Share

Hampir Hilang Karena Penasaran
Hampir Hilang Karena Penasaran
Penulis: MrR.story

BAB 1 - Kilatan Awal

Penulis: MrR.story
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-10 19:00:22

Aku tidak pernah membayangkan hidupku bisa berubah hanya karena satu kata: penasaran. Kata itu terdengar sepele, hampir tak berarti, tapi ternyata mampu membuka pintu yang tak kusadari akan kutemui. Awalnya semua terasa sederhana, terlalu sederhana. Terlalu mudah untuk diremehkan. Aku hanya ingin tahu bagaimana rasanya bermain judi online. Tidak lebih. Tidak ada niat serius. Tidak ada rencana panjang. Hanya ingin membuktikan pada diriku sendiri bahwa aku bisa berhenti kapan saja.

Malam itu, aku membuat akun. Jari-jariku gemetar ketika memasukkan nominal deposit pertama. Tidak besar, hanya uang yang kupikir “aman untuk dicoba”. Aku sempat tertawa kecil, merasa ini sekadar hiburan, sama seperti orang lain yang sering kulihat di layar ponsel mereka. Namun, di balik tawa itu, ada getaran halus—rasa penasaran yang tak bisa kuabaikan. Jantungku berdetak sedikit lebih cepat, seolah ada alarm samar di dalam diri. Aku menatap ponsel dengan campuran rasa senang dan gugup. Ini pengalaman baru, dan aku ingin menikmatinya… tapi sekaligus menahan diri agar tidak larut.

Putaran pertama. Kosong.

Putaran kedua. Masih belum ada apa-apa.

Aku hampir menutup aplikasi itu ketika tiba-tiba angka di layar berubah. Saldo bertambah. Jantungku berdegup lebih cepat. Sensasi hangat menjalar di dada—perasaan campuran antara kaget, senang, dan bangga. Aku menang.

Tak lama, angka itu terus naik. Tanganku mulai berkeringat, nafas sedikit terengah. Delapan juta rupiah. Delapan juta. Aku menatap layar ponselku lama sekali. Rasanya seperti mimpi. Uang sebanyak itu datang tanpa keringat, tanpa kerja keras. Hanya dari beberapa sentuhan jari. Di kepalaku, suara logika berbisik pelan: “Berhenti. Cukup sampai di sini.” Tapi suara lain muncul, lebih halus, lebih licik: “Kalau baru segini saja sudah segini hasilnya, bagaimana kalau lanjut sedikit lagi?”

Aku mematikan ponsel dan meletakkannya di samping. Nafasku tidak teratur. Ada rasa takut samar, bayangan tipis di sudut ruangan. Jauh di dalam hati, aku tahu ada sesuatu yang tidak beres. Namun anehnya, rasa itu kalah oleh satu hal yang jauh lebih kuat: penasaran.

Malam itu, aku tidak bisa tidur. Mata terpejam, tapi pikiran terus berputar. Angka-angka menari di kepala, bayangan kemenangan terasa begitu nyata, seolah memanggilku untuk kembali. Aku merenung, bertanya-tanya apakah benar aku masih memegang kendali. Penasaran yang kupikir sepele ternyata menimbulkan pertanyaan besar: apakah aku bisa berhenti saat ingin? Apakah aku siap menghadapi konsekuensi?

Aku teringat teman lama, yang pernah hampir kehilangan segalanya karena permainan ini. Ia menceritakan bagaimana satu kemenangan kecil membuatnya percaya bisa mengendalikan semuanya. Tapi kenyataannya, setiap kemenangan justru mengikatnya lebih dalam, membuatnya semakin sulit mundur. Bayangan itu menghantui pikiranku, tapi aku mencoba menepisnya. “Ah, itu cuma cerita orang lain. Aku berbeda. Aku bisa berhenti,” kataku dalam hati.

Keesokan harinya, rasa penasaran itu masih menempel. Aku mencoba menenangkan diri dengan melakukan rutinitas biasa—sarapan, menonton berita, membuka email. Namun pikiran tentang malam sebelumnya tak bisa lepas. Setiap notifikasi di ponsel, setiap suara aplikasi, terasa seperti panggilan untuk kembali. Aku mencoba mengalihkan perhatian, membaca buku, mendengarkan musik, tapi tetap saja ada rasa dorongan halus di dalam diri. Dorongan itu bukan sekadar ingin tahu, tapi semacam tarikan adrenalin yang membuat hati berdebar.

Aku mulai menulis catatan kecil di buku harian: mencatat perasaan, ketakutan, harapan, dan juga strategi untuk menahan diri. Aku menulis bagaimana kemenangan itu membuatku merasa superior, tapi juga takut kehilangan kendali. Setiap kalimat menjadi pengingat bahwa keputusan kecil bisa membawa dampak besar. Aku ingin memahami diriku sendiri, mencoba mengamati pola pikir yang mungkin membawaku ke keputusan bodoh, dan sekaligus menenangkan rasa penasaran yang terus membesar.

Hari demi hari, aku mulai memperhatikan lingkungan sekitar. Orang-orang di sekitarku tampak biasa, menjalani rutinitas mereka, tapi aku mulai menyadari bahwa tiap orang menghadapi godaan dan pilihan masing-masing. Bayangan kesalahan temanku muncul lagi. Ia pernah kehilangan hampir segalanya karena satu dorongan kecil yang tidak tertahan. Aku tidak ingin mengulang jejak itu. Setiap detil, dari uang yang ditabung, waktu yang terbuang, percakapan yang terlewat, terasa begitu penting sekarang.

Aku mulai menambahkan narasi internal lebih detail: bagaimana suara jantungku saat membuka aplikasi, bagaimana cahaya lampu di kamar seolah menyorot layar ponsel, bagaimana aroma kopi di pagi hari terasa berbeda dari biasanya. Semua hal kecil itu memperkuat kesadaran bahwa pengalaman ini bukan sekadar hiburan. Aku sedang belajar tentang batas diri, tentang godaan, dan tentang konsekuensi yang mungkin terjadi.

Aku juga merenungkan masa lalu: bagaimana aku dulu mudah tergoda oleh hal-hal kecil, bagaimana keputusan impulsif bisa menghancurkan rutinitas, dan bagaimana pelajaran kecil kadang terlambat kuterima. Kini aku sadar bahwa kemenangan semalam hanyalah satu langkah kecil dalam perjalanan panjang, dan langkah berikutnya harus dipikirkan matang-matang.

Seiring malam menjelang, aku mencoba menenangkan diri. Berjalan-jalan sebentar di teras, menatap langit malam. Bintang-bintang tampak tenang, kontras dengan keruwetan pikiranku. Nafasku perlahan menenangkan diri, tapi rasa penasaran tetap ada, samar namun terasa. Aku menyadari bahwa perjalanan ini bukan sekadar hiburan malam itu; ini adalah pelajaran tentang batas diri, tentang pengendalian, dan tentang konsekuensi yang mengikuti setiap keputusan.

Aku merenungkan tentang rasa penasaran itu sendiri. Mengapa manusia selalu terdorong untuk mencoba hal-hal yang mungkin membahayakan diri sendiri? Apakah itu naluri, adrenalin, atau sekadar keingintahuan? Aku merasa bahwa rasa penasaran, bila tidak dikendalikan, bisa menuntun pada kesalahan besar. Tapi bila dipahami dan diatur, ia bisa menjadi guru yang mengajarkan batasan diri.

Aku duduk kembali di kursi, menatap layar ponsel yang masih tergeletak di meja. Bayangan kemenangan semalam terus muncul di benakku, bercampur dengan ketakutan dan pertimbangan rasional. Aku menulis lagi, mencoba mengekspresikan ketegangan yang kurasakan. Kata demi kata menjadi jendela untuk menilai diriku sendiri. Aku sadar bahwa menulis tentang pengalaman ini membantu menenangkan pikiran dan membuat keputusan lebih jelas.

Malam menutup hari pertamaku setelah kemenangan itu. Aku menatap langit-langit kamar, merenungi langkah-langkah yang mungkin akan kuambil. Nafasku perlahan menenangkan diri, tapi pikiran tetap berputar. Satu hal jelas: aku telah membuka pintu, dan tidak ada jalan mundur yang mudah. Aku hanya bisa berharap bahwa di balik rasa penasaran ini, masih ada ruang untuk logika, kontrol diri, dan pembelajaran yang akan membimbingku ke arah yang lebih baik.

Aku tidur dengan mata terpejam, tapi kali ini dengan satu tekad samar di hati: untuk mengamati diri, belajar dari setiap keputusan, dan mencoba memahami batas antara keinginan dan konsekuensi. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi besok, tapi satu hal pasti: perjalanan ini baru dimulai. Rasa penasaran mungkin memanggil lagi, tapi kali ini aku ingin mencoba menahannya, meski itu sulit. Aku ingin tetap waspada, tetap belajar, dan tetap menyadari bahwa setiap keputusan kecil bisa membawa perubahan besar.

Aku menarik selimut lebih rapat, menutup mata, dan membiarkan diri hanyut dalam campuran perasaan lega dan cemas. Malam itu, aku tidur dengan satu kesadaran: dunia nyata penuh godaan, dan perjalanan menuju pengendalian diri tidak akan mudah. Tapi aku siap mencoba. Dengan setiap napas, aku belajar, menilai, dan bersiap menghadapi hari esok dengan hati lebih kuat, pikiran lebih jernih, dan rasa penasaran yang kini kudisiplinkan dengan pelan.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Hampir Hilang Karena Penasaran   BAB 11 - Kembali

    Aku tidak sedang mencari pengampunan.Aku hanya akhirnya berhenti mencari alasan.Untuk waktu yang lama, aku menyebut semuanya sebagai “fase.”Seolah kata itu cukup untuk membuat kesalahan terasa lebih kecil.Seolah waktu akan otomatis membersihkan apa yang pernah kulakukan.Ternyata tidak.Waktu hanya berjalan.Ia tidak menghapus apa pun.Ia hanya memberi jarak agar aku bisa melihat lebih jelas.Dan yang kulihat bukanlah dosa besar yang dramatis.Yang kulihat adalah diriku sendiri—yang terlalu yakin tidak akan kehilangan apa pun.Aku hampir kehilangan masa depanku bukan karena dunia kejam.Bukan karena nasib tidak berpihak.Bukan karena orang lain menjatuhkanku.Aku hampir kehilangan masa depanku karena aku merasa satu langkah kecil tidak akan berdampak besar.Aku merasa masih punya kendali.Merasa masih bisa berhenti kapan saja.Merasa se

  • Hampir Hilang Karena Penasaran   BAB 10 - Bertahan Bukan Berarti Selesai

    Aku tidak merasa menang setelah semua itu berlalu.Yang ada hanya rasa hening yang aneh—bukan tenang, tapi tidak lagi ricuh. Seperti ruangan yang baru saja ditinggalkan oleh suara pertengkaran panjang, menyisakan udara berat yang masih menggantung.Aku pulang dengan langkah biasa.Tidak tergesa, tidak juga ingin berhenti.Aku hanya berjalan karena tahu, diam terlalu lama akan membuat pikiranku kembali ke tempat yang sama.Malam itu aku duduk sendirian. Lampu kamar menyala seperlunya. Tidak ada musik, tidak ada distraksi. Aku membiarkan kepalaku kosong untuk pertama kalinya, dan justru di situlah aku sadar: melawan diri sendiri ternyata menguras tenaga lebih banyak daripada yang pernah kubayangkan.Aku sudah memilih.Dan pilihan itu tidak terasa seperti kemenangan.Tidak ada rasa lega yang dramatis.Tidak ada tepuk tangan dari siapa pun.Yang ada hanya kelelahan—jenis lelah yang datang setelah menahan sesuatu terlalu lama.Aku bertanya pada diriku sendiri, pelan:kalau aku sudah bertah

  • Hampir Hilang Karena Penasaran   BAB 9 - Ketika Diri Sendiri Menjadi Musuh

    Jarak yang ia ciptakan akhirnya berhasil.Setidaknya, itu yang terlihat dari luar.Tidak ada lagi situasi berisiko. Tidak ada percakapan yang menggoda. Tidak ada kebiasaan yang perlu disembunyikan. Hari-harinya berjalan lebih rapi, lebih terkendali. Bahkan terlalu rapi, sampai terasa asing.Aman.Tapi anehnya, rasa aman itu tidak membawa lega.Justru di sela-sela keheningan, pikirannya menjadi lebih bising. Tidak ada distraksi untuk disalahkan. Tidak ada alasan eksternal untuk bersembunyi. Yang tersisa hanyalah dirinya sendiri—dan suara-suara kecil di dalam kepala yang selama ini tertutup oleh keramaian.Ia mulai sadar sesuatu:musuh terbesarnya tidak pernah benar-benar pergi.Selama ini, ia sibuk menjaga jarak dari luar. Dari keadaan, dari orang, dari kemungkinan-kemungkinan yang bisa menjatuhkannya kembali. Tapi ia lupa satu hal yang paling sulit dihindari—dirinya sendiri.Pikiran-pikiran itu datang pelan.

  • Hampir Hilang Karena Penasaran   BAB 8 - Jarak yang Menyelamatkan

    Ia duduk di meja yang sama, tapi dunia di sekitarnya terasa berbeda.Tidak ada godaan yang jelas, tidak ada dorongan untuk menolak atau mengiyakan. Hanya ada jarak—yang ia buat sendiri, perlahan, tanpa suara.Setelah malam-malam panjang, setelah langkah-langkah kecil yang menahan diri, ia menyadari satu hal: bertahan tidak selalu berarti bergerak maju. Kadang bertahan berarti menarik diri. Menjaga ruang. Menjauh dari hal-hal yang tampak wajar, tapi perlahan bisa mengikis.Ia menatap meja yang kosong. Lampu redup di sudut kamar menyorot kertas-kertas yang belum disentuh. Semua tampak sama. Tapi ia tahu, sejak Bab 7, ada sesuatu yang berubah: cara pikirnya, cara ia menilai, cara ia menahan diri. Semua berjarak. Semua tersaring.Menjauh bukan berarti kalah.Menjauh bukan berarti menyerah.Ia mulai menghitung hal-hal yang harus diberi jarak: kebiasaan, orang, rutinitas kecil yang selama ini dianggap aman. Semua yang terasa biasa tapi mengu

  • Hampir Hilang Karena Penasaran   BAB 7 - Saat Godaan Berubah Wajah

    Ia tidak datang sebagai keinginan.Tidak mengetuk. Tidak mendesak.Ia hadir sebagai alasan.Setelah malam-malam panjang yang diisi penolakan, tubuhnya belajar diam. Bukan tenang—lebih tepatnya hemat. Ia mengurangi gerak, mengurangi harap, mengurangi reaksi. Seolah sadar bahwa setiap keputusan benar menyisakan sisa yang harus dibayar pelan-pelan.Dan di ruang sisa itulah, sesuatu mulai duduk.Tidak ada bisikan. Tidak ada gambar.Hanya satu kalimat yang terdengar rapi:“Kamu sudah cukup kuat.”Kalimat itu tidak mengajak. Ia menilai.Nada netral, hampir administratif.Ia mengulangnya dalam kepala tanpa perasaan apa pun. Seperti membaca laporan harian yang tidak perlu ditanggapi. Karena benar—ia memang sudah kuat. Sudah menahan. Sudah memilih. Sudah melewati satu malam yang seharusnya gagal, tapi tidak.Kalimat itu lalu menambahkan satu baris kecil, nyaris sopan:“Sedikit ti

  • Hampir Hilang Karena Penasaran   BAB 6 - Retakan Pertama

    Keputusan semalam tidak berubah jadi ketenangan.Ia tidak bangun sebagai orang baru. Tidak ada rasa menang.Yang ada hanya tubuh yang terasa lebih berat dari biasanya, seolah ia habis mengangkat sesuatu semalaman—bukan dengan tangan, tapi dengan pikirannya sendiri.Ia duduk di tepi ranjang lebih lama dari yang ia sadari.Bukan karena malas.Lebih karena tubuhnya seperti lupa bagaimana caranya memulai hari.Ada jeda aneh di antara bangun dan benar-benar hidup.Semalam ia memilih berhenti.Memilih menahan diri.Memilih yang katanya benar.Tapi pagi ini tidak memberi penghargaan apa pun.Cahaya masuk dari sela jendela, sama seperti hari-hari lain. Tidak lebih hangat. Tidak lebih ramah.Ia memperhatikan detail kecil yang biasanya luput—debu di lantai, suara jauh kendaraan, jam dinding yang berdetak terlalu keras.Semua terasa terlalu nyata.Dan itu melelahkan.Ia meraih p

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status