LOGINMalam itu, rumah terasa terlalu sunyi untuk ukuran sebuah rumah yang baru saja menjadi saksi pernikahan. Setelah kotak hitam berisi bangkai burung gagak itu ditemukan, Lira seperti kehilangan sebagian keberaniannya. Setiap kali ada paket datang, setiap kali pita terlihat, dadanya langsung mengencang. Ia tidak mau menyentuh apa pun. Tidak mau membuka apa pun. Hadiah-hadiah yang sebelumnya tampak berkilau kini baginya hanyalah potensi ancaman.Ia duduk di tepi ranjang kamar mereka—kamar yang kini resmi menjadi milik berdua—dengan lampu temaram dan selimut yang ditarik sampai dada. Ketika pintu terbuka dan William masuk, Lira bahkan tidak menoleh. Namun langkah kaki itu terlalu dikenalnya.William menutup pintu perlahan. Jasnya sudah dilepas, kemejanya hanya tersisa satu kancing yang terpasang. Wajahnya tegang, garis di antara alisnya semakin dalam.“Annalise sudah menceritakan semuanya,” kata William pelan.Kalimat itu menjadi pemicu. Lira langsung bangkit dan berlari ke arah William, m
Gedung tempat pernikahan itu berdiri seperti sebuah istana modern—menjulang, berlapis marmer pucat yang memantulkan cahaya sore. Langit-langitnya tinggi dengan kubah kaca raksasa, dari mana cahaya matahari jatuh lembut, menimpa altar yang dihiasi rangkaian bunga putih dan hijau pucat. Lilin-lilin kristal berjajar di sepanjang lorong, memantulkan kilau emas dari ornamen-ornamen halus yang menegaskan kemegahan tanpa kesan berlebihan. Setiap detail tampak terukur, seolah ruangan itu bernapas mengikuti irama janji yang akan diucapkan.Lira melangkah masuk dengan gaun putih elegan—potongannya bersih, jatuh mengikuti tubuhnya tanpa berteriak. Tidak ada renda berlebihan; hanya kemurnian garis dan kilau kain yang halus. Rambutnya disanggul rendah, beberapa helai dibiarkan membingkai wajahnya. Di hadapan altar, William menunggu dengan jas hitam yang terpotong rapi. Rambutnya dipangkas lebih pendek dari biasanya, keningnya tampak jelas, wajahnya tegas namun tenang—sebuah ketenangan yang hanya d
Selewat beberapa waktu, kejayaan Lira terasa menanjak dengan kecepatan yang bahkan membuat dirinya sendiri terperangah. Tawaran demi tawaran berdatangan tanpa henti—iklan produk kecantikan, pemotretan editorial, hingga undangan tampil di beberapa acara televisi. Namanya mulai dikenal bukan sekadar sebagai “model Averi”, melainkan sebagai Lira Suhita: wajah baru yang sedang bersinar.Ada kebahagiaan yang jujur setiap kali ia pulang membawa kontrak baru, setiap kali namanya disebut dengan nada kagum. Namun kebahagiaan itu terasa lengkap karena satu hal: William selalu ada di dekatnya. Ia hadir sebagai penonton pertama setiap pemotretan, sebagai pendengar setia cerita-cerita kecil Lira, dan sebagai tempat Lira pulang ketika lelahnya dunia mulai terasa berat. Dalam diamnya, William menjaga jarak dari sorotan, seolah kejayaan Lira adalah panggung yang memang seharusnya hanya milik gadis itu.Siang itu, mereka berbelanja di sebuah supermarket besar. Tanpa pengawal, tanpa asisten, hanya mere
Hampir sebulan telah berlalu sejak malam di pantai itu—malam ketika William menyatakan perasaannya kepada Lira dan menyematkan cincin di jarinya. Waktu tidak berjalan biasa sejak saat itu; ia seakan melunak, mengalir lebih hangat, dan memberi ruang bagi keduanya untuk tumbuh dalam kedekatan yang semakin nyata.Mereka terlihat semakin mesra, dan hal itu nyaris tak bisa disembunyikan. Di pagi hari, William kerap muncul di ambang pintu kamar Lira hanya untuk memastikan gadis itu sudah sarapan. Ia akan membenarkan kerah pakaian Lira dengan jari-jarinya sendiri, atau menyelipkan rambut yang jatuh ke belakang telinga Lira dengan gestur yang terlalu intim untuk ukuran rumah besar yang dipenuhi pelayan. Di ruang makan, William sering duduk terlalu dekat, lutut mereka bersentuhan, tangannya bertengger santai di sandaran kursi Lira—seolah tempat itu memang miliknya.Para pelayan menjadi saksi yang kikuk. Ada yang pura-pura sibuk membersihkan meja yang sudah bersih, ada yang memilih menunduk dan
Malam turun perlahan, menyelimuti rumah itu dengan kesunyian yang teduh. Di kamar lantai atas, Lira duduk bersila di atas ranjang dengan sebuah buku catatan terbuka di pangkuannya. Lampu meja menyala redup, menerangi deretan kosakata bahasa Inggris yang ia ulangi dengan suara lirih. Sesekali ia berhenti, mengernyit, lalu menuliskan catatan kecil di pinggir halaman—usaha sederhana untuk merapikan masa depan yang terasa rapuh.Ketukan terdengar di pintu.Lira menoleh, sedikit terkejut. “Masuk,” ujarnya setelah bangkit dan membuka pintu.William berdiri di ambang, rapi seperti biasa, namun ada sesuatu di sorot matanya yang lebih lembut dari siang tadi. Ia melangkah masuk, menutup pintu perlahan, seakan takut mengusik ketenangan yang baru saja ia temukan di kamar itu.“Kau sedang belajar,” katanya, lebih sebagai pernyataan daripada pertanyaan.Lira mengangguk. “Aku ingin memperbaiki pengucapanku.”William tersenyum kecil. “Aku ingin bertanya sesuatu.” Ia berhenti sejenak, lalu menatap Lir
Pagi itu datang dengan ketenangan yang asing di rumah William. Cahaya matahari menembus jendela-jendela tinggi ruang tamu, jatuh lembut di lantai marmer yang dingin. William baru saja meletakkan cangkir kopinya ketika bel pintu berbunyi—satu bunyi pendek, tegas, seolah pemiliknya tidak ragu sedikit pun bahwa pintu itu akan dibukakan.Ia mengernyit. Tidak ada janji temu hari ini.Ketika pintu dibuka, sosok yang berdiri di ambang membuat William terdiam sepersekian detik lebih lama dari seharusnya.“Ayah?”Tuan Archen berdiri dengan mantel rapi dan rambut yang mulai memutih di pelipisnya. Wajah itu masih sama—tegas, berwibawa—namun garis-garis usia kini lebih jujur terlihat. Ia tersenyum kecil, senyum yang canggung tetapi penuh niat baik.“Kau tidak berubah,” katanya pelan. “Masih selalu tampak terkejut saat aku datang.”William menyingkir memberi jalan. “Aku tidak menyangka Ayah akan datang tanpa kabar.”“Aku tahu,” jawab Tuan Archen sambil melangkah masuk. “Justru itu maksudku.”Merek







