LOGINPagi itu, dunia seolah berputar bagi Sri. Sejak membuka mata, rasa mual yang hebat terus mengaduk perutnya, dan kepalanya terasa seberat batu. Namun, ia tidak punya pilihan. Bi Minah sedang pulang ke kampung untuk urusan keluarga selama beberapa hari, meninggalkan seluruh tanggung jawab dapur dan pelayanan di pundaknya. Sri berjalan tertatih, memegang dinding koridor pelayan untuk menjaga keseimbangannya. Ia tahu tubuhnya sedang memberi sinyal, namun ada bagian dari dirinya yang justru ingin ledakan ini terjadi di depan semua orang. Ia memaksakan diri memasak, mencuci, dan menyiapkan meja makan malam dengan sisa-sisa tenaganya yang kian menipis. Malam itu, suasana di ruang makan sangat formal. Nyonya Lydia duduk di kepala meja, sementara Andra dan Sarah duduk berhadapan. Mereka makan dalam keheningan yang tegang, sisa dari pertengkaran hebat masalah kalung yang hilang. Sri muncul dari dapur dengan nampan berisi mangkuk sup hangat. Langkahnya gontai, wajahnya sepucat kertas. Saat ia
Pagi itu, suasana di ruang makan terasa begitu mencekam. Sarah duduk dengan wajah pucat, matanya sembab karena pertengkaran hebat semalam tentang kalung berliannya. Di hadapannya, Nyonya Lydia duduk dengan tatapan yang jauh lebih tajam dari biasanya, seolah-olah ia bisa melihat menembus dinding rumah itu. "Sarah," buka Lydia dengan suara yang sangat tenang namun penuh tekanan. "Semalam, aku mendengar suara-suara menjijikkan dari halaman belakang. Persis di bawah pohon besar itu. Suara orang berbuat tak senonoh." Sarah tersentak, sendoknya berdenting keras menabrak piring. "Ma, apa maksud Mama? Mungkin itu hanya suara kucing atau... atau orang iseng yang mencari tempat." "Jangan bodoh, Sarah! Aku tahu bedanya suara binatang dan suara manusia yang sedang kehilangan urat malu!" bentak Lydia. "Aku mencurigai suamimu, Andra. Dan pelayan muda itu, Sri. Aku yakin mereka ada di sana semalam." Sarah terdiam sejenak, dadanya terasa sesak. "Tidak mungkin, Ma. Memang kami bertengkar hebat, ta
Malam semakin larut, namun udara di bawah pohon rindang itu seolah terbakar. Andra tidak lagi menahan diri. Frustrasi akibat masalah perusahaan dan pertengkaran dengan Sarah ia tumpahkan seluruhnya dalam setiap gerakan tubuhnya terhadap Sri. Ia mengangkat tubuh Sri, menyandarkannya pada batang pohon yang kasar, dan membiarkan hasratnya memegang kendali penuh. Andra terus membisikkan kata-kata manis yang beracun di telinga Sri, "Kau milikku, Sri... hanya kau yang mengerti aku. Aku tidak akan membiarkan siapa pun memisahkan kita." Sri tidak mampu lagi menjawab dengan kata-kata. Kepalanya mendongak ke arah rimbunnya dedaunan, matanya terpejam rapat saat ia merasakan hentakkan Andra yang begitu intens dan memabukkan. Desahan kencang lolos begitu saja dari bibirnya, menggema di kesunyian halaman belakang. Setiap sentuhan Andra terasa seperti sengatan listrik yang melumpuhkan akal sehatnya. Di balik kabut gairah itu, Sri menyadari sesuatu yang mengerikan, ia mulai candu. Berapa kali pun
Hari yang dilalui Andra terasa seperti lari maraton di atas bara api. Penjualan lahan di Bogor terhambat masalah birokrasi, dan calon pembeli apartemennya tiba-tiba menarik diri. Waktu terus berdetak, dan auditor perusahaan tidak akan menunggu. Dalam kepanikan yang memuncak, Andra melakukan hal yang paling rendah yang pernah ia bayangkan: ia mencuri dari istrinya sendiri. Ia mengambil kalung berlian seharga ratusan juta milik Sarah dari brankas pribadi mereka, hadiah yang dulu ia berikan dengan penuh kemunafikan. Ia menjualnya ke penadah barang mewah dengan harga jatuh, hanya demi menambal lubang kas perusahaan sebelum Nyonya Lydia menghancurkannya. Malam harinya, badai meledak di kamar utama. Sarah menyadari perhiasan berharganya raib. "Kau menjualnya, Andra?! Itu hadiah ulang tahunku! Bagaimana bisa kau sekecil itu sampai mencuri perhiasan istrimu sendiri?!" teriak Sarah dengan suara melengking yang membelah keheningan malam. "Aku akan menggantinya, Sarah! Aku sedang terdesak! I
Pukul lima pagi. Udara di area belakang rumah keluarga Pratama masih terasa menggigit, namun di dalam ruangan cuci yang lembap di dekat dapur, atmosfer terasa begitu panas dan menyesakkan. Di balik pintu kayu yang tertutup rapat, Andra memojokkan Sri ke dinding keramik yang dingin. Napasnya memburu, bau alkohol dari malam sebelumnya masih samar-samar tercium, bercampur dengan aroma parfum maskulin yang kini terasa begitu liar. Andra mencium Sri dengan penuh hasrat, seolah-olah ia sedang mencoba menyedot seluruh energi kehidupan dari wanita itu untuk menutupi kehampaan jiwanya akibat masalah kantor. Ciumannya tidak lagi lembut, itu adalah ciuman seorang pria yang sedang frustrasi dan terdesak. Andra menggigit bibir bawah Sri dengan cukup keras hingga wanita itu merintih pelan, meninggalkan bekas kemerahan yang berdenyut, sebuah tanda kepemilikan yang berbahaya. "Hanya kau, Sri... hanya kau yang bisa menenangkanku," bisik Andra parau di sela cumbuannya. Tangannya yang gemetar merayap
Kantor pusat Pratama Group yang biasanya menjadi tempat Andra memamerkan kekuasaannya, kini terasa seperti penjara. Di atas meja kerjanya, tumpukan dokumen audit internal dan kontrak kerjasama terbengkalai. Pikiran Andra tidak lagi berada pada angka-angka pertumbuhan perusahaan, melainkan pada aroma tubuh Sri dan rencana-rencana rahasia untuk memanjakan wanita itu. Fokusnya benar-benar hancur. Karena rasa bersalah dan cintanya yang obsesif, Andra baru saja melakukan kesalahan fatal. Ia menandatangani kontrak pengadaan bahan baku dengan vendor yang tidak kredibel tanpa memeriksa detail klausulnya. Kesalahan itu berpotensi merugikan perusahaan dalam jumlah miliaran rupiah. Namun, yang lebih berbahaya adalah tangannya yang kini mulai bermain lebih jauh dengan kas perusahaan. Andra membuka laci mejanya, menatap buku cek pribadi yang terhubung dengan akun dana darurat perusahaan. Ia menarik napas panjang, lalu mulai menuliskan nominal yang fantastis. Lagi... aku melakukannya lagi, bati







