LOGINAku terdiam.
Pernikahan. Aku tidak pernah membayangkan menikah apalagi dengan pria sekaya dan semisterius Tuan Leon. Aku hanya gadis gemuk dan biasa saja yang hidupnya habis untuk membersihkan kotoran orang lain. “Kenapa aku?” tanyaku. Tuan Leon masih dalam posisi berjongkok di depanku, matanya menatapku tanpa berkedip. "Kamu tidak akan merepotkanku dengan tuntutan cinta atau perhatian. Kamu hanya ingin bertahan hidup.” Itu benar. Aku tidak punya mimpi besar. Aku tidak pernah bermimpi menjadi kaya atau terkenal. Satu-satunya mimpiku dulu adalah melihat ibu tersenyum tanpa rasa sakit. Sekarang ibuku sudah tiada. Aku hanya ingin melanjutkan hidup. “Dan karena kamu tidak cantik,” lanjutnya sedikit mengejek tapi itu memang faktanya. “Tidak ada yang akan curiga. Pernikahan rahasia ini akan aman. Tidak ada perempuan lain yang akan iri atau berusaha mencari tahu siapa istri baruku.” Aku menunduk. Tangan gemetarku masih memegang amplop cokelat itu. “Tapi kenapa harus dengan pernikahan? Kenapa tidak cukup hanya...” “Hanya melayani?” Tuan Leon menyelesaikan kalimatku. Dia berdiri lagi, meninggalkan aku yang masih duduk kaku. “Karena ayahku bukan orang bodoh. Dia punya tim investigator. Dia akan tahu jika aku hanya hidup dengan perempuan simpanan tapi jika aku menikah meskipun dengan perempuan sepertimu itu sudah cukup memenuhi syarat yang dia tetapkan.” Perempuan sepertimu. Kalimat itu terasa seperti tamparan, tapi anehnya aku tidak marah mungkin karena aku tahu itu benar. Aku memang tidak istimewa. Wajahku bulat dengan pipi tembem yang membuatku terlihat seperti anak kecil meski usiaku sudah 25 tahun. Badanku juga tidak proporsional tidak ada lekuk indah seperti perempuan di majalah dewasa. Hanya gulungan daging di perut dan lengan yang menggelambir saat aku mengangkat ember air. Tapi ada satu hal yang membuatku bergidik. “Open marriage, maksudmu aku harus...” “Bersama Tuan Adrian dan Tuan Sebastian juga, jika mereka mau dan jika kamu mau. Aku tidak akan cemburu. Ini hanya urusan kontrak. Aku mendapatkan aset ayahku. Kamu mendapatkan kebebasan dari hutang dan kehidupan yang layak. Adrian dan Sebastian mendapatkan apa yang mereka inginkan. Semua orang bahagia.” “Apakah aku punya pilihan?” Aku ingat kata-katanya tentang penjara. Tentang perempuan-perempuan di sana yang katanya tidak ada yang baik. Tubuh gemukku yang tak berdaya ini akan menjadi sasaran empuk di dalam sel sempit itu. Aku bisa membayangkannya malam-malam panjang tanpa perlindungan, tanpa siapa pun yang peduli. Setidaknya di sini, di mansion megah ini, aku punya tempat tidur yang hangat. Aku punya makanan dan mendapatkan uang. “Aku mau,” kataku. Tuan Leon mengangguk kecil. “Bagus. Besok kita akan menandatangani perjanjian pranikah. Kamu tidak perlu membawa apa-apa, semuanya sudah aku siapkan.” Dia berjalan menuju pintu ruang keluarga, tapi berhenti di ambang pintu. “Satu hal lagi, Ana. Kamu bilang aku memilihmu karena kamu tidak cantik. Tapi ingat ini kecantikan dan tubuh masih bisa diubah. Malam ini kamu pindah ke kamarku. Aku sudah menyuruh seseorang mempersiapkan lemari pakaian baru untukmu. Mulai besok, hidupmu akan berbeda.” Setelah dia pergi, aku duduk sendirian di ruang keluarga yang luas itu. Aku mengangkat amplop cokelat itu ke depan wajahku. Uang. Uang yang akan menyelamatkanku dari penjara tapi berapa banyak dari diriku yang harus aku korbankan untuk mendapatkannya? Aku teringat ucapan mantan kekasihku. “Aku malu membawamu ke acara kantor. Semua pacar temanku cantik-cantik sedangkan kamu seperti babi." Dia bilang begitu tepat di depan ibuku yang sedang terbaring sakit. Ibu mendengarnya. Aku melihat mata ibu berkaca-kaca, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa selain menggenggam tanganku erat-erat. Sekarang, di ruang keluarga yang dingin ini, aku berbisik pada diriku sendiri. “Aku akan membuktikan padamu, Max. Bukan karena aku masih mencintaimu, tapi karena aku perlu percaya bahwa aku tidak seperti yang kau bilang. Aku bisa berubah menjadi cantik." Aku menggenggam amplop itu erat-erat. Ini satu-satunya jalanku. Mungkin bukan jalan yang terhormat tapi setidaknya ini adalah jalanku, dan aku yang memilihnya. Aku berdiri, merapikan rok seragamku yang kusam, dan berjalan menuju kamar Tuan Leon. Pintu kamarnya terbuka. Di dalam, sudah ada gaun tidur sutra berwarna merah marun terhampar rapih di atas tempat tidur. Aku menyentuhnya dan lebih lembut dari kain apapun yang pernah aku miliki dalam hidupku. “Selamat malam,” kata Tuan Leon dari balik pintu kamar mandi. Aku bisa melihat bayangannya di kaca. Aku tidak menjawab. Aku hanya memejamkan mata dan menghela napas panjang. Selamat datang di hidup baru, Ana. Semoga keputusan ini tidak menghancurkanmu sepenuhnya.Malam hari. Aku baru saja selesai mandi dan berganti pakaian. Luka jahitanku sudah mulai sembuh, tapi masih terasa perih kalau aku bergerak terlalu cepat. Aku sedang duduk di ruang keluarga, membaca novel lama yang sudah aku baca berkali-kali, ketika dua mobil masuk ke gerbang mansion. Adrian dan Sebastian. Mereka datang bersama, seperti biasa. Adrian dengan kemeja putih lengan panjang yang digulung sampai siku, celana kain hitam, rambutnya yang sedikit panjang tertata rapi ke belakang. Sebastian di sampingnya dengan kaus polo berwarna biru tua yang membentuk di dadanya yang bidang, celana jins gelap, dan jaket kulit hitam yang dia lepas begitu masuk ke dalam rumah. "Selamat malam, Sayang!" sapa Adrian sambil melambai ke arahku. Sebastian hanya tersenyum. Leon sudah berdiri di dekat meja billiard di sudut ruangan. Dia sedang mengatur bola-bola dengan satu tangan. "Kalian terlambat," kata Leon dingin. "Macet," jawab Sebastian santai. Aku kembali ke novelku, mencoba fokus pada
Mobil melaju meninggalkan mansion menuju rumah ayah Leon. Aku duduk diam di kursi penumpang, sesekali menyeka pipiku yang basah. Leon menyetir dengan satu tangan, tangan satunya memegang ponsel yang sesekali bergetar. Tiba-tiba, ponsel Leon berdering. Dia mengangkatnya tanpa berkata apa-apa, mendengarkan sebentar, lalu menghela napas panjang, sangat panjang, seperti dia baru saja mendengar berita yang tidak menyenangkan. “Baik,” katanya singkat. “Lain kali.” Telepon ditutup. Mobil berbelok di tikungan berikutnya bukan ke arah rumah ayahnya, tapi kembali ke arah pusat kota. “Ayahku ada tamu penting,” kata Leon tanpa menatapku. “Acara hari ini dibatalkan.” Mobil berhenti di depan sebuah kafe kecil di pinggir jalan. Bukan kafe mewah seperti yang biasa Leon kunjungi. Kafe sederhana dengan kursi-kursi kayu di teras dan payung besar berwarna merah putih. Tempat seperti ini dulu sering aku kunjungi saat masih berpacaran dengan Max sebelum semuanya hancur. “Turun,” kata Leon. Aku mena
Sebastian tersenyum begitu matanya tertuju padaku. Senyum itu langsung mengubah seluruh wajahnya yang garang menjadi sesuatu yang hangat. Matanya yang hazel gelap menyipit ramah. Kerutan di dahinya yang membuatnya terlihat selalu marah itu menghilang. “Selamat pagi, Ana. Kamu sudah siap? Aku datang untuk mengajakmu olahraga.” Aku benar-benar lupa. “Sebastian, maaf. Hari ini aku tidak bisa.” Senyum Sebastian sedikit pudar. “Kenapa? Ada apa?” “Aku harus pergi dengan Leon ke rumah ayahnya. Ada urusan keluarga.” Sebastian menatapku sebentar, lalu menghela napas. Dia mengangkat bahu, bahu lebarnya yang kekar itu naik turun dengan elegan. “Tidak apa-apa. Masih ada hari besok. Kita tidak perlu terburu-buru.” “Kamu tidak marah?” tanyaku. “Marah? Kenapa aku harus marah? Kamu punya kehidupan sendiri, aku tidak bisa memaksamu untuk selalu ada di sisiku.” Aku lega mendengarnya. Sebastian berbeda dari Leon. Dia tidak pernah marah kalau aku membatalkan janji. Dia tidak pernah mengeluarkan
Leon meminta maaf untuk kedua kalinya. Aku masih berdiri membelakanginya, punggungku tegang, tanganku terkepal erat di sisi tubuh. Air mata masih mengalir di pipiku, aku tidak menyekanya. Biar dia lihat apa yang sudah dia lakukan. Tapi kemudian dia tertawa seperti dia baru saja mengatakan sesuatu yang lucu. "Astaga," katanya dari belakangku, suaranya penuh sindiran. "Aku minta maaf, dan kau bahkan tidak bisa menatapku? Apa aku harus berlutut dulu?" Aku berbalik. Leon berdiri dengan tangan di saku celana, satu alis terangkat, sudut bibirnya menyunggingkan senyum miring yang membuatku ingin menamparnya. Dia tidak terlihat menyesal dan justru terlihat terhibur. "Aku minta maaf," ulangnya, tapi kali dengan nada mengejek. "Itu yang kau harapkan, kan? Aku merendahkan diri di depanmu. Aku mengaku salah. Aku bilang 'maaf, Ana, aku keterlaluan. Aku tidak seharusnya meninggalkanmu di pinggir jalan'." Dia menirukan suara cengeng yang jelas-jelas bukan suaranya. Matanya berkilat, buk
Ponselku berdering di atas meja samping sofa. Layar menampilkan nama Leon. Aku meraihnya dengan tangan gemetar, menekan tombol hijau."Halo?""Di mana kau?" Suara Leon di seberang sana dingin, tanpa basa-basi.Aku menoleh ke arah Adrian yang sedang duduk di kursi dekat jendela. Dia menatapku dengan mata bertanya."Aku bersama Adrian," jawabku."Pulang sekarang.""Malam sudah larut, besok pagi aku pulang.""Pulang sekarang. Aku tidak suka mengulang perintah.""Kau yang menurunkanku di pinggir jalan. Kau yang meninggalkanku. Sekarang kau suruh aku pulang?""Aku bilang pulang, Ana. Jangan buat aku marah.""Tapi aku bersama Adrian...""Aku tidak peduli kau bersama siapa. Aku suamimu dan kau harus pulang ke rumah, bukan ke rumah orang lain."Aku terdiam. Leon memang suamiku di atas kertas. Tapi apakah dia pernah bersikap seperti suami? Apakah dia pernah memperlakukanku seperti istri?"Aku tidak mau pulang malam ini. Aku mau istirahat di sini.""Aku tidak memberi kau pilihan, Ana."Telepon
Aku masih menyesap susu hangat ketika Adrian mengecup keningku tapi kemudian dia turun ke bibirku.Awalnya hanya tempelan. Bibirnya yang hangat menekan bibirku yang masih sedikit dingin karena angin malam tadi.Aku membiarkannya.Adrian menarik sedikit, menatap mataku sebentar. Matanya yang cokelat tua itu gelap, bukan gelap karena marah, tapi gelap karena hasrat. Aku belum pernah melihat ekspresi seperti ini di wajahnya yang biasanya ceria."Aku kangen menciummu, Sayang," bisiknya. Suaranya serak, berbeda dari biasanya.Lalu dia menciumku lagi dan kali ini berbeda.Bibirnya tidak lagi hanya menempel. Dia bergerak perlahan, penuh perhitungan, seperti dia sedang memainkan alat musik yang paling disukainya. Bibir bawahku dia hisap lembut, membuatku menarik napas tajam lalu dia melepaskannya, menggantinya dengan bibir atasku, mengulumnya seperti sedang menikmati permen yang paling lezat."Adrian..." namaku keluar setengah bisikan di sela-sela ciumannya.Dia tidak menjawab. Lidahnya kelua







