Início / Romansa / Hasrat Cinta Tuan Arsitek / Bab 32. Rasa Terkekang

Compartilhar

Bab 32. Rasa Terkekang

Autor: Seaira
last update Data de publicação: 2026-08-17 00:02:44

Setelah makan malam yang lebih sunyi dari biasanya, Manisha memutuskan untuk tidak lagi menahan pertanyaan yang sudah mengganjal sejak siang. Ia duduk berhadapan dengan Rama di ruang keluarga, menatap suaminya lekat-lekat.

"Rama, aku mau tanya sesuatu."

"Tanya apa, Sha?"

"Bagaimana perkembangan kasus kita? Pak Broto sudah menemukkan apa aja sejauh ini?"

Rama terdiam sejenak, matanya sedikit teralih dari tatapan Manisha. "Belum ada perkembangan berarti, Sha. Masih sama seperti kemarin-kemarin."

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Hasrat Cinta Tuan Arsitek   Bab 38. Ancaman

    Suasana rumah masih terasa dingin, sisa pertengkaran semalam belum sepenuhnya mencair. Manisha turun ke ruang makan dengan mata sembab, sementara Rama sudah duduk di sana, wajahnya juga terlihat lelah, jelas tidak banyak tidur semalaman."Sha, kamu sudah lebih baik?" tanya Rama pelan, begitu Manisha duduk di kursi seberangnya."Lumayan," jawab Manisha singkat, menghindari kontak mata.Sarapan pagi itu berlangsung dalam keheningan yang canggung, hanya suara sendok beradu piring yang mengisi kesunyian. Bu Ratna sesekali melirik cemas, merasakan ketegangan yang masih menggantung di antara majikannya.Belum sempat suasana mencair, suara bel gerbang berbunyi nyaring. Salah satu pengawal masuk tergesa, membawa sebuah amplop coklat besar."Pak Rama, ini dikirim langsung ke gerbang. Kurirnya bilang harus diterima langsung oleh Bapak sendiri," ucap pengawal itu, menyerahkan amplop dengan raut waspada.Rama menerima amplop itu, mengerutkan kening membaca nama pengirim yang tertera di sudut kana

  • Hasrat Cinta Tuan Arsitek   Bab 37. Rasa Iri

    Sejak pertemuan dengan Bu Aminah, Manisha mendapati dirinya semakin sering melamun, terutama setiap kali menatap Rama yang sedang sibuk dengan pekerjaannya. Kata-kata Bu Aminah terus terngiang, memutar ulang seperti kaset rusak di kepalanya."Sha, kamu melamun terus dari tadi," ucap Rama, muncul dari ruang kerja saat makan siang bersama di teras belakang."Tidak. Aku hanya mengagumi pemandangan," jawab Manisha cepat, mengalihkan pandangan ke arah taman."Kamu yakin? Dari tadi makananmu tidak disentuh.""Iya, Rama. Aku baik-baik saja."Rama menatapnya lama, tidak sepenuhnya percaya, tetapi memilih tidak mengejar lebih jauh. Ia melanjutkan makan siangnya, sesekali bercerita soal proyek terbaru kantornya, meski Manisha hanya menanggapi seadanya, pikirannya masih melayang jauh.Ketika Rama kembali sibuk dengan panggilan kerja, Manisha duduk sendirian di studio kecilnya di lantai dua, mencoba melukis untuk mengalihkan pikiran. Namun tangannya justru bergerak tanpa arah, menggoreskan warna-

  • Hasrat Cinta Tuan Arsitek   Bab 36. Pertemuan Dengan Tetangga Lama

    Malam berikutnya dengan bantuan Gysa, Manisha akhirnya berhasil menemui salah satu tetangga lama keluarga Sinta, seorang perempuan tua bernama Bu Aminah yang sudah tinggal di gang itu sejak puluhan tahun lalu. Rumahnya kecil namun rapi, dengan halaman depan yang dipenuhi tanaman obat dan bunga kamboja."Silakan duduk, Nak," ucap Bu Aminah, mempersilakan Manisha dan Gysa masuk ke ruang tamu sederhananya yang hanya diterangi lampu bohlam kuning temaram."Terima kasih, Bu," jawab Manisha, duduk berdampingan dengan Gysa di kursi kayu tua yang berderit pelan."Jadi, Nak mau tanya soal Sinta?" tanya Bu Aminah, menatap Manisha lekat-lekat."Iya, Bu. Saya... saya kenal seseorang yang dulu dekat dengan Sinta," jawab Manisha hati-hati, tidak ingin mengungkap identitas aslinya terlalu cepat."Sinta itu anak baik, Nak. Sangat baik, malah." Bu Aminah tersenyum, matanya menerawang jauh mengingat masa lalu. "Dari kecil dia sudah sering bantu saya bawa barang belanja, menemani saya ke pasar kalau sed

  • Hasrat Cinta Tuan Arsitek   Bab 35. Pencarian Mandiri

    Beberapa hari terakhir, Manisha mulai menyadari sesuatu yang berbeda dari sikap Rama. Bukan hanya sekadar khawatir seperti biasanya, tetapi lebih dari itu, seolah setiap gerak-geriknya selalu berada dalam pantauan."Sha, kamu mau ke mana?" tanya Rama, muncul tiba-tiba dari ruang kerja begitu Manisha baru saja melangkah keluar kamar pagi itu."Ke dapur, Rama. Mau ambil minum.""Sendirian?""Rama, aku cuma jalan ke dapur, bukan ke luar negeri.""Aku ikut saja, sekalian aku juga mau ambil kopi."Manisha menghela napas, mengikuti Rama menuju dapur meski sebenarnya ia hanya ingin sedikit waktu sendirian. "Rama, kamu kenapa akhir-akhir ini terlalu posesif? Aku ke mana-mana selalu ada kamu.""Aku mau memastikan kamu aman, Sha.""Aku aman, Rama. Ini rumah kita sendiri.""Aku tahu. Tapi aku tetap mau dekat sama kamu."Manisha tidak membalas lagi, hanya tersenyum kecil yang dipaksakan, mencoba tidak menunjukkan kecurigaan yang mulai tumbuh di benaknya.Pagi ini Manisha sudah menyiapkan rencana

  • Hasrat Cinta Tuan Arsitek   Bab 34. Petunjuk Baru

    Rama melangkah masuk perlahan, matanya masih terpaku pada layar laptop yang terbuka di pangkuan Manisha. Hera segera berdiri, merasa canggung berada di tengah ketegangan yang tiba-tiba muncul di ruangan itu."Rama, aku bisa jelaskan," ucap Manisha cepat, menutup laptopnya setengah panik."Kalian sedang mencari apa?" tanya Rama, suaranya datar namun terasa berat."Rama, aku dan Hera menemukan beberapa informasi soal keluarga Sinta. Kamu harus lihat ini." Manisha membuka kembali laptopnya, menunjukkan layar yang masih menampilkan forum diskusi lama itu.Rama menatap layar sebentar, rahangnya mengeras. "Sha, tutup itu.""Rama, ini penting. Ibunya Sinta sudah meninggal dari lama, dan ayahnya ternyata…""Aku bilang tutup, Sha!" Suara Rama meninggi, membuat Hera dan Manisha sama-sama tersentak."Kenapa kamu marah? Aku coba bantu cari kebenaran!""Kamu tidak mengerti apa yang kamu lakukan, Sha! Kamu main gali-gali informasi seperti ini bisa membuat kamu makin dalam masuk ke bahaya!"Hera mer

  • Hasrat Cinta Tuan Arsitek   Bab 33. Pencarian Internet

    Hera datang berkunjung membawa sekotak kue kesukaan Manisha yang biasa mereka beli bersama semasa kuliah dulu. Penjaga membukakan gerbang setelah memastikan identitas Hera lewat kamera pengawas. Sesuatu yang membuat Hera sedikit terkejut begitu masuk ke halaman rumah baru sahabatnya."Sha, rumah kamu sekarang seperti istana kerajaan, ya. Gerbangnya saja pakai kamera segala," celetuk Hera begitu Manisha menyambutnya di pintu."Jangan bercanda, Her. Ini semua gara-gara alasan yang serius," jawab Manisha, memeluk sahabatnya erat, lega akhirnya ada teman dekat yang bisa diajak bicara tanpa perlu menjaga wibawa di depan keluarga besar.Mereka duduk di ruang tengah, ditemani teh hangat yang disiapkan Bu Ratna. Penjaga berjaga tidak jauh dari pintu, memberi ruang privasi meski tetap waspada seperti biasa."Sha, kamu kelihatan capek. Ada apa sebenarnya?" tanya Hera, menatap wajah Manisha yang memang terlihat lebih kurus dan lelah dibanding terakhir kali mereka bertemu.Manisha menghela napas

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status