FAZER LOGINKabar pernikahan Pramadya Harsa Danudirja menyebar lebih cepat daripada yang ia duga. Bersamaan dengan itu, musuh-musuh lama keluarga Danudirja mulai keluar dari persembunyian mereka. Di tengah ancaman yang mengintai, Kedatangan Sinta sebagai perempuan yang pernah menghilang dari hidup Rama tanpa penjelasan kembali hadir membawa rahasia yang dapat mengubah segalanya. Kini Rama tidak hanya harus melindungi pernikahannya dengan Manisha, tetapi juga menghadapi masa lalu yang belum selesai dan musuh yang siap menghancurkan semua yang ia cintai. Jika dalam kisah agung Ramayana, Rama menyelamatkan Sinta. Maka, dalam kisah ini siapa yang akan Rama selamatkan? Manisha sebagai istrinya atau Sinta sebagai orang masa lalunya? Sanggupkah Rama berperang melawan musuh bahkan hasratnya sendiri?
Ver maisMansion itu tampak mencolok dari kejauhan. Kemewahannya terletak pada kepercayaan diri bangunan itu sendiri. Berdiri megah di balik gerbang besi hitam berukir emas, bangunan bergaya neoklasik itu menjulang anggun. Pilar-pilar tinggi menopang balkon lengkung di lantai dua, sementara jendela-jendela Prancis memamerkan kilau chandelier dari dalam.
“Terlalu ramai. Ayah mengundang melebihi daftar tamu,” keluh seorang gadis yang memandang kerumunan dari sudut ballroom. Ayahnya mengubah seluruh ballroom jadi pesta topeng megah, dan entah kenapa, Manisha justru merasa lebih nyaman bersembunyi di balik topeng Venesia putihnya daripada berjalan sebagai putri tuan rumah yang harus tersenyum pada setiap tamu. "Kau yakin tidak mau lepas topeng itu barang sebentar? Mukamu pasti gerah," bisik Hera di sampingnya, sambil menikmati sepiring canapé dari meja jamuan yang dipenuhi kaviar dan mini beef wellington. "Justru ini enaknya jadi tuan rumah di pesta topeng." Manisha menyesap champagne-nya. "Tidak ada yang tahu aku sedang mengawasi siapa saja yang datang tanpa diundang." "Kau curiga ada tamu tak diundang?" "Selalu ada." Manisha memutar pandangannya ke seluruh ruangan, memperhatikan gaun-gaun mahal dan tuksedo hitam yang berlalu-lalang di bawah cahaya lampu gantung kristal. Musik string quartet mengalun lembut, bercampur denting gelas dan percakapan yang sengaja ditahan agar tidak menarik perhatian. Di ujung tangga, seorang pria bertopeng hitam polos berdiri, tuksedonya dijahit sempurna, seolah tahu betul cara berdiri agar semua orang sadar akan kehadirannya tanpa dia perlu berusaha. Manisha menangkap pria itu sedang menatapnya cukup lama hingga merasa tidak sopan. Gerak geriknya terlalu kelihatan. Membuatnya bertanya, siapa yang berani memperhatikannya. "Siapa dia? Kau kenal?" Hera menyenggol lengannya. "Tidak." Manisha buru-buru mengalihkan pandangan, meski dadanya berdegup sedikit lebih cepat. "Pria di ujung tangga itu. Dia menatapmu dari tadi. Sudah lebih dari setengah jam." "Aku tahu." Manisha tersenyum tipis, sengaja tidak menoleh lagi. "Biarkan saja. Lihat berapa lama dia berani mendekat." Usai menghabiskan minuman, Manisha meletakkan gelasnya lalu melangkah menuju pintu samping yang mengarah ke taman. Dia sengaja memperlambat langkah, membiarkan ekor gaun merahnya bergerak seperti lidah api kecil di bawah cahaya keemasan ballroom. Manisha tidak menoleh ke belakang, tapi dia tahu dari derap langkah yang berusaha diredam tetap terdengar ada langkah kaki mengikuti iramanya. Bahwa pria bertopeng hitam itu sudah mulai memburu. "Kau mengikutiku sejak di dalam." Manisha menghentikan langkahnya dan berbalik sebelum pria itu sempat menyusun kalimat pembuka yang sepertinya sudah dia siapkan. "Salah." Pria itu melangkah mendekat, satu tangan terselip di saku celana. "Kau yang berjalan ke arah yang aku inginkan." "Percaya diri sekali." Manisha menyilangkan tangan, menahan senyum yang nyaris lolos. "Memangnya semua wanita di pesta ini gampang kau taklukkan, Tuan Topeng Hitam?" "Belum ada yang berhasil menolakku sampai sekarang." "Kalau begitu," Manisha tersenyum tipis, penuh tantangan. "Malam ini kau akan mencatat sejarah baru." Mereka berhenti di garden pavilion, jauh dari denting gelas dan percakapan yang sengaja ditahan. Manisha memutar kepalanya, membiarkan rambut panjangnya menari sedikit lebih lama dari yang perlu. Dari balik topengnya, dia bisa melihat rahang tegas dan senyum tipis pria itu, cukup untuk membuatnya menebak-nebak wajah macam apa yang tersembunyi di baliknya. Pria itu meraih setangkai mawar rambatan yang tumbuh di tiang paviliun. "Jarimu tidak terluka?" tanya Manisha. "Mawar rambatan tidak berduri, Nona." "Sok tahu." Namun matanya tetap mengikuti setiap gerak tangan pria itu. "Mau berkenalan?" Dia menyodorkan setangkai mawar. "Aku Pramadya Harsa." Manisha menerima bunga itu, sengaja memperlambat sentuhan jarinya. "Rama?" ulangnya, seolah nama itu punya rasa yang ingin dia simpan lebih lama di lidahnya. "Jika kau sedang mencari permaisuri, carilah yang lain. Aku bukan Sinta." "Aku memang mencari pendamping." Rama melangkah satu kali lagi, jarak mereka kini tinggal seruas jari. "Ini bukan kisah Ramayana, Nona. Aku tidak akan meragukan cinta suci istriku sendiri nantinya." "Apakah perkataanmu bisa dipercaya?" "Aku akan tahu setelah ini." Dia menunduk, suaranya melembut jadi bisikan. "Diam berarti iya, kan?" Manisha tidak mundur. Dagunya justru terangkat, menantang, meski jantungnya sendiri berdetak jauh lebih ribut daripada yang ingin dia akui. "Bolehkah aku…" Wajah Rama mendekat, hidung mereka bersentuhan. Manisha membiarkan jarak itu menipis, sengaja tidak menjauh, tidak pula mendekat, ingin tahu sejauh mana pria ini berani melangkah tanpa izin. Tepat sebelum bibir mereka bersentuhan, dia berbisik, "Sayang sekali." "Sayang apa?" Rama mengernyit heran. "Kau lelaki gampangan." Manisha menarik diri secepat kilat. "Aku tidak semudah itu dirayu. Jika kau mau, maka berjuanglah." "Kau menolakku?" "Aku menyelamatkanmu." Manisha mengikis jarak. "Dari kebiasaan burukmu mencium orang asing di pesta orang lain." "Aku tahu kau menyukaiku." Rama penuh percaya diri. "Bertingkah yang sopan, Pramadya Harsa," ujar Manisha, melangkah pergi, membawa serta mawar yang belum sempat Rama minta kembali. "Setidaknya beri tahu namamu!" seru Rama di belakangnya. Manisha hanya melambaikan tangan tanpa menoleh, tersenyum sendiri di balik topengnya begitu dia yakin pria itu tidak bisa melihat wajahnya lagi, lalu berbaur kembali dengan keramaian. Dia baru saja hendak mencari Hera ketika suara ayahnya memanggil dari kerumunan tamu penting. "Ke sini sebentar, Nak." Manisha menghampiri ayahnya. Dunia yang terasa menyenangkan mendadak berhenti berputar begitu dia melihat siapa yang berdiri di samping ayahnya. Pria bertopeng hitam yang sama. Kini berdiri sopan di hadapan Surya Kalingga Danudirja, yang berarti, satu-satunya kemungkinan yang tersisa membuat perutnya melilit. "Perkenalkan, ini putriku, Manisha." Adiwira mengelus rambut putrinya. Tanpa menyadari betapa canggungnya suasana yang baru saja dia ciptakan. "Manisha," ulang Rama. "Senang berkenalan denganmu. Namaku Pramadya Harsa Danudirja. Panggil saja Rama." Dia mengulurkan tangan dengan sopan, meski sorot matanya masih menyimpan tatapan yang sama seperti di garden pavilion. "Ayo, Adiwira, kita berjalan ke tempat lain. Biarkan mereka berbincang." Surya mengajak Adiwira menjauh, meninggalkan mereka berdua begitu saja. Selang beberapa detik, uluran tangan Rama belum juga disambut. Manisha justru melangkah maju, memangkas jaraknya dengan Rama, menyisakan sejengkal hingga dia bisa mencium wangi parfumnya sendiri berbaur dengan milik pria itu. "Ternyata dirimu…" Manisha menggantung ucapannya, menelisik wajah yang baru saja kehilangan topeng kepercayaan dirinya. Dia tersenyum samar. "Lain kali jika ingin menggoda, lakukan dengan baik. Nama keluarga Danudirja dipertaruhkan karena sikapmu." Baru setelah itu dia menyambut uluran tangan Rama, memegangnya sembari berkata, "Kau salah sasaran, Tuan Muda." Wajah Rama tampak tegang, rahangnya terlihat kaku. Manisha menikmati itu, sebuah kepuasan kecil yang tidak ingin dia sembunyikan. "Mari bermain api denganku, Rama."Malam itu, begitu sampai di rumah, Rama langsung mengejar Manisha yang berjalan cepat menuju kamar, wajahnya masih menyimpan ketegangan dari kejadian di pavilion sore tadi."Sha, tunggu. Kita perlu bicara," ucap Rama, menahan pintu kamar sebelum Manisha sempat menutupnya."Bicara apa lagi, Rama? Aku rasa semuanya sudah jelas sore ini.""Sha, aku tahu tadi keliatannya buruk, tapi Sinta cuma …""Selalu Sinta, Rama," potong Manisha, suaranya lelah. "Selalu ada alasan buat membela dia."Rama menghela napas panjang, duduk di tepi ranjang, wajahnya penuh kelelahan yang sama besarnya dengan Manisha. "Sha, aku tidak tahu lagi harus bagaimana. Aku terjebak di antara rasa bersalah aku ke Sinta dan cinta aku ke kamu.""Kamu tahu, Rama, aku baru dengar cerita dari Ibu mertua tadi." Manisha akhirnya duduk di kursi seberang, menatap suaminya lurus-lurus. "Cerita yang membuat aku mengerti kenapa semua ini terasa begitu familiar.""Cerita apa, Sha?"Manisha menghela napas, mulai bercerita perlahan, m
Beberapa hari setelah kunjungan yang penuh kejanggalan itu, sikap Sinta semakin menunjukkan perubahan yang tidak bisa lagi diabaikan Manisha. Setiap kali Rama datang, sengaja atau tidak, Sinta selalu mencari cara untuk berdua saja dengannya, meminta bantuan kecil yang sebenarnya bisa ditangani sendiri, atau sekadar mengajak mengobrol panjang tentang masa lalu yang terus ia ungkit.Siang itu, Manisha datang sendirian ke pavilion, berniat mengembalikan beberapa buku yang dipinjam Sinta minggu lalu. Namun begitu sampai, ia mendapati Sinta duduk begitu dekat dengan Rama di teras, tangan Sinta menggenggam lengan Rama erat, wajahnya menengadah menatap Rama dengan tatapan yang begitu intens."Rama, kamu ingat tidak lagu yang dulu sering kita nyanyikan bareng?" Sinta bertanya, suaranya lembut penuh rayuan halus."Sinta," ucap Manisha, suaranya tajam memecah momen itu.Rama dan Sinta sama-sama tersentak, buru-buru melepaskan genggaman tangan yang sejak tadi menyatu."Sha, kamu sudah datang," u
Di lain hari, pada waktu sore, Manisha kembali menemani Rama mengunjungi pavilion Sinta, meski dengan perasaan yang masih diliputi keraguan sejak percakapan terakhir mereka. Begitu mereka tiba, Sinta menyambut dengan senyum yang terasa berbeda, lebih hangat, lebih dekat, dengan gerak-gerik yang tidak lepas dari perhatian Manisha."Rama, aku membuat teh spesial untuk kamu," ucap Sinta sengaja menyentuh lengan Rama sekilas saat menyerahkan cangkir, jarinya bertahan sedikit lebih lama dari yang seharusnya."Terima kasih, Sinta," jawab Rama tidak menyadari atau memilih tidak menyadari sentuhan itu.Manisha duduk di kursi seberang, memperhatikan setiap gerakan Sinta dengan mata yang semakin waspada. Sinta duduk terlalu dekat dengan Rama, tertawa terlalu keras pada setiap candaan kecil. Sesekali menyentuh bahu Rama saat bicara, gestur-gestur yang terlihat wajar sekilas, tetapi terasa berlapis maksud tersembunyi bagi Manisha yang mengamatinya dengan seksama."Rama, kamu ingat tidak, dulu kit
Beberapa hari setelah insiden luka-luka Sinta, Surya mengambil keputusan untuk menempatkan Sinta di sebuah pavilion kecil yang masih satu kawasan dengan rumah utama keluarga Danudirja, beralasan keamanan yang lebih terjamin dengan pengawasan ketat dari tim keamanan keluarga."Ini sementara, Sha," ucap Rama suatu sore, ketika mengajak Manisha berjalan-jalan di taman rumah utama. "Sampai kondisinya lebih stabil dan situasi Yudha bisa ditangani.""Aku mengerti, Rama," jawab Manisha, meski hatinya masih menyimpan gejolak yang belum sepenuhnya reda sejak malam makan keluarga itu."Sha, aku mau minta tolong sesuatu.""Tolong apa?""Aku mau kamu ikut aku mengunjungi Sinta. Bukan buat apa-apa, hanya ... aku pengen kalian berdua bisa mengenal atau minimal saling menerima keberadaan masing-masing."Manisha menghentikan langkahnya, menatap Rama tidak percaya. "Kamu serius, Rama?""Aku tahu ini berat, Sha. Tapi aku capek liat kalian berdua terus-terusan bermusuhan. Aku pengen kita semua bisa hidu


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
avaliações