MasukSuara televisi menyala pelan di ruang keluarga, mengisi keheningan pagi itu. Gista duduk bersandar santai di sofa, matanya terpaku pada layar yang menayangkan drama keluarga. Ia menarik napas dalam-dalam, malas beranjak seperti biasanya ke toko perabotan keluarga. Hanya Wiryo, ayahnya, yang hari ini menjaga warisan usaha keluarga, sementara Nevan dan Rika bermain di ayunan besi di teras.
Tiba-tiba, getaran ponsel di meja memecah kesunyian. Jantung Gista berdetak lebih cepat saat nama Adrian muncul di layar. Bibirnya membentuk senyum kecil yang sulit diartikan. Perlahan ia mengusap anak rambut di pelipis, berusaha menenangkan diri sebelum mengangkat telepon dengan suara yang dibuat setenang mungkin. "Halo, Mas." "Aku mau bicara sama Nevan. Dia ada?" Suara Adrian datar, tak hangat tapi juga tidak kasar. Seperti tembok yang mengingatkan Gista akan batas yang tak bisa ia lewati lagi. Gista mengangguk meski Adrian tak bisa melihatnya, napasnya tercekat oleh kecewa yang mulai menyusup. "Oh… iya, Nevan lagi main di luar sama Mami. Tunggu, aku panggilin." Gista berdiri dan melangkah ke pintu depan, memanggil dengan sedikit semangat yang dibuat-buat. "Nevan, sayang! Ayah kamu telpon, Nak!" Tak sampai semenit, dari sudut halaman, Nevan berlari kecil, wajahnya berseri-seri, poni tipisnya basah oleh keringat. "Beneran Ayah telpon, Bu?" tanyanya sambil meraih ponsel di tangan ibunya dengan cekatan. "Iya, tuh. Cepet, bilang halo dulu," Gista tersenyum lembut, memberi ruang. "Halo, Ayah?" suara Nevan sedikit gemetar karena girang. "Nevan, Nak," suara Adrian terdengar hangat dari seberang. "Apa kabar jagoan Ayah? Ayah kangen banget." Wajah Nevan makin cerah, tawanya pecah memenuhi udara pagi. "Nevan juga kangen Ayah!" "Kamu lagi apa, Nak?" "Lagi main di teras sama Oma. Ayah! Aku mau tunjukin sepeda baruku!" jawab Nevan bersemangat. "Sepeda baru?" "Iya! Warna hitam! Dibeliin Opa kemarin sore!" "Ayah video call ya? Biar bisa liat," suara Adrian mengalir lembut. "Iya, Ayah." Nevan buru-buru mengatur posisi kamera, tangannya gemetar sedikit karena ingin cepat memperlihatkan barang kesayangannya yang baru. "Tuh liat, Ayah! Keren kan? Mirip punya Ayah!" matanya berbinar penuh bangga. Adrian tampak tersenyum tipis dari layar. "Wah, bagus. Tapi kok masih ada rodanya dua di belakang?" "Oma bilang buat bantuin biar nggak jatuh. Tapi aku mau belajar biar bisa dilepas! Terus nanti Ayah liat aku ngebut!" "Wah, Ayah harus siap-siap ya nanti dikejar anak kesayangan Ayah pakai sepeda barunya." Suara Adrian pelan tapi terdengar jelas, sedikit melembut. Di balik punggung Nevan, Rika berdiri sambil tersenyum, memperhatikan dari jauh. Matanya sempat bertemu dengan Gista yang berdiri di ambang pintu. Rika mengangguk pelan, seolah mengerti isi hati anak perempuannya yang belum juga bisa sepenuhnya lepas dari sosok pria yang dulu ia tinggalkan saat terpuruk. Sambil menunggu panggilan itu, Gista memilih duduk di kursi teras, membiarkan Nevan duduk bersila di lantai garasi, masih memamerkan lampu sepeda dan bel yang berbunyi nyaring. Di tengah-tengah tawa kecil Nevan yang lugu, Adrian tetap tenang dan menanggapi, namun tak sekali pun ia menyapa Gista yang berada tak jauh. "Nanti kalau Ayah ke sana, kamu harus bisa naik sepeda tanpa roda bantu, ya?" tantang Adrian dengan senyum tipis. "Oke! Tapi Ayah jangan lama-lama di sini. Aku sudah rindu. Kita main bareng, Ayah bisa pakai sepeda punya Opa. Pokoknya aku kangen banget sama Ayah! Cepetan ke sini," jawab Nevan bersemangat, matanya berbinar. Adrian terdiam sesaat, lalu suaranya agak berat, "Ayah juga rindu, Nak. Ya sudah, Ayah mau kerja lagi. Nevan, baik-baik di sana sama Ibu, ya." "Iya, Ayah. Nevan jadi anak baik." "Dah, Ayah sayang Nevan." "Nevan juga," gumam Nevan pelan, sebelum panggilan berakhir. Lalu panggilan pun selesai. Nevan masih menatap layar ponsel yang kini padam, bibirnya menggumam lirih, "Kapan Ayah bisa tinggal di sini lagi sama Ibu." Gista menghela napas perlahan. Ada rasa hangat karena Adrian masih perhatian pada Nevan. Tapi juga dingin yang membekukan dadanya, karena sikap itu tak lagi ditujukan untuknya. *** Matahari mulai merunduk ke barat, sinarnya yang hangat membelai halaman rumah dengan lembut. Di bawah carport, Nevan sibuk dengan sepeda barunya. Ia berputar-putar mengitari halaman kecil itu, sesekali membunyikan bel sepeda dengan riang, lalu menoleh ke arah teras sambil sesekali memanggil sang Oma agar memperhatikan. Di teras, Gista duduk bersandar di kursi rotan coklat tua, jemarinya bergetar ringan saat memegang gelas es teh. Sesekali bibirnya menyeruput es teh, tapi matanya tetap menunduk, memandang kosong ke lantai. Di sampingnya, Rika diam sejenak, menatap anak perempuannya dengan sorot mata penuh kepedulian. "Adrian masih sama, ya," suara Rika pelan, hampir seperti gumaman, tapi cukup menusuk. Gista tak langsung menjawab, hanya mengangkat bahu tipis tanpa kata. Ia kemudian menggoyang-goyangkan sedotan di gelasnya, seolah mencari sesuatu yang hilang. Rika memiringkan tubuh sedikit ke arah Gista, suaranya melembut. "Kalau Mami lihat, kamu masih menyimpan sesuatu untuk dia." Senyum pahit Gista mengembang, tapi matanya berkaca-kaca. "Mungkin itu sebenarnya rasa bersalah karena aku dulu yang menyia-nyiakan Mas Adri, Mi." Rika menoleh, menatap lembut anak perempuannya yang dulu keras kepala itu. "Tapi manusia berubah, Ta. Kamu juga begitu. Mami tahu kamu menyesal." "Aku nyesal banget, Mi. Tapi Mas Adri dingin banget sekarang. Bahkan cuma bicara kalau itu soal Nevan." Gista menghela napas dalam. "Dan tadi tuh, aku sempat kira dia telpon buat aku. Setelah dia kehilangan istrinya itu. Aku pikir semuanya bakal beda." Rika tak buru-buru menjawab. Ia menoleh ke Nevan yang sedang berusaha memutar sepeda pelan-pelan di jalan semen. "Kalau kamu memang masih punya niat baik, coba pelan-pelan dekati dia, Ta. Nggak usah buru-buru. Mungkin dia butuh waktu. Tapi siapa tahu, kalau Tuhan memang masih izinkan, kalian bisa bersatu lagi. Demi Nevan juga. Toh kamu baru talak dua, kan?" Gista mendongak, matanya berkaca-kaca, campur aduk antara terkejut dan haru. Rika meraih tangan Gista dengan lembut, jari-jarinya menekan sedikit agar terasa hangat. "Kamu punya alasan yang kuat, anakmu. Kamu bukan orang jahat, cuma pernah salah langkah. Kalau serius, buktikan dengan tindakan. Jangan berharap semuanya langsung berubah, tapi tunjukkan kamu layak dapat kesempatan kedua." Gista menatap ibunya lama, bibirnya bergetar. "Aku boleh punya harapan lagi ya, Mi?" "Kalau niatmu tulus, dan kamu nggak cuma egois karena takut lihat dia bahagia sama orang lain, kamu selalu boleh berharap." Gista tertunduk sebentar, lalu mendongak. Di matanya, ada semacam api kecil yang baru saja dinyalakan kembali. Gista menatap jauh ke arah halaman rumah. Suara tawa Nevan terdengar riang, menaiki sepeda barunya mengelilingi carport sambil terus memanggil seolah Adrian ikut bermain bersamanya. "Ayah! Ayah!" Suara itu menusuk hatinya, mengingatkan betapa kosongnya tempat itu tanpa Adrian. "Nevan butuh Ayahnya," gumam Gista pelan, suaranya nyaris terselip kesedihan. "Aku sedih setiap kali dia tanya kapan Ayah tinggal di sini, kenapa aku nggak kayak teman-temannya." Tangannya meremas kain baju seolah mencari kekuatan. "Mungkin aku harus mulai dari hal kecil. Nggak bisa langsung minta dia kembali. Tapi aku ingin dia ingat, kenapa dulu dia sayang sama aku, Mi." Rika tersenyum lembut, menatap Gista dengan penuh pengertian. "Mami dukung kamu. Tapi jangan dipaksa kalau memang bukan jalannya. Kalau bukan, ya lepaskan dengan lapang dada. Tapi kalau kamu belum coba, kamu nggak akan pernah tahu. Mungkin kepergian istri Adrian setelah akad nikah kemarin justru petunjuk Tuhan, agar kamu berani kejar cinta mantan suamimu lagi." Gista mengangguk pelan, hatinya mulai merangkai harapan yang lama terkubur. Di bawah sana, tawa Nevan terus menggema, menjadi alasan sekaligus beban yang membuat dada Gista sesak, menyesal akan sikap egoisnya dulu yang membuat rumah tangganya retak. Kini, Nevanlah yang harus menanggung sakit itu. "Aku pasti bisa dapatkan cinta kamu kembali, Mas. Bisa!" batin Gista. *** Olivia berdiri di depan cermin, mengenakan blouse putih bersih dan rok selutut berwarna khaki yang baru disetrika semalam. Hari ini menandai satu minggu ia bekerja di Fast Track, dan entah kenapa, ia ingin terlihat lebih rapi dari biasanya. Olivia menatap pantulan dirinya di cermin. Semuanya hampir sempurna kecuali satu, kancing mungil di bagian belakang leher bajunya sulit sekali dijangkau. Lengan kiri terangkat, bahu diputar penuh usaha, tapi tetap saja kancing itu menolak untuk terpasang dengan sempurna. "Duh, kenapa pilih blouse seperti ini, sih?! Kenapa juga harus ada dua kancing berderet. Satu aja bikin susah," gerutu Olivia sambil mencoba melihat bagian belakang blousenya di cermin. Di ambang pintu yang terbuka lebar, Adrian muncul dengan santai, mengetuk pelan sambil bersandar pada kusen. "Via, udah siap?" suaranya lembut, namun penuh perhatian. "Hari ini aku nggak ada meeting pagi, jadi bisa nganter kamu." Olivia hampir melonjak karena terkejut. Ia buru-buru menutup kancing yang bisa ia jangkau dan menoleh cepat. "Iya, Om! Eh, hampir. Bentar ya," katanya cepat, mencoba menyembunyikan kegugupan. Adrian melangkah pelan memasuki kamar, matanya langsung menangkap tangan Olivia yang masih canggung menjangkau kancing di belakang lehernya. "Kamu kesulitan, ya?" tanyanya, bibirnya membentuk senyum tipis. "Sini, biar aku bantu." Olivia sempat membuka mulut ingin menolak, tapi akhirnya cuma mengangguk pelan. Kepalanya menunduk sedikit, memberi ruang bagi Adrian berdiri di belakang, jari-jarinya yang cekatan segera merapikan kancing-kancing kecil itu Jarak mereka begitu dekat, napas hangat Adrian menyentuh tengkuk Olivia, membuat jantung gadis itu berdetak lebih cepat dari biasanya. Ia mencoba mengendalikan diri, walau perasaan aneh terus menjalari tubuhnya. Dari belakang, suara Adrian pelan menyapa, "Udah seminggu kerja di Fast Track ya? Gimana suasananya? Ibu Laras masih galak?" Olivia membalas dengan senyum yang agak kaku. "Sedikit, Om. Tapi wajar sih, namanya juga atasan. Mas Bastian justru lebih santai." Matanya menatap kosong ke arah lain. "Kalau yang ganggu-ganggu gimana? Ada, nggak?" tanya Adrian, jari-jarinya tak henti merapikan kancing terakhir. "Enggak ada, Om. Cuma masih adaptasi," jawab Olivia singkat. "Teman-teman kamu gimana?" suara Adrian penuh rasa ingin tahu. "Mereka baik." "Siapa namanya? Aku lupa." "Rayhan dan Ayu, Om." "Rayhan ganteng?" "Eum, iya," jawabnya pelan sambil tersenyum kecil. "Tapi dia bukan tipeku." "Oo begitu. Tipe laki-laki kamu seperti apa?" tanya Adrian, tersenyum setelah berhasil mengancingkan blouse Olivia. Olivia menelan salivanya, ingin menjawab tapi justru matanya terpaku pada gelas yang ada di meja rias. Ia meraih gelas itu untuk minum dan tanpa sadar tangannya gemetar. Tiba-tiba gelas itu terpeleset, jatuh dengan keras. Serpihan kaca bercampur air putih berserakan, Olivia panik hendak mengambil tisu namun satu potong pecahan besar, melukainya di telapak kaki. "Aduh..." Olivia mengerang, langkahnya limbung mundur, wajahnya memerah menahan nyeri. Adrian spontan menunduk, pandangannya tertuju pada darah merah yang mulai muncul di kaki Olivia. "Duduk dulu. Kamu kena beling," suara Adrian berubah serius, ia menarik kursi kecil dekat tempat tidur dan mempersilakan Olivia duduk. Tanpa berkata banyak, ia membuka laci dan mengambil tisu serta botol antiseptik. Adrian berjongkok di depan Olivia, tangannya bergerak ringan dan penuh keyakinan saat membersihkan luka itu. Sentuhannya lembut, tidak canggung sama sekali, seolah sudah biasa merawat luka dengan perhatian tulus. Olivia duduk terpaku, tubuhnya yang tadinya tegang mulai rileks. Matanya menelusuri gerak tangan kekar Adrian yang terbalut urat-urat halus, sesekali ia mengangkat pandangannya untuk menatap wajah pria itu, wajah yang hari ini tampak jauh lebih tenang dari biasanya. "Om, sudah cukup. Aku bisa sendiri," suaranya nyaris tak terdengar, seperti takut mengganggu suasana. Adrian merunduk, jari-jarinya lincah menempelkan plester pada luka kecil Olivia. "Aku tahu kamu bisa obati luka ini sendiri. Tapi bukan berarti kamu harus terus sendiri," bisiknya penuh pengertian. Olivia tak menjawab, hanya menyimpan kata-kata itu dalam-dalam. "Kalau kamu kesulitan di kantor, atau apa pun itu, kamu boleh cerita. Aku pasti dengarkan, apapun itu, Via," Adrian menambahkan pelan. Luka itu kini telah tertutup rapi. Adrian berdiri dan mengulurkan tangannya, memberi sinyal untuk bangkit. Olivia menggapai tangan itu dengan ringan, tapi hangatnya sentuhan membuat dadanya sedikit melunak. "Makasih, Om," ucapnya singkat, tapi tulus. "Sama-sama, Via," jawab Adrian sambil tersenyum tipis. Pria tampan itu membuka pintu kamar dan mengajak, "Ayo kita berangkat, nanti kamu telat. Biar nanti Bik Surti yang bersihkan lantai itu." "Iya Om," gumamnya buru-buru, lalu berdiri sambil mengambil tas. Olivia menghela napas panjang sebelum melangkah keluar kamar dengan langkah sedikit pincang, namun anehnya, hatinya terasa lebih ringan dari pagi sebelumnya. Bersambung...Aroma nasi goreng yang hangat memenuhi ruang makan, tapi entah kenapa udara di sana terasa dingin dan kaku. Olivia menundukkan kepala, jemarinya saling meremas di bawah meja, seolah mencari pegangan. Di seberangnya, Adrian dengan cepat menyendok nasi goreng, matanya tak pernah menatap wajah Olivia. Sendoknya malah sibuk memindahkan potongan cabai merah dari piring satu per satu, tanpa semangat. “Kamu yakin udah kuat kerja?” Adrian bertanya tiba-tiba, suaranya datar dan seolah cuma rutinitas. Olivia mengangguk pelan, memaksakan senyum yang hampir tidak sampai ke matanya. “Yakin, Mas. Aku nggak enak udah seminggu nggak masuk. Ayu sama Rayhan pasti kewalahan. Bu Laras juga.” Dia menyuap nasi dengan gerakan lambat. Rasa mual menyergap pelan, seperti gelombang kecil yang siap membesar kapan saja. Tangannya refleks bergerak ke perutnya di bawah meja, menahannya. “Kalau belum kuat, di rumah aja,” Adrian menjawab ringan, kata-katanya terdengar seperti sekadar formalitas. “Bu Laras pasti
“Pak Adrian.” Suara itu memecah keheningan dari dengung pelan pendingin ruangan dan bunyi ketikan yang tak henti sejak pagi. Adrian hanya melirik sekilas ke arah Renata yang duduk di seberang meja, lalu kembali menatap layar laptopnya. Deretan angka merah memenuhi kolom laporan keuangan. Grafik yang biasanya naik stabil kini menukik tajam seperti tebing curam. “Maaf, Pak. Saya baru dapat info. Pihak akun gosip minta dua puluh lima juta untuk takedown video.” Jari Adrian berhenti mengetik. “Hah? Semahal itu?!” Kepalanya terangkat cepat. Renata mengangguk. “Awalnya bahkan mereka minta di lima puluh.” Adrian mendengus kasar. Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi, tangan menyilang di dada. “Ngaco.” Rahangnya mengeras. Tatapannya kembali ke layar, pada angka kerugian yang sudah membuat pelipisnya berdenyut sejak seminggu terakhir. “Jadi gimana, Pak?” “Satu juta. Maksimal.” Ucapannya tegas. “Kalau nggak mau, biarkan saja. Video itu sudah telanjur menyebar. Sekarang yang penting kita pu
Olivia membuka mata perlahan. Langit kamar masih pucat kebiruan. Jam digital di nakas menyala redup: 06.02.Napasnya tiba-tiba terasa sesak, seolah ada beban berat yang mendesak dari dalam perutnya, menekan hingga dada ikut sesak.Sebelum sempat berpikir, gelombang mual itu menyergap tanpa ampun.Ia segera bangkit, hampir tersandung selimut sendiri. Tangannya menutup mulut, menahan cairan asam yang naik ke tenggorokan. Kakinya bergegas menuju kamar mandi.Tubuhnya membungkuk di depan kloset.“Ukh—”suara serak keluar bersamaan dengan muntahan sisa makanan yang tumpah.Beberapa detik berlalu, perutnya seperti dikuras hingga hanya tersisa cairan bening yang terasa sangat asam, menusuk sampai ke ujung hidungnya.Dadanya naik turun tak beraturan, tenggorokannya terasa terbakar. Air mata mengalir begitu saja, refleks tubuh yang tersiksa.“Ya Tuhan…” lirihnya lemah di sela batuk keras.Tubuhnya gemetar, tangannya mencari sesuatu untuk berpegangan dan menemukan tepi wastafel. Jemarinya memut
Kelopak mata Olivia terbuka perlahan, menolak sepenuhnya menerima siang yang beranjak sore. Cahaya temaram keemasan merayap lewat tirai, menyelimuti tubuhnya dengan kehangatan yang terasa asing. Tanpa berpikir panjang, tangannya bergerak otomatis meraih ponsel di atas nakas.Layar menyala, matanya terpaku pada jam di sudut layar: 17.03.Dadanya mengempis pelan. Ponselnya sepi dari notifikasi ataupun panggilan tak terjawab dari Adrian. Padahal sejak siang, ia sudah menelpon berkali-kali dan mengirim pesan, tapi ada balasan dari Adrian yang dinantinya.“Ya ampun… sibuk banget sih kamu?” gumamnya dengan suara serak.Tiba-tiba ponselnya bergetar, membuat Olivia terkejut. Jantungnya melonjak, berharap ada sesuatu yang berbeda. Namun saat nama “Mama Erika” terpampang di layar, bahunya kembali turun dengan lemas.Ia menarik napas dalam dan menyeka wajahnya. “Halo, Ma…” suaranya lirih, terdengar lebih rapuh dari yang ia duga.“Via? Kamu sakit?” Erika langsung terdengar cemas. “Suara kamu sera
Sendok itu terlepas dari jemari Olivia dan berdenting pelan di tepi mangkuk bakso. Kuah yang masih mengepul tiba-tiba terasa amis di hidungnya. Perutnya seperti diperas dari dalam. Tanpa sepatah kata, ia menutup mulut dan berdiri terlalu cepat hingga kursinya bergeser keras. “Via?” panggil Ayu, sendoknya masih menggantung di udara. Olivia tak menjawab. Ia berlari keluar pantri, satu tangan menekan bibir, tangan lain memegangi perutnya yang bergolak. Rayhan yang baru masuk hampir bertabrakan dengannya. “Eh, kenapa tuh?” “Nggak tahu,” jawab Ayu sambil menatap mangkuk Olivia yang tinggal beberapa butir bakso. “Tadi masih makan biasa…” “Mukanya pucat banget,” gumam Rayhan, ikut menoleh ke arah pintu. Seorang perempuan di ujung meja mengangkat wajahnya. “Mbak Olivia lagi hamil, kan?” “Iya, Bu Meli,” sahut Rayhan sambil menarik kursi. “Oh, ya pantesan. Trimester pertama memang begitu. Mualnya bisa datang tiba-tiba. Bau makanan sedikit saja langsung berontak.” Ayu menepuk dahinya
Malam itu, ruang kerja Adrian tampak gelap, seolah mencerminkan perasaannya yang suram beberapa hari terakhir. Entah kenapa, layar laptop di depannya terasa begitu menyilaukan.Ia duduk tegak di kursi, rahangnya mengeras menahan emosi. Di layar, video klarifikasi dari akun resmi Solaire diputar ulang. Wajahnya sendiri muncul di sana dengan penampilan rapi, formal, dan suara yang dibuat setenang mungkin.“Kami dari manajemen Solaire memohon maaf sebesar-besarnya atas kejadian tidak nyaman beberapa hari lalu…”“Kami telah melakukan pembersihan menyeluruh, bekerja sama dengan pihak pengendalian hama profesional…”“Kami menjamin standar kebersihan kami akan ditingkatkan secara ketat…”Potongan suara itu berasal dari video berdurasi dua menit empat belas detik. Dua menit empat belas detik yang terasa sia-sia.Kolom komentar di bawahnya terus bergerak, dibanjiri komentar pedas.“Cih! Maaf doang nggak cukup.”“Udah terlanjur jijik.”“Kalau nggak viral, nggak bakal minta maaf.”“Fix blacklist







