/ Romansa / Hasrat Cinta Tuan Arsitek / Bab 31. Perlindungan

공유

Bab 31. Perlindungan

작가: Seaira
last update 게시일: 2026-08-16 23:07:50

Manisha membuka mata perlahan, disambut cahaya lampu kamar yang temaram dan aroma minyak kayu putih yang menguar dari sekitarnya. Kepalanya masih terasa berat, pandangannya sedikit kabur sebelum akhirnya fokus pada sosok Rama yang duduk di tepi ranjang, menggenggam tangannya erat.

"Rama?" bisik Manisha, suaranya serak.

"Sha, kamu udah sadar." Rama langsung mendekat, mengusap dahi Manisha lembut. "Bagaimana perasaan kamu? Masih pusing?"

"Sedikit. Aku kenapa, Rama? Dimana ini?"

"Kamu pingsan tadi
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Hasrat Cinta Tuan Arsitek   Bab 38. Ancaman

    Suasana rumah masih terasa dingin, sisa pertengkaran semalam belum sepenuhnya mencair. Manisha turun ke ruang makan dengan mata sembab, sementara Rama sudah duduk di sana, wajahnya juga terlihat lelah, jelas tidak banyak tidur semalaman."Sha, kamu sudah lebih baik?" tanya Rama pelan, begitu Manisha duduk di kursi seberangnya."Lumayan," jawab Manisha singkat, menghindari kontak mata.Sarapan pagi itu berlangsung dalam keheningan yang canggung, hanya suara sendok beradu piring yang mengisi kesunyian. Bu Ratna sesekali melirik cemas, merasakan ketegangan yang masih menggantung di antara majikannya.Belum sempat suasana mencair, suara bel gerbang berbunyi nyaring. Salah satu pengawal masuk tergesa, membawa sebuah amplop coklat besar."Pak Rama, ini dikirim langsung ke gerbang. Kurirnya bilang harus diterima langsung oleh Bapak sendiri," ucap pengawal itu, menyerahkan amplop dengan raut waspada.Rama menerima amplop itu, mengerutkan kening membaca nama pengirim yang tertera di sudut kana

  • Hasrat Cinta Tuan Arsitek   Bab 37. Rasa Iri

    Sejak pertemuan dengan Bu Aminah, Manisha mendapati dirinya semakin sering melamun, terutama setiap kali menatap Rama yang sedang sibuk dengan pekerjaannya. Kata-kata Bu Aminah terus terngiang, memutar ulang seperti kaset rusak di kepalanya."Sha, kamu melamun terus dari tadi," ucap Rama, muncul dari ruang kerja saat makan siang bersama di teras belakang."Tidak. Aku hanya mengagumi pemandangan," jawab Manisha cepat, mengalihkan pandangan ke arah taman."Kamu yakin? Dari tadi makananmu tidak disentuh.""Iya, Rama. Aku baik-baik saja."Rama menatapnya lama, tidak sepenuhnya percaya, tetapi memilih tidak mengejar lebih jauh. Ia melanjutkan makan siangnya, sesekali bercerita soal proyek terbaru kantornya, meski Manisha hanya menanggapi seadanya, pikirannya masih melayang jauh.Ketika Rama kembali sibuk dengan panggilan kerja, Manisha duduk sendirian di studio kecilnya di lantai dua, mencoba melukis untuk mengalihkan pikiran. Namun tangannya justru bergerak tanpa arah, menggoreskan warna-

  • Hasrat Cinta Tuan Arsitek   Bab 36. Pertemuan Dengan Tetangga Lama

    Malam berikutnya dengan bantuan Gysa, Manisha akhirnya berhasil menemui salah satu tetangga lama keluarga Sinta, seorang perempuan tua bernama Bu Aminah yang sudah tinggal di gang itu sejak puluhan tahun lalu. Rumahnya kecil namun rapi, dengan halaman depan yang dipenuhi tanaman obat dan bunga kamboja."Silakan duduk, Nak," ucap Bu Aminah, mempersilakan Manisha dan Gysa masuk ke ruang tamu sederhananya yang hanya diterangi lampu bohlam kuning temaram."Terima kasih, Bu," jawab Manisha, duduk berdampingan dengan Gysa di kursi kayu tua yang berderit pelan."Jadi, Nak mau tanya soal Sinta?" tanya Bu Aminah, menatap Manisha lekat-lekat."Iya, Bu. Saya... saya kenal seseorang yang dulu dekat dengan Sinta," jawab Manisha hati-hati, tidak ingin mengungkap identitas aslinya terlalu cepat."Sinta itu anak baik, Nak. Sangat baik, malah." Bu Aminah tersenyum, matanya menerawang jauh mengingat masa lalu. "Dari kecil dia sudah sering bantu saya bawa barang belanja, menemani saya ke pasar kalau sed

  • Hasrat Cinta Tuan Arsitek   Bab 35. Pencarian Mandiri

    Beberapa hari terakhir, Manisha mulai menyadari sesuatu yang berbeda dari sikap Rama. Bukan hanya sekadar khawatir seperti biasanya, tetapi lebih dari itu, seolah setiap gerak-geriknya selalu berada dalam pantauan."Sha, kamu mau ke mana?" tanya Rama, muncul tiba-tiba dari ruang kerja begitu Manisha baru saja melangkah keluar kamar pagi itu."Ke dapur, Rama. Mau ambil minum.""Sendirian?""Rama, aku cuma jalan ke dapur, bukan ke luar negeri.""Aku ikut saja, sekalian aku juga mau ambil kopi."Manisha menghela napas, mengikuti Rama menuju dapur meski sebenarnya ia hanya ingin sedikit waktu sendirian. "Rama, kamu kenapa akhir-akhir ini terlalu posesif? Aku ke mana-mana selalu ada kamu.""Aku mau memastikan kamu aman, Sha.""Aku aman, Rama. Ini rumah kita sendiri.""Aku tahu. Tapi aku tetap mau dekat sama kamu."Manisha tidak membalas lagi, hanya tersenyum kecil yang dipaksakan, mencoba tidak menunjukkan kecurigaan yang mulai tumbuh di benaknya.Pagi ini Manisha sudah menyiapkan rencana

  • Hasrat Cinta Tuan Arsitek   Bab 34. Petunjuk Baru

    Rama melangkah masuk perlahan, matanya masih terpaku pada layar laptop yang terbuka di pangkuan Manisha. Hera segera berdiri, merasa canggung berada di tengah ketegangan yang tiba-tiba muncul di ruangan itu."Rama, aku bisa jelaskan," ucap Manisha cepat, menutup laptopnya setengah panik."Kalian sedang mencari apa?" tanya Rama, suaranya datar namun terasa berat."Rama, aku dan Hera menemukan beberapa informasi soal keluarga Sinta. Kamu harus lihat ini." Manisha membuka kembali laptopnya, menunjukkan layar yang masih menampilkan forum diskusi lama itu.Rama menatap layar sebentar, rahangnya mengeras. "Sha, tutup itu.""Rama, ini penting. Ibunya Sinta sudah meninggal dari lama, dan ayahnya ternyata…""Aku bilang tutup, Sha!" Suara Rama meninggi, membuat Hera dan Manisha sama-sama tersentak."Kenapa kamu marah? Aku coba bantu cari kebenaran!""Kamu tidak mengerti apa yang kamu lakukan, Sha! Kamu main gali-gali informasi seperti ini bisa membuat kamu makin dalam masuk ke bahaya!"Hera mer

  • Hasrat Cinta Tuan Arsitek   Bab 33. Pencarian Internet

    Hera datang berkunjung membawa sekotak kue kesukaan Manisha yang biasa mereka beli bersama semasa kuliah dulu. Penjaga membukakan gerbang setelah memastikan identitas Hera lewat kamera pengawas. Sesuatu yang membuat Hera sedikit terkejut begitu masuk ke halaman rumah baru sahabatnya."Sha, rumah kamu sekarang seperti istana kerajaan, ya. Gerbangnya saja pakai kamera segala," celetuk Hera begitu Manisha menyambutnya di pintu."Jangan bercanda, Her. Ini semua gara-gara alasan yang serius," jawab Manisha, memeluk sahabatnya erat, lega akhirnya ada teman dekat yang bisa diajak bicara tanpa perlu menjaga wibawa di depan keluarga besar.Mereka duduk di ruang tengah, ditemani teh hangat yang disiapkan Bu Ratna. Penjaga berjaga tidak jauh dari pintu, memberi ruang privasi meski tetap waspada seperti biasa."Sha, kamu kelihatan capek. Ada apa sebenarnya?" tanya Hera, menatap wajah Manisha yang memang terlihat lebih kurus dan lelah dibanding terakhir kali mereka bertemu.Manisha menghela napas

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status