Share

Bab 387

Penulis: Rina Safitri
Yulia tetap bersikap sopan, namun mulutnya rapat seperti terkunci.

“Maaf, aku nggak bisa sembarangan beritahu kondisi pasien,” katanya lembut.

Lisa manyun, padahal rasa penasarannya menggelitik. Tapi karena yang sakit bukan kakaknya, minatnya pun segera surut.

Begitu masuk ke Vila Asri, ia langsung masuk ke ruang kerja kakaknya.

Begitu pintu terbuka, asap rokok yang pekat buat dia langsung terbatuk.

“Uhuk… uhuk…”

Indra menoleh, alisnya sedikit berkerut.

“Kamu ngapain datang ke sini?”

Lisa mengerucutkan bibir. “Kenapa? Aku nggak boleh datang kalau nggak ada urusan? Kak, belakangan ini kamu semakin dingin ke aku. Apa aku sudah bukan adik kesayanganmu lagi?”

Nada manja itu buat ketajaman di mata Indra memudar, wajahnya melunak.

“Oke, katakan kenapa?”

Mata Lisa yang mirip sekali dengan milik kakaknya berkilat nakal.

“Sebentar lagi ulang tahunku. Kamu ingat, kan?”

Sejujurnya, kalau ia nggak menyinggung soal itu, Indra mungkin benar-benar lupa.

“Kamu mau apa?”

Lisa langsung menyebut beberapa
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Hari Aku Kehilangan, Dia Merayakan   Bab 680

    Hanya karena alasan itu, Puspa akhirnya pilih untuk menghilang.Wilson tanya, “Siapa?”Karena semuanya sudah terlanjur terbongkar, Puspa nggak lagi tutupi itu. Ia jawab, “Kakek Budi.”Dengar nama itu, ekspresi Wilson langsung mengeras.Di luar dugaan, namun tetap masuk akal. Keluarga Wijaya lakukan hal seperti ini nggak bikin dia kaget sama sekali.Dan Puspa juga nggak heran kenapa Kakek Budi lakukan hal seperti itu. Alasannya mudah ditebak.Pertama, Kakek Budi nggak ingin lihat Indra terus terikat ke dia dan ganggu ketenteraman Keluarga Wijaya.Kedua, Kakek Budi ingin singkirkan Puspa, karena mau tukar nyawa dengan nyawa.Jadi, buat dia “menghilang”, adalah cara paling efektif, paling sedikit kerugian. Nggak, bagi Keluarga Wijaya, nggak ada kerugian sedikit pun.Asalkan dirinya lenyap, semuanya kembali ke tempatnya. Jalan paling bersih dan paling mudah, jadi tentu saja, mereka ambil jalan itu.Puspa nggak ingin terus terjebak dalam masa lalu. Ia sendiri yang potong pembicaraan, “Sejak

  • Hari Aku Kehilangan, Dia Merayakan   Bab 679

    Kamar rawat inap.Guru Zean terbaring di atas ranjang, sementara perawat sedang pijat seluruh tubuhnya agar otot-ototnya nggak tambah mengecil.Sosok kakek yang dulu penuh semangat dan ingatan kuat itu, kini tampak kurus dan rapuh.“Guru Zean.”Suara Puspa pelan, seakan takut bikin dia kaget.Dengar suara itu, Guru Zean perlahan, dengan gerakan yang tampak sangat berat memiringkan kepalanya. Begitu tatapan mereka bertemu, mata yang awalnya keruh itu sempat terhenti, sebelum akhirnya menatap tanpa berkedip.Puspa lalu tersenyum lembut. “Guru, aku sudah pulang.”Begitu kata-kata itu selesai diucapkan, ruangan kembali sunyi. Sunyi sampai suara detik jam dinding terdengar begitu jelas.Hanya setelah puluhan detik, barulah Guru Zean tunjukkan reaksi.Cahaya mulai beriak di matanya, kolam mati yang tadinya tenang, perlahan bangkit jadi gelombang yang mengguncang. Matanya membesar, emosinya ikut melonjak.“Uh … kamu … kamu .…”Bibir Guru Zean yang menipis itu bergetar, otot-otot wajahnya berk

  • Hari Aku Kehilangan, Dia Merayakan   Bab 678

    Memikirkan hal itu, senyum muncul di wajah Bu Sekar, dan ia mengangguk pelan.Indra menatap Si Gendut yang sedang selonjoran di dekat sofa. Indra jalan mendekat, usap bulu halus di kepalanya, bibirnya terangkat lembut."Ibumu sebentar lagi mau pulang. Kamu senang nggak?"Saat bicara, pandangannya menembus jendela, ingat kembali adegan-adegan bagai film lama, Puspa duduk di ayunan halaman, tubuhnya berayun pelan.Tenang, manis, lembut, semuanya hidup kembali di benaknya.Kenangan tentangnya ternyata nggak pernah benar-benar pergi.Indra terpaku, matanya berkilat hangat dan lembut....Puspa bersama Eric antar Toni ke sekolah.Sampai di sekolah, Toni malah nggak mau turun. Ia kerutkan alis mungilnya."Ibu, aku nggak mau sekolah. Aku nggak mau sama anak-anak kecil itu. Mereka berisik banget."Puspa belum sempat bicara, Eric di kursi kemudi sudah mendengus."Kamu sendiri kan juga anak kecil. Gimana bisa kamu bicara seperti itu? Cepetan turun! Lama-lama, celanamu bisa sobek karena kamu gese

  • Hari Aku Kehilangan, Dia Merayakan   Bab 677

    Tatapan Wira penuh rasa dongkol, seperti suami yang dikhianati, memandangnya dengan sedih. "Kamu ini bukan manusia, nggak punya hati."Tania ternganga. “Kenapa aku jadi nggak punya hati? Bicaramu nggak masuk akal. Aku cuma minta kamu beliin kacang panas, masa itu bikin aku ‘bukan manusia’? Kalau nggak mau, bilang dari awal dong. Aku kan bisa pesan lewat Grab.”Sambil bicara, tatapannya turun ke tangan Wira, kosong. Alisnya terangkat."Kacangku mana? Jangan bilang kamu nggak jadi beliin buat aku?"Kalau Wira nggak mau beli, tinggal bilang. Dia juga nggak akan maksa. Tapi ngilang dan tinggalin dia gitu saja, jelas nggak benar itu."Kacang, kacang, di hatimu cuma ada kacang. Nggak ada aku! Aku dipukulin sampai gini gara-gara kamu, tapi kamu sama sekali nggak peduli. Yang kamu pikir cuma makanan. Kamu kok bisa tega banget?" Dengan gaya manja penuh drama, Wira mengeluh."Karena aku? Kamu dipukul, apa hubungannya sama aku?" Tania bingung.Wira buru-buru jelaskan, "Kok bisa nggak ada hubungan

  • Hari Aku Kehilangan, Dia Merayakan   Bab 676

    Semua hal yang sebelumnya luput dari perhatian Indra kini mendadak jadi sangat jelas.Pantas saja Wira bisa kenal Eric, bahkan makan sama dia. Dan setiap kali lihat Indra, kenapa wajahnya selalu seperti pencuri yang ketahuan?Ternyata akar dari semuanya ada di sini.Amarah membakar Indra tanpa kendali. Tinju-tinjunya mendarat semakin keras, seolah-olah Wira itu karung pasir miliknya.Kata-katanya buat Wira tertegun. Sekilas rasa bersalah melintas di matanya.‘Gimana pria ini bisa tahu?’Namun rasa panas yang membakar pipinya dan rasa darah di mulutnya buat rasa bersalah itu menguap.Lagian, ini semua bukan salahnya. Kenapa dia yang harus jadi sasaran empuk gini?Dan yang benar saja, orang kalau berkelahi biasanya nggak bakal pukul wajah. Tapi Indra? Justru wajahnya yang dihantam terus!Wira akhirnya naik darah. Ia balas pukul. Di tengah jalan, keduanya saling lontarkan pukulan, buat keributan yang sangat heboh.Orang-orang yang lewat hanya menonton dari jauh, nggak ada yang berani lera

  • Hari Aku Kehilangan, Dia Merayakan   Bab 675

    Udara di luar sangat dingin, setiap helaan napas rasanya dipenuhi udara dingin. Namun dinginnya cuaca tetap nggak sebanding dengan dingin yang mencengkeram hatinya.Nggak tahu sudah berapa lama Indra nyetir, sampai akhirnya ia hentikan mobil di pinggir jalan. Ia nyalakan sebatang rokok, cahaya merah menyala redup terang di antara jari-jarinya.Indra hubungi Cakra.Cakra yang akhirnya menikmati pulang cepat di hari itu, sedang duduk santai sambil minum bir, rasakan nikmatnya hidup tanpa lembur.Tapi manusia memang nggak bisa hidup terlalu nyaman, karena begitu nyaman masalah pun tiba.Deretan nada dering HP-nya memecah keheningan, langsung akhiri waktu santainya.Lihat nama penelepon, Cakra merasa dirinya pasti utang karma ke Indra di kehidupan lalu, kalau nggak, mana mungkin ia harus kerja begitu keras untuk Indra di kehidupan ini?Ia sungguh ingin pura-pura nggak dengar. Namun, ingat gaji bulanan yang tebal dan bonus akhir tahun yang menggoda, Cakra putuskan untuk terus berjuang hidup

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status