로그인Barang miliknya.
Aku bukan barang dan aku bukan milik siapapun. Tuan Leon melepaskan tangannya dari perutku perlahan, kemudian dia berjalan kembali ke meja billiard, mengambil stik yang tadi diletakkannya, dan melanjutkan permainan seolah tidak ada yang terjadi. Seolah dia tidak baru saja menyelamatkan nyawaku dan seolah dia tidak baru saja menggigit leherku. Aku berdiri di sana dan tanganku masih memegang ujung atasan bikini yang hampir lepas, berusaha menutupi tubuh sekecil mungkin. Di depanku, meja hijau itu kembali bergemuruh dengan suara benturan bola-bola billiard. Tuan Leon, Tuan Adrian, dan Tuan Sebastian berdiri di sekeliling meja dengan gelas-gelas minuman di tangan mereka. Sesekali mereka tertawa. Sesekali mereka berbicara dengan suara rendah yang tidak bisa aku dengar dari tempatku berdiri. Tapi mata mereka. Aku bisa merasakan mata mereka melihatku. Tuan Leon paling tidak sering menoleh. Dia fokus pada permainan, atau setidaknya berpura-pura fokus tapi Tuan Adrian dan Tuan Sebastian berbeda. Mereka melirik ke arahku bergantian, seperti dua ekor serigala yang sedang mengamati mangsa. Pandangan mereka tidak main-main. Mereka menatap lengkung pinggangku yang terbuka, kakiku yang masih basah mengilap, dan kulitku yang masih merah karena kedinginan. Beberapa saat kemudian, Tuan Adrian meletakkan stik billiardnya di meja. Dia mengambil handuk putih besar dari kursi terdekat, lalu berjalan mendekatiku. Dia tersenyum dan senyum itu membuatku takut. Tuan Adrian adalah pria tampan seusia ayahku seandainya ayahku masih hidup. Rambutnya hitam, rahangnya tegas, matanya cokelat terang yang terlihat hampir keemasan di bawah sinar matahari. "Kamu kedinginan," katanya sambil menyodorkan handuk ke arahku. Aku menerimanya dengan tangan gemetar. "Terima kasih, Tuan Adrian." Aku segera melilitkan handuk itu di bahuku, menutupi tubuhku sebisa mungkin. Kain putih tebal itu seperti benteng kecil yang melindungiku dari 3 pasang mata yang terus mengamati. Tapi perlindungan itu tidak bertahan lama. Saat aku mundur selangkah untuk pergi, Tuan Sebastian bersiul pelan dari balik meja billiard. "Dia manis juga ternyata, Leon. Kenapa kamu sembunyikan dia selama ini?" Aku menunduk. Wajahku terasa panas meskipun seluruh tubuhku menggigil kedinginan. Tuan Leon tidak menjawab. Dia hanya mengambil minumannya, menyesapnya pelan, lalu melanjutkan permainan padahal juga tubuhnya basah. Tuan Adrian masih berdiri di dekatku. Aku bisa mencium parfumnya-wangi kayu mahoni. Dia menatapku dari atas hingga bawah. "Rambutnya memang sedikit kusut, tapi tidak jelek. Hanya butuh dirawat." Aku tidak tahu harus menjawab apa. Apakah itu pujian? Atau hinaan yang dibungkus kata-kata manis? "Aku... aku permisi dulu, Tuan. Ada pekerjaan rumah yang harus aku selesaikan. Cucian Clara masih menumpuk dan aku harus menyetrika pakaian Tuan Leon untuk acara besok." Aku tidak berbohong. Daftar pekerjaanku hari ini memang masih panjang. Mencuci, menyetrika, membersihkan kamar mandi, menyapu halaman belakang dan sekarang, setelah hampir tenggelam dan dipaksa memakai bikini seksi, aku juga harus mengeringkan rambutku yang basah sebelum ketombeku kambuh lagi. Tapi langkahku terhenti saat Tuan Sebastian angkat bicara. "Tunggu dulu! Namamu Ana, benar?" Aku mengangguk tanpa menoleh. "Ana, kamu bekerja di sini sebagai pembantu, benar?" "Ya, Tuan." "Berapa gajimu?" Aku terdiam. Gajiku adalah rahasia kecil yang memalukan. Tuan Leon membayarku tiga ratus euro sebulan. Di negara ini, tiga ratus euro bahkan tidak cukup untuk menyewa kamar kontrakan yang layak tapi karena aku tinggal di sini dan makan di sini, Tuan Leon bilang itu sudah lebih dari cukup. Dia tidak salah. Sepuluh tahun yang lalu, tiga ratus euro adalah jumlah yang luar biasa besar untukku. Tapi sekarang, setelah melihat Clara menghabiskan jumlah itu hanya untuk satu botol parfum, rasanya berbeda. "Tiga ratus euro, Tuan," jawabku akhirnya. Adrian dan Sebastian bertukar pandang. Tidak ada kata yang keluar dari mulut mereka, tapi aku bisa membaca pikiran mereka dari mimik wajahnya. Tiga ratus euro. Jumlah yang bahkan tidak akan mereka keluarkan untuk membeli satu dasi. Tuan Leon tidak bereaksi. Tangannya masih memegang stik billiard, matanya fokus pada bola putih di depannya tapi aku tahu dia mendengar semuanya karena telinganya tidak tuli. Tuan Adrian melangkah lebih dekat. Sekarang jarak kami hanya satu lengan. Aku bisa melihat garis-garis halus di sudut matanya, dan satu bekas luka kecil di alis kirinya. "Jika kamu butuh uang lebih, kamu bisa meminta pada kami," kata Tuan Adrian. "Aku tidak mengerti, Tuan," kataku. Aku pura-pura tidak mengerti. Padahal aku mengerti. Aku terlalu mengerti dari nada suaranya, dari cara dia berdiri terlalu dekat, dari cara tatapan Sebastian menguliti tubuhku yang hanya tertutup handuk tipis. Tuan Sebastian tertawa kecil. Dia meletakkan stiknya dan berjalan ke arahku dari sisi lain. Sekarang aku berada di antara mereka. Tuan Adrian di kanan, Tuan Sebastian di kiri, dan Tuan Leon di depan sana, terlalu jauh untuk membantu, terlalu dekat untuk tidak melihat. "Jangan pura-pura bodoh, sayang. Kamu wanita dewasa dan kamu pasti tahu maksud kami," kata Tuan Sebastian. Aku menggigit bibir bawahku. Gigitanku kuat sampai hampir berdarah. "Tapi tidak gratis kan, Tuan?" ucapku setengah bertanya. Tuan Adrian mengangkat alis, lalu tersenyum lagi. "Semua hal di dunia ini tidak gratis, Ana. Kamu belajar itu dari pengalaman, kan? Tidak ada yang memberimu sesuatu tanpa mengharap sesuatu kembali." Kalimat itu menusuk sesuatu di dadaku. Dia benar, selama dua puluh tahun hidupku, aku tidak pernah mendapatkan sesuatu yang benar-benar gratis. Mama memberiku makan, tapi aku harus menjadi anak yang baik. Sekolah memberiku nilai, tapi aku harus belajar mati-matian. Tuan Leon memberiku tempat tinggal, tapi aku harus bekerja tanpa hari libur. Dan sekarang mereka menawarkan uang dan harus ditukar dengan sesuatu. "Aku pikir aku harus kembali bekerja, Tuan-tuan. Jika tidak, pekerjaanku tidak akan selesai sampai malam," kataku. Aku berjalan dua langkah dan berhenti sejenak. "Terima kasih tawarannya, tapi aku baik-baik saja dengan gajiku sekarang," kataku. Tuan Adrian tertawa kecil. Tuan Sebastian mendecakkan lidahnya. "Jangan cepat menolak, Ana. Tawaran ini tidak akan datang dua kali," kata Tuan Adrian. "Aku mengerti, tapi aku harus pergi sekarang. Pakaian Clara masih menunggu," kataku. Aku berbalik dan berjalan cepat meninggalkan mereka. Aku tidak berlari karena itu akan terlihat seperti aku takut, padahal aku sangat takut. "Siapa yang menyuruhmu pergi? Mereka teman-temanku dan aku tuanmu, jadi mereka juga tuanmu, siapa yang mengajarimu bersikap tidak sopan seperti itu?" kata Tuan Leon seketika menghentikan langkahku.Aku pulang ke apartemen Sebastian dengan perasaan yang tidak bisa aku jelaskan. Sepanjang perjalanan, pikiranku terus berputar di ruang rahasia Leon, tiang kayu itu, tali merah yang masih menggantung, dan tatapan Leon yang penuh arti saat dia bertanya."Apa kau ingin mengulanginya?"Aku tidak menjawab. Aku belum bisa menjawab.Tapi tubuhku menjawab dengan caranya sendiri.Di taksi, di kursi penumpang, aku merasakan sesuatu yang aneh di antara kedua pahaku. Basah. Hangat. Berdenyut. Vaginaku berkedut tanpa aku bisa mengendalikannya. Setiap kali aku membayangkan tangan Leon di tubuhku, setiap kali aku mengingat suara Sebastian yang kasar di telingaku, setiap kali aku membayangkan ciuman Adrian yang lembut di bibirku, kedutan itu semakin kuat.Aku tidak munafik. Aku sangat merindukan sentuhan pria.Sudah bertahun tahun aku tidak disentuh. Sejak aku meninggalkan mereka, tidak ada pria yang menyentuhku. Tidak ada yang menciumku. Tidak ada yang memelukku. Aku hanya bekerja, menjaga Ethan, t
Hari Senin pagi, aku berdiri di depan mansion Leon untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun. Bangunan itu masih sama, megah, angkuh, dengan pilar-pilar marmer putih yang menjulang tinggi dan taman luas yang selalu terawat sempurna. Tidak ada yang berubah. Air mancur di halaman depan masih menyemburkan air setinggi tiga meter. Pohon-pohon rindang masih berjajar rapi di sepanjang jalan setapak. Bahkan aroma bunga-bunga di taman masih sama seperti dulu.Tapi aku sudah berbeda. Aku bukan lagi pembantu yang menunduk setiap kali melewati pintu ini. Aku bukan lagi istri kontrak yang terjebak dalam pernikahan tanpa cinta. Aku adalah Ana, ibu dari Ethan, wanita yang datang untuk mengurus hak warisan anaknya.Leon berjalan di depanku dengan langkah tegas. Jas hitamnya rapi, dasinya abu-abu, sepatunya mengilap. Dia tidak menoleh, tidak memperlambat langkah, tidak bertanya apakah aku baik-baik saja. Tapi aku tahu dia sadar bahwa aku di sini. Aku bisa merasakannya dari caranya dia menegangkan
Dua hari kemudian, semua berubah.Aku mendapatkan pekerjaan. Bukan pekerjaan biasa. Ini adalah klub malam terbesar di London—tempat yang lebih megah dari diskotik di Manchester, dengan lampu-lampu yang lebih terang, musik yang lebih keras, dan pria-pria yang lebih berbahaya. Gajinya besar. Tiga kali lipat dari apa yang aku dapatkan di Manchester. Aku bisa membiayai Ethan, aku bisa menyewa apartemen sendiri dan tidak perlu bergantung pada Sebastian, Adrian, atau Leon.Aku sudah mengemas koperku.Aku sudah memutuskan.Tapi ketika aku turun dengan koper di tangan, Ethan di sampingku, mereka bertiga sudah menunggu di ruang tamu. Leon berdiri di dekat jendela, tangan di saku celana, wajahnya tidak terbaca. Adrian duduk di sofa, kakinya disilangkan, matanya menatapku dengan intensitas yang membuatku tidak nyaman. Sebastian berdiri di dekat pintu, tangannya dilipat di dada, rahangnya mengeras."Mau ke mana?" tanya Sebastian."Aku dapat pekerjaan di klub malam. Aku akan pindah.""Klub malam?"
Aku masih duduk di meja dapur, menatap gelas susu hangat yang mulai dingin di tanganku. Kata-kata Sebastian tentang Richard masih bergema di kepalaku. Aku tahu dia benar. Richard akan melakukan apa pun untuk menyingkirkan Ethan san aku tidak bisa melindungi Ethan sendirian. Tapi menerima bantuan dari mereka bertiga berarti aku harus kembali ke masa lalu yang aku benci.Sebastian hendak bicara lagi ketika ponselnya berdering. Dia mengangkatnya, mendengarkan sebentar, lalu menjawab dengan suara profesional."Ya, aku dengar. Kirimkan dokumennya ke emailku. Aku akan tinjau nanti."Aku memperhatikannya dari balik gelas susuku. Wajahnya serius, matanya fokus, tidak ada senyum di bibirnya. Dia berbeda saat berbicara bisnis, lebih tegas, lebih dingin.Setelah telepon selesai, aku tersenyum kecil. "Siapa?""Rekan bisnis.""Wanita?"Sebastian menatapku. "Apa?""Suaranya wanita. Aku dengar."Sebastian menghela napas. "Ya. Wanita tapi hanya rekan bisnis."Aku menyesap susuku. "Kau tidak perlu me
Aku tertidur setelah Sebastian membawaku pulang. Tubuhku masih lemas karena efek obat, pikiranku masih kacau karena semua yang terjadi, Leon, diskotik, pria itu, permintaan maaf, penolakan. Aku ingin istirahat. Aku ingin melupakan semuanya.Tapi mimpiku tidak memberiku kedamaian.Aku bermimpi tentang ruang rahasia di mansion Leon. Dinding kayu gelap, tiang kayu di tengah ruangan, dan tali merah yang selalu menggantung di sana. Aku terikat di tiang itu, tanganku terangkat ke atas, kakiku terbuka lebar, tubuhku telanjang bulat. Tidak ada yang menutupiku.Mereka bertiga datang.Leon di depan, wajahnya dingin seperti dulu, matanya hitam pekat tanpa emosi. Adrian di samping kanan, senyumnya tidak lagi hangat tapi sinis, mengejek. Sebastian di samping kiri, wajahnya yang garang itu semakin garang, matanya penuh nafsu yang tidak manusiawi."Apa yang kalian lakukan? Lepaskan aku!"Tapi mereka tidak mendengarkan. Mereka bergiliran mendekatiku, menyentuhku, memasukiku. Aku merasakan tangan-tang
Aku menatap Leon dengan mata yang masih sayu karena efek obat. Rumah sakit terasa dingin, aroma antiseptik menusuk hidungku, dan di luar jendela, langit London mulai gelap tapi di hadapanku, Leon duduk dengan wajah lelah, matanya merah, rambutnya berantakan.“Ayo kita perbaiki semuanya demi Ethan,” katanya.Aku terdiam.“Demi Ethan,” ulangnya.Aku menarik napas panjang. Dadaku terasa sesak, seperti ada sesuatu yang tertahan di sana. Aku menggeleng.“Tidak, Leon.”Leon membeku.“Apa?”“Aku tidak mau. Tidak setelah apa yang aku lalui bersamamu.”“Ana…”“Kau dengar aku, aku tidak mau. Adrian dan Sebastian saja aku tolak, apalagi kau.”Leon terdiam. Aku melihat rahangnya mengeras. Dia mengepalkan tangannya di pangkuan, buku-buku jarinya memutih.“Apa yang harus aku lakukan? Apa yang harus aku lakukan supaya kau bisa memberiku kesempatan?”Aku menatapnya. Aku melihat pria di depanku, pria yang dulu aku cintai, pria yang dulu menyakitiku, pria yang sekarang memohon dengan mata basah. Aku me
"Jam kerjaku sudah selesai untuk hari ini," kataku."Kau tinggal di rumahku, kau makan di rumahku, kau tidur di rumahku. Selama kau di sini, kau ikut aturanku."Aku tersenyum, bukan senyum bahagia. Senyum pahit yang sudah sering aku tunjukkan akhir-akhir ini."Aturanmu? Apa aturanmu?Bahwa aku boleh
Aku menghentikan langkah.Tubuhku kaku seperti patung. Kata-kata Tuan Leon menusuk dari belakang, tajam dan dingin, seperti ujung pisau yang ditempelkan di leher."Siapa yang mengajarimu bersikap tidak sopan seperti itu?"Aku tidak berani menoleh. Mataku terasa panas. Air mata menggenang di pelupuk
Aku menghela napas panjang, perintah Clara adalah perintah. Jika tidak datang, dia akan marah. Aku sudah hafal betapa buruknya amarah itu, benda-benda bisa terbang, kata-katanyabisa lebih tajam dari pisau, dan aku bisa diusir dari rumah besar ini.Jadi aku berjalan menyusuri koridor panjang mansion
Pov ANA.Aku duduk di bangku kayu gereja ini. Tanganku menggenggam erat ujung rok hingga kusut. Pacarku, Max berdiri dengan jas hitamnya yang rapi. Di sampingnya Sasha, sahabatku sejak pertama kali aku menginjakkan kaki di kota ini dua tahun lalu. Perut Sasha sudah membuncit di balik gaun putihnya.







