登入2 bulan kemudian.Aku berdiri di atas timbangan di kamar mandi. Mataku terbelalak. Jarum timbangan itu berhenti di angka yang tidak pernah aku lihat selama bertahun-tahun.Aku Turun tujuh kilogram.beberapa saat kemudian.Aku keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit di tubuh. Aku ingin segera berpakaian dan turun. Aku ingin berbagi kabar baik ini dengan seseorang. Leon mungkin tidak peduli tapi Adrian dan Sebastian pasti akan senang.Tapi belum sempat aku memilih baju, suara Clara memecah kebahagiaanku."ANA! ANA! KEMARI!"Aku menghela napas dan keluar dari kamar.Clara sudah duduk di meja makan dengan tangan bersilang di dada. Wajahnya bulat karena kehamilan,dia sudah memasuki bulan kelima. Perutnya semakin membesar. Emosinya juga semakin tidak terkendali. Kemarin dia menangis karena sup ayam terlalu panas. Lusa dia membanting piring karena jus jeruk terlalu asam. Hari ini? Aku belum tahu.Leon duduk di kursi utama dengan secangkir kopi hitam di tangannya. Wajahnya datar seperti
Aku tidak tahu sejak kapan aku berubah seperti ini.Ana yang dulu yang takut disentuh, yang malu dengan tubuhnya sendiri, yang menunduk setiap kali ada pria mendekat sekarang menjadi adalah Ana yang haus, Ana yang gila, Ana yang pikirannya hanya dipenuhi oleh satu hal: seks.Aku sudah menjadi pecandu.Tiga pria itu telah merusakku atau mungkin menyadarkanku. Aku tidak tahu mana yang benar. Yang aku tahu, sejak pertama kali mereka bertiga memasukiku secara bersamaan di vila pegunungan itu, ada yang berubah di dalam kepalaku. Seperti tombol yang tidak pernah aku sadari keberadaannya tiba-tiba ditekan dan sekarang tombol itu tidak bisa dimatikan lagi.Setiap hari, setiap jam, setiap menit, pikiranku melayang pada mereka.Pada Leon yang dingin tapi kadang lembut. Pada Adrian yang romantis tapi bisa sangat liar. Pada Sebastian yang brutal tapi selalu membuatku merasa aman.Aku membayangkan tangan mereka di tubuhku. Aku membayangkan lidah mereka di leherku. Aku membayangkan milik mereka ma
Leon berjalan ke dinding di ujung ruang kerjanya. Aku, Adrian, dan Sebastian saling berpandangan, bingung. Tidak ada pintu di sana. Tidak ada gagang. Hanya dinding kayu jati gelap yang terlihat kokoh dan masif.Tapi kemudian Leon menekan sebuah panel kayu yang tidak terlihat oleh mata biasa. Dengan suara desir pelan, dinding itu terbuka, bukan pintu, tapi seluruh lembaran dinding bergeser ke samping, memperlihatkan sebuah ruangan tersembunyi di baliknya.Adrian bersiul pelan. "kau punya ruang rahasia di rumahmu?"Leon tidak menjawab. Dia masuk ke dalam ruangan itu. Aku mengikutinya dengan langkah ragu. Adrian dan Sebastian menyusul dari belakang.Ruangannya besar. Tidak seperti yang aku bayangkan. Aku mengira akan ada dokumen rahasia, senjata, atau uang tunai. Tapi yang aku lihat sebuah meja besar di tengah ruangan. Di atas meja itu, berdiri sebuah miniatur, maket sebuah kota.Bukan kota biasa. Gedung-gedung pencakar langit, taman-taman hijau. Jalan-jalan lebar. Jembatan melengkung in
"Apa yang kalian berdua lakukan di dalam kamar? Dan kenapa kalian menyebut lima juta euro?"Jantungku berdebar kencang. Aku menatap Leon panik. Jika Clara tahu tentang pernikahan rahasia ini, semuanya akan hancur. "Aku dengar semuanya. Kontrak? Warisan? Jadi Ayah sedang membuat kesepakatan baru dengan dia?"Leon menatapku sekilas. Aku melihat kilatan di matanya, dia sedang berpikir cepat lalu wajahnya berubah menjadi datar seperti biasa."Kau dengar dengan benar, aku sedang membuat kesepakatan bisnis dengan Ana."Clara mengerutkan dahi. "Bisnis dengan pembantu?""Ana bukan lagi pembantu di sini. Aku mempromosikannya menjadi asisten pribadiku."Aku terkejut mendengar kata-kata Leon tapi aku berusaha tidak menunjukkan ekspresi apa pun."Asisten pribadi? Yang benar saja? Dia? Daddy kan sudah punya asisten pribadi."Ana sudah bekerja di sini dua tahun. Dia tahu semua seluk-beluk mansion dan rutinitasku. Dia orang yang tepat," kata Leon.Clara menatapku dengan curiga. "Jadi kalian berdua
"Clara bukan anak kandungku.""Kau bicara apa? Clara adalah putrimu. Selama ini kau membesarkannya sendirian setelah ibunya meninggal. Kau bilang dia satu-satunya yang kau miliki."Leon menggeleng pelan. "Dia bukan anak kandungku. Istriku sudah hamil saat kami menikah. Aku tahu itu tapi aku tetap menikahinya karena aku mencintainya."Aku terdiam."Dia sudah mengandung dua bulan saat kami menikah. Aku tahu anak itu bukan anakku tapi aku berjanji pada diriku sendiri bahwa aku akan membesarkan anak itu seperti anakku sendiri. Aku tidak pernah memberi tahu siapa pun. Ayahku tahu, karena dia yang menyuruhku menikahi wanita itu meskipun dia sudah hamil. Keluarga ibunya kaya. Pernikahan itu menguntungkan bagi bisnis kami."Aku duduk di sampingnya. Tanganku meraih tangannya yang dingin."Lalu istriku meninggal, Clara masih kecil. Aku tidak punya alasan untuk tidak membesarkannya. Dia sudah aku anggap sebagai anakku sejak dia dalam kandungan.""Tapi kenapa ayahmu sekarang menuntut cucu? Dia su
Kami berbaring di tempat tidur yang basah oleh keringat dan cairan. Leon tidak melepaskan pelukannya. Aku juga tidak melepaskannya. Dadaku masih naik turun mengatur napas, sementara jari-jari Leon sibuk memainkan ujung rambut keritingku."Ana," panggilnya pelan."Hm?""Aku harus memberitahumu sesuatu.""Apa?" tanyaku.Leon melepaskan pelukannya. Dia duduk di tepi tempat tidur, punggungnya membelakangiku. Aku melihat bekas cakaran kuku di punggungnya, bekas yang aku buat tadi."Ayahku minta aku memberikan cucu dan kita sudah bicarakan itu.""Iya tapi aku belum setuju.""Aku tahu tapi ayahku tidak sabar. Dia sudah tua. Dia takut mati sebelum melihat cucunya."Aku duduk di sampingnya. Aku menarik selimut menutupi tubuhku yang telanjang."Lalu?"Leon menghela napas panjang. Aku melihat tangannya, tangan yang tadi malam mengikatku, menyentuhku, memasukiku sekarang gemetar."Aku punya rencana lain," katanya."Apa?""Aku akan membuat anak Clara sebagai anak kita.""Apa?""Aku akan bilang pad
"Jam kerjaku sudah selesai untuk hari ini," kataku."Kau tinggal di rumahku, kau makan di rumahku, kau tidur di rumahku. Selama kau di sini, kau ikut aturanku."Aku tersenyum, bukan senyum bahagia. Senyum pahit yang sudah sering aku tunjukkan akhir-akhir ini."Aturanmu? Apa aturanmu?Bahwa aku boleh
Keesokan harinya, aku bangun sebelum matahari terbit. Tubuhku masih pegal karena semalaman menangis dan mengemas barang.Aku membuka lemari kecil di sudut kamar. Di dalamnya, tergantung seragam pembantu lamaku.Aku memakainya.Aku keluar kamar dan aku berjalan ke dapur. Aku menyiapkan kopi untuk Le
Pulang dari lapangan golf, tubuhku terasa remuk. Aku tidak tahu apakah itu karena aktivitas fisik yang luar biasa di atas rumput atau karena emosi yang naik turun seperti roller coaster. Yang aku tahu, aku tidur seperti batu setelah Leon membaringkanku di tempat tidur.Keesokan harinya, aku terbang
Pov ANA.Aku duduk di bangku kayu gereja ini. Tanganku menggenggam erat ujung rok hingga kusut. Pacarku, Max berdiri dengan jas hitamnya yang rapi. Di sampingnya Sasha, sahabatku sejak pertama kali aku menginjakkan kaki di kota ini dua tahun lalu. Perut Sasha sudah membuncit di balik gaun putihnya.







