Início / Romansa / Hasrat Kakak Tiri / 52. Langkah Siapa

Compartilhar

52. Langkah Siapa

last update Última atualização: 2026-01-12 11:38:11

Arion berhenti tepat di depan daun pintu.

Langkah itu sudah lenyap. Tidak ada lagi suara sepatu, tidak ada gesekan, tidak ada desis samar yang tadi jelas-jelas ia dengar. Namun udara di sekitarnya masih terasa terganggu, seperti permukaan air yang baru saja disentuh lalu dipaksa kembali tenang. Dari dalam kamar, suara Shana terdengar lagi.

“Kak…?”

Pelan. Ragu. Seolah ia sendiri tak yakin sedang memanggil siapa.

Arion tidak menjawab.

Bukan karena tak peduli. Justru sebaliknya. Ia takut, kalau ia bersuara, sesuatu di luar sana akan ikut menjawab.

Ia menunduk, mendekatkan mata ke lubang intip di daun pintu. Peephole, Nama yang aneh untuk sesuatu yang seharusnya memberi rasa aman. Tangannya menempel di dinding, dingin. Napasnya ditahan, seperti orang yang sedang menunggu hasil tes yang tak ingin ia lihat.

Hanya gelap.

Lorong apartemen kosong. Lampu menyala stabil. Karpet abu-abu membentang tanpa noda, tanpa bayangan. Tidak ada orang. Tidak ada pintu yang terbuka. Tidak ada apa pun yang me
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Hasrat Kakak Tiri   53. Tubuh yang Menggoda

    Arion tidak langsung membuka pintu.Ada jeda—singkat, tapi sarat kecurigaan—ketika tangannya berhenti beberapa sentimeter dari gagang. Ia berdiri mematung, telinga bekerja lebih keras daripada mata. Di balik pintu, apartemennya yang seharusnya familiar terasa asing. Seperti ruang yang baru saja menghela napas, lalu berusaha berpura-pura normal.Tidak ada suara.Tidak lagi.Detik merayap. Arion menunggu satu detik lagi. Lalu satu lagi. Tidak ada gesekan. Tidak ada langkah. Tidak ada napas yang terlalu dekat untuk disebut kebetulan. Hanya dengung AC dari unit sebelah, samar seperti ingatan yang dipaksa lupa.Shana, pikirnya. Dugaan itu muncul begitu saja, bukan karena bukti, melainkan karena kelegaan. Lebih mudah menamai ketakutan daripada membiarkannya tak berbentuk. Ia menghembuskan napas pelan, menertawakan diri sendiri dalam hati.“Pasti kamu,” gumamnya lirih, seolah Shana bisa mendengar dari balik pintu.Kartu Kunci ditempelkan. Pintu terbuka.Apartemen itu menyambutnya dengan caha

  • Hasrat Kakak Tiri   52. Langkah Siapa

    Arion berhenti tepat di depan daun pintu.Langkah itu sudah lenyap. Tidak ada lagi suara sepatu, tidak ada gesekan, tidak ada desis samar yang tadi jelas-jelas ia dengar. Namun udara di sekitarnya masih terasa terganggu, seperti permukaan air yang baru saja disentuh lalu dipaksa kembali tenang. Dari dalam kamar, suara Shana terdengar lagi.“Kak…?”Pelan. Ragu. Seolah ia sendiri tak yakin sedang memanggil siapa.Arion tidak menjawab.Bukan karena tak peduli. Justru sebaliknya. Ia takut, kalau ia bersuara, sesuatu di luar sana akan ikut menjawab.Ia menunduk, mendekatkan mata ke lubang intip di daun pintu. Peephole, Nama yang aneh untuk sesuatu yang seharusnya memberi rasa aman. Tangannya menempel di dinding, dingin. Napasnya ditahan, seperti orang yang sedang menunggu hasil tes yang tak ingin ia lihat.Hanya gelap.Lorong apartemen kosong. Lampu menyala stabil. Karpet abu-abu membentang tanpa noda, tanpa bayangan. Tidak ada orang. Tidak ada pintu yang terbuka. Tidak ada apa pun yang me

  • Hasrat Kakak Tiri   51. Bulu Bulu Halus Berbentuk "V"

    Ada godaan yang tidak berisik.Ia tidak berteriak, tidak memaksa. Ia hanya duduk diam di sudut pikiran, menunggu seseorang cukup lelah untuk lengah.Arion berdiri di sisi ranjang seperti orang yang lupa cara bernapas. Dadanya naik turun lebih cepat dari seharusnya. Cahaya lampu meja menyentuh kulit Shana dengan lembut, menyingkap garis-garis yang selama ini selalu ia lihat, tapi tidak pernah ia lihat seperti malam ini.Ia menelan ludah.“Ini salah,” gumamnya pelan, lebih seperti peringatan daripada keputusan.Namun matanya tetap turun. Bukan pada hal-hal yang vulgar—bukan. Justru pada detail kecil yang terlalu manusiawi untuk diabaikan. Rambut halus di bawah tengkuk Shana, membentuk lengkung lembut seperti huruf V, bergerak naik turun mengikuti napasnya. Tidak mencolok. Tidak disengaja. Tapi entah kenapa, justru di sanalah pikirannya tersangkut.Arion memejamkan mata sejenak.Kenapa justru itu?Ia pernah bersama banyak perempuan. Tubuh-tubuh berbeda, tekstur kulit berbeda, aroma yang

  • Hasrat Kakak Tiri   50. Sleep Walking (Lagi)

    Tidak semua kehancuran datang dengan dentum keras. Sebagian besar justru merayap dalam senyap, dibungkus rapi dengan pita simpul yang manis, dan dikirimkan tepat pada waktunya—seolah-olah tangan yang mengirimnya tidak pernah ada.Udara di tangga sempit itu terasa berat dan lembap. Di atas kepala, lampu neon berkedip-kedip gelisah, seakan memberi peringatan yang tak terbaca. Sosok itu berdiri sejenak, membiarkan paru-parunya menyesuaikan diri dengan debu yang menyesak. Tangannya baru saja melepaskan sebuah kotak kayu tua ke tangan kurir. Alamatnya tertulis dengan tulisan tangan yang miring dan tajam—bukan karena tak mampu mencetak, melainkan karena tulisan tangan selalu punya cara untuk menusuk lebih dalam ke ingatan.Ia tak menoleh saat kurir itu menghilang di tikungan. Di saku jaketnya, ponsel bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor tanpa identitas.Sudah sampai.Ia membacanya sekejap, lalu menghapus jejak itu selamanya. Tidak ada se

  • Hasrat Kakak Tiri   49. Ada Apa dengan Ibunya Shana

    Baik. Kita lanjut tanpa ringkasan, tanpa kesimpulan, tanpa menggurui. Mengalir, gelap, dan menggantung.Foto itu jatuh di atas meja dengan suara yang nyaris tak terdengar. Kertasnya sudah menguning, sudutnya melengkung seperti pernah terlalu lama disimpan di saku mantel. Wajah perempuan di dalamnya buram oleh waktu, tapi tidak oleh ingatan.Ibu Shana tahu wajah itu.Bukan karena ia sering melihatnya belakangan ini—melainkan karena ia telah berusaha keras melupakannya selama bertahun-tahun.Dadanya mengencang. Tenggorokannya seperti mengeras, seolah tubuhnya bereaksi lebih cepat daripada pikirannya. Ia tidak menarik napas dalam-dalam. Ia tidak bersuara. Ia hanya mematung, menatap foto itu seperti seseorang yang tiba-tiba berhadapan dengan cermin lama yang retaknya ia kenali satu per satu.Perempuan dalam foto itu tersenyum lemah. Rambutnya disisir rapi, matanya cekung namun masih lembut. Senyum orang yang tahu hidupnya tidak panjang, tapi belum siap menyerah.Mendiang istri pertama sua

  • Hasrat Kakak Tiri   48. Rahasia Ibunya Shana

    Sore itu turun perlahan di balkon rumah besar yang berdiri tenang di balik pagar tinggi. Rumah itu bukan rumah yang berisik. Tidak ada tawa berlebih, tidak ada percakapan panjang tanpa tujuan. Segalanya tertata, terlalu tertata seperti kehidupan yang sejak lama diputuskan untuk tidak memberi ruang pada kejutan.Ibu Shana duduk sendiri di kursi kayu panjang, menghadap halaman belakang yang luas. Rumputnya dipotong rapi, pot-pot bunga berjajar simetris, dan pohon kamboja di sudut halaman berdiri seperti saksi bisu yang terlalu sering melihat rahasia manusia.Di pangkuannya, secangkir teh melati mengepul tipis. Ia tidak benar-benar berniat meminumnya. Tangannya hanya ingin sesuatu untuk digenggam, agar pikirannya tidak melayang terlalu jauh.Angin sore menyentuh kulit lengannya. Tidak dingin, tapi cukup untuk mengingatkannya bahwa tubuhnya tidak lagi bekerja seperti dulu.Ia menghela napas perlahan.Menopause.Kata itu tidak pernah keluar dari mulutnya. Bahkan dalam pikirannya pun jarang

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status