Hasrat Cinta Tuan Arsitek
Cinta yang ManisBos / CEOGuruEmosionalCinta Setelah MenikahCinta pada Pandangan PertamaTantangan Pernikahan
Kabar pernikahan Pramadya Harsa Danudirja menyebar lebih cepat daripada yang ia duga. Bersamaan dengan itu, musuh-musuh lama keluarga Danudirja mulai keluar dari persembunyian mereka.
Di tengah ancaman yang mengintai, Kedatangan Sinta sebagai perempuan yang pernah menghilang dari hidup Rama tanpa penjelasan kembali hadir membawa rahasia yang dapat mengubah segalanya.
Kini Rama tidak hanya harus melindungi pernikahannya dengan Manisha, tetapi juga menghadapi masa lalu yang belum selesai dan musuh yang siap menghancurkan semua yang ia cintai.
Jika dalam kisah agung Ramayana, Rama menyelamatkan Sinta. Maka, dalam kisah ini siapa yang akan Rama selamatkan? Manisha sebagai istrinya atau Sinta sebagai orang masa lalunya? Sanggupkah Rama berperang melawan musuh bahkan hasratnya sendiri?
Lesen
Chapter: Bab 6. Insiden Pemicu“Sha, serius kamu mau melakukan ini?” Hera tidak jengah bertanya pertanyaan yang sama, meski jawaban yang didapat tidak jauh berbeda.Manisha menatap Hera dengan muka berseri sambil menyuruhnya memilih gaun. “Bagus yang kanan atau kiri?”“Gak ada yang lebih bagus, Sha.” Hera bergidik mengetahui pilihan gaun Manisha. “Kamu niat pake baju nggak sih?”“Terlalu berlebihan, ya?” Manisha menimbang kembali. “Pake dress merah yang kemarin aja kalau gitu, atau pake dress merah dengan model lain.”“Merah lebih menggoda, sih, memang,” sahut Hera cepat. Dia menyapu pandang sekeliling lalu berkata lagi, “Mending undang Rama ke rumahmu aja, deh, Sha. Daripada ke hotel. Aku yakin orang tuamu juga setuju.”Manisha menghentikan aktivitasnya yang sedang menempelkan dress merah ke badan. Dari cermin, dia dapat merasakan kekhawatiran Hera terkait kegilaan yang telah diaturnya.“Aku nggak punya opsi selain rencana ini.” Dilihatnya kembali notifikasi ponselnya yang masih belum mendapatkan balasan pesan dar
Zuletzt aktualisiert: 2026-08-08
Chapter: Bab 5. Aturan MainHujan mulai turun tak lama setelah Manisha berada di villa. Rintiknya jatuh pelan di atap, menciptakan irama yang menenggelamkan suara api unggun yang perlahan padam di teras.Rama membawa Manisha ke ruang tengah. Di sana hanya diterangi lampu gantung rotan yang temaram dan perapian kecil di sudut ruangan yang baru saja dinyalakan penjaga villa sebelum pamit undur diri.Manisha duduk di karpet tebal dekat perapian, lututnya ditekuk ke dada, memeluk dirinya sendiri. Cahaya api membuat separuh wajahnya bercahaya jingga, separuh lainnya tenggelam dalam bayang."Kau tidak duduk di sofa?" tanya Rama, berdiri di ambang pintu."Aku suka lantai. Lebih dekat dengan api." Manisha menepuk karpet di sampingnya, tanpa menoleh. "Duduk sini tapi jaga jarak."Rama menurut, duduk dengan jarak yang cukup jauh untuk terasa sopan, cukup dekat untuk terasa canggung. "Jadi bagaimana? Soal peraturannya.""Sangat tidak sabar,” tegur Manisha."Maafkan aku." Rama menyandarkan punggungnya ke sofa di belakang me
Zuletzt aktualisiert: 2026-06-10
Chapter: Bab 4. Kencan Tidak ResmiMobil berhenti di depan gerbang besi tempa yang berdiri kokoh di antara pepohonan pinus, kabut tipis menyelimuti jalan setapak berbatu yang mengarah ke bangunan utama. "Sudah sampai?" Manisha melepas sabuk pengamannya, menatap keluar jendela. "Ayo turun," Rama mematikan mesin lalu bergegas turun lebih dulu, berjalan memutar ke sisi Manisha sebelum wanita itu sempat membuka pintunya sendiri. Pintu terbuka dari luar. "Hati-hati, jalannya berbatu." Rama mengulurkan tangannya. Manisha menatap tangan itu sejenak. Dia memilih turun sendiri tanpa menyentuhnya. "Aku bisa jalan sendiri, Rama." "Aku tahu kau bisa." Rama menarik tangannya kembali tanpa tersinggung dan melepas jasnya, menyampirkannya begitu saja di bahu Manisha. "Dingin. Pakai ini." "Kau selalu begini pada semua wanita?" "Belum pernah." Rama tersenyum kecil, mulai berjalan lebih dulu ke arah pintu utama. "Kau yang pertama." “Semua pria pemain mengatakan hal yang sama,” ejek Manisha. Rama membuka pintu lebar-lebar
Zuletzt aktualisiert: 2026-05-31
Chapter: Bab 3. Kencan ResmiManisha berdiri di depan cermin lebih lama dari biasanya pada malam itu. Ayahnya sudah mengundang Rama makan malam di rumah, katanya untuk membahas kelanjutan proyek sekolah.Walaupun begitu, Manisha curiga ada urusan lain yang sebenarnya tidak terlalu ingin dia ketahui lebih dulu. Sesuatu yang pernah disinggung ayahnya beberapa hari lalu."Nona, ini sudah yang keempat kalinya ganti baju." Asisten rumah yang membantu merapikan kamarnya, tersenyum geli dari sudut ruangan. "Bukannya cuma makan malam biasa?"“Memang cuma makan malam biasa." Manisha memutar badan sekali lagi di depan cermin, mengamati dress merah yang akhirnya dia pilih. "Aku cuma nggak mau kelihatan berantakan di depan tamu Papa.""Tamu Tuan Adiwira atau tamu Nona?""Hanya tamu biasa." Manisha melirik tajam lewat pantulan cermin, meski sudut bibirnya nyaris tertarik jadi senyum yang buru-buru dia tahan.Rambutnya dibiarkan terurai, sisi kanan menjulur ke depan, sementara sisi lainnya membiarkan lehernya terekspos, dihias
Zuletzt aktualisiert: 2026-05-30
Chapter: Bab 2. Sebuah TantanganKabar itu sudah menyebar ke seluruh ruang guru bahkan sebelum bel istirahat berbunyi. Proyek renovasi sekolah resmi dipegang Archie Design dan yang turun tangan langsung katanya direkturnya sendiri.Bisik-bisik di sela fotokopi soal ujian, di antara dua guru yang berpapasan di koridor, semuanya membicarakan satu nama yang sama."Katanya masih muda, direktur pula. Pantas Pak Adiwira sampai heboh milih dia sendiri," celetuk seseorang di dekat mesin fotokopi, tidak sadar Manisha lewat tepat di belakangnya."Bukan direktur. Masih arsitek biasa lulusan Jerman, tapi pinter banget katanya. Banyak proyeknya yang sukses. Terkenal." Seseorang yang lain mengoreksi dan menjelaskan."Kayaknya dia bakal sering ke sini sampai proyeknya kelar. Bisa tiap minggu.""Ya iyalah. Tadi nggak sengaja liat dia di parkiran, orangnya kelihatan ambis. Pasti dia suka turun tangan sendiri." Lainnya ikut menimbrung.“Bener, tuh! Aku juga liat dia marah-marah tadi.”"Nggak, ah. Itu namanya tegas." Orang yang pertama
Zuletzt aktualisiert: 2026-06-16
Chapter: Bab 1. Romansa Di Pesta TopengMansion itu tampak mencolok dari kejauhan. Kemewahannya terletak pada kepercayaan diri bangunan itu sendiri. Berdiri megah di balik gerbang besi hitam berukir emas, bangunan bergaya neoklasik itu menjulang anggun. Pilar-pilar tinggi menopang balkon lengkung di lantai dua, sementara jendela-jendela Prancis memamerkan kilau chandelier dari dalam.“Terlalu ramai. Ayah mengundang melebihi daftar tamu,” keluh seorang gadis yang memandang kerumunan dari sudut ballroom.Ayahnya mengubah seluruh ballroom jadi pesta topeng megah, dan entah kenapa, Manisha justru merasa lebih nyaman bersembunyi di balik topeng Venesia putihnya daripada berjalan sebagai putri tuan rumah yang harus tersenyum pada setiap tamu."Kau yakin tidak mau lepas topeng itu barang sebentar? Mukamu pasti gerah," bisik Hera di sampingnya, sambil menikmati sepiring canapé dari meja jamuan yang dipenuhi kaviar dan mini beef wellington."Justru ini enaknya jadi tuan rumah di pesta topeng." Manisha menyesap champagne-nya. "Tidak
Zuletzt aktualisiert: 2026-06-16