Masuk
Pov ANA.
Aku duduk di bangku kayu gereja ini. Tanganku menggenggam erat ujung rok hingga kusut. Pacarku, Max berdiri dengan jas hitamnya yang rapi. Di sampingnya Sasha, sahabatku sejak pertama kali aku menginjakkan kaki di kota ini dua tahun lalu. Perut Sasha sudah membuncit di balik gaun putihnya. Dua bulan lalu, Sasha datang ke apartemenku berlutut sambil terisak. "Ana, aku hamil dan anak ini adalah anaknya Max. Tolong jangan marah." Aku tidak menangis saat itu. Aku hanya diam. Aku tidak tahu harus marah kepada siapa. Kepada Max yang bilang dia sibuk dengan pekerjaannya? Atau kepada Sasha yang setiap pagi minum kopi bersamaku sambil bercerita tentang cowok-cowok yang mendekatinya? Sekarang mereka menikah dan mereka berciuman di altar. Semua orang bertepuk tangan. Keluarga Max, keluarga Sasha, teman-teman yang mengenalku sebagai "teman baik Sasha". Tidak ada yang menoleh ke arahku. Aku berdiri pelan, berjalan keluar melalui pintu samping Di luar, teleponku bergetar kencang di saku celana. "Hey gendut! Datang ke mall sekarang!" Aku segera berjalan cepat ke mall dan butuh waktu dua puluh menit, nafasku ngos-ngosan karena berat tubuhku yang berlebihan. Sesampainya di sana, Clara sudah menunggu. "Astaga, lama sekali," keluh Clara sambil menyodorkan tiga tas besar ke tanganku. "Bawa ini." Aku mengangkat semua tas itu. Beratnya menarik bahuku ke bawah. Dia berjalan di depanku dengan langkah santai sepatu mahalnya sambil bercerita tentang pesta semalam di klub malam yang tidak pernah aku injak karena satu kali masuknya bisa untuk beli makanku seminggu. Aku hanya mengikuti, sesekali menyesuaikan tas yang mulai tergelincir dari bahuku, sesekali menunduk untuk menghindari tatapan orang yang melihat seorang gadis dengan rambut keriting kusut membawa tumpukan tas mewah di siang hari. Sampai di depan mall, Clara berhenti di area drop-off. Aku meletakkan tas-tas itu di trotoar batu sambil mengatur napas. Tanganku terasa seperti akan lepas dari bahu. Beberapa saat kemudian, tiga mobil mewah berhenti tepat di depan kami. Pengawal-pengawal keluar dari mobil di depan dan belakang. Mereka membuka pintu dengan gerakan sigap, dan keluar dari dalam mobil para pria paruh baya dengan jas rapi, sepatu mengilap, dan wajah tanpa kerutan. Salah satunya adalah ayah Clara. "Oh aku lupa, Ana," Clara berbalik dan ia mengeluarkan beberapa lembar euro, dua puluh, lima puluh, sepuluh lalu melemparnya ke arahku. Uang itu mengenai pipi kiriku, lalu jatuh ke tanah. Dia sudah mengulang hinaan ini ratusan kali selama dua tahun. Dulu aku merasa sakit hati tapi sekarang tidak ada yang bisa lebih menyakitkan dari apa yang sudah kualami pagi ini ketika melihat pacarku menikah dengan sahabatku. Aku menunduk. Aku memunguti lembaran-lembaran euro itu satu per satu dan memasukkan uang itu ke dalam saku jaketku tanpa menghitung. Saat aku berdiri kembali dan menepuk debu dari lutut celanaku, Clara sudah masuk ke dalam mobil tapi sebelum pintu mobil menutup, aku melihat sesuatu yang menghentikan napasku sebentar. Di kursi belakang masing-masing mobil, para pria itu menatapku. Aku tidak bisa bergerak lalu pintu mobil menutup satu per satu. Tiga mobil itu melaju pergi bersamaan, meninggalkan aku berdiri sendirian di trotoar dengan uang kotor di saku dan bau asap knalpot di hidung. Kemudian aku kembali ke mansion, tentu saja itu bukan mansionku, aku bekerja di sana, di rumah ayah Clara. Setibanya di sana, aku buka pintu kamarku dengan kunci yang sudah berkarat lalu aku menangis untuk pertama kalinya hari itu. Aku baru saja menenangkan diri ketika ponselku bergetar lagi. Kukira pesan dari Clara tapi ternyata Max. "Aku tahu kamu ada di gereja tadi. Kamu lihat sendiri kan? Sasha cantik sedangkan kamu?Coba deh intropeksi diri. Masa pacarmu milih cewek lain, kamu masih nggak sadar kenapa? Kamu tidak bisa merawat diri dengan baik. Dasar gadis jelek dan gendut! Setelah ini tidak ada laki laki yang mau dengan gadis gendut sepertimu!" Aku membaca sekali sampai dua kali. Bukan permintaan maaf, bukan penyesalan. Justru hinaan dari laki-laki yang sebelumnya menjadi pacarku. Aku ingin membalas dan ingin menulis semua kepedihan yang mengendap dua bulan terakhir tapi tanganku berhenti. Tidak perlu karena ia bukan lagi urusanku. Aku tekan namanya lalu pilih blokir tapi tak sampai satu menit kemudian sebuah pesan masuk dari Clara. "Hei gendut! Ke kolam renang sekarang!"Aku pulang ke apartemen Sebastian dengan perasaan yang tidak bisa aku jelaskan. Sepanjang perjalanan, pikiranku terus berputar di ruang rahasia Leon, tiang kayu itu, tali merah yang masih menggantung, dan tatapan Leon yang penuh arti saat dia bertanya."Apa kau ingin mengulanginya?"Aku tidak menjawab. Aku belum bisa menjawab.Tapi tubuhku menjawab dengan caranya sendiri.Di taksi, di kursi penumpang, aku merasakan sesuatu yang aneh di antara kedua pahaku. Basah. Hangat. Berdenyut. Vaginaku berkedut tanpa aku bisa mengendalikannya. Setiap kali aku membayangkan tangan Leon di tubuhku, setiap kali aku mengingat suara Sebastian yang kasar di telingaku, setiap kali aku membayangkan ciuman Adrian yang lembut di bibirku, kedutan itu semakin kuat.Aku tidak munafik. Aku sangat merindukan sentuhan pria.Sudah bertahun tahun aku tidak disentuh. Sejak aku meninggalkan mereka, tidak ada pria yang menyentuhku. Tidak ada yang menciumku. Tidak ada yang memelukku. Aku hanya bekerja, menjaga Ethan, t
Hari Senin pagi, aku berdiri di depan mansion Leon untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun. Bangunan itu masih sama, megah, angkuh, dengan pilar-pilar marmer putih yang menjulang tinggi dan taman luas yang selalu terawat sempurna. Tidak ada yang berubah. Air mancur di halaman depan masih menyemburkan air setinggi tiga meter. Pohon-pohon rindang masih berjajar rapi di sepanjang jalan setapak. Bahkan aroma bunga-bunga di taman masih sama seperti dulu.Tapi aku sudah berbeda. Aku bukan lagi pembantu yang menunduk setiap kali melewati pintu ini. Aku bukan lagi istri kontrak yang terjebak dalam pernikahan tanpa cinta. Aku adalah Ana, ibu dari Ethan, wanita yang datang untuk mengurus hak warisan anaknya.Leon berjalan di depanku dengan langkah tegas. Jas hitamnya rapi, dasinya abu-abu, sepatunya mengilap. Dia tidak menoleh, tidak memperlambat langkah, tidak bertanya apakah aku baik-baik saja. Tapi aku tahu dia sadar bahwa aku di sini. Aku bisa merasakannya dari caranya dia menegangkan
Dua hari kemudian, semua berubah.Aku mendapatkan pekerjaan. Bukan pekerjaan biasa. Ini adalah klub malam terbesar di London—tempat yang lebih megah dari diskotik di Manchester, dengan lampu-lampu yang lebih terang, musik yang lebih keras, dan pria-pria yang lebih berbahaya. Gajinya besar. Tiga kali lipat dari apa yang aku dapatkan di Manchester. Aku bisa membiayai Ethan, aku bisa menyewa apartemen sendiri dan tidak perlu bergantung pada Sebastian, Adrian, atau Leon.Aku sudah mengemas koperku.Aku sudah memutuskan.Tapi ketika aku turun dengan koper di tangan, Ethan di sampingku, mereka bertiga sudah menunggu di ruang tamu. Leon berdiri di dekat jendela, tangan di saku celana, wajahnya tidak terbaca. Adrian duduk di sofa, kakinya disilangkan, matanya menatapku dengan intensitas yang membuatku tidak nyaman. Sebastian berdiri di dekat pintu, tangannya dilipat di dada, rahangnya mengeras."Mau ke mana?" tanya Sebastian."Aku dapat pekerjaan di klub malam. Aku akan pindah.""Klub malam?"
Aku masih duduk di meja dapur, menatap gelas susu hangat yang mulai dingin di tanganku. Kata-kata Sebastian tentang Richard masih bergema di kepalaku. Aku tahu dia benar. Richard akan melakukan apa pun untuk menyingkirkan Ethan san aku tidak bisa melindungi Ethan sendirian. Tapi menerima bantuan dari mereka bertiga berarti aku harus kembali ke masa lalu yang aku benci.Sebastian hendak bicara lagi ketika ponselnya berdering. Dia mengangkatnya, mendengarkan sebentar, lalu menjawab dengan suara profesional."Ya, aku dengar. Kirimkan dokumennya ke emailku. Aku akan tinjau nanti."Aku memperhatikannya dari balik gelas susuku. Wajahnya serius, matanya fokus, tidak ada senyum di bibirnya. Dia berbeda saat berbicara bisnis, lebih tegas, lebih dingin.Setelah telepon selesai, aku tersenyum kecil. "Siapa?""Rekan bisnis.""Wanita?"Sebastian menatapku. "Apa?""Suaranya wanita. Aku dengar."Sebastian menghela napas. "Ya. Wanita tapi hanya rekan bisnis."Aku menyesap susuku. "Kau tidak perlu me
Aku tertidur setelah Sebastian membawaku pulang. Tubuhku masih lemas karena efek obat, pikiranku masih kacau karena semua yang terjadi, Leon, diskotik, pria itu, permintaan maaf, penolakan. Aku ingin istirahat. Aku ingin melupakan semuanya.Tapi mimpiku tidak memberiku kedamaian.Aku bermimpi tentang ruang rahasia di mansion Leon. Dinding kayu gelap, tiang kayu di tengah ruangan, dan tali merah yang selalu menggantung di sana. Aku terikat di tiang itu, tanganku terangkat ke atas, kakiku terbuka lebar, tubuhku telanjang bulat. Tidak ada yang menutupiku.Mereka bertiga datang.Leon di depan, wajahnya dingin seperti dulu, matanya hitam pekat tanpa emosi. Adrian di samping kanan, senyumnya tidak lagi hangat tapi sinis, mengejek. Sebastian di samping kiri, wajahnya yang garang itu semakin garang, matanya penuh nafsu yang tidak manusiawi."Apa yang kalian lakukan? Lepaskan aku!"Tapi mereka tidak mendengarkan. Mereka bergiliran mendekatiku, menyentuhku, memasukiku. Aku merasakan tangan-tang
Aku menatap Leon dengan mata yang masih sayu karena efek obat. Rumah sakit terasa dingin, aroma antiseptik menusuk hidungku, dan di luar jendela, langit London mulai gelap tapi di hadapanku, Leon duduk dengan wajah lelah, matanya merah, rambutnya berantakan.“Ayo kita perbaiki semuanya demi Ethan,” katanya.Aku terdiam.“Demi Ethan,” ulangnya.Aku menarik napas panjang. Dadaku terasa sesak, seperti ada sesuatu yang tertahan di sana. Aku menggeleng.“Tidak, Leon.”Leon membeku.“Apa?”“Aku tidak mau. Tidak setelah apa yang aku lalui bersamamu.”“Ana…”“Kau dengar aku, aku tidak mau. Adrian dan Sebastian saja aku tolak, apalagi kau.”Leon terdiam. Aku melihat rahangnya mengeras. Dia mengepalkan tangannya di pangkuan, buku-buku jarinya memutih.“Apa yang harus aku lakukan? Apa yang harus aku lakukan supaya kau bisa memberiku kesempatan?”Aku menatapnya. Aku melihat pria di depanku, pria yang dulu aku cintai, pria yang dulu menyakitiku, pria yang sekarang memohon dengan mata basah. Aku me
Aku menghela napas panjang, perintah Clara adalah perintah. Jika tidak datang, dia akan marah. Aku sudah hafal betapa buruknya amarah itu, benda-benda bisa terbang, kata-katanyabisa lebih tajam dari pisau, dan aku bisa diusir dari rumah besar ini.Jadi aku berjalan menyusuri koridor panjang mansion
"Jam kerjaku sudah selesai untuk hari ini," kataku."Kau tinggal di rumahku, kau makan di rumahku, kau tidur di rumahku. Selama kau di sini, kau ikut aturanku."Aku tersenyum, bukan senyum bahagia. Senyum pahit yang sudah sering aku tunjukkan akhir-akhir ini."Aturanmu? Apa aturanmu?Bahwa aku boleh
Akhirnya, setelah lima hari di rumah sakit, aku diperbolehkan pulang.Dokter bilang jahitanku sudah mulai kering dan tidak ada tanda-tanda infeksi. Aku masih harus istirahat total setidaknya seminggu lagi, tidak boleh melakukan aktivitas berat, dan tentu saja tidak boleh berhubungan intim.Leon men
Barang miliknya.Aku bukan barang dan aku bukan milik siapapun.Tuan Leon melepaskan tangannya dari perutku perlahan, kemudian dia berjalan kembali ke meja billiard, mengambil stik yang tadi diletakkannya, dan melanjutkan permainan seolah tidak ada yang terjadi.Seolah dia tidak baru saja menyelama







