LOGINRani merasa kepalanya semakin pusing, sementara rasa ingin muntah kembali menendang perutnya tanpa ampun. Ia tak sanggup menahannya lagi dan akhirnya bersandar di wastafel, muntah-muntah sekali lagi, hanya mengeluarkan cairan dan ludah yang justru membuat tenggorokannya perih dan pikirannya semakin kacau.“Minum dulu, Rani,” kata sang ibu sambil menyodorkan segelas air hangat. Wanita itu lalu memijat punggung Rani perlahan, berusaha menenangkan putrinya dan membantu meredakan rasa pusing yang menyerang.“Terima kasih banyak, Bu,” ucap Rani lirih sambil tersenyum tipis. Ia menerima gelas itu dan meneguk air hangat sedikit demi sedikit.“Kamu sudah cek kehamilan kamu?” tanya ibu Rani tiba-tiba, tepat ketika Rani masih menelan air minumnya.Pertanyaan itu membuat Rani hampir memuntahkan kembali air yang baru saja diminumnya. “Ibu…” katanya lemah, napasnya tertahan.“Kenapa? Kamu belum tes?” tanya wanita itu lagi, seolah tak terlalu memedulikan keterkejutan di wajah putrinya.Rani terdiam
Ketika Rani membuka pintu, tampak seorang perempuan berdiri dengan canggung di hadapannya, masih mengenakan helm yang belum dilepas.“Rumah Pak Bima?” tanya wanita itu hati-hati, suaranya terdengar ragu.Rani mengangguk pelan sambil memandangnya heran. “Iya. Ada perlu apa?” tanyanya sopan.“Oh, Bu, ini kami mau ngasih undangan,” kata perempuan itu sambil menyodorkan sebuah amplop undangan ke arah Rani.Rani menerimanya dan membuka sekilas. Ternyata itu undangan pernikahan kerabat Bima. “Oh, iya. Terima kasih banyak, ya,” ucap Rani setelah membacanya singkat.“Itu saja, Bu. Saya pamit dulu. Masih mau nganterin ke yang lain lagi,” kata perempuan itu sopan sebelum berbalik dan pergi.Rani menutup pintu perlahan. Dari dalam rumah, ibunya sudah berdiri mendekat, jelas penasaran dengan tamu yang datang.“Siapa, Nak?” tanya sang ibu heran.Rani menoleh, tersenyum kecil, lalu kembali ke ruang makan sambil membawa undangan itu. “Orang,” jawabnya ringan. “Nganterin undangan doang ternyata,” lan
“Loh, Mira? Kok kamu di sini?” Rani terkejut melihat Mira muncul dari balik mobil setelah wanita itu menurunkan kaca dan menyapa.“Pak Fabio menyuruh saya untuk menjemput ibu di sini,” jawab Mira dengan ekspresi datar, nyaris tanpa perubahan raut wajah.Ibunya memandang Mira dengan heran. Sejak tadi ia tersenyum ramah, namun Mira sama sekali tak membalas senyum itu. Kebingungan jelas tergambar di wajah wanita tua tersebut. Ia tampak ragu—apakah wajar ia diantar oleh perempuan yang asing dan bersikap sedingin itu?Rani menghela napas berat. Ah, bukankah sudah ia katakan pada Fabio bahwa ia ingin menjemput ibunya sendiri?“Kata Bapak, kalau-kalau Anda ingin menolak, ingatlah bahwa saya yang menjemput Anda, bukan Pak Fabio,” lanjut Mira, menjelaskan dengan gamblang tanpa sedikit pun basa-basi.Statusnya yang berselingkuh dengan Fabio membuat dada Rani terasa mengencang. Ia bergidik pelan. Sekilas pikirannya melayang pada ibunya—pada apa yang mungkin wanita tua itu pikirkan jika tahu kebe
“Kak Fabio?” Rani memandang kaget laki-laki yang berdiri di hadapannya, menatapnya dengan sorot mata penuh kerinduan yang tak sempat ia sembunyikan.Tanpa basa-basi, Fabio langsung melangkah maju dan memeluk Rani dengan erat, seolah takut wanita itu akan menghilang jika ia melonggarkan pelukannya sedikit saja. Pelukan itu hangat, kuat, dan terlalu familiar—membuat jantung Rani berdegup tak karuan.Rani sendiri masih terkejut dengan kehadiran sang kekasih. Bagaimana bisa Fabio ada di sini? Di saat yang sama, di tempat yang sama, ketika hidupnya sedang terasa begitu sempit.“Kok Kakak ke sini? Bukannya Kakak sibuk?” tanya Rani di sela-sela pelukan Fabio. Kali ini ia tak menolak seperti biasanya. Rasa rindu telah menghapus kewarasannya sendiri.Fabio tersenyum, lalu perlahan melepas pelukannya meski jelas ia belum puas. Dengan tangan kanannya, ia menyibakkan rambut Rani yang jatuh ke wajahnya, menyelipkannya ke belakang telinga dengan gerakan lembut.“Aku berhasil dapat waktu kosong. Kam
Rani memandang bengong hasil tes yang sudah menunjukkan jawabannya. Matanya ia kerjap-kerjapkan berulang kali, seolah berharap penglihatannya keliru, seolah dua garis itu akan lenyap jika ia cukup lama menatapnya.Ini sungguh gila. Garisnya ada dua. Napas Rani tercekat, tubuhnya mendadak melemas hingga ia harus berpegangan pada wastafel. Benarkah apa yang ia lihat? Ataukah pikirannya hanya mempermainkannya karena lelah dan cemas?“Rani!” teriak Bima dari luar, suaranya terdengar kasar dan tak sabar.Rani yang masih seperti melayang tak menyangka harus segera kembali ke dunia nyata. Dengan tangan sedikit gemetar, ia buru-buru mengumpulkan kesadarannya. Hasil tes itu diselipkannya ke dalam saku, lalu ia keluar dari kamar kecil dengan langkah yang terasa jauh lebih berat dari sebelumnya.“Iya, Kak,” jawab Rani lirih, suaranya terdengar lemah bahkan di telinganya sendiri.“Kenapa suara kamu lemah begitu, hah? Kamu sudah bosan melayani suami kamu? Dasar gak becus! Kamu gak pernah becus!” b
“Tespek?” tanya pelayan apotek itu dengan suara yang cukup besar, membuat Rani seketika panik dan gugup mendengarnya.Padahal Rani sengaja memelankan suaranya karena malu, namun perempuan itu justru mengucapkannya dengan lantang tanpa ragu. Beberapa pasang mata di sekitar seakan bergerak ke arah Rani, membuat tengkuknya terasa panas.Rani menelan ludah, wajahnya memerah. “I—iya, Kak. Ada?” tanyanya pelan dan berhati-hati, nyaris seperti berbisik.Melihat sikap Rani yang canggung dan tertutup, pelayan itu memandangnya agak lama. Ada ekspresi heran di wajahnya, namun tak berlangsung lama—barangkali ia sudah terlalu sering menemui pelanggan dengan ekspresi serupa.“Ada. Sebentar ya, saya ambilkan. Mau yang jenis apa?” tanyanya kemudian, kali ini dengan nada lebih rendah dan hati-hati.Rani justru tampak bengong. Dalam kepalanya muncul pertanyaan polos: memangnya ada berapa jenis tespek di dunia ini? “Apa saja, Kak,” jawabnya sopan, pasrah.“Baik, Bu. Sebentar ya,” kata pelayan itu ramah







