemah. Juga tidak tega jika harus kembali ke sana tapi melihat Putri Mahkota Kayuwangi bersedih hati, namun aku juga sangat ingin tahu bagaimana kabar ketiga putraku. Calon penerusku. Bertepatan dengan langkah yang terasa berat ini, aku melihat rombongan para menteri menuju istana yang ditempati Baginda Raja. Aku hafal wajah dan nama mereka satu demi satu karena setiap kali Baginda Raja melakukan perkumpulan di setiap pagi hari, aku duduk di sebelah Baginda Raja menatap para menteri yang bergelar patih itu. Dengan sigap, aku urung melangkah kembali ke istanaku, melainkan bersembunyi di dekat bangunan yang ada di dekat dapur istana. "Apa yang akan mereka lakukan malam-malam begini ke kediaman Baginda Raja? Apa yang akan mereka bicarakan? Apa ada pembicaraan penting yang sifatnya mendadak?" gumamku sendiri. Kemudian aku makin melangkah mundur

  • Hamba Belum Mati, Paduka!   Saatnya Bergerak!

    "Pergi kamu dari istanaku, Pangeran Wikrama! Jangan pernah meletakkan kakimu lagi di istana ini!" Pekikan Putri Mahkota Kayuwangi terdengar menggema di pelataran istana yang biasa kutinggali dengannya saat raga ini masih sehat. Ia tengah berhadap-hadapan dengan Pangeran Wikrama yang berdiri tinggi menjulang dengan tubuh gagah dan tangan mengepal. Pakaian indah khas anggota kerajaan yang melekat di tubuh dan mahkota kecil dengan bermatakan intan serta berlapiskan emas yang tersunggi di atas kepalanya, nampak memantulkan sinar rembulan di malam ini. Menjadikannya sosok yang terlihat agung untuk dipuja. Di belakang Pangeran Wikrama ada lima prajurit berpakaian kurang lebih sama denganku, tengah berdiri dengan membawa gulungan kain dan tikar. Untuk apa? "Kamu hanya menantu di Istana Mahayana, Putri Mahkota! Jadi, tidak perlu bersikap jagoan akan melawanku yang jelas-jelas adalah keturunan dari kerajaan ini!" ucapnya tegas. "Walau aku menantu, tapi ini adalah istanaku dengan Putra

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status