Share

Bab 6

Author: Author Marr
last update publish date: 2026-06-04 16:05:28

Aku terdiam.

Pernikahan. Aku tidak pernah membayangkan menikah apalagi dengan pria sekaya dan semisterius Tuan Leon. Aku hanya gadis gemuk dan biasa saja yang hidupnya habis untuk membersihkan kotoran orang lain.

“Kenapa aku?” tanyaku.

Tuan Leon masih dalam posisi berjongkok di depanku, matanya menatapku tanpa berkedip.

"Kamu tidak akan merepotkanku dengan tuntutan cinta atau perhatian. Kamu hanya ingin bertahan hidup.”

Itu benar. Aku tidak punya mimpi besar. Aku tidak pernah bermimpi menjadi kaya atau terkenal. Satu-satunya mimpiku dulu adalah melihat ibu tersenyum tanpa rasa sakit. Sekarang ibuku sudah tiada. Aku hanya ingin melanjutkan hidup.

“Dan karena kamu tidak cantik,” lanjutnya sedikit mengejek tapi itu memang faktanya. “Tidak ada yang akan curiga. Pernikahan rahasia ini akan aman. Tidak ada perempuan lain yang akan iri atau berusaha mencari tahu siapa istri baruku.”

Aku menunduk. Tangan gemetarku masih memegang amplop cokelat itu.

“Tapi kenapa harus dengan pernikahan? Kenapa tidak cukup hanya...”

“Hanya melayani?” Tuan Leon menyelesaikan kalimatku. Dia berdiri lagi, meninggalkan aku yang masih duduk kaku. “Karena ayahku bukan orang bodoh. Dia punya tim investigator. Dia akan tahu jika aku hanya hidup dengan perempuan simpanan tapi jika aku menikah meskipun dengan perempuan sepertimu itu sudah cukup memenuhi syarat yang dia tetapkan.”

Perempuan sepertimu.

Kalimat itu terasa seperti tamparan, tapi anehnya aku tidak marah mungkin karena aku tahu itu benar. Aku memang tidak istimewa. Wajahku bulat dengan pipi tembem yang membuatku terlihat seperti anak kecil meski usiaku sudah 25 tahun. Badanku juga tidak proporsional tidak ada lekuk indah seperti perempuan di majalah dewasa. Hanya gulungan daging di perut dan lengan yang menggelambir saat aku mengangkat ember air.

Tapi ada satu hal yang membuatku bergidik.

“Open marriage, maksudmu aku harus...”

“Bersama Tuan Adrian dan Tuan Sebastian juga, jika mereka mau dan jika kamu mau. Aku tidak akan cemburu. Ini hanya urusan kontrak. Aku mendapatkan aset ayahku. Kamu mendapatkan kebebasan dari hutang dan kehidupan yang layak. Adrian dan Sebastian mendapatkan apa yang mereka inginkan. Semua orang bahagia.”

“Apakah aku punya pilihan?”

Aku ingat kata-katanya tentang penjara. Tentang perempuan-perempuan di sana yang katanya tidak ada yang baik. Tubuh gemukku yang tak berdaya ini akan menjadi sasaran empuk di dalam sel sempit itu. Aku bisa membayangkannya malam-malam panjang tanpa perlindungan, tanpa siapa pun yang peduli.

Setidaknya di sini, di mansion megah ini, aku punya tempat tidur yang hangat. Aku punya makanan dan mendapatkan uang.

“Aku mau,” kataku.

Tuan Leon mengangguk kecil. “Bagus. Besok kita akan menandatangani perjanjian pranikah. Kamu tidak perlu membawa apa-apa, semuanya sudah aku siapkan.”

Dia berjalan menuju pintu ruang keluarga, tapi berhenti di ambang pintu.

“Satu hal lagi, Ana. Kamu bilang aku memilihmu karena kamu tidak cantik. Tapi ingat ini kecantikan dan tubuh masih bisa diubah. Malam ini kamu pindah ke kamarku. Aku sudah menyuruh seseorang mempersiapkan lemari pakaian baru untukmu. Mulai besok, hidupmu akan berbeda.”

Setelah dia pergi, aku duduk sendirian di ruang keluarga yang luas itu.

Aku mengangkat amplop cokelat itu ke depan wajahku. Uang. Uang yang akan menyelamatkanku dari penjara tapi berapa banyak dari diriku yang harus aku korbankan untuk mendapatkannya?

Aku teringat ucapan mantan kekasihku.

“Aku malu membawamu ke acara kantor. Semua pacar temanku cantik-cantik sedangkan kamu seperti babi."

Dia bilang begitu tepat di depan ibuku yang sedang terbaring sakit. Ibu mendengarnya. Aku melihat mata ibu berkaca-kaca, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa selain menggenggam tanganku erat-erat.

Sekarang, di ruang keluarga yang dingin ini, aku berbisik pada diriku sendiri.

“Aku akan membuktikan padamu, Max. Bukan karena aku masih mencintaimu, tapi karena aku perlu percaya bahwa aku tidak seperti yang kau bilang. Aku bisa berubah menjadi cantik."

Aku menggenggam amplop itu erat-erat. Ini satu-satunya jalanku. Mungkin bukan jalan yang terhormat tapi setidaknya ini adalah jalanku, dan aku yang memilihnya.

Aku berdiri, merapikan rok seragamku yang kusam, dan berjalan menuju kamar Tuan Leon.

Pintu kamarnya terbuka. Di dalam, sudah ada gaun tidur sutra berwarna merah marun terhampar rapih di atas tempat tidur. Aku menyentuhnya dan lebih lembut dari kain apapun yang pernah aku miliki dalam hidupku.

“Selamat malam,” kata Tuan Leon dari balik pintu kamar mandi. Aku bisa melihat bayangannya di kaca.

Aku tidak menjawab. Aku hanya memejamkan mata dan menghela napas panjang.

Selamat datang di hidup baru, Ana. Semoga keputusan ini tidak menghancurkanmu sepenuhnya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Gadis Gendut Dimiliki 3 Daddy   Bab 200

    Tiga tahun telah berlalu sejak hari itu. Aku berdiri di beranda rumah kami, menatap taman luas di belakang mansion. Tiga anak kecil, Aiden, Leo, dan Sophie berlari di antara bunga-bunga, tertawa dan bermain bersama.Di samping mereka, Clara, yang sekarang sudah bebas dari penjara, duduk di bangku taman dengan buku di tangannya, sesekali menatap adik-adiknya dengan senyum lembut.Aku tersenyum melihat pemandangan itu. Rasanya seperti mimpi. Tiga tahun lalu, aku tidak pernah membayangkan akan berada di sini, bahagia, dicintai, dan dikelilingi oleh orang-orang yang aku cintai.Leon muncul di sampingku, lengannya melingkari pinggangku. "Kamu sedang apa di sini sendirian?"Aku berbalik, menatap suamiku. "Hanya menikmati pemandangan. Lihat mereka. Mereka sangat bahagia."Leon mengikuti pandanganku, mengawasi anak-anak kami bermain. "Mereka bahagia karena mereka punya ibu yang luar biasa."Aku tertawa, menepuk dadanya dengan bercanda. "Kamu selalu tahu bagaimana membuatku tersipu.""Karena i

  • Gadis Gendut Dimiliki 3 Daddy   Bab 199

    POV Ana.Beberapa bulan kemudian, aku terbaring di tempat tidur rumah sakit dengan perut yang tidak lagi bundar. Tiga bayi mungil, dua laki-laki dan satu perempuan, terbaring dengan tenang di inkubator di samping tempat tidurku. Mereka adalah ahli waris Harrington, tiga anak yang lahir melalui operasi caesar yang panjang dan melelahkan.Aku menatap mereka dengan mata penuh cinta, merasakan kelelahan yang luar biasa tapi juga kebahagiaan yang tak terlukiskan. Leon duduk di sampingku, tangannya menggenggam tanganku, matanya tidak pernah lepas dari bayi-bayi kami."Kamu luar biasa," kata Leon, mencium keningku.Aku tersenyum lemah, merasakan tubuhku masih lelah setelah operasi. Mereka sehat. Tiga bayi mungil dengan rambut tipis dan mata yang masih terpejam. Mereka adalah buah cinta kami, bukti bahwa setelah setiap badai, selalu ada pelangi.Tapi ada satu hal yang membuatku merasa sedikit canggung, tubuhku. Setelah melahirkan tiga bayi sekaligus, tubuhku kembali membesar. Perutku masih te

  • Gadis Gendut Dimiliki 3 Daddy   Bab 198

    POV Ana.Aku menatap Leon yang duduk di sampingku di ruang tunggu penjara yang dingin. Tangannya menggenggam tanganku erat, dan aku bisa merasakan getaran halus dari tubuhnya. Leon berusaha terlihat kuat, tapi aku tahu betapa hancurnya dia di dalam. Clara telah menolak menemuinya, dan itu adalah luka yang tidak bisa sembuh dengan mudah."Apa kamu yakin surat itu cukup?" tanyaku lembut, mengusap punggung tangannya."Aku tidak tahu. Aku hanya bisa berharap. Aku sudah mengatakan semua yang ada di hatiku. Sekarang terserah padanya."Aku menggenggam tangannya lebih erat. "Clara mungkin keras kepala, tapi dia bukan orang jahat. Dia hanya tersesat."Leon tidak menjawab. Dia hanya menatap lurus ke depan, ke arah pintu besi yang memisahkannya dari putrinya.Kami menunggu. Aku bisa merasakan bayi-bayi bergerak di dalam perutku, seolah mereka juga merasakan ketegangan yang menyelimuti kami. Aku dengan lembut mengusap perutku, berbisik pada mereka bahwa semuanya akan baik-baik saja.Lalu, pintu b

  • Gadis Gendut Dimiliki 3 Daddy   Bab 197

    Di mansion Leon dan Ana, suasana terasa hangat dan penuh cinta. Ana, yang kini sedang hamil besar dengan perut bundar mengandung tiga bayi, sedang berdiri di dapur bersama Leon. Mereka memasak bersama, sebuah aktivitas sederhana yang selalu mereka nikmati.Leon sedang memotong sayuran dengan hati-hati, sesekali melirik Ana yang sedang mengaduk sup di atas kompor. Matanya tidak pernah lepas dari istrinya, melihat betapa cantiknya Ana bahkan dalam keadaan hamil besar."Kamu terus menatapku," kata Ana."Karena kamu sangat cantik," jawab Leon, mendekati Ana dari belakang dan memeluknya. Lengannya melingkari perut Ana yang membesar, merasakan gerakan-gerakan kecil dari dalam.Ana tertawa, merasakan kehangatan pelukan Leon. "Kamu akan membuatku lupa memasak kalau terus begini.""Biarkan saja," kata Leon, mencium leher Ana dengan lembut. "Aku lebih suka memelukmu."Ana berbalik dalam pelukan Leon, menatap mata suaminya yang penuh cinta. "Aku ingin bertanya sesuatu.""Apa saja, sayang."Ana m

  • Gadis Gendut Dimiliki 3 Daddy   Bab 196

    Keesokan harinya, kabar kelahiran bayi Rena dan keberhasilan operasinya menyebar dengan cepat. Keluarga Rena, yang telah berdamai dengannya beberapa bulan sebelumnya, segera datang menjenguk. Ayah dan ibunya datang bersama dua kakak perempuannya, membawa rangkaian bunga dan hadiah kecil untuk bayinya.Rena terbaring di tempat tidur dengan senyum bahagia ketika melihat keluarganya masuk. Meskipun tubuhnya masih lemah dan pengobatan kankernya perlu segera dimulai, dia merasa bersyukur masih diberi kesempatan untuk melihat orang-orang yang dicintainya."Ibu, Ayah. Kalian datang."Ibunya segera memeluk Rena dengan hati-hati, menangis haru. "Tentu saja kami datang. Kau baru saja melahirkan. Kami tidak boleh melewatkan momen ini."Ayah Rena juga mendekat, melihat cucunya. "Dia cantik. Dia mirip sekali denganmu."Rena tersenyum, air mata kebahagiaan mengalir di pipinya. "Terima kasih, Ayah."Kakak-kakak Rena juga mendekat, membawa hadiah untuk bayinya. Meskipun dulu mereka sering mengejek Re

  • Gadis Gendut Dimiliki 3 Daddy   Bab 195

    Tiga jam kemudian.Sebastian masih duduk di lorong rumah sakit dengan tubuh kaku, matanya tidak pernah lepas dari pintu ruang operasi. Leon dan Adrian duduk di sampingnya, sesekali menepuk bahunya untuk memberikan dukungan. Ana dan Christy juga sudah datang, meskipun mereka harus duduk di kursi lain karena kehamilan mereka."Kamu perlu makan sesuatu. Kamu tidak bisa terus begini.""Aku tidak lapar," jawab Sebastian datar. Matanya tetap terpaku pada pintu ruang operasi."Kamu tidak membantu Rena dengan membuat dirimu sakit. Dia membutuhkanmu dalam keadaan sehat," kata Adrian.Sebastian menghela napas, mengambil roti itu dan menggigitnya tanpa benar-benar merasakan rasanya. Pikirannya terus melayang ke Rena—wanita yang dia abaikan, wanita yang dia sakiti, wanita yang sekarang berjuang untuk hidupnya."Aku seharusnya mengatakannya lebih cepat. Aku seharusnya mengatakan bahwa aku mencintainya. Bahwa aku tidak ingin menceraikannya. Bahwa aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersamanya," kat

  • Gadis Gendut Dimiliki 3 Daddy   Bab 3

    Barang miliknya.Aku bukan barang dan aku bukan milik siapapun.Tuan Leon melepaskan tangannya dari perutku perlahan, kemudian dia berjalan kembali ke meja billiard, mengambil stik yang tadi diletakkannya, dan melanjutkan permainan seolah tidak ada yang terjadi.Seolah dia tidak baru saja menyelama

  • Gadis Gendut Dimiliki 3 Daddy   Bab 2

    Aku menghela napas panjang, perintah Clara adalah perintah. Jika tidak datang, dia akan marah. Aku sudah hafal betapa buruknya amarah itu, benda-benda bisa terbang, kata-katanyabisa lebih tajam dari pisau, dan aku bisa diusir dari rumah besar ini.Jadi aku berjalan menyusuri koridor panjang mansion

  • Gadis Gendut Dimiliki 3 Daddy   Bab 1

    Pov ANA.Aku duduk di bangku kayu gereja ini. Tanganku menggenggam erat ujung rok hingga kusut. Pacarku, Max berdiri dengan jas hitamnya yang rapi. Di sampingnya Sasha, sahabatku sejak pertama kali aku menginjakkan kaki di kota ini dua tahun lalu. Perut Sasha sudah membuncit di balik gaun putihnya.

  • Gadis Gendut Dimiliki 3 Daddy   Bab 4

    Aku menghentikan langkah.Tubuhku kaku seperti patung. Kata-kata Tuan Leon menusuk dari belakang, tajam dan dingin, seperti ujung pisau yang ditempelkan di leher."Siapa yang mengajarimu bersikap tidak sopan seperti itu?"Aku tidak berani menoleh. Mataku terasa panas. Air mata menggenang di pelupuk

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status