Share

110. Kabur ke toilet

Penulis: Cherry Blessem
last update Terakhir Diperbarui: 2026-03-06 10:18:08

“Apa itu?” tanya Rani heran ketika sebuah benda yang dibungkus klip plastik dikeluarkan oleh Fabio dari sakunya.

Tanpa menjawab, Fabio membuka bungkus plastik itu perlahan lalu meletakkannya di atas meja, menggesernya sedikit agar bisa dilihat jelas oleh Rani.

“Orang suruhanku menemukan ini di tempat sampahmu,” kata Fabio sambil menatap Rani dengan serius, meski sorot matanya tetap dipenuhi kelembutan.

Rani tampak terkejut begitu melihat benda yang ditunjukkan oleh Fabio. Alat tes kehamilan yan
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Hasrat Liar Sahabat Suami   111. Kejujuran Yang Lucu

    Mendengar ucapan Rani yang serius, Fabio kembali tersenyum. Entah mengapa, perubahan Rani perlahan membuatnya merasakan kesegaran yang baru. Ada sesuatu dalam cara wanita itu berbicara sekarang yang membuat Fabio merasa seolah ia sedang mengenal Rani dari sisi yang berbeda. Ia lebih tenang dan lebih jujur pada perasaannya."Apa itu?" tanyanya tanpa terdengar memaksa.Rani tampak tegang. Ia bisa mendengar debaran jantungnya sendiri, berdetak cepat di telinganya. Rasanya seperti anak remaja yang hendak mengutarakan perasaannya pada pria yang ia suka.Rahasia di balik ucapannya memang besar, namun ini bukan sekadar ungkapan cinta menye-menye ala anak remaja. Ini adalah kenyataan hidup yang entah apakah ia siap atau tidak."Aku," Rani merasa kata-kata yang keluar dari mulutnya seperti angin yang bertiup begitu saja. Jujur, ia sendiri terkejut mendengar suaranya yang terdengar begitu kecil.Fabio menangkap kegugupan dari suara Rani. Dengan lembut, ia meraih tangan Rani dan menggenggamnya s

  • Hasrat Liar Sahabat Suami   110. Kabur ke toilet

    “Apa itu?” tanya Rani heran ketika sebuah benda yang dibungkus klip plastik dikeluarkan oleh Fabio dari sakunya.Tanpa menjawab, Fabio membuka bungkus plastik itu perlahan lalu meletakkannya di atas meja, menggesernya sedikit agar bisa dilihat jelas oleh Rani.“Orang suruhanku menemukan ini di tempat sampahmu,” kata Fabio sambil menatap Rani dengan serius, meski sorot matanya tetap dipenuhi kelembutan.Rani tampak terkejut begitu melihat benda yang ditunjukkan oleh Fabio. Alat tes kehamilan yang sengaja ia buang itu kini berada di atas meja makan mereka.Orang yang ditugaskan Fabio untuk mengawasinya menemukan itu?Rani tiba-tiba terbatuk-batuk melihat benda tersebut. Dadanya berdebar keras, dan wajahnya memucat seperti melihat sesuatu yang menakutkan.Fabio adalah orang terakhir yang ia harapkan mengetahui soal kehamilan ini.“Kamu hamil?”Pertanyaan itu terasa seperti palu yang menghantam kepala Rani.Sekejap saja kepalanya terasa berat dan berputar. Dadanya sesak, napasnya tidak te

  • Hasrat Liar Sahabat Suami   109. Informasi Penting Dan Makan Berdua

    “Ada yang ingin bertemu dengan Anda, Nyonya,” kata seorang pelayan sambil memasuki ruang pribadi Jihan dengan langkah hati-hati.Di dalam ruangan itu, Jihan tengah berbaring tengkurap di atas ranjang pijat mewah. Seorang pemijat profesional memijat punggungnya dengan minyak aromaterapi yang lembut. Wajah Jihan tenggelam di balik bantal empuk.“Siapa?” tanyanya malas, tanpa menoleh sedikit pun.“Dia tidak menyebutkan namanya. Hanya bilang bahwa dia membawa informasi yang Nyonya butuhkan,” jawab pelayan itu sopan.Mendengar kalimat tersebut, jemari Jihan yang tadi santai mencengkeram kain seprai sedikit mengencang. Ia terdiam sejenak, berpikir.“Suruh dia masuk,” katanya akhirnya, nada suaranya kembali datar.“Baik, Nyonya.” Pelayan itu membungkuk kecil lalu keluar.Tak lama kemudian, terdengar langkah kaki memasuki ruangan. Suara sepatu pria berhenti di dekat meja tamu yang memisahkan area pijat dengan ruang duduk kecil di sisi ruangan.“Ada apa?” tanya Jihan lagi, tetap tak menoleh, s

  • Hasrat Liar Sahabat Suami   108. Makan Bersama Fabio

    “Siapa?” wajah Rani langsung panik. Ia refleks berkeliling, mencari siapa yang tadi dilihat Fabio.Menyadari ucapannya membuat Rani terkejut, Fabio segera mengklarifikasi. “Oh, tidak. Aku sepertinya salah lihat,” katanya cepat sambil tersenyum, berusaha menenangkan.Namun Rani masih tampak gelisah. Nama Bima yang tiba-tiba disebut di tengah situasi seperti ini—di saat hubungannya dengan sang suami sedang memanas karena kedatangan ibunya dan ketidakhadiran Bima selama itu—cukup untuk membuat jantungnya berdebar tak karuan.Ia sedang lelah. Frustrasi. Hal sekecil apa pun terasa seperti ancaman besar baginya.“Mau makan dulu?” ajak Fabio, memotong kekalutan di wajah Rani.Rani menggeleng pelan. Ia tak berselera. Terlalu banyak yang memenuhi pikirannya.“Bima tidak ada, Rani.” Fabio menatapnya dalam, seolah mampu membaca apa yang berkecamuk di benaknya.Rani menghela napas berat. “Kita kan enggak boleh sering kelihatan berdua,” katanya pelan, memperingatkan.Fabio tertawa kecil mendengarn

  • Hasrat Liar Sahabat Suami   107. Di Terminal Bus

    “Maafkan aku untuk selama ini, ya, Bu.” Rani memandang ibunya dengan mata berkaca-kaca, suaranya bergetar menahan tangis.“Nak, kan sudah Ibu bilang, enggak usah kamu pikirkan lagi. Justru Ibu merasa bersyukur karena kamu mau menerima Ibu,” jawab sang ibu lembut, penuh pemahaman. Tangannya mengusap pipi Rani yang mulai basah.Rani menahan sesak di dadanya. Jika saja Bima bisa sedikit lebih lembut, mungkinkah ia bisa menyambut ibunya tanpa rasa bersalah seperti ini?“Kamu sebaiknya jaga dirimu. Apalagi kamu lagi hamil,” pesan ibunya, sengaja mengalihkan pikiran Rani ke hal yang lebih penting.Rani tersenyum tipis. Sampai sekarang, ia masih belum sepenuhnya bisa memikirkan kehamilannya dengan jernih. Ada kekhawatiran yang tak bisa ia definisikan—apakah ini berkat, atau justru awal dari kesialan baru?Namun melihat ibunya tampak begitu bahagia membuat hatinya sedikit lebih ringan. Mungkin kehadiran ibunya menjadi skandal dalam rumah tangganya, tetapi keberadaan anak di dalam kandungannya

  • Hasrat Liar Sahabat Suami   106. Rasanya Mual

    “Huek …,” Rani kembali merasakan dorongan kuat dari perutnya. Tenggorokannya terasa panas, perutnya melilit tak nyaman.“Rani?” Fabio terkejut, refleks langsung memperlambat laju mobil sambil mencari tempat untuk menepi. “Kamu baik-baik saja?” Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibirnya, terdengar penuh kepanikan.Rani mengetuk kaca mobil dengan tergesa, memberi isyarat agar Fabio segera berhenti. Ibu Rani langsung mendekat dari kursi belakang dan mengelus punggung putrinya pelan agar lebih rileks.Begitu mobil berhenti di pinggir jalan, Rani segera membuka pintu dan turun. Ia berlutut di pinggir got yang kering, hanya dipenuhi lumut dan sedikit sampah, lalu mencoba muntah. Namun lagi-lagi, yang keluar hanya ludah dan napas berat.“Rani!” panggil Fabio cemas saat melihatnya keluar dengan buru-buru.Ia segera menyusul turun, sementara Ibu Rani sudah lebih dulu sampai di sisi putrinya dan menenangkan Rani dengan usapan lembut di punggungnya.“Bisa muntah?” tanya ibunya, melirik go

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status