Share

Bab 2

Author: Author Marr
last update publish date: 2026-06-04 14:07:38

Aku menghela napas panjang, perintah Clara adalah perintah. Jika tidak datang, dia akan marah. Aku sudah hafal betapa buruknya amarah itu, benda-benda bisa terbang, kata-katanyabisa lebih tajam dari pisau, dan aku bisa diusir dari rumah besar ini.

Jadi aku berjalan menyusuri koridor panjang mansion itu. Di dinding kanan kiri, lukisan-lukisan mahal bergantungan dengan bingkai emas yang berkilau. Aku sering bertanya-tanya, berapa harga satu lukisan itu? Mungkin cukup untuk hidupku setahun atau dua tahun.

Aku melewati ruang keluarga yang luas, melewati dapur besar yang tidak pernah aku gunakan karena aku punya dapur kecil di belakang kamarku. Aku melewati tangga melingkar yang mengarah ke kamar-kamar keluarga Leon , tempat yang tidak pernah aku injak karena aku hanya pelayan.

Halaman belakang mansion itu luas sekali. Ada taman dengan bunga-bunga yang dirawat tukang kebun setiap hari. Ada gazebo putih dengan sofa-sofa empuk di dalamnya dan di ujung sana, kolam renang berwarna biru jernih berkilauan di bawah sinar matahari.

Di kolam itu, Clara sedang berenang.

Rambut panjangnya yang diwarnai cokelat muda basah menempel di punggung. Gaya renangnya indah, terlatih, seperti putri duyung yang sedang pamer. Aku tahu dia pernah ikut lomba renang tingkat nasional dan menang. Tentu saja, orang kaya bisa membeli segalanya, termasuk pelatih renang terbaik.

Dia berhenti di tepi kolam saat melihatku datang. "Akhirnya, kau lama sekali."

"Maaf, aku tadi..."

"Sudah, jangan banyak alasan."

Dia menunjuk ke arah kursi panjang di samping kolam. "Baju renang sudah aku siapkan di sana. Cepet ganti!"

Aku menoleh ke kursi yang dimaksud. Di sana tergeletak sehelai bikini berwarna merah. Potongannya kecil, sangat kecil. Atasan segitiga dengan tali tipis, bawahan yang hanya berupa dua potong kain kecil.

"Aku tidak bisa memakai itu," kataku.

"Kenapa?"

"Itu terlalu seksi dan aku tidak pandai berenang."

Tiga pria itu masih bermain billiard di dekat kolam. Meja hijaunya terletak di bangsal terbuka dengan atap kaca, hanya berjarak beberapa meter dari tempatku berdiri. Aku bisa mendengar suara bola billiard berbenturan, dan di antaranya, tawa rendah para pria itu.

Ayah Clara, Tuan Leon, sedang memegang stik billiard dengan satu tangan. Jasnya sudah dilepas, kemeja lengan panjangnya digulung sampai siku, memperlihatkan lengan kekar yang tidak terlihat tua. Dua temannya, juga pria paruh baya dengan penampilan serupa, berdiri di sekeliling meja, mereka adalah Adrian dan Sebastian.

"Cepat pakai!"

"Tidak, Clara, aku malu."

"Malu? Kamu pake baju kayak pemungut sampah setiap hari aja nggak malu, sekarang malu pake baju renang?"

Aku masih diam.

Clara berteriak. "Pakai itu sekarang juga, Ana! Atau kamu mau aku usir dari rumah ini? Aku bisa lapor ke Papa kalau kamu sukanya cuma nyuri makanan di dapur!"

Tiga pria itu mendongak. Suara billiard berhenti. Aku bisa merasakan tatapan mereka dari kejauhan, tajam, penuh selidik, seperti sedang menonton pertunjukan yang menghibur.

Tuan Leon meletakkan stik billiard di atas meja. Dia berjalan mendekati kolam renang dengan langkah tenang tapi tegas.

"Clara, ada apa?"

Clara langsung berubah. Dari gadis pemarah menjadi anak manja di depan ayahnya.

"Papa, Ana nggak mau nurutin aku. Aku cuma minta dia nyoba renang bentar, tapi dia nolak terus."

Tuan Leon menatapku. Mata hitamnya tajam, seperti bisa menembus semua lapisan alasan dan kebohongan. Aku menunduk, tidak berani menatap balik.

"Ana, turuti mau dia. Itu tidak sulit."

"Tapi Tuan..."

"Tidak ada tapi, kamu bekerja di sini dan kamu akan melakukan apa yang diminta Clara. Itu sudah kesepakatan sejak awal," kata Tuan Leon.

Aku tahu dia benar. Pada dasarnya, kesepakatannya sederhana, aku diberi tempat tinggal dan makan, dan aku harus membantu pekerjaan rumah serta mengikuti keinginan Clara. Tidak disebutkan secara tertulis, tapi itu sudah berjalan seperti itu selama dua tahun.

Dengan tangan gemetar, aku mengambil bikini merah itu dari kursi. Aku berjalan ke bilik ganti di sudut halaman, dengan langkah kecil seperti orang yang berjalan ke tiang gantungan.

Di dalam bilik, aku menatap bayanganku di cermin dinding. Rambutku benar-benar kusut karena seharian tidak pernah aku sisir dengan benar. Tubuhku gendut dan jelek.

Aku memakai bikini itu. Kain merahnya terasa asing di kulitku, terlalu terbuka, terlalu terekspos. Aku menutup dadaku dengan kedua tangan saat keluar dari bilik, seperti itu bisa menyembunyikan sesuatu.

Clara tertawa saat melihatku. "Ya ampun, kamu jelek sekali."

Tuan Leon tidak berkata apa-apa tapi aku menangkap sedikit lengkungan di sudut bibirnya, tapi aku tidak tahu apakah itu senyum atau hanya ekspresi biasa.

Aku masuk ke kolam renang secepat mungkin. Airnya dingin, membuat kulitku merinding seketika. Aku tenggelam sampai dada, bersyukur air itu bisa menyembunyikan sebagian besar tubuhku.

"Aku ke toilet dulu," katanya sambil keluar dari kolam. "Lo jangan kemana-mana."

Dia pergi dan eninggalkanku seorang diri di kolam besar itu. Tiga pria kembali ke permainan billiard mereka, sesekali melirik ke arahku tapi kemudian kembali ke meja hijau mereka.

Setelah lima menit, Clara belum kembali. Sepuluh menit, masih belum. Aku mulai menggigil kedinginan. Air kolam terasa semakin dingin atau mungkin tubuhku yang semakin tidak kuat. Tanganku mulai terasa kaku, bibirku kebiruan.

Aku memutuskan untuk keluar.

Aku berenang ke tepi kolam, meraih pinggirannya dengan kedua tangan, lalu berusaha mengangkat tubuhku ke atas. Tapi kakiku licin membuat telapak kakiku tergelincir, tubuhku jatuh ke belakang, kepalaku masuk ke dalam air.

Aku berusaha naik. Aku menendang-nendang, tanganku meraih ke segala arah, tapi air seperti memiliki kekuatan sendiri. Mulutku kebanjiran air, aku batuk di dalam air, dan itu hanya membuat paru-paruku semakin terisi.

Aku tidak bisa berenang, bukan karena tidak pernah belajar, tapi karena tidak ada yang mengajari. Mama dulu terlalu sibuk bekerja, dan setelah dia meninggal, aku hanya hidup sendiri.

Air semakin banyak masuk ke hidungku lalu ke telingaku. Aku mendengar suara-suara dari atas permukaan tapi semuanya teredam, seperti suara dari dunia lain. Aku berusaha berteriak, tapi yang keluar hanya gelembung-gelembung kecil yang segera pecah.

Dan saat aku mulai kehilangan kesadaran, saat paru-paruku terasa seperti akan meledak, saat cahaya di atas permukaan mulai redup dan semuanya berubah menjadi hitam.

Tangan besar meraih pinggangku.

Tubuhku ditarik ke atas dengan kekuatan luar biasa. Sekali tarikan, aku sudah berada di permukaan. Sekali tarikan lagi, aku sudah terhempas ke pinggir kolam.

Aku tersedak, memuntahkan air dari mulut dan hidungku. Batuk-batuk, napas tersengal, paru-paruku seperti terbakar. Kukira aku akan mati saat itu, tapi jantungku masih berdetak dengan cepat.

Ada lengan melingkar di perutku dan tidak melepaskanku meskipun aku sudah tidak dalam bahaya lagi.

Aku melirik ke belakang.

Wajah Tuan Leon tepat di sampingku. Wajahnya basah, rambutnya yang biasanya disisir rapi sekarang berantakan menutupi dahi. Bibirnya yang tebal dan seksi itu hanya beberapa sentimeter dari pipiku.

"Terima kasih, Tuan," kataku.

Dia tidak menjawab dan Bibirnya menempel di leherku.

Aku membeku.

Lalu dia menggigit. Gigitannya lembut tapi meninggalkan bekas yang mengirimkan getaran aneh dari leherku turun ke tulang belakang. Aku tidak bisa bergerak dan tidak bisa bersuara.

Lalu bibirnya naik ke telingaku. Hangatnya napasnya membuat bulu kudukku berdiri semua.

"Kamu hampir mati dan aku tidak suka kehilangan barang milikku," katanya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Gadis Gendut Dimiliki 3 Daddy   Bab 198

    POV Ana.Aku menatap Leon yang duduk di sampingku di ruang tunggu penjara yang dingin. Tangannya menggenggam tanganku erat, dan aku bisa merasakan getaran halus dari tubuhnya. Leon berusaha terlihat kuat, tapi aku tahu betapa hancurnya dia di dalam. Clara telah menolak menemuinya, dan itu adalah luka yang tidak bisa sembuh dengan mudah."Apa kamu yakin surat itu cukup?" tanyaku lembut, mengusap punggung tangannya."Aku tidak tahu. Aku hanya bisa berharap. Aku sudah mengatakan semua yang ada di hatiku. Sekarang terserah padanya."Aku menggenggam tangannya lebih erat. "Clara mungkin keras kepala, tapi dia bukan orang jahat. Dia hanya tersesat."Leon tidak menjawab. Dia hanya menatap lurus ke depan, ke arah pintu besi yang memisahkannya dari putrinya.Kami menunggu. Aku bisa merasakan bayi-bayi bergerak di dalam perutku, seolah mereka juga merasakan ketegangan yang menyelimuti kami. Aku dengan lembut mengusap perutku, berbisik pada mereka bahwa semuanya akan baik-baik saja.Lalu, pintu b

  • Gadis Gendut Dimiliki 3 Daddy   Bab 197

    Di mansion Leon dan Ana, suasana terasa hangat dan penuh cinta. Ana, yang kini sedang hamil besar dengan perut bundar mengandung tiga bayi, sedang berdiri di dapur bersama Leon. Mereka memasak bersama, sebuah aktivitas sederhana yang selalu mereka nikmati.Leon sedang memotong sayuran dengan hati-hati, sesekali melirik Ana yang sedang mengaduk sup di atas kompor. Matanya tidak pernah lepas dari istrinya, melihat betapa cantiknya Ana bahkan dalam keadaan hamil besar."Kamu terus menatapku," kata Ana."Karena kamu sangat cantik," jawab Leon, mendekati Ana dari belakang dan memeluknya. Lengannya melingkari perut Ana yang membesar, merasakan gerakan-gerakan kecil dari dalam.Ana tertawa, merasakan kehangatan pelukan Leon. "Kamu akan membuatku lupa memasak kalau terus begini.""Biarkan saja," kata Leon, mencium leher Ana dengan lembut. "Aku lebih suka memelukmu."Ana berbalik dalam pelukan Leon, menatap mata suaminya yang penuh cinta. "Aku ingin bertanya sesuatu.""Apa saja, sayang."Ana m

  • Gadis Gendut Dimiliki 3 Daddy   Bab 196

    Keesokan harinya, kabar kelahiran bayi Rena dan keberhasilan operasinya menyebar dengan cepat. Keluarga Rena, yang telah berdamai dengannya beberapa bulan sebelumnya, segera datang menjenguk. Ayah dan ibunya datang bersama dua kakak perempuannya, membawa rangkaian bunga dan hadiah kecil untuk bayinya.Rena terbaring di tempat tidur dengan senyum bahagia ketika melihat keluarganya masuk. Meskipun tubuhnya masih lemah dan pengobatan kankernya perlu segera dimulai, dia merasa bersyukur masih diberi kesempatan untuk melihat orang-orang yang dicintainya."Ibu, Ayah. Kalian datang."Ibunya segera memeluk Rena dengan hati-hati, menangis haru. "Tentu saja kami datang. Kau baru saja melahirkan. Kami tidak boleh melewatkan momen ini."Ayah Rena juga mendekat, melihat cucunya. "Dia cantik. Dia mirip sekali denganmu."Rena tersenyum, air mata kebahagiaan mengalir di pipinya. "Terima kasih, Ayah."Kakak-kakak Rena juga mendekat, membawa hadiah untuk bayinya. Meskipun dulu mereka sering mengejek Re

  • Gadis Gendut Dimiliki 3 Daddy   Bab 195

    Tiga jam kemudian.Sebastian masih duduk di lorong rumah sakit dengan tubuh kaku, matanya tidak pernah lepas dari pintu ruang operasi. Leon dan Adrian duduk di sampingnya, sesekali menepuk bahunya untuk memberikan dukungan. Ana dan Christy juga sudah datang, meskipun mereka harus duduk di kursi lain karena kehamilan mereka."Kamu perlu makan sesuatu. Kamu tidak bisa terus begini.""Aku tidak lapar," jawab Sebastian datar. Matanya tetap terpaku pada pintu ruang operasi."Kamu tidak membantu Rena dengan membuat dirimu sakit. Dia membutuhkanmu dalam keadaan sehat," kata Adrian.Sebastian menghela napas, mengambil roti itu dan menggigitnya tanpa benar-benar merasakan rasanya. Pikirannya terus melayang ke Rena—wanita yang dia abaikan, wanita yang dia sakiti, wanita yang sekarang berjuang untuk hidupnya."Aku seharusnya mengatakannya lebih cepat. Aku seharusnya mengatakan bahwa aku mencintainya. Bahwa aku tidak ingin menceraikannya. Bahwa aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersamanya," kat

  • Gadis Gendut Dimiliki 3 Daddy   Bab 194

    Beberapa bulan setelah pernikahan Adrian dan Christy, kondisi Rena mulai memburuk. Kehamilannya, yang kini memasuki bulan ketujuh, terasa semakin berat, dan kankernya mulai menunjukkan tanda-tanda perkembangan yang mengkhawatirkan. Dokter memutuskan bahwa Rena perlu dirawat di rumah sakit untuk pemantauan intensif."Aku tidak mau dirawat di sini," kata Rena, terbaring di tempat tidur rumah sakit dengan wajah pucat. "Aku ingin pulang. Aku ingin tidur di tempat tidurku sendiri."Sebastian duduk di sampingnya, dengan lembut menggenggam tangannya. "Ini demi keselamatanmu dan bayimu. Kata dokter, kamu perlu pemantauan ketat.""Aku takut tidak akan pernah pulang. Aku takut tidak akan pernah melihat bayiku tumbuh besar.""Kamu akan pulang, Rena. Kamu akan melihat bayi kita tumbuh besar. Aku berjanji."Rena menatap Sebastian, mencari kebohongan di matanya. Tapi yang dia lihat adalah ketulusan. "Kamu benar-benar peduli padaku, ya?"Sebastian terdiam beberapa saat. Lalu dia menjawab, suaranya l

  • Gadis Gendut Dimiliki 3 Daddy   Bab 193

    Malam pernikahan Adrian dan Christy berlangsung meriah. Tawa dan kebahagiaan memenuhi setiap sudut villa. Leon dan Ana tak henti-hentinya bercanda, sementara Adrian dan Christy tampak begitu berseri-seri. Namun, di sudut ruangan, Sebastian duduk diam dengan segelas anggur di tangannya. Pandangannya menerawang jauh, sesekali melirik Rena yang sedang berbicara dengan Ana.Rena tampak berbeda malam itu. Meskipun perutnya mulai membesar dan tubuhnya masih berisi, ada cahaya di matanya yang belum pernah Sebastian lihat sebelumnya. Wanita itu tersenyum, tertawa, dan terlihat benar-benar bahagia untuk pertama kalinya.Dan Sebastian tahu, sebentar lagi dia akan menghancurkan kebahagiaan itu."Kau terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu yang berat," suara Adrian tiba-tiba muncul di sampingnya.Sebastian menoleh, melihat sahabatnya berdiri di sana dengan segelas sampanye. "Selamat, Adrian. Aku senang kau akhirnya menemukan kebahagiaan."Adrian tersenyum, duduk di kursi di samping Sebastian.

  • Gadis Gendut Dimiliki 3 Daddy   Bab 1

    Pov ANA.Aku duduk di bangku kayu gereja ini. Tanganku menggenggam erat ujung rok hingga kusut. Pacarku, Max berdiri dengan jas hitamnya yang rapi. Di sampingnya Sasha, sahabatku sejak pertama kali aku menginjakkan kaki di kota ini dua tahun lalu. Perut Sasha sudah membuncit di balik gaun putihnya.

  • Gadis Gendut Dimiliki 3 Daddy   Bab 6

    Aku terdiam.Pernikahan. Aku tidak pernah membayangkan menikah apalagi dengan pria sekaya dan semisterius Tuan Leon. Aku hanya gadis gemuk dan biasa saja yang hidupnya habis untuk membersihkan kotoran orang lain.“Kenapa aku?” tanyaku.Tuan Leon masih dalam posisi berjongkok di depanku, matanya men

  • Gadis Gendut Dimiliki 3 Daddy   Bab 5

    Dua hari berlalu. Aku berusaha menghindari Tuan Leon dan tamu-tamunya. Aku bekerja lebih keras dari biasanya. Aku membersihkan setiap sudut mansion, mencuci pakaian Clara hingga wangi, bahkan menyapu halaman yang tidak pernah aku sentuh sebelumnya. Aku berharap dengan bekerja keras, semuanya akan

  • Gadis Gendut Dimiliki 3 Daddy   Bab 4

    Aku menghentikan langkah.Tubuhku kaku seperti patung. Kata-kata Tuan Leon menusuk dari belakang, tajam dan dingin, seperti ujung pisau yang ditempelkan di leher."Siapa yang mengajarimu bersikap tidak sopan seperti itu?"Aku tidak berani menoleh. Mataku terasa panas. Air mata menggenang di pelupuk

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status