로그인Sora benar-benar tak habis pikir bahwa ternyata Figo adalah pria yang sangat pencemburu. Tetapi pria itu akan langsung luluh setelah Sora memberinya ciuman.“Dia benar-benar aneh,” gumam Sora sembari tersenyum kecil lalu menyalakan iPad-nya.Hari ini Sora sudah kembali ke Skyline setelah lebih dari satu minggu menemani Figo di rumah.Begitu pula dengan Figo. Luka di perut Figo sudah mulai mengering dan dia sudah kembali beraktifitas, hanya saja dokter belum mengizinkan Figo melakukan aktifitas berat.Saat Sora sedang sibuk dengan pekerjaannya, pintu ruangannya diketuk lalu Elian masuk dengan seikat buket bunga dan paper bag kecil di tangannya.Sora tidak perlu bertanya siapa pemberi bunga itu. Dia sudah bisa menebaknya.“Sebentar lagi ruanganku akan berubah jadi florist, Elian,” gumam Sora, yang membuat Elian tersenyum kecil.“Pak Figo benar-benar pria yang sangat romantis.” Elian menaruh bunga dan paper bag itu di atas meja Sora.“Ya kurasa kamu benar,” timpal Sora. Dan dia juga pria
“Kamu cemburu?” Sora menatap Figo seraya menahan senyum. Ketegangan di wajah Figo seketika mengendur melihat senyuman wanita itu. Senyuman yang membuat Figo ingin mengurung Sora seharian penuh dan tak membiarkan lelaki manapun melihat senyumannya. “Benar. Aku cemburu.” Figo mengembuskan napas kasar. “Aku nggak peduli siapapun dia, jika sekali lagi dia menggodamu itu artinya dia sedang menantangku.” Sora menahan napas melihat keseriusan dalam wajah suaminya itu. Pria itu tidak akan main-main dengan ucapannya. Sora tahu. Dan sebelum api cemburu membakar hangus diri Figo, Sora harus segera memadamkannya. Kedua tangan Sora terangkat lalu menangkup rahang kasar Figo. Dikecupnya bibir tipis itu dengan ringan, membuat wajah Figo seketika menegang. “Sora.” “Berhenti cemburu.” Sora tersenyum kecil seraya mengusapkan ibu jarinya di sudut bibir Figo. “Jangan buang-buang energimu untuk sesuatu yang nggak penting. Oke?” Bibir Figo terbuka hendak berbicara, tetapi Sora sudah lebih dulu memb
Figo menutup MacBook-nya ketika waktu sudah menunjukkan pukul sebelas siang. Dia sudah terlalu lama meninggalkan Sora dan merindukannya.Entah sejak kapan, waktu 3 jam menjadi terasa begitu lama ketika dia tidak melihat wanita itu.Dan sebentar lagi Figo akan menjemput Shopie di Starlight.Keluar dari ruang kerja, ponsel Figo berbunyi.Panggilan dari Ryan.Figo langsung mengangkatnya sembari berjalan menuju ruangan kerja Sora yang ada di samping ruangannya. Sebab hari ini Figo masih belum bekerja di kantor.“Ada apa?” tanya Figo pada Ryan.“Selamat siang, Pak. Saya ingin melaporkan perkembangan kasus Ivara.”Figo berhenti di depan pintu ruangan Sora. Dia muak mendengar nama wanita itu disebut-sebut. Tatapannya berubah dingin.“Katakan.”“Ivara, ayahnya dan anak buahnya sudah ditetapkan sebagai tersangka, Pak. Berkas perkara hampir lengkap dan kemungkinan besar minggu depan akan dilimpahkan ke kejaksaan,” ujar Ryan, “untuk persidangan diperkirakan akan dimulai sekitar tiga minggu lagi,
Sora membuka kelopak matanya yang terasa lengket. Bibirnya mengulas senyum ketika menyadari dirinya ada dalam pelukan Figo. Kedua tangan pria itu melingkari tubuhnya dengan posesif.Sora tidak menyangka bahwa terbangun di pelukan Figo setiap pagi rasanya begitu membahagiakan.Kehadiran pria itu membuatnya merasa aman dan nyaman. Seolah-olah jika ada Figo maka dunianya akan baik-baik saja.Sora mengangkat satu tangan, mengusap rahang pria itu dengan lembut. Ujung jemarinya lantas turun menyusuri dagu, leher dan berakhir di bahu yang dipenuhi garis-garis kemerahan.Sora terkejut.Lalu menatap kukunya sendiri yang cukup panjang.Ya Tuhan, Sora jadi merasa bersalah. Bahu pria itu dipenuhi bekas cakaran kukunya tadi malam.“Pasti perih kalau terkena air,” gumam Sora sembari menggigit bibir bawahnya, khawatir. “Maafkan aku.”Perlahan Sora memindahkan lengan Figo dari atas tubuhnya, hendak turun dari ranjang.Namun pria itu justru semakin mengeratkan pelukannya seolah sudah terbangun sejak t
Dengan tidak sabaran, jemari Figo menarik cepat celana dalam Sora.Dia buka lebar kaki indah wanita itu hingga dia temukan sesuatu di pangkal paha yang membuat gairahnya bergejolak.Sora seketika menahan napas saat Figo membenamkan wajah di bawah sana.Lidah panas itu menyapu miliknya dengan liar.Tubuh Sora menggeliat, bibirnya tanpa sadar mendesah lirih, sementara jemarinya menyusup di sela-sela rambut Figo dan menekan kepala pria itu agar semakin dalam mengoyaknya.Dari bawah, Figo mengawasi ekspresi Sora. Bibirnya yang terbenam kini menyunggingkan senyum puas melihat wanita itu hampir putus asa.Sorot mata Sora yang tak berdaya, bibirnya yang tak berhenti mendesah, serta tarikan kuat di rambutnya membuat gairah Figo semakin terpacu. Lidah panasnya bergerak semakin cepat, semakin liar. Mengantarkan wanita itu pada puncaknya.“Figo. Aah… aku mau… aku akan sampai,” racau Sora tanpa sadar seraya menggeliat hebat. Kenikmatan yang luar biasa itu membuat dadanya nyaris meledak.Figo ters
Sial. Padahal Sora sudah berusaha menyembunyikan pakaian seksi itu dari Figo. Tapi kenapa pria itu berhasil menemukannya?“Kamu masih perlu istirahat, Figo.” Sora melangkah mendekati meja rias, dan berusaha mengabaikan suaminya yang–sialnya, benar-benar menggoda. “Lukamu bisa terkena masalah kalau kita bercinta.”Tenggorokan Sora tercekat ketika mengucapkan satu kata terakhir.Bercinta.Kata itu membuat pikiran Sora melayang jauh. Sentuhan panas Figo, ciuman mematikannya dan hujaman liarnya seketika datang silih berganti di benak Sora.Ya Tuhan, aku pasti sudah gila.Sora mengipasi pipinya yang panas lalu duduk di meja rias dan mulai mengaplikasikan skincare di wajahnya, tanpa memedulikan Figo.“Kapan kamu membelinya? Kenapa aku nggak tahu?”Melalui cermin, Sora melihat pria itu masih mengangkat lingerie dalam genggamannya. Astaga. Sora benar-benar malu.“Waktu ulang tahun kamu,” aku Sora akhirnya dengan pipi terbakar.“Ulang tahunku?” Figo kembali menyeringai. Mata abu-abunya menatap
Sora mengerutkan kening, merasa bingung kenapa Figo tiba-tiba membahas kehidupan pribadinya. Padahal pria itu paling anti terhadap segala sesuatu yang berhubungan dengan Sora.Sora lalu menatap Figo dingin. “Kalau kamu datang ke sini cuma untuk mengawasi siapa yang berdiri di dekatku,” ujarnya tena
Sora melangkah masuk ke ruangan kerjanya. Tapi tiba-tiba langkahnya terhenti saat melihat ruang kosong di depan meja.Kedatangan Figo kemarin ke ruangannya masih menyisakan sesak di dalam dada Sora.Deringan ponsel yang berbunyi nyaring mengeluarkan Sora dari keterdiamannya.Seulas senyum kecil terl
“Pertimbangkan permintaanku baik-baik. Ini permintaan pertama sekaligus terakhir dariku.”Figo tidak langsung memberi tanggapan pada permintaan Sora. Dia hanya menatap wanita itu dengan dingin.“Kalau kamu lupa, aku nggak pernah meminta anak itu,” ucap Figo beberapa detik kemudian. Rahangnya berkedu
‘Ma, Papa nggak sayang aku, ya?’‘Kenapa, kok, Shopie nanyanya gitu? Papa sayang, kok, sama Shopie.’‘Tapi kenapa Papa nggak pernah jemput aku sekolah? Papa juga nggak pernah menginap di rumah kita.’Sora memejamkan mata ketika percakapannya dengan Shopie tadi pagi kembali terngiang di telinganya.







