Home / Romansa / Hasrat Terpendam Papa Tiriku / Bab 13. Berharap Kembali.

Share

Bab 13. Berharap Kembali.

Author: eslesta
last update publish date: 2025-10-10 08:03:02

Suara televisi menyala pelan di ruang keluarga, mengisi keheningan pagi itu. Gista duduk bersandar santai di sofa, matanya terpaku pada layar yang menayangkan drama keluarga. Ia menarik napas dalam-dalam, malas beranjak seperti biasanya ke toko perabotan keluarga. Hanya Wiryo, ayahnya, yang hari ini menjaga warisan usaha keluarga, sementara Nevan dan Rika bermain di ayunan besi di teras.

Tiba-tiba, getaran ponsel di meja memecah kesunyian. Jantung Gista berdetak lebih cepat saat nama Adrian muncul di layar. Bibirnya membentuk senyum kecil yang sulit diartikan.

Perlahan ia mengusap anak rambut di pelipis, berusaha menenangkan diri sebelum mengangkat telepon dengan suara yang dibuat setenang mungkin.

"Halo, Mas."

"Aku mau bicara sama Nevan. Dia ada?" Suara Adrian datar, tak hangat tapi juga tidak kasar. Seperti tembok yang mengingatkan Gista akan batas yang tak bisa ia lewati lagi.

Gista mengangguk meski Adrian tak bisa melihatnya, napasnya tercekat oleh kecewa yang mulai menyusup. "Oh… iya, Nevan lagi main di luar sama Mami. Tunggu, aku panggilin."

Gista berdiri dan melangkah ke pintu depan, memanggil dengan sedikit semangat yang dibuat-buat. "Nevan, sayang! Ayah kamu telpon, Nak!"

Tak sampai semenit, dari sudut halaman, Nevan berlari kecil, wajahnya berseri-seri, poni tipisnya basah oleh keringat. "Beneran Ayah telpon, Bu?" tanyanya sambil meraih ponsel di tangan ibunya dengan cekatan.

"Iya, tuh. Cepet, bilang halo dulu," Gista tersenyum lembut, memberi ruang.

"Halo, Ayah?" suara Nevan sedikit gemetar karena girang.

"Nevan, Nak," suara Adrian terdengar hangat dari seberang. "Apa kabar jagoan Ayah? Ayah kangen banget."

Wajah Nevan makin cerah, tawanya pecah memenuhi udara pagi. "Nevan juga kangen Ayah!"

"Kamu lagi apa, Nak?"

"Lagi main di teras sama Oma. Ayah! Aku mau tunjukin sepeda baruku!" jawab Nevan bersemangat.

"Sepeda baru?"

"Iya! Warna hitam! Dibeliin Opa kemarin sore!"

"Ayah video call ya? Biar bisa liat," suara Adrian mengalir lembut.

"Iya, Ayah."

Nevan buru-buru mengatur posisi kamera, tangannya gemetar sedikit karena ingin cepat memperlihatkan barang kesayangannya yang baru. "Tuh liat, Ayah! Keren kan? Mirip punya Ayah!" matanya berbinar penuh bangga.

Adrian tampak tersenyum tipis dari layar. "Wah, bagus. Tapi kok masih ada rodanya dua di belakang?"

"Oma bilang buat bantuin biar nggak jatuh. Tapi aku mau belajar biar bisa dilepas! Terus nanti Ayah liat aku ngebut!"

"Wah, Ayah harus siap-siap ya nanti dikejar anak kesayangan Ayah pakai sepeda barunya." Suara Adrian pelan tapi terdengar jelas, sedikit melembut.

Di balik punggung Nevan, Rika berdiri sambil tersenyum, memperhatikan dari jauh. Matanya sempat bertemu dengan Gista yang berdiri di ambang pintu. Rika mengangguk pelan, seolah mengerti isi hati anak perempuannya yang belum juga bisa sepenuhnya lepas dari sosok pria yang dulu ia tinggalkan saat terpuruk.

Sambil menunggu panggilan itu, Gista memilih duduk di kursi teras, membiarkan Nevan duduk bersila di lantai garasi, masih memamerkan lampu sepeda dan bel yang berbunyi nyaring. Di tengah-tengah tawa kecil Nevan yang lugu, Adrian tetap tenang dan menanggapi, namun tak sekali pun ia menyapa Gista yang berada tak jauh.

"Nanti kalau Ayah ke sana, kamu harus bisa naik sepeda tanpa roda bantu, ya?" tantang Adrian dengan senyum tipis.

"Oke! Tapi Ayah jangan lama-lama di sini. Aku sudah rindu. Kita main bareng, Ayah bisa pakai sepeda punya Opa. Pokoknya aku kangen banget sama Ayah! Cepetan ke sini," jawab Nevan bersemangat, matanya berbinar.

Adrian terdiam sesaat, lalu suaranya agak berat, "Ayah juga rindu, Nak. Ya sudah, Ayah mau kerja lagi. Nevan, baik-baik di sana sama Ibu, ya."

"Iya, Ayah. Nevan jadi anak baik."

"Dah, Ayah sayang Nevan."

"Nevan juga," gumam Nevan pelan, sebelum panggilan berakhir.

Lalu panggilan pun selesai. Nevan masih menatap layar ponsel yang kini padam, bibirnya menggumam lirih, "Kapan Ayah bisa tinggal di sini lagi sama Ibu."

Gista menghela napas perlahan. Ada rasa hangat karena Adrian masih perhatian pada Nevan. Tapi juga dingin yang membekukan dadanya, karena sikap itu tak lagi ditujukan untuknya.

***

Matahari mulai merunduk ke barat, sinarnya yang hangat membelai halaman rumah dengan lembut. Di bawah carport, Nevan sibuk dengan sepeda barunya. Ia berputar-putar mengitari halaman kecil itu, sesekali membunyikan bel sepeda dengan riang, lalu menoleh ke arah teras sambil sesekali memanggil sang Oma agar memperhatikan.

Di teras, Gista duduk bersandar di kursi rotan coklat tua, jemarinya bergetar ringan saat memegang gelas es teh. Sesekali bibirnya menyeruput es teh, tapi matanya tetap menunduk, memandang kosong ke lantai. Di sampingnya, Rika diam sejenak, menatap anak perempuannya dengan sorot mata penuh kepedulian.

"Adrian masih sama, ya," suara Rika pelan, hampir seperti gumaman, tapi cukup menusuk.

Gista tak langsung menjawab, hanya mengangkat bahu tipis tanpa kata. Ia kemudian menggoyang-goyangkan sedotan di gelasnya, seolah mencari sesuatu yang hilang.

Rika memiringkan tubuh sedikit ke arah Gista, suaranya melembut. "Kalau Mami lihat, kamu masih menyimpan sesuatu untuk dia."

Senyum pahit Gista mengembang, tapi matanya berkaca-kaca. "Mungkin itu sebenarnya rasa bersalah karena aku dulu yang menyia-nyiakan Mas Adri, Mi."

Rika menoleh, menatap lembut anak perempuannya yang dulu keras kepala itu. "Tapi manusia berubah, Ta. Kamu juga begitu. Mami tahu kamu menyesal."

"Aku nyesal banget, Mi. Tapi Mas Adri dingin banget sekarang. Bahkan cuma bicara kalau itu soal Nevan." Gista menghela napas dalam. "Dan tadi tuh, aku sempat kira dia telpon buat aku. Setelah dia kehilangan istrinya itu. Aku pikir semuanya bakal beda."

Rika tak buru-buru menjawab. Ia menoleh ke Nevan yang sedang berusaha memutar sepeda pelan-pelan di jalan semen. "Kalau kamu memang masih punya niat baik, coba pelan-pelan dekati dia, Ta. Nggak usah buru-buru. Mungkin dia butuh waktu. Tapi siapa tahu, kalau Tuhan memang masih izinkan, kalian bisa bersatu lagi. Demi Nevan juga. Toh kamu baru talak dua, kan?"

Gista mendongak, matanya berkaca-kaca, campur aduk antara terkejut dan haru.

Rika meraih tangan Gista dengan lembut, jari-jarinya menekan sedikit agar terasa hangat. "Kamu punya alasan yang kuat, anakmu. Kamu bukan orang jahat, cuma pernah salah langkah. Kalau serius, buktikan dengan tindakan. Jangan berharap semuanya langsung berubah, tapi tunjukkan kamu layak dapat kesempatan kedua."

Gista menatap ibunya lama, bibirnya bergetar. "Aku boleh punya harapan lagi ya, Mi?"

"Kalau niatmu tulus, dan kamu nggak cuma egois karena takut lihat dia bahagia sama orang lain, kamu selalu boleh berharap."

Gista tertunduk sebentar, lalu mendongak. Di matanya, ada semacam api kecil yang baru saja dinyalakan kembali.

Gista menatap jauh ke arah halaman rumah. Suara tawa Nevan terdengar riang, menaiki sepeda barunya mengelilingi carport sambil terus memanggil seolah Adrian ikut bermain bersamanya.

"Ayah! Ayah!"

Suara itu menusuk hatinya, mengingatkan betapa kosongnya tempat itu tanpa Adrian.

"Nevan butuh Ayahnya," gumam Gista pelan, suaranya nyaris terselip kesedihan. "Aku sedih setiap kali dia tanya kapan Ayah tinggal di sini, kenapa aku nggak kayak teman-temannya." Tangannya meremas kain baju seolah mencari kekuatan. "Mungkin aku harus mulai dari hal kecil. Nggak bisa langsung minta dia kembali. Tapi aku ingin dia ingat, kenapa dulu dia sayang sama aku, Mi."

Rika tersenyum lembut, menatap Gista dengan penuh pengertian. "Mami dukung kamu. Tapi jangan dipaksa kalau memang bukan jalannya. Kalau bukan, ya lepaskan dengan lapang dada. Tapi kalau kamu belum coba, kamu nggak akan pernah tahu. Mungkin kepergian istri Adrian setelah akad nikah kemarin justru petunjuk Tuhan, agar kamu berani kejar cinta mantan suamimu lagi."

Gista mengangguk pelan, hatinya mulai merangkai harapan yang lama terkubur.

Di bawah sana, tawa Nevan terus menggema, menjadi alasan sekaligus beban yang membuat dada Gista sesak, menyesal akan sikap egoisnya dulu yang membuat rumah tangganya retak. Kini, Nevanlah yang harus menanggung sakit itu.

"Aku pasti bisa dapatkan cinta kamu kembali, Mas. Bisa!" batin Gista.

***

Olivia berdiri di depan cermin, mengenakan blouse putih bersih dan rok selutut berwarna khaki yang baru disetrika semalam. Hari ini menandai satu minggu ia bekerja di Fast Track, dan entah kenapa, ia ingin terlihat lebih rapi dari biasanya.

Olivia menatap pantulan dirinya di cermin. Semuanya hampir sempurna kecuali satu, kancing mungil di bagian belakang leher bajunya sulit sekali dijangkau. Lengan kiri terangkat, bahu diputar penuh usaha, tapi tetap saja kancing itu menolak untuk terpasang dengan sempurna.

"Duh, kenapa pilih blouse seperti ini, sih?! Kenapa juga harus ada dua kancing berderet. Satu aja bikin susah," gerutu Olivia sambil mencoba melihat bagian belakang blousenya di cermin.

Di ambang pintu yang terbuka lebar, Adrian muncul dengan santai, mengetuk pelan sambil bersandar pada kusen. "Via, udah siap?" suaranya lembut, namun penuh perhatian. "Hari ini aku nggak ada meeting pagi, jadi bisa nganter kamu."

Olivia hampir melonjak karena terkejut. Ia buru-buru menutup kancing yang bisa ia jangkau dan menoleh cepat.

"Iya, Om! Eh, hampir. Bentar ya," katanya cepat, mencoba menyembunyikan kegugupan.

Adrian melangkah pelan memasuki kamar, matanya langsung menangkap tangan Olivia yang masih canggung menjangkau kancing di belakang lehernya.

"Kamu kesulitan, ya?" tanyanya, bibirnya membentuk senyum tipis. "Sini, biar aku bantu."

Olivia sempat membuka mulut ingin menolak, tapi akhirnya cuma mengangguk pelan. Kepalanya menunduk sedikit, memberi ruang bagi Adrian berdiri di belakang, jari-jarinya yang cekatan segera merapikan kancing-kancing kecil itu

Jarak mereka begitu dekat, napas hangat Adrian menyentuh tengkuk Olivia, membuat jantung gadis itu berdetak lebih cepat dari biasanya. Ia mencoba mengendalikan diri, walau perasaan aneh terus menjalari tubuhnya.

Dari belakang, suara Adrian pelan menyapa, "Udah seminggu kerja di Fast Track ya? Gimana suasananya? Ibu Laras masih galak?"

Olivia membalas dengan senyum yang agak kaku. "Sedikit, Om. Tapi wajar sih, namanya juga atasan. Mas Bastian justru lebih santai." Matanya menatap kosong ke arah lain.

"Kalau yang ganggu-ganggu gimana? Ada, nggak?" tanya Adrian, jari-jarinya tak henti merapikan kancing terakhir.

"Enggak ada, Om. Cuma masih adaptasi," jawab Olivia singkat.

"Teman-teman kamu gimana?" suara Adrian penuh rasa ingin tahu.

"Mereka baik."

"Siapa namanya? Aku lupa."

"Rayhan dan Ayu, Om."

"Rayhan ganteng?"

"Eum, iya," jawabnya pelan sambil tersenyum kecil. "Tapi dia bukan tipeku."

"Oo begitu. Tipe laki-laki kamu seperti apa?" tanya Adrian, tersenyum setelah berhasil mengancingkan blouse Olivia.

Olivia menelan salivanya, ingin menjawab tapi justru matanya terpaku pada gelas yang ada di meja rias. Ia meraih gelas itu untuk minum dan tanpa sadar tangannya gemetar. Tiba-tiba gelas itu terpeleset, jatuh dengan keras. Serpihan kaca bercampur air putih berserakan, Olivia panik hendak mengambil tisu namun satu potong pecahan besar, melukainya di telapak kaki.

"Aduh..." Olivia mengerang, langkahnya limbung mundur, wajahnya memerah menahan nyeri.

Adrian spontan menunduk, pandangannya tertuju pada darah merah yang mulai muncul di kaki Olivia.

"Duduk dulu. Kamu kena beling," suara Adrian berubah serius, ia menarik kursi kecil dekat tempat tidur dan mempersilakan Olivia duduk.

Tanpa berkata banyak, ia membuka laci dan mengambil tisu serta botol antiseptik. Adrian berjongkok di depan Olivia, tangannya bergerak ringan dan penuh keyakinan saat membersihkan luka itu. Sentuhannya lembut, tidak canggung sama sekali, seolah sudah biasa merawat luka dengan perhatian tulus.

Olivia duduk terpaku, tubuhnya yang tadinya tegang mulai rileks. Matanya menelusuri gerak tangan kekar Adrian yang terbalut urat-urat halus, sesekali ia mengangkat pandangannya untuk menatap wajah pria itu, wajah yang hari ini tampak jauh lebih tenang dari biasanya.

"Om, sudah cukup. Aku bisa sendiri," suaranya nyaris tak terdengar, seperti takut mengganggu suasana.

Adrian merunduk, jari-jarinya lincah menempelkan plester pada luka kecil Olivia. "Aku tahu kamu bisa obati luka ini sendiri. Tapi bukan berarti kamu harus terus sendiri," bisiknya penuh pengertian.

Olivia tak menjawab, hanya menyimpan kata-kata itu dalam-dalam.

"Kalau kamu kesulitan di kantor, atau apa pun itu, kamu boleh cerita. Aku pasti dengarkan, apapun itu, Via," Adrian menambahkan pelan.

Luka itu kini telah tertutup rapi. Adrian berdiri dan mengulurkan tangannya, memberi sinyal untuk bangkit. Olivia menggapai tangan itu dengan ringan, tapi hangatnya sentuhan membuat dadanya sedikit melunak.

"Makasih, Om," ucapnya singkat, tapi tulus.

"Sama-sama, Via," jawab Adrian sambil tersenyum tipis.

Pria tampan itu membuka pintu kamar dan mengajak, "Ayo kita berangkat, nanti kamu telat. Biar nanti Bik Surti yang bersihkan lantai itu."

"Iya Om," gumamnya buru-buru, lalu berdiri sambil mengambil tas.

Olivia menghela napas panjang sebelum melangkah keluar kamar dengan langkah sedikit pincang, namun anehnya, hatinya terasa lebih ringan dari pagi sebelumnya.

Bersambung...

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (3)
goodnovel comment avatar
eslesta
iya kak typo ternyata. udah aku revisi. makasih ya ...
goodnovel comment avatar
NING
Eh maksudnya Gista jadi Melani
goodnovel comment avatar
NING
Thor. Ada typo dikit. Napa Adrian jadi Axelio trus Gatri jadi Melani ya.
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Hasrat Terpendam Papa Tiriku   Bab 145. Tanpa Aba-aba.

    “Via!”Suara yang memanggilnya dari ujung koridor membuat Olivia menghentikan langkah. Ia menoleh, lalu seketika senyumnya merekah lebar saat melihat sosok yang begitu dikenalnya berlari kecil menghampiri.“Mariska!” serunya senang. “Kamu ngapain di sini?”Mariska langsung mengaitkan lengannya di lengan Olivia dengan akrab, hati-hati agar tidak menyenggol perut buncit sahabatnya.“Aku ada urusan sebentar sama Mas Tian.” Tatapannya turun ke perut Olivia yang sudah membesar sempurna. “Ya ampun, kamu masih masuk kerja? Emang dibolehin sama Mas Adrian?”Olivia terkekeh pelan.“Lusa aku mulai cuti melahirkan.” Tangannya refleks mengusap perutnya yang menonjol. “Perkiraan lahir sekitar sepuluh hari lagi. Kata dokter bisa lebih cepat, bisa juga mundur.”Mereka terus berjalan berdampingan menuju pantry.“Terus kenapa masih ke kantor?” Mariska menggeleng kecil. “Aku aja lihat kamu jalan begini udah deg-degan.”Olivia membuka pintu pantry lebih dulu, lalu menoleh sambil tersenyum.“Di rumah aku

  • Hasrat Terpendam Papa Tiriku   Bab 144. Suami Siaga.

    Memasuki usia kehamilan tiga puluh enam minggu, tubuh Olivia seolah melangkah ke babak baru yang jauh lebih berat. Kaki jenjangnya kini sudah tampak bengkak. Wajahnya yang dulu tirus kini membulat, dengan semburat merah muda khas ibu hamil. Perutnya membuncit sempurna, membuat setiap gerakan kecil—bangkit dari tempat tidur, membungkuk, atau bahkan sekadar berganti posisi tidur—terasa seperti perjuangan sendiri. Namun, dari semua perubahan itu, ada satu hal yang paling sering membuatnya menangis diam-diam: varises yang mulai menjalar di betisnya. Guratan kebiruan itu bukan hanya mengganggu pandangan, tapi juga membawa nyeri tiba-tiba yang menusuk dan tak kenal waktu. Setiap malam hampir pasti rasa kram datang menyerang, memaksa Olivia terbangun dalam keadaan panik. Malam ini pun sama. Jam digital di atas nakas menyala merah, menunjukkan pukul 02.03 dini hari. Olivia meringis, napasnya terengah tipis seiring rintihan lirih yang keluar dari bibirnya. "Mas..." suaranya hampir sepert

  • Hasrat Terpendam Papa Tiriku   Bab 143. Persiapan Menyambut si Kecil.

    “Mas, yang ini lucu nggak?”Suara Olivia terdengar riang dari ujung lorong perlengkapan bayi.Adrian yang sedang membolak-balik sepatu bayi mungil langsung menoleh. Di bawah lampu toko yang terang, Olivia berdiri sambil mengangkat selimut bayi bermotif rusa kecil.Adrian tersenyum tanpa sadar. “Lucu banget.”“Iya kan?” Olivia memeluk selimut itu ke dada.“Cocok buat bayi kita,” kata Adrian lembut, membuat senyum Olivia melebar.Perlahan tangan Olivia turun mengusap perutnya yang sudah membuncit sempurna di balik dress hamil berwarna krem.Usia kehamilan memasuki Delapan bulan. Sebentar lagi mereka tak perlu lagi membayangkan wajah si kecil. Mereka akan benar-benar bertemu.“Aku masih nggak percaya,” gumam Olivia pelan.“Hmm?” tanya Adrian.“Sebentar lagi kita bisa lihat wajahnya langsung,” kata Olivia, Tatapannya jatuh ke perutnya sendiri. Bibirnya melengkung lembut. “Aku udah nggak sabar banget.”Adrian menghampirinya sambil membawa sepasang kaus kaki bayi berwarna putih dengan telin

  • Hasrat Terpendam Papa Tiriku   Bab 142. Bertemu Gista.

    Sambil menunggu Adrian menebus vitamin di bagian farmasi, Olivia duduk sendiri di kursi ruang tunggu lantai tiga First Hospital. Jemarinya pelan mengusap lembar hasil USG 4 dimensi yang tadi diberikan dokter.Meski sudah sering melihat kertas itu, rasanya tetap asing di matanya. Garis-garis samar yang tak ia pahami membentang di sana, namun di salah satu sudut terlihat wajah mungil dengan hidung kecil yang membuat dada Olivia tiba-tiba penuh haru.Bibirnya melengkung tanpa sadar.Matanya perlahan menurun ke perutnya yang semakin membulat. “Sehat-sehat ya, Nak…” bisiknya lirih sambil mengusap perutnya dengan lembut. “Tiga bulan lagi, kamu akan ketemu Mama sama Papa…”Suara bising rumah sakit mendadak terasa jauh. Yang tersisa hanya debar hangat di dadanya saat membayangkan tangisan bayi yang akan memenuhi rumahnya. Ada tangan kecil yang menggenggam jarinya. Ada seseorang yang akan memanggilnya Mama. Ada makhluk kecil yang begitu bergantung padanya.Matanya sedikit berkaca.“Jangan naka

  • Hasrat Terpendam Papa Tiriku   Bab 141. Kekhawatiran Olivia.

    “Tante, minum dulu.”Suara Olivia memecah sunyi ruang keluarga yang sejak tadi hanya dipenuhi suara detik jam dinding dan gemerisik hujan di luar rumah.Ruby mengangkat wajahnya perlahan. Matanya sembab, rambutnya masih sedikit acak-acakan setelah kejadian kebakaran tadi malam. Saat melihat secangkir teh hangat di tangan Olivia, bibirnya langsung melengkung tipis.“Makasih, Via,” ucapnya lirih.Uap tipis mengepul dari cangkir keramik berwarna putih itu ketika Ruby menerimanya dengan kedua tangan. Olivia lalu duduk di sofa seberang sambil mengeratkan tali kimono satin yang membungkus tubuh hamilnya.Padahal seharusnya dia sudah tidur sejak satu jam lalu.Tapi bayangan Ruby yang kehilangan rumah sekaligus kios kecilnya terus mengusik pikirannya. Karena itu, Olivia diam-diam turun dari kamar hanya untuk memastikan tantenya baik-baik saja.Ruby meniup permukaan teh perlahan sebelum menyesapnya, matanya langsung terpejam. “Ya ampun…” napasnya keluar panjang. “Udah lama Tante nggak minum te

  • Hasrat Terpendam Papa Tiriku   Bab 140. Rahasia di Balik Kobaran Api.

    “Siapa, Mas?” suara Olivia bergetar pelan saat ia merapat ke sisi Adrian. Jemarinya refleks menggenggam lengan suaminya ketika melihat perubahan raut wajah Adrian sejak laki-laki bernama Stevan itu datang. “Kamu kenal dia?”Tatapan Adrian belum lepas dari pria muda yang kini berdiri di dekat Ruby. Wajahnya tetap tenang, tapi rahangnya menegang samar, menandakan sesuatu yang tak nyaman.“Stevan Utomo,” Adrian menjawab lirih, suaranya nyaris berbisik. “Itu nama aslinya.”Alis Olivia mengernyit, ada tanda tanya besar di matanya. “Maksud kamu?”Adrian menunduk sedikit, suaranya makin pelan. “Dia sepupu jauh Gista. Dulu Gista pernah cerita… Stevan sempat kena kasus berat, bahkan dipenjara.”Mata Olivia melebar, suaranya tercekat, “Hah?! Serius, Mas? Gila…”Adrian tetap fokus pada Stevan yang sekarang mengusap lembut pundak Ruby. “Sebenarnya aku belum pernah ketemu langsung dengan dia, tapi Gista pernah tunjukin fotonya. Aku yakin ini orang yang sama. Aku nggak akan lupa wajahnya. Dia punya

  • Hasrat Terpendam Papa Tiriku   Bab 109. Harapan Yang Pupus.

    “Hamil?” suara Adrian terdengar pelan, setelah beberapa saat keheningan menggantung di antara mereka. Olivia menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering, sementara perutnya kembali bergejolak halus dan itu sebenarnya bukan sakit, lebih seperti peringatan yang samar tapi mengganggu. “Apa iya, Mas?

    last updateLast Updated : 2026-04-02
  • Hasrat Terpendam Papa Tiriku   Bab 45. Nevan Merajuk.

    Adrian menurunkan kacamatanya yang sedikit melorot, menjepit gagangnya di antara jari telunjuk dan ibu jari. Layar laptop di depannya menampilkan deretan tab wedding organizer lain—semuanya terbuka karena satu alasan: ia ingin menjauh sejauh mungkin dari Blissful Wedding. Setiap melihat nama itu, d

    last updateLast Updated : 2026-03-22
  • Hasrat Terpendam Papa Tiriku   Bab 125. Rumah Yang Kembali Hangat.

    “Pelan-pelan saja, Sayang…”Suara Adrian terdengar sangat dekat dan hangat, seperti sesuatu yang sudah lama tak didengar Olivia.Tangannya menggenggam siku Olivia dengan hati-hati saat wanita itu menuruni anak tangga kecil di depan rumah sakit. Gerakannya penuh kesabaran.Olivia menoleh sejenak. En

    last updateLast Updated : 2026-04-05
  • Hasrat Terpendam Papa Tiriku   Bab 123. Perhatian Bastian.

    Kesadaran Olivia merayap masuk perlahan, bukan seperti terbangun dari tidur yang nyenyak. Rasanya lebih seperti seseorang yang mendadak muncul dari dasar air dan itu terasa sangat berat, pelan, dan membingungkan.Ia merasakan kepalanya ringan, tapi tubuhnya aneh, seperti bukan bagian dirinya sendir

    last updateLast Updated : 2026-04-05
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status