Share

BAB 11 - Kembali

Penulis: MrR.story
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-23 19:00:50

Aku tidak sedang mencari pengampunan.

Aku hanya akhirnya berhenti mencari alasan.

Untuk waktu yang lama, aku menyebut semuanya sebagai “fase.”

Seolah kata itu cukup untuk membuat kesalahan terasa lebih kecil.

Seolah waktu akan otomatis membersihkan apa yang pernah kulakukan.

Ternyata tidak.

Waktu hanya berjalan.

Ia tidak menghapus apa pun.

Ia hanya memberi jarak agar aku bisa melihat lebih jelas.

Dan yang kulihat bukan

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Hampir Hilang Karena Penasaran   BAB 11 - Kembali

    Aku tidak sedang mencari pengampunan.Aku hanya akhirnya berhenti mencari alasan.Untuk waktu yang lama, aku menyebut semuanya sebagai “fase.”Seolah kata itu cukup untuk membuat kesalahan terasa lebih kecil.Seolah waktu akan otomatis membersihkan apa yang pernah kulakukan.Ternyata tidak.Waktu hanya berjalan.Ia tidak menghapus apa pun.Ia hanya memberi jarak agar aku bisa melihat lebih jelas.Dan yang kulihat bukanlah dosa besar yang dramatis.Yang kulihat adalah diriku sendiri—yang terlalu yakin tidak akan kehilangan apa pun.Aku hampir kehilangan masa depanku bukan karena dunia kejam.Bukan karena nasib tidak berpihak.Bukan karena orang lain menjatuhkanku.Aku hampir kehilangan masa depanku karena aku merasa satu langkah kecil tidak akan berdampak besar.Aku merasa masih punya kendali.Merasa masih bisa berhenti kapan saja.Merasa se

  • Hampir Hilang Karena Penasaran   BAB 10 - Bertahan Bukan Berarti Selesai

    Aku tidak merasa menang setelah semua itu berlalu.Yang ada hanya rasa hening yang aneh—bukan tenang, tapi tidak lagi ricuh. Seperti ruangan yang baru saja ditinggalkan oleh suara pertengkaran panjang, menyisakan udara berat yang masih menggantung.Aku pulang dengan langkah biasa.Tidak tergesa, tidak juga ingin berhenti.Aku hanya berjalan karena tahu, diam terlalu lama akan membuat pikiranku kembali ke tempat yang sama.Malam itu aku duduk sendirian. Lampu kamar menyala seperlunya. Tidak ada musik, tidak ada distraksi. Aku membiarkan kepalaku kosong untuk pertama kalinya, dan justru di situlah aku sadar: melawan diri sendiri ternyata menguras tenaga lebih banyak daripada yang pernah kubayangkan.Aku sudah memilih.Dan pilihan itu tidak terasa seperti kemenangan.Tidak ada rasa lega yang dramatis.Tidak ada tepuk tangan dari siapa pun.Yang ada hanya kelelahan—jenis lelah yang datang setelah menahan sesuatu terlalu lama.Aku bertanya pada diriku sendiri, pelan:kalau aku sudah bertah

  • Hampir Hilang Karena Penasaran   BAB 9 - Ketika Diri Sendiri Menjadi Musuh

    Jarak yang ia ciptakan akhirnya berhasil.Setidaknya, itu yang terlihat dari luar.Tidak ada lagi situasi berisiko. Tidak ada percakapan yang menggoda. Tidak ada kebiasaan yang perlu disembunyikan. Hari-harinya berjalan lebih rapi, lebih terkendali. Bahkan terlalu rapi, sampai terasa asing.Aman.Tapi anehnya, rasa aman itu tidak membawa lega.Justru di sela-sela keheningan, pikirannya menjadi lebih bising. Tidak ada distraksi untuk disalahkan. Tidak ada alasan eksternal untuk bersembunyi. Yang tersisa hanyalah dirinya sendiri—dan suara-suara kecil di dalam kepala yang selama ini tertutup oleh keramaian.Ia mulai sadar sesuatu:musuh terbesarnya tidak pernah benar-benar pergi.Selama ini, ia sibuk menjaga jarak dari luar. Dari keadaan, dari orang, dari kemungkinan-kemungkinan yang bisa menjatuhkannya kembali. Tapi ia lupa satu hal yang paling sulit dihindari—dirinya sendiri.Pikiran-pikiran itu datang pelan.

  • Hampir Hilang Karena Penasaran   BAB 8 - Jarak yang Menyelamatkan

    Ia duduk di meja yang sama, tapi dunia di sekitarnya terasa berbeda.Tidak ada godaan yang jelas, tidak ada dorongan untuk menolak atau mengiyakan. Hanya ada jarak—yang ia buat sendiri, perlahan, tanpa suara.Setelah malam-malam panjang, setelah langkah-langkah kecil yang menahan diri, ia menyadari satu hal: bertahan tidak selalu berarti bergerak maju. Kadang bertahan berarti menarik diri. Menjaga ruang. Menjauh dari hal-hal yang tampak wajar, tapi perlahan bisa mengikis.Ia menatap meja yang kosong. Lampu redup di sudut kamar menyorot kertas-kertas yang belum disentuh. Semua tampak sama. Tapi ia tahu, sejak Bab 7, ada sesuatu yang berubah: cara pikirnya, cara ia menilai, cara ia menahan diri. Semua berjarak. Semua tersaring.Menjauh bukan berarti kalah.Menjauh bukan berarti menyerah.Ia mulai menghitung hal-hal yang harus diberi jarak: kebiasaan, orang, rutinitas kecil yang selama ini dianggap aman. Semua yang terasa biasa tapi mengu

  • Hampir Hilang Karena Penasaran   BAB 7 - Saat Godaan Berubah Wajah

    Ia tidak datang sebagai keinginan.Tidak mengetuk. Tidak mendesak.Ia hadir sebagai alasan.Setelah malam-malam panjang yang diisi penolakan, tubuhnya belajar diam. Bukan tenang—lebih tepatnya hemat. Ia mengurangi gerak, mengurangi harap, mengurangi reaksi. Seolah sadar bahwa setiap keputusan benar menyisakan sisa yang harus dibayar pelan-pelan.Dan di ruang sisa itulah, sesuatu mulai duduk.Tidak ada bisikan. Tidak ada gambar.Hanya satu kalimat yang terdengar rapi:“Kamu sudah cukup kuat.”Kalimat itu tidak mengajak. Ia menilai.Nada netral, hampir administratif.Ia mengulangnya dalam kepala tanpa perasaan apa pun. Seperti membaca laporan harian yang tidak perlu ditanggapi. Karena benar—ia memang sudah kuat. Sudah menahan. Sudah memilih. Sudah melewati satu malam yang seharusnya gagal, tapi tidak.Kalimat itu lalu menambahkan satu baris kecil, nyaris sopan:“Sedikit ti

  • Hampir Hilang Karena Penasaran   BAB 6 - Retakan Pertama

    Keputusan semalam tidak berubah jadi ketenangan.Ia tidak bangun sebagai orang baru. Tidak ada rasa menang.Yang ada hanya tubuh yang terasa lebih berat dari biasanya, seolah ia habis mengangkat sesuatu semalaman—bukan dengan tangan, tapi dengan pikirannya sendiri.Ia duduk di tepi ranjang lebih lama dari yang ia sadari.Bukan karena malas.Lebih karena tubuhnya seperti lupa bagaimana caranya memulai hari.Ada jeda aneh di antara bangun dan benar-benar hidup.Semalam ia memilih berhenti.Memilih menahan diri.Memilih yang katanya benar.Tapi pagi ini tidak memberi penghargaan apa pun.Cahaya masuk dari sela jendela, sama seperti hari-hari lain. Tidak lebih hangat. Tidak lebih ramah.Ia memperhatikan detail kecil yang biasanya luput—debu di lantai, suara jauh kendaraan, jam dinding yang berdetak terlalu keras.Semua terasa terlalu nyata.Dan itu melelahkan.Ia meraih p

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status