Share

Bab 3

Author: Author Marr
last update publish date: 2026-06-04 14:08:17

Barang miliknya.

Aku bukan barang dan aku bukan milik siapapun.

Tuan Leon melepaskan tangannya dari perutku perlahan, kemudian dia berjalan kembali ke meja billiard, mengambil stik yang tadi diletakkannya, dan melanjutkan permainan seolah tidak ada yang terjadi.

Seolah dia tidak baru saja menyelamatkan nyawaku dan seolah dia tidak baru saja menggigit leherku.

Aku berdiri di sana dan tanganku masih memegang ujung atasan bikini yang hampir lepas, berusaha menutupi tubuh sekecil mungkin. Di depanku, meja hijau itu kembali bergemuruh dengan suara benturan bola-bola billiard.

Tuan Leon, Tuan Adrian, dan Tuan Sebastian berdiri di sekeliling meja dengan gelas-gelas minuman di tangan mereka. Sesekali mereka tertawa. Sesekali mereka berbicara dengan suara rendah yang tidak bisa aku dengar dari tempatku berdiri.

Tapi mata mereka. Aku bisa merasakan mata mereka melihatku.

Tuan Leon paling tidak sering menoleh. Dia fokus pada permainan, atau setidaknya berpura-pura fokus tapi Tuan Adrian dan Tuan Sebastian berbeda. Mereka melirik ke arahku bergantian, seperti dua ekor serigala yang sedang mengamati mangsa.

Pandangan mereka tidak main-main. Mereka menatap lengkung pinggangku yang terbuka, kakiku yang masih basah mengilap, dan kulitku yang masih merah karena kedinginan.

Beberapa saat kemudian, Tuan Adrian meletakkan stik billiardnya di meja. Dia mengambil handuk putih besar dari kursi terdekat, lalu berjalan mendekatiku.

Dia tersenyum dan senyum itu membuatku takut.

Tuan Adrian adalah pria tampan seusia ayahku seandainya ayahku masih hidup. Rambutnya hitam, rahangnya tegas, matanya cokelat terang yang terlihat hampir keemasan di bawah sinar matahari.

"Kamu kedinginan," katanya sambil menyodorkan handuk ke arahku.

Aku menerimanya dengan tangan gemetar.

"Terima kasih, Tuan Adrian."

Aku segera melilitkan handuk itu di bahuku, menutupi tubuhku sebisa mungkin. Kain putih tebal itu seperti benteng kecil yang melindungiku dari 3 pasang mata yang terus mengamati.

Tapi perlindungan itu tidak bertahan lama.

Saat aku mundur selangkah untuk pergi, Tuan Sebastian bersiul pelan dari balik meja billiard.

"Dia manis juga ternyata, Leon. Kenapa kamu sembunyikan dia selama ini?"

Aku menunduk. Wajahku terasa panas meskipun seluruh tubuhku menggigil kedinginan.

Tuan Leon tidak menjawab. Dia hanya mengambil minumannya, menyesapnya pelan, lalu melanjutkan permainan padahal juga tubuhnya basah.

Tuan Adrian masih berdiri di dekatku. Aku bisa mencium parfumnya-wangi kayu mahoni. Dia menatapku dari atas hingga bawah.

"Rambutnya memang sedikit kusut, tapi tidak jelek. Hanya butuh dirawat."

Aku tidak tahu harus menjawab apa. Apakah itu pujian? Atau hinaan yang dibungkus kata-kata manis?

"Aku... aku permisi dulu, Tuan. Ada pekerjaan rumah yang harus aku selesaikan. Cucian Clara masih menumpuk dan aku harus menyetrika pakaian Tuan Leon untuk acara besok."

Aku tidak berbohong. Daftar pekerjaanku hari ini memang masih panjang. Mencuci, menyetrika, membersihkan kamar mandi, menyapu halaman belakang dan sekarang, setelah hampir tenggelam dan dipaksa memakai bikini seksi, aku juga harus mengeringkan rambutku yang basah sebelum ketombeku kambuh lagi.

Tapi langkahku terhenti saat Tuan Sebastian angkat bicara.

"Tunggu dulu! Namamu Ana, benar?"

Aku mengangguk tanpa menoleh.

"Ana, kamu bekerja di sini sebagai pembantu, benar?"

"Ya, Tuan."

"Berapa gajimu?"

Aku terdiam. Gajiku adalah rahasia kecil yang memalukan. Tuan Leon membayarku tiga ratus euro sebulan. Di negara ini, tiga ratus euro bahkan tidak cukup untuk menyewa kamar kontrakan yang layak tapi karena aku tinggal di sini dan makan di sini, Tuan Leon bilang itu sudah lebih dari cukup.

Dia tidak salah. Sepuluh tahun yang lalu, tiga ratus euro adalah jumlah yang luar biasa besar untukku. Tapi sekarang, setelah melihat Clara menghabiskan jumlah itu hanya untuk satu botol parfum, rasanya berbeda.

"Tiga ratus euro, Tuan," jawabku akhirnya.

Adrian dan Sebastian bertukar pandang. Tidak ada kata yang keluar dari mulut mereka, tapi aku bisa membaca pikiran mereka dari mimik wajahnya. Tiga ratus euro. Jumlah yang bahkan tidak akan mereka keluarkan untuk membeli satu dasi.

Tuan Leon tidak bereaksi. Tangannya masih memegang stik billiard, matanya fokus pada bola putih di depannya tapi aku tahu dia mendengar semuanya karena telinganya tidak tuli.

Tuan Adrian melangkah lebih dekat. Sekarang jarak kami hanya satu lengan. Aku bisa melihat garis-garis halus di sudut matanya, dan satu bekas luka kecil di alis kirinya.

"Jika kamu butuh uang lebih, kamu bisa meminta pada kami," kata Tuan Adrian.

"Aku tidak mengerti, Tuan," kataku.

Aku pura-pura tidak mengerti. Padahal aku mengerti. Aku terlalu mengerti dari nada suaranya, dari cara dia berdiri terlalu dekat, dari cara tatapan Sebastian menguliti tubuhku yang hanya tertutup handuk tipis.

Tuan Sebastian tertawa kecil. Dia meletakkan stiknya dan berjalan ke arahku dari sisi lain. Sekarang aku berada di antara mereka. Tuan Adrian di kanan, Tuan Sebastian di kiri, dan Tuan Leon di depan sana, terlalu jauh untuk membantu, terlalu dekat untuk tidak melihat.

"Jangan pura-pura bodoh, sayang. Kamu wanita dewasa dan kamu pasti tahu maksud kami," kata Tuan Sebastian.

Aku menggigit bibir bawahku. Gigitanku kuat sampai hampir berdarah.

"Tapi tidak gratis kan, Tuan?" ucapku setengah bertanya.

Tuan Adrian mengangkat alis, lalu tersenyum lagi.

"Semua hal di dunia ini tidak gratis, Ana. Kamu belajar itu dari pengalaman, kan? Tidak ada yang memberimu sesuatu tanpa mengharap sesuatu kembali."

Kalimat itu menusuk sesuatu di dadaku. Dia benar, selama dua puluh tahun hidupku, aku tidak pernah mendapatkan sesuatu yang benar-benar gratis. Mama memberiku makan, tapi aku harus menjadi anak yang baik. Sekolah memberiku nilai, tapi aku harus belajar mati-matian. Tuan Leon memberiku tempat tinggal, tapi aku harus bekerja tanpa hari libur.

Dan sekarang mereka menawarkan uang dan harus ditukar dengan sesuatu.

"Aku pikir aku harus kembali bekerja, Tuan-tuan. Jika tidak, pekerjaanku tidak akan selesai sampai malam," kataku.

Aku berjalan dua langkah dan berhenti sejenak.

"Terima kasih tawarannya, tapi aku baik-baik saja dengan gajiku sekarang," kataku.

Tuan Adrian tertawa kecil. Tuan Sebastian mendecakkan lidahnya.

"Jangan cepat menolak, Ana. Tawaran ini tidak akan datang dua kali," kata Tuan Adrian.

"Aku mengerti, tapi aku harus pergi sekarang. Pakaian Clara masih menunggu," kataku.

Aku berbalik dan berjalan cepat meninggalkan mereka. Aku tidak berlari karena itu akan terlihat seperti aku takut, padahal aku sangat takut.

"Siapa yang menyuruhmu pergi? Mereka teman-temanku dan aku tuanmu, jadi mereka juga tuanmu, siapa yang mengajarimu bersikap tidak sopan seperti itu?" kata Tuan Leon seketika menghentikan langkahku.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Hasrat Basah : Gadis Gendut Dimiliki 3 Daddy   Bab 41

    Malam hari. Aku baru saja selesai mandi dan berganti pakaian. Luka jahitanku sudah mulai sembuh, tapi masih terasa perih kalau aku bergerak terlalu cepat. Aku sedang duduk di ruang keluarga, membaca novel lama yang sudah aku baca berkali-kali, ketika dua mobil masuk ke gerbang mansion. Adrian dan Sebastian. Mereka datang bersama, seperti biasa. Adrian dengan kemeja putih lengan panjang yang digulung sampai siku, celana kain hitam, rambutnya yang sedikit panjang tertata rapi ke belakang. Sebastian di sampingnya dengan kaus polo berwarna biru tua yang membentuk di dadanya yang bidang, celana jins gelap, dan jaket kulit hitam yang dia lepas begitu masuk ke dalam rumah. "Selamat malam, Sayang!" sapa Adrian sambil melambai ke arahku. Sebastian hanya tersenyum. Leon sudah berdiri di dekat meja billiard di sudut ruangan. Dia sedang mengatur bola-bola dengan satu tangan. "Kalian terlambat," kata Leon dingin. "Macet," jawab Sebastian santai. Aku kembali ke novelku, mencoba fokus pada

  • Hasrat Basah : Gadis Gendut Dimiliki 3 Daddy   Bab 40

    Mobil melaju meninggalkan mansion menuju rumah ayah Leon. Aku duduk diam di kursi penumpang, sesekali menyeka pipiku yang basah. Leon menyetir dengan satu tangan, tangan satunya memegang ponsel yang sesekali bergetar. Tiba-tiba, ponsel Leon berdering. Dia mengangkatnya tanpa berkata apa-apa, mendengarkan sebentar, lalu menghela napas panjang, sangat panjang, seperti dia baru saja mendengar berita yang tidak menyenangkan. “Baik,” katanya singkat. “Lain kali.” Telepon ditutup. Mobil berbelok di tikungan berikutnya bukan ke arah rumah ayahnya, tapi kembali ke arah pusat kota. “Ayahku ada tamu penting,” kata Leon tanpa menatapku. “Acara hari ini dibatalkan.” Mobil berhenti di depan sebuah kafe kecil di pinggir jalan. Bukan kafe mewah seperti yang biasa Leon kunjungi. Kafe sederhana dengan kursi-kursi kayu di teras dan payung besar berwarna merah putih. Tempat seperti ini dulu sering aku kunjungi saat masih berpacaran dengan Max sebelum semuanya hancur. “Turun,” kata Leon. Aku mena

  • Hasrat Basah : Gadis Gendut Dimiliki 3 Daddy   Bab 39

    Sebastian tersenyum begitu matanya tertuju padaku. Senyum itu langsung mengubah seluruh wajahnya yang garang menjadi sesuatu yang hangat. Matanya yang hazel gelap menyipit ramah. Kerutan di dahinya yang membuatnya terlihat selalu marah itu menghilang. “Selamat pagi, Ana. Kamu sudah siap? Aku datang untuk mengajakmu olahraga.” Aku benar-benar lupa. “Sebastian, maaf. Hari ini aku tidak bisa.” Senyum Sebastian sedikit pudar. “Kenapa? Ada apa?” “Aku harus pergi dengan Leon ke rumah ayahnya. Ada urusan keluarga.” Sebastian menatapku sebentar, lalu menghela napas. Dia mengangkat bahu, bahu lebarnya yang kekar itu naik turun dengan elegan. “Tidak apa-apa. Masih ada hari besok. Kita tidak perlu terburu-buru.” “Kamu tidak marah?” tanyaku. “Marah? Kenapa aku harus marah? Kamu punya kehidupan sendiri, aku tidak bisa memaksamu untuk selalu ada di sisiku.” Aku lega mendengarnya. Sebastian berbeda dari Leon. Dia tidak pernah marah kalau aku membatalkan janji. Dia tidak pernah mengeluarkan

  • Hasrat Basah : Gadis Gendut Dimiliki 3 Daddy   Bab 38

    Leon meminta maaf untuk kedua kalinya. Aku masih berdiri membelakanginya, punggungku tegang, tanganku terkepal erat di sisi tubuh. Air mata masih mengalir di pipiku, aku tidak menyekanya. Biar dia lihat apa yang sudah dia lakukan. Tapi kemudian dia tertawa seperti dia baru saja mengatakan sesuatu yang lucu. "Astaga," katanya dari belakangku, suaranya penuh sindiran. "Aku minta maaf, dan kau bahkan tidak bisa menatapku? Apa aku harus berlutut dulu?" Aku berbalik. Leon berdiri dengan tangan di saku celana, satu alis terangkat, sudut bibirnya menyunggingkan senyum miring yang membuatku ingin menamparnya. Dia tidak terlihat menyesal dan justru terlihat terhibur. "Aku minta maaf," ulangnya, tapi kali dengan nada mengejek. "Itu yang kau harapkan, kan? Aku merendahkan diri di depanmu. Aku mengaku salah. Aku bilang 'maaf, Ana, aku keterlaluan. Aku tidak seharusnya meninggalkanmu di pinggir jalan'." Dia menirukan suara cengeng yang jelas-jelas bukan suaranya. Matanya berkilat, buk

  • Hasrat Basah : Gadis Gendut Dimiliki 3 Daddy   Bab 37

    Ponselku berdering di atas meja samping sofa. Layar menampilkan nama Leon. Aku meraihnya dengan tangan gemetar, menekan tombol hijau."Halo?""Di mana kau?" Suara Leon di seberang sana dingin, tanpa basa-basi.Aku menoleh ke arah Adrian yang sedang duduk di kursi dekat jendela. Dia menatapku dengan mata bertanya."Aku bersama Adrian," jawabku."Pulang sekarang.""Malam sudah larut, besok pagi aku pulang.""Pulang sekarang. Aku tidak suka mengulang perintah.""Kau yang menurunkanku di pinggir jalan. Kau yang meninggalkanku. Sekarang kau suruh aku pulang?""Aku bilang pulang, Ana. Jangan buat aku marah.""Tapi aku bersama Adrian...""Aku tidak peduli kau bersama siapa. Aku suamimu dan kau harus pulang ke rumah, bukan ke rumah orang lain."Aku terdiam. Leon memang suamiku di atas kertas. Tapi apakah dia pernah bersikap seperti suami? Apakah dia pernah memperlakukanku seperti istri?"Aku tidak mau pulang malam ini. Aku mau istirahat di sini.""Aku tidak memberi kau pilihan, Ana."Telepon

  • Hasrat Basah : Gadis Gendut Dimiliki 3 Daddy   Bab 36

    Aku masih menyesap susu hangat ketika Adrian mengecup keningku tapi kemudian dia turun ke bibirku.Awalnya hanya tempelan. Bibirnya yang hangat menekan bibirku yang masih sedikit dingin karena angin malam tadi.Aku membiarkannya.Adrian menarik sedikit, menatap mataku sebentar. Matanya yang cokelat tua itu gelap, bukan gelap karena marah, tapi gelap karena hasrat. Aku belum pernah melihat ekspresi seperti ini di wajahnya yang biasanya ceria."Aku kangen menciummu, Sayang," bisiknya. Suaranya serak, berbeda dari biasanya.Lalu dia menciumku lagi dan kali ini berbeda.Bibirnya tidak lagi hanya menempel. Dia bergerak perlahan, penuh perhitungan, seperti dia sedang memainkan alat musik yang paling disukainya. Bibir bawahku dia hisap lembut, membuatku menarik napas tajam lalu dia melepaskannya, menggantinya dengan bibir atasku, mengulumnya seperti sedang menikmati permen yang paling lezat."Adrian..." namaku keluar setengah bisikan di sela-sela ciumannya.Dia tidak menjawab. Lidahnya kelua

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status