LOGIN“Tolong jaga baik-baik flashdisk ini buat aku,” ucap Figo, “kamu satu-satunya orang yang aku percaya. Jangan sampai datanya bocor. Karena nasib keluargaku ada di sana.”
Sora tertegun seraya menatap benda kecil berwarna hitam polos di telapak tangannya itu. Lalu perlahan jari-jarinya mengepal, menggenggam benda itu dengan kuat.
“Hm.” Sora mengangguk seraya menatap Figo. “Aku akan menjaganya dengan baik.”
Figo tersenyum, tatapannya tampak hangat. “Gadis pintar,” ucapnya sembari mengusap-usap puncak kepala Sora.
Sora sedikit menunduk untuk menyembunyikan pipinya yang mendadak panas. Apa Figo sadar kalau sikapnya selama ini selalu membuat jantung Sora berdebar-debar?
“Bu? Apa Ibu masih di sana? Halo?”
Sora tersentak.
Suara Elian di seberang sana berhasil melemparkan Sora dari lamunannya dan kembali ke alam nyata.
“Maaf. Sampai mana tadi?”
Sora mencabut flashdisk berwarna silver yang berisi data pekerjaannya, dari laptop, lalu langsung memasukkannya ke dalam laci.
Setiap kali melihat benda kecil itu, ingatannya selalu kembali melayang kepada masa lalu yang tak ingin diingatnya lagi.
“Iya, Bu, Tim Anniversary Steering Committee bertanya, apa kita akan merevisi seluruh konsep acara sesuai keinginan Pak Figo?” Elian mengulangi pertanyaannya.
Sora menekan pelipisnya yang berdenyut. Kata-kata Figo yang menilai hasil kinerja Skyline seperti sampah dan murahan, terngiang di telinga Sora.
“Nggak perlu, El.”
“Ya? Jadi kita akan tetap mempertahankan konsep yang sudah ada?”
“Benar,” jawab Sora tanpa ragu. “Kita akan mempertahankan konsep itu. Kalau CEO mereka tetap nggak mau pakai kita, kita mundur.”
Sora meletakkan ponsel ke meja setelah panggilannya dengan Elian berakhir beberapa saat kemudian. Ruangan kembali sunyi. Sora menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap langit-langit ruangan dengan tatapan kosong.
“Aku menjaganya,” gumam Sora saat mengingat kembali masa lalunya. “Aku benar-benar sudah berusaha menjaganya.”
Sora menghela napas panjang, lalu mengalihkan tatapannya pada jam dinding. Pukul sepuluh malam.
Akhirnya Sora beranjak keluar dari ruangan kerjanya. Dia masuk ke kamar Shopie untuk memastikan putrinya tidur dengan nyaman.
Sora membuka pintu sedikit dan menatap Shopie yang tertidur sambil memeluk boneka beruang kesayangannya. Itu boneka hadiah ulang tahun dari Figo tahun lalu.
Ya, segala sesuatu yang berhubungan dengan Figo selalu menjadi sesuatu yang spesial bagi Shopie.
Sayang, Figo tidak menganggapnya demikian. Figo hanya menganggap Shopie sebagai tanggung jawab yang datang tanpa pernah dia inginkan.
Bel tiba-tiba berbunyi nyaring.
Sora menoleh ke arah pintu. “Siapa yang datang malam-malam begini?” gumamnya sambil menutup kembali pintu kamar Shopie.
Kemudian menyeret langkahnya menuju pintu unit apartemennya dan membukanya.
Mata Sora sedikit membulat kala melihat siapa yang kini berdiri di hadapannya.
Figo.
Pria itu terlihat berantakan. Kemeja putihnya tampak kusut. Beberapa kancing atasnya terbuka sembarangan. Dasinya menggantung longgar di lehernya dan nyaris terjatuh.
Tapi yang paling mencolok adalah matanya. Manik abu-abu yang selalu menatap Sora dengan tajam itu kini tampak merah dan sayu, yang justru terlihat lebih berbahaya.
Sora mengerjap pelan, seolah tidak percaya dengan pandangannya sendiri. Pria yang anti menginjakkan kaki di rumahnya itu tiba-tiba datang malam ini dalam keadaan mabuk.
Benar-benar sesuatu yang sangat mengejutkan.
“Sepertinya kamu salah alamat.” Sora mendengus pelan. “Aku akan menghubungi Ryan untuk menjemputmu.”
Sora berbalik hendak mengambil ponsel yang dia tinggalkan di ruang kerja.
Namun pergelangan tangannya tiba-tiba dicengkeram Figo. Langkah Sora terhenti. Dia menoleh dan menatap tajam Figo.
“Lepas!”
“Kamu tahu?” Figo akhirnya bersuara sambil terkekeh kecil tanpa melepaskan cengkeramannya. “Aku seharusnya nggak pernah menikahi kamu.”
Sora seketika terdiam. Dadanya terasa nyeri seperti diremas-remas ribuan tangan tak kasat mata. Perlahan kedua belah telapak tangannya mengepal.
“Bagus,” balas Sora dingin. “Karena aku juga menyesal.”
Cengkeraman Figo pada pergelangan tangannya justru semakin menguat. Seakan-akan kata-kata terakhir Sora membuat emosinya semakin tersulut.
“Kamu yang memulai semuanya.” Figo berkata tajam. “Kamu yang masuk ke hidupku dan membuat semuanya berantakan.”
Sora menggeleng pelan sambil tersenyum getir. “Sampai sekarang kamu masih mikir gitu?”
“Hidupku akan baik-baik saja kalau kita nggak pernah bertemu.”
Sora tercenung. Kata-kata Figo bagai pedang yang menyayat hatinya. Namun Sora tetap menunjukkan ekspresi tenangnya, dia sudah terlatih untuk tidak menunjukkan rasa sakitnya pada pria itu.
“Kamu pikir aku juga mau ada di posisi ini, Figo?”
“Jangan pura-pura jadi korban. Kamu tahu persis apa yang kamu lakukan.”
“Nggak!” tegas Sora, “kamu yang nggak pernah mau tahu apa-apa!”
Figo terdiam sepersekian detik.
Sora memanfaatkan itu untuk kembali bicara, “Dari dulu sampai sekarang, kamu cuma percaya sama versimu sendiri!” Dia menatap Figo tajam. “Kamu nggak pernah nanya ke aku! Kamu nggak pernah kasih aku kesempatan buat menjelaskan semuanya!”
Rahang Figo mengeras, matanya memerah. “Karena aku nggak butuh penjelasan dari seorang pengkhianat.”
Sora seketika mengatupkan bibirnya. Kepalan tangannya semakin menguat. Lalu akhirnya Sora mengangguk kecil.
“Oke,” kata Sora pelan. “Kalau itu yang kamu percaya, silakan.”
Sora menarik tangannya dari genggaman Figo dengan kasar. Dan kali ini berhasil lepas.
“Benci aku, silakan,” lanjut Sora sambil mundur satu langkah. “Tapi berhentilah datang ke hidupku.”
Setelah mengatakan kalimat tersebut Sora berbalik pergi dengan kepalan tangan yang bergetar. Tapi detik berikutnya….
“Akh!”
Sora memekik pelan saat Figo tiba-tiba menarik tangannya lalu memenjarakannya di dinding. Dan di detik yang sama, Figo menarik pinggang Sora dan memeluknya dengan erat lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Sora.
Figo hendak mempertemukan bibir mereka.
Namun, dengan gerakan cepat Sora menghindar hingga bibir pria itu hanya menempel di pipinya.
Figo mengumpat lirih, dia memiringkan kepalanya ke arah lain kemudian menyambar bibir Sora dan melumatnya dengan kasar.
***
Setelah selesai menghabiskan harinya bersama Freya, Sora meminta sahabatnya itu untuk mengantarnya ke Wiranegara Group.Dia sengaja tidak memberi kabar kepada Figo bahwa dirinya akan datang.Sora ingin memberi kejutan.Tiba di Wiranegara Group saat langit mulai berubah gelap. Sora langsung mendatangi ruangan suaminya.Sora melihat Ryan baru saja keluar dari ruangan Figo. Lalu pria itu bergegas menuju pantry tanpa menyadari kehadiran Sora.Sora pun mendekati pintu. Kebetulan pintu itu tidak tertutup rapat sehingga ada sedikit celah.Sora akan mendorongnya. Namun, saat mendengar suara tawa Figo dengan seorang wanita di dalam sana, tangan Sora seketika berhenti bergerak.“Sepertinya aku datang di waktu yang gak tepat,” gumam Sora nyaris tak terdengar.Tetapi Sora penasaran, siapa yang telah membuat Figo tertawa selepas itu padahal selama ini Figo terkenal sebagai CEO yang jarang tertawa?Sora mencoba mengintip dari celah pintu. Dia melihat Figo sedang mengobrol dengan seorang wanita di s
Sora turun ke lantai satu menggunakan lift. Figo sengaja memasang lift di rumah mereka setelah kehamilan Sora semakin membesar. Pria itu melarang Sora menggunakan tangga.Keluar dari lift, Sora berhenti sejenak ketika ingat dia belum mengabari Figo. Lalu mengetik pesan untuk pria itu.Soraya Ruin: Sayang, kemarin aku sudah bilang ke kamu, hari ini aku pergi sama Freya.Seperti biasa, Figo tak pernah lama membalas pesannya. Pria itu membalasnya beberapa detik kemudian.Suamiku: Iya. Sudah berangkat?Soraya Ruin: Ini baru mau.Suamiku: Coba kirim foto kamu. Aku mau lihat baju apa yang kamu pakai.Sora tersenyum kecil membacanya. Lalu dia menghampiri cermin tinggi dan mengambil miror selfie. Mengirimkannya pada Figo.Detik berikutnya, Figo langsung menelepon.“Iya, Figo. Aku sudah kirim foto aku ke kamu,” ucap Sora sesaat setelah mengangkat panggilan tersebut, sembari berjalan menuju ruang tamu.“Ganti baju kamu.”“Hm? Kenapa harus ganti?” protes Sora tak setuju.“Sayang.” Figo terdengar
Sora mengusap baby bump-nya yang sudah membuncit. Tak terasa kehamilannya kini sudah memasuki usia 20 minggu.Dibandingkan dengan kehamilan Shopie, kehamilannya yang sekarang jauh lebih rewel.Rewel dalam artian emosi dan suasana hati yang tidak stabil.Sora menjadi lebih mudah merasa sedih, kesal, marah dan cemburu. Tetapi hal itu hanya dia rasakan untuk Figo.Sedikit saja Figo berbuat kesalahan, seperti lupa menaruh handuk basah ke gantungan dan malah menyimpannya di kasur, suasana hati Sora langsung memburuk.Akan tetapi Figo tetap sabar menghadapinya. Dan anehnya, pria itu selalu punya cara untuk mengembalikan suasana hati Sora kembali membaik.Entah itu dengan cara membelikannya es krim kesukaan Sora, sampai sesuatu yang besar seperti mengajaknya liburan ke luar kota atau luar negeri.“Sayang, sudah tahu mana stroller yang cocok untuk bayi kita?” Figo yang baru selesai menelepon, berdiri di samping Sora dan merangkul pinggangnya dengan posesif.Sora mengangguk. Tangannya yang sem
Shit!Figo mengetatkan rahangnya, merasakan seluruh urat sarafnya bereaksi akibat mulut panas istrinya. Dadanya naik turun dengan cepat.Ya Tuhan. Ya Tuhan. Figo suka sekali cara Sora memuaskannya. Tubuh Figo terasa panas dingin. Jantungnya berdebar hebat.Figo menunduk menatap kepala Sora yang bergerak naik turun di antara pangkal pahanya. Terlihat sekali wanita itu berusaha memasukan seluruh milik Figo ke dalam mulutnya, tetapi Sora tahu itu mustahil.“Ya. Terus, Sayang,” bisik Figo dengan napas terengah-engah. Jemarinya mengusap kepala Sora lembut, membantunya bergerak. “Benar. Seperti itu, Sora. Ya Tuhan. Kamu benar-benar luar biasa. Damn! Aku nggak bisa menahan diri. Sora. Sora.”Dada Figo terasa nyaris meledak ketika gerakan Sora semakin cepat. Wanita ini membuatnya gila. Benar-benar gila. Figo tak bisa menahan diri. Gairahnya semakin bergejolak dan dia ingin segera berada di dalam diri Sora.Figo menarik kepala
“Figo, ini tempatnya?”Sora menatap bangunan di hadapannya dengan mata berbinar.“Iya, Sayang.”“Bagus sekali,” gumam Sora dengan takjub. “Ini villa punya kamu?”Figo tetap merangkul pinggang Sora posesif. “Lebih tepatnya private lodge. Dulu Mama yang berinisiatif membangun penginapan ini. Katanya, dia ingin punya sebuah tempat untuk kabur dari hiruk pikuk perkotaan.”Sora mengalihkan tatapannya dari bangunan dua tingkat itu, ke arah Figo. “Ngomong-ngomong aku belum pernah ketemu Mama lagi. Aku merindukannya.”“Kamu mau bertemu dengannya?”“Iya, kurasa.”Figo tersenyum lalu mengecup pipi Sora sejenak. “Nanti aku bawa kamu bertemu Mama kalau dia ada di Indonesia.”Sora mengangguk. Sebelum akhirnya Figo membawanya masuk ke dalam penginapan mewah itu.Beberapa saat yang lalu helikopter mereka mendarat di helipa
Sora tidak berharap keinginannya terkabul kali ini. Sebab dia sadar bahwa tak mudah untuk sampai ke puncak gunung.Dia tidak pernah mendaki gunung sebelumnya. Apalagi kondisinya kini tengah hamil.Jadi kali ini Sora tidak ngotot walaupun keinginan untuk melihat sunset dari atas gunung itu tetap menggebu.Sora keluar dari kamar mandi sembari mengeringkan rambut basahnya, saat melihat Figo sudah terlihat rapi dengan pakaian kasualnya.Pria itu terlihat semakin tampan dengan celana jeans dan kaos putih pendek.“Kamu mau ke mana?” tanya Sora penasaran.“Bukannya kamu mau pergi ke gunung, Sayang?”Sora mengerjap. “Kan nggak jadi.”“Jadi.”“Hm? Apa maksudmu?”Figo meletakkan sisir di atas meja rias, lalu menghampiri Sora dan meraih handuk dari tangan wanita itu. Dia membantu mengeringkan rambutnya.“Kita pergi sekarang. Aku akan membawamu melihat sunset dari atas gunung.”Mendengarnya, Sora langsung terperangah. Matanya membulat tak percaya. “Serius?!”“Apa aku terlihat sedang bercanda, hm?
“Pertimbangkan permintaanku baik-baik. Ini permintaan pertama sekaligus terakhir dariku.”Figo tidak langsung memberi tanggapan pada permintaan Sora. Dia hanya menatap wanita itu dengan dingin.“Kalau kamu lupa, aku nggak pernah meminta anak itu,” ucap Figo beberapa detik kemudian. Rahangnya berkedu
Figo mengempaskan dirinya di kursi dan mengembuskan napas kasar setibanya dia di ruangannya. Kemudian melonggarkan simpul dasinya yang terasa mencekik leher.Figo tak pernah menemukan ketenangan setelah bertemu dengan Sora. Wanita itu selalu punya seribu cara untuk melawannya dan membuatnya kehilang
Sora mengerutkan kening, merasa bingung kenapa Figo tiba-tiba membahas kehidupan pribadinya. Padahal pria itu paling anti terhadap segala sesuatu yang berhubungan dengan Sora.Sora lalu menatap Figo dingin. “Kalau kamu datang ke sini cuma untuk mengawasi siapa yang berdiri di dekatku,” ujarnya tena
Sora melangkah masuk ke ruangan kerjanya. Tapi tiba-tiba langkahnya terhenti saat melihat ruang kosong di depan meja.Kedatangan Figo kemarin ke ruangannya masih menyisakan sesak di dalam dada Sora.Deringan ponsel yang berbunyi nyaring mengeluarkan Sora dari keterdiamannya.Seulas senyum kecil terl







