Beranda / Romansa / Hasrat Terpendam Papa Tiriku / Bab 110. Noda Di Solaire.

Share

Bab 110. Noda Di Solaire.

Penulis: eslesta
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-12 21:21:17

Olivia menatap layar laptopnya tanpa benar-benar melihat apa pun. Deretan angka di kolom laporan mingguan tampak jelas, tapi kepalanya kosong. Kursor berkedip pelan di satu sel Excel yang terabaikan, pikirannya terus berputar pada satu hal yang sama sejak semalam.

Dua garis yang tak pernah muncul.

Hasil testpack itu kembali terbayang. Negatif, dan kata itu sederhana tapi terasa berat di dada Olivia.

Tangannya berhenti di atas keyboard. Ia menelan ludah, mencoba memaksa fokus, tapi bayangan wajah Adrian dan senyumnya yang selalu sabar, malah membuat hatinya semakin menciut.

“Via, mau makan siang di mana?”

Suara Ayu menyelusup tiba-tiba, memecah ruang sunyi di kepalanya. Olivia tidak menjawab. Pandangannya masih lurus ke layar, tak berkedip.

Ayu mengernyit. “Via?”

Olivia tersentak. “Eh—apa, Yu?”

“Kamu lagi ngelamun, ya?”

“Nggak kok,” sangkal Olivia, buru-buru menarik sudut bibirnya membentuk senyum tipis. “Ada apa? Tadi kamu nanya apa?” Ia menunjuk layar laptop. “Aku l
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Hasrat Terpendam Papa Tiriku   Bab 111. Semua Pasti Akan Baik-baik Saja.

    Adrian melirik ke arah dapur. Pintu akses sudah tertutup rapat. Para pegawai bergerak cepat dengan langkah terkoordinasi, suara instruksi saling bersahutan pendek, menandakan SOP berjalan sesuai prosedur.Di bagian depan, Renata sudah lebih dulu sigap. Ia mencondongkan tubuh ke meja terdekat dari lintasan tikus tadi. Di sana, seorang ibu paruh baya duduk kaku, tas bermerek dipeluk erat di pangkuannya. Wajahnya pucat, matanya membesar, napasnya belum sepenuhnya stabil.“Kami mohon maaf sebesar-besarnya, Bu,” ujar Renata dengan suara lembut namun tegas, nada yang biasa dipakai untuk menenangkan situasi genting. “Kami paham ini mengejutkan. Mohon beri kami waktu sebentar. Kami akan pastikan keamanan dan kenyamanan Ibu.”“Ini tidak bisa ditoleransi,” balas sang ibu, suaranya bergetar antara marah dan takut. “Restoran seperti ini, dengan harga mahal, masa ada tikus?”Renata mengangguk, menerima kemarahan itu tanpa menyela. “Kami bertanggung jawab penuh, Bu. Untuk sementara, mohon Ibu pinda

  • Hasrat Terpendam Papa Tiriku   Bab 110. Noda Di Solaire.

    Olivia menatap layar laptopnya tanpa benar-benar melihat apa pun. Deretan angka di kolom laporan mingguan tampak jelas, tapi kepalanya kosong. Kursor berkedip pelan di satu sel Excel yang terabaikan, pikirannya terus berputar pada satu hal yang sama sejak semalam. Dua garis yang tak pernah muncul. Hasil testpack itu kembali terbayang. Negatif, dan kata itu sederhana tapi terasa berat di dada Olivia. Tangannya berhenti di atas keyboard. Ia menelan ludah, mencoba memaksa fokus, tapi bayangan wajah Adrian dan senyumnya yang selalu sabar, malah membuat hatinya semakin menciut. “Via, mau makan siang di mana?” Suara Ayu menyelusup tiba-tiba, memecah ruang sunyi di kepalanya. Olivia tidak menjawab. Pandangannya masih lurus ke layar, tak berkedip. Ayu mengernyit. “Via?” Olivia tersentak. “Eh—apa, Yu?” “Kamu lagi ngelamun, ya?” “Nggak kok,” sangkal Olivia, buru-buru menarik sudut bibirnya membentuk senyum tipis. “Ada apa? Tadi kamu nanya apa?” Ia menunjuk layar laptop. “Aku l

  • Hasrat Terpendam Papa Tiriku   Bab 109. Harapan Yang Pupus.

    “Hamil?” suara Adrian terdengar pelan, setelah beberapa saat keheningan menggantung di antara mereka. Olivia menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering, sementara perutnya kembali bergejolak halus dan itu sebenarnya bukan sakit, lebih seperti peringatan yang samar tapi mengganggu. “Apa iya, Mas?” tanyanya lirih, masih tak percaya. Adrian menggenggam tangan Olivia dengan lembut, hangat. Ibu jarinya bergerak pelan di punggung tangan itu, mencoba menebar ketenangan. “Kita belum tahu, Sayang. Tapi nggak ada salahnya kita coba test. Gimana?” Olivia menunduk. Rasa mual itu datang lagi, membuat dadanya terasa sesak. “Kapan terakhir haid kamu?” tanya Adrian, suaranya lebih lembut dan tenang, berusaha menyusun rasional di tengah kebimbangan. “Tanggal berapa? Biasanya berapa lama?” “Tanggal lima belas,” jawab Olivia pelan. “Lima hari.” Adrian terdiam sejenak. Alisnya berkerut ringan, menghitung di kepalanya. “Berarti… waktu kita menikah itu dua minggu setelah haid kamu selesai.” Ia meng

  • Hasrat Terpendam Papa Tiriku   Bab 108. Apakah Suatu Pertanda?

    Olivia melirik ke samping, memperhatikan jemari Mariska yang mantap menggenggam setir. Jalanan siang itu cukup lengang dan sahabatnya itu tetap fokus menembus deretan ruko dan bangunan tua yang mereka lewati satu per satu.Mereka sedang dalam perjalanan meninjau beberapa lokasi yang dipertimbangkan Mariska untuk usaha kafenya.“Ris,” panggil Olivia akhirnya, memecah keheningan. “Lo yakin mau buka kafe? Lo kan nggak pernah benar-benar terjun di dunia itu. Keluarga lo dari dulu di pendidikan. Kenapa nggak sekalian pegang salah satu yayasan papa lo?”Mariska tidak langsung menjawab. Senyum tipis terbit di sudut bibirnya, seolah pertanyaan itu sudah sering ia dengar dan sudah lama ia siapkan jawabannya.“Gue nggak pernah ngerasa hidup di dunia pendidikan, Via. Biar Papa sama Mama aja yang sibuk di sana.”Olivia menghela napas pelan. “Tapi lo anak satu-satunya, Ris. Cepat atau lambat, semuanya bakal jatuh ke tangan lo.”Mariska terkekeh kecil, matanya tetap menatap lurus ke depan. “Justru

  • Hasrat Terpendam Papa Tiriku   Bab 107. Yang Sudah Memeluk, dan Yang Masih Mendekat.

    Pagi itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Cahaya matahari baru saja merayap di permukaan kolam renang. Adrian bersandar di kursi malasnya, menatap Olivia yang duduk tak jauh darinya. Rambut istrinya tergerai bebas, kulitnya disapa lembut cahaya pagi, namun sorot matanya tampak sedikit redup. “Kamu capek, Sayang?” tanya Adrian pelan. “Hmm? Eh? Duh, apa, Mas?” Olivia menoleh, seolah baru tersadar. Pantulan air kolam menari di wajahnya. “Nah, kan,” Adrian menggeser tubuhnya, tak lagi bersandar. “Aku cuma nanya, kok kamu kelihatan bingung.” Olivia tersenyum tipis, senyum yang lebih seperti usaha daripada ekspresi bahagia. “Iya, Mas… sedikit.” “Lagi pikirin apa, Sayang?” “Pekerjaan di kantor lagi ramai banget. Untung ada Ayu sama Rayhan. Kalau nggak, mungkin aku sudah tumbang.” Adrian berpindah ke kursi malas Olivia. Ruang sempit itu justru membuat mereka terasa semakin dekat. Tanpa sadar, Olivia menyandarkan kepalanya di lengan Adrian, menikmati detak jantung suaminya yang stabil.

  • Hasrat Terpendam Papa Tiriku   Bab 106. Harga Sebuah Kepercayaan.

    Olivia berdiri di depan lobi kantor PT. Fast Track, membiarkan hembusan angin sore mengibaskan ujung rambutnya. Pandangannya mengikuti arus mobil yang keluar-masuk area lobi, tapi tak satu pun berhenti terlalu lama. Jam di pergelangan tangannya kembali ia lirik.“Tadi katanya udah dekat,” gumamnya pelan, nyaris kalah oleh deru mesin kendaraan. “Kok sepuluh menit belum kelihatan, sih…”Ia meraih ponsel, ibu jarinya sudah siap menyentuh nama Adrian, ketika sebuah mobil familiar berbelok memasuki gerbang gedung perkantoran. Sorot matanya langsung berubah cerah.“Ah, itu dia.”Begitu mobil melambat di depannya, Olivia melangkah cepat, lalu membuka pintu penumpang.“Hai, Mas. Kok lama?” katanya sambil duduk dan menarik sabuk pengaman.Adrian menghela napas pendek, tangannya masih mantap di kemudi. “Tadi ada keributan di halte depan. Aku mau ambil jalur kiri, tapi nggak bisa. Macet total.”“Keributan apa?”“Jambret ketahuan. Dicegat warga,” jawab Adrian singkat, lalu menginjak pedal gas per

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status