Beranda / Romansa / Hasrat Terpendam Papa Tiriku / Bab 13. Berharap Kembali.

Share

Bab 13. Berharap Kembali.

Penulis: eslesta
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-10 08:03:02

Suara televisi menyala pelan di ruang keluarga, mengisi keheningan pagi itu. Gista duduk bersandar santai di sofa, matanya terpaku pada layar yang menayangkan drama keluarga. Ia menarik napas dalam-dalam, malas beranjak seperti biasanya ke toko perabotan keluarga. Hanya Wiryo, ayahnya, yang hari ini menjaga warisan usaha keluarga, sementara Nevan dan Rika bermain di ayunan besi di teras.

Tiba-tiba, getaran ponsel di meja memecah kesunyian. Jantung Gista berdetak lebih cepat saat nama Adrian muncul di layar. Bibirnya membentuk senyum kecil yang sulit diartikan.

Perlahan ia mengusap anak rambut di pelipis, berusaha menenangkan diri sebelum mengangkat telepon dengan suara yang dibuat setenang mungkin.

"Halo, Mas."

"Aku mau bicara sama Nevan. Dia ada?" Suara Adrian datar, tak hangat tapi juga tidak kasar. Seperti tembok yang mengingatkan Gista akan batas yang tak bisa ia lewati lagi.

Gista mengangguk meski Adrian tak bisa melihatnya, napasnya tercekat oleh kecewa yang mulai menyusup. "Oh… iya, Nevan lagi main di luar sama Mami. Tunggu, aku panggilin."

Gista berdiri dan melangkah ke pintu depan, memanggil dengan sedikit semangat yang dibuat-buat. "Nevan, sayang! Ayah kamu telpon, Nak!"

Tak sampai semenit, dari sudut halaman, Nevan berlari kecil, wajahnya berseri-seri, poni tipisnya basah oleh keringat. "Beneran Ayah telpon, Bu?" tanyanya sambil meraih ponsel di tangan ibunya dengan cekatan.

"Iya, tuh. Cepet, bilang halo dulu," Gista tersenyum lembut, memberi ruang.

"Halo, Ayah?" suara Nevan sedikit gemetar karena girang.

"Nevan, Nak," suara Adrian terdengar hangat dari seberang. "Apa kabar jagoan Ayah? Ayah kangen banget."

Wajah Nevan makin cerah, tawanya pecah memenuhi udara pagi. "Nevan juga kangen Ayah!"

"Kamu lagi apa, Nak?"

"Lagi main di teras sama Oma. Ayah! Aku mau tunjukin sepeda baruku!" jawab Nevan bersemangat.

"Sepeda baru?"

"Iya! Warna hitam! Dibeliin Opa kemarin sore!"

"Ayah video call ya? Biar bisa liat," suara Adrian mengalir lembut.

"Iya, Ayah."

Nevan buru-buru mengatur posisi kamera, tangannya gemetar sedikit karena ingin cepat memperlihatkan barang kesayangannya yang baru. "Tuh liat, Ayah! Keren kan? Mirip punya Ayah!" matanya berbinar penuh bangga.

Adrian tampak tersenyum tipis dari layar. "Wah, bagus. Tapi kok masih ada rodanya dua di belakang?"

"Oma bilang buat bantuin biar nggak jatuh. Tapi aku mau belajar biar bisa dilepas! Terus nanti Ayah liat aku ngebut!"

"Wah, Ayah harus siap-siap ya nanti dikejar anak kesayangan Ayah pakai sepeda barunya." Suara Adrian pelan tapi terdengar jelas, sedikit melembut.

Di balik punggung Nevan, Rika berdiri sambil tersenyum, memperhatikan dari jauh. Matanya sempat bertemu dengan Gista yang berdiri di ambang pintu. Rika mengangguk pelan, seolah mengerti isi hati anak perempuannya yang belum juga bisa sepenuhnya lepas dari sosok pria yang dulu ia tinggalkan saat terpuruk.

Sambil menunggu panggilan itu, Gista memilih duduk di kursi teras, membiarkan Nevan duduk bersila di lantai garasi, masih memamerkan lampu sepeda dan bel yang berbunyi nyaring. Di tengah-tengah tawa kecil Nevan yang lugu, Adrian tetap tenang dan menanggapi, namun tak sekali pun ia menyapa Gista yang berada tak jauh.

"Nanti kalau Ayah ke sana, kamu harus bisa naik sepeda tanpa roda bantu, ya?" tantang Adrian dengan senyum tipis.

"Oke! Tapi Ayah jangan lama-lama di sini. Aku sudah rindu. Kita main bareng, Ayah bisa pakai sepeda punya Opa. Pokoknya aku kangen banget sama Ayah! Cepetan ke sini," jawab Nevan bersemangat, matanya berbinar.

Adrian terdiam sesaat, lalu suaranya agak berat, "Ayah juga rindu, Nak. Ya sudah, Ayah mau kerja lagi. Nevan, baik-baik di sana sama Ibu, ya."

"Iya, Ayah. Nevan jadi anak baik."

"Dah, Ayah sayang Nevan."

"Nevan juga," gumam Nevan pelan, sebelum panggilan berakhir.

Lalu panggilan pun selesai. Nevan masih menatap layar ponsel yang kini padam, bibirnya menggumam lirih, "Kapan Ayah bisa tinggal di sini lagi sama Ibu."

Gista menghela napas perlahan. Ada rasa hangat karena Adrian masih perhatian pada Nevan. Tapi juga dingin yang membekukan dadanya, karena sikap itu tak lagi ditujukan untuknya.

***

Matahari mulai merunduk ke barat, sinarnya yang hangat membelai halaman rumah dengan lembut. Di bawah carport, Nevan sibuk dengan sepeda barunya. Ia berputar-putar mengitari halaman kecil itu, sesekali membunyikan bel sepeda dengan riang, lalu menoleh ke arah teras sambil sesekali memanggil sang Oma agar memperhatikan.

Di teras, Gista duduk bersandar di kursi rotan coklat tua, jemarinya bergetar ringan saat memegang gelas es teh. Sesekali bibirnya menyeruput es teh, tapi matanya tetap menunduk, memandang kosong ke lantai. Di sampingnya, Rika diam sejenak, menatap anak perempuannya dengan sorot mata penuh kepedulian.

"Adrian masih sama, ya," suara Rika pelan, hampir seperti gumaman, tapi cukup menusuk.

Gista tak langsung menjawab, hanya mengangkat bahu tipis tanpa kata. Ia kemudian menggoyang-goyangkan sedotan di gelasnya, seolah mencari sesuatu yang hilang.

Rika memiringkan tubuh sedikit ke arah Gista, suaranya melembut. "Kalau Mami lihat, kamu masih menyimpan sesuatu untuk dia."

Senyum pahit Gista mengembang, tapi matanya berkaca-kaca. "Mungkin itu sebenarnya rasa bersalah karena aku dulu yang menyia-nyiakan Mas Adri, Mi."

Rika menoleh, menatap lembut anak perempuannya yang dulu keras kepala itu. "Tapi manusia berubah, Ta. Kamu juga begitu. Mami tahu kamu menyesal."

"Aku nyesal banget, Mi. Tapi Mas Adri dingin banget sekarang. Bahkan cuma bicara kalau itu soal Nevan." Gista menghela napas dalam. "Dan tadi tuh, aku sempat kira dia telpon buat aku. Setelah dia kehilangan istrinya itu. Aku pikir semuanya bakal beda."

Rika tak buru-buru menjawab. Ia menoleh ke Nevan yang sedang berusaha memutar sepeda pelan-pelan di jalan semen. "Kalau kamu memang masih punya niat baik, coba pelan-pelan dekati dia, Ta. Nggak usah buru-buru. Mungkin dia butuh waktu. Tapi siapa tahu, kalau Tuhan memang masih izinkan, kalian bisa bersatu lagi. Demi Nevan juga. Toh kamu baru talak dua, kan?"

Gista mendongak, matanya berkaca-kaca, campur aduk antara terkejut dan haru.

Rika meraih tangan Gista dengan lembut, jari-jarinya menekan sedikit agar terasa hangat. "Kamu punya alasan yang kuat, anakmu. Kamu bukan orang jahat, cuma pernah salah langkah. Kalau serius, buktikan dengan tindakan. Jangan berharap semuanya langsung berubah, tapi tunjukkan kamu layak dapat kesempatan kedua."

Gista menatap ibunya lama, bibirnya bergetar. "Aku boleh punya harapan lagi ya, Mi?"

"Kalau niatmu tulus, dan kamu nggak cuma egois karena takut lihat dia bahagia sama orang lain, kamu selalu boleh berharap."

Gista tertunduk sebentar, lalu mendongak. Di matanya, ada semacam api kecil yang baru saja dinyalakan kembali.

Gista menatap jauh ke arah halaman rumah. Suara tawa Nevan terdengar riang, menaiki sepeda barunya mengelilingi carport sambil terus memanggil seolah Adrian ikut bermain bersamanya.

"Ayah! Ayah!"

Suara itu menusuk hatinya, mengingatkan betapa kosongnya tempat itu tanpa Adrian.

"Nevan butuh Ayahnya," gumam Gista pelan, suaranya nyaris terselip kesedihan. "Aku sedih setiap kali dia tanya kapan Ayah tinggal di sini, kenapa aku nggak kayak teman-temannya." Tangannya meremas kain baju seolah mencari kekuatan. "Mungkin aku harus mulai dari hal kecil. Nggak bisa langsung minta dia kembali. Tapi aku ingin dia ingat, kenapa dulu dia sayang sama aku, Mi."

Rika tersenyum lembut, menatap Gista dengan penuh pengertian. "Mami dukung kamu. Tapi jangan dipaksa kalau memang bukan jalannya. Kalau bukan, ya lepaskan dengan lapang dada. Tapi kalau kamu belum coba, kamu nggak akan pernah tahu. Mungkin kepergian istri Adrian setelah akad nikah kemarin justru petunjuk Tuhan, agar kamu berani kejar cinta mantan suamimu lagi."

Gista mengangguk pelan, hatinya mulai merangkai harapan yang lama terkubur.

Di bawah sana, tawa Nevan terus menggema, menjadi alasan sekaligus beban yang membuat dada Gista sesak, menyesal akan sikap egoisnya dulu yang membuat rumah tangganya retak. Kini, Nevanlah yang harus menanggung sakit itu.

"Aku pasti bisa dapatkan cinta kamu kembali, Mas. Bisa!" batin Gista.

***

Olivia berdiri di depan cermin, mengenakan blouse putih bersih dan rok selutut berwarna khaki yang baru disetrika semalam. Hari ini menandai satu minggu ia bekerja di Fast Track, dan entah kenapa, ia ingin terlihat lebih rapi dari biasanya.

Olivia menatap pantulan dirinya di cermin. Semuanya hampir sempurna kecuali satu, kancing mungil di bagian belakang leher bajunya sulit sekali dijangkau. Lengan kiri terangkat, bahu diputar penuh usaha, tapi tetap saja kancing itu menolak untuk terpasang dengan sempurna.

"Duh, kenapa pilih blouse seperti ini, sih?! Kenapa juga harus ada dua kancing berderet. Satu aja bikin susah," gerutu Olivia sambil mencoba melihat bagian belakang blousenya di cermin.

Di ambang pintu yang terbuka lebar, Adrian muncul dengan santai, mengetuk pelan sambil bersandar pada kusen. "Via, udah siap?" suaranya lembut, namun penuh perhatian. "Hari ini aku nggak ada meeting pagi, jadi bisa nganter kamu."

Olivia hampir melonjak karena terkejut. Ia buru-buru menutup kancing yang bisa ia jangkau dan menoleh cepat.

"Iya, Om! Eh, hampir. Bentar ya," katanya cepat, mencoba menyembunyikan kegugupan.

Adrian melangkah pelan memasuki kamar, matanya langsung menangkap tangan Olivia yang masih canggung menjangkau kancing di belakang lehernya.

"Kamu kesulitan, ya?" tanyanya, bibirnya membentuk senyum tipis. "Sini, biar aku bantu."

Olivia sempat membuka mulut ingin menolak, tapi akhirnya cuma mengangguk pelan. Kepalanya menunduk sedikit, memberi ruang bagi Adrian berdiri di belakang, jari-jarinya yang cekatan segera merapikan kancing-kancing kecil itu

Jarak mereka begitu dekat, napas hangat Adrian menyentuh tengkuk Olivia, membuat jantung gadis itu berdetak lebih cepat dari biasanya. Ia mencoba mengendalikan diri, walau perasaan aneh terus menjalari tubuhnya.

Dari belakang, suara Adrian pelan menyapa, "Udah seminggu kerja di Fast Track ya? Gimana suasananya? Ibu Laras masih galak?"

Olivia membalas dengan senyum yang agak kaku. "Sedikit, Om. Tapi wajar sih, namanya juga atasan. Mas Bastian justru lebih santai." Matanya menatap kosong ke arah lain.

"Kalau yang ganggu-ganggu gimana? Ada, nggak?" tanya Adrian, jari-jarinya tak henti merapikan kancing terakhir.

"Enggak ada, Om. Cuma masih adaptasi," jawab Olivia singkat.

"Teman-teman kamu gimana?" suara Adrian penuh rasa ingin tahu.

"Mereka baik."

"Siapa namanya? Aku lupa."

"Rayhan dan Ayu, Om."

"Rayhan ganteng?"

"Eum, iya," jawabnya pelan sambil tersenyum kecil. "Tapi dia bukan tipeku."

"Oo begitu. Tipe laki-laki kamu seperti apa?" tanya Adrian, tersenyum setelah berhasil mengancingkan blouse Olivia.

Olivia menelan salivanya, ingin menjawab tapi justru matanya terpaku pada gelas yang ada di meja rias. Ia meraih gelas itu untuk minum dan tanpa sadar tangannya gemetar. Tiba-tiba gelas itu terpeleset, jatuh dengan keras. Serpihan kaca bercampur air putih berserakan, Olivia panik hendak mengambil tisu namun satu potong pecahan besar, melukainya di telapak kaki.

"Aduh..." Olivia mengerang, langkahnya limbung mundur, wajahnya memerah menahan nyeri.

Adrian spontan menunduk, pandangannya tertuju pada darah merah yang mulai muncul di kaki Olivia.

"Duduk dulu. Kamu kena beling," suara Adrian berubah serius, ia menarik kursi kecil dekat tempat tidur dan mempersilakan Olivia duduk.

Tanpa berkata banyak, ia membuka laci dan mengambil tisu serta botol antiseptik. Adrian berjongkok di depan Olivia, tangannya bergerak ringan dan penuh keyakinan saat membersihkan luka itu. Sentuhannya lembut, tidak canggung sama sekali, seolah sudah biasa merawat luka dengan perhatian tulus.

Olivia duduk terpaku, tubuhnya yang tadinya tegang mulai rileks. Matanya menelusuri gerak tangan kekar Adrian yang terbalut urat-urat halus, sesekali ia mengangkat pandangannya untuk menatap wajah pria itu, wajah yang hari ini tampak jauh lebih tenang dari biasanya.

"Om, sudah cukup. Aku bisa sendiri," suaranya nyaris tak terdengar, seperti takut mengganggu suasana.

Adrian merunduk, jari-jarinya lincah menempelkan plester pada luka kecil Olivia. "Aku tahu kamu bisa obati luka ini sendiri. Tapi bukan berarti kamu harus terus sendiri," bisiknya penuh pengertian.

Olivia tak menjawab, hanya menyimpan kata-kata itu dalam-dalam.

"Kalau kamu kesulitan di kantor, atau apa pun itu, kamu boleh cerita. Aku pasti dengarkan, apapun itu, Via," Adrian menambahkan pelan.

Luka itu kini telah tertutup rapi. Adrian berdiri dan mengulurkan tangannya, memberi sinyal untuk bangkit. Olivia menggapai tangan itu dengan ringan, tapi hangatnya sentuhan membuat dadanya sedikit melunak.

"Makasih, Om," ucapnya singkat, tapi tulus.

"Sama-sama, Via," jawab Adrian sambil tersenyum tipis.

Pria tampan itu membuka pintu kamar dan mengajak, "Ayo kita berangkat, nanti kamu telat. Biar nanti Bik Surti yang bersihkan lantai itu."

"Iya Om," gumamnya buru-buru, lalu berdiri sambil mengambil tas.

Olivia menghela napas panjang sebelum melangkah keluar kamar dengan langkah sedikit pincang, namun anehnya, hatinya terasa lebih ringan dari pagi sebelumnya.

Bersambung...

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (3)
goodnovel comment avatar
eslesta
iya kak typo ternyata. udah aku revisi. makasih ya ...
goodnovel comment avatar
NING
Eh maksudnya Gista jadi Melani
goodnovel comment avatar
NING
Thor. Ada typo dikit. Napa Adrian jadi Axelio trus Gatri jadi Melani ya.
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Hasrat Terpendam Papa Tiriku   Bab 108. Apakah Suatu Pertanda?

    Olivia melirik ke samping, memperhatikan jemari Mariska yang mantap menggenggam setir. Jalanan siang itu cukup lengang dan sahabatnya itu tetap fokus menembus deretan ruko dan bangunan tua yang mereka lewati satu per satu.Mereka sedang dalam perjalanan meninjau beberapa lokasi yang dipertimbangkan Mariska untuk usaha kafenya.“Ris,” panggil Olivia akhirnya, memecah keheningan. “Lo yakin mau buka kafe? Lo kan nggak pernah benar-benar terjun di dunia itu. Keluarga lo dari dulu di pendidikan. Kenapa nggak sekalian pegang salah satu yayasan papa lo?”Mariska tidak langsung menjawab. Senyum tipis terbit di sudut bibirnya, seolah pertanyaan itu sudah sering ia dengar dan sudah lama ia siapkan jawabannya.“Gue nggak pernah ngerasa hidup di dunia pendidikan, Via. Biar Papa sama Mama aja yang sibuk di sana.”Olivia menghela napas pelan. “Tapi lo anak satu-satunya, Ris. Cepat atau lambat, semuanya bakal jatuh ke tangan lo.”Mariska terkekeh kecil, matanya tetap menatap lurus ke depan. “Justru

  • Hasrat Terpendam Papa Tiriku   Bab 107. Yang Sudah Memeluk, dan Yang Masih Mendekat.

    Pagi itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Cahaya matahari baru saja merayap di permukaan kolam renang. Adrian bersandar di kursi malasnya, menatap Olivia yang duduk tak jauh darinya. Rambut istrinya tergerai bebas, kulitnya disapa lembut cahaya pagi, namun sorot matanya tampak sedikit redup. “Kamu capek, Sayang?” tanya Adrian pelan. “Hmm? Eh? Duh, apa, Mas?” Olivia menoleh, seolah baru tersadar. Pantulan air kolam menari di wajahnya. “Nah, kan,” Adrian menggeser tubuhnya, tak lagi bersandar. “Aku cuma nanya, kok kamu kelihatan bingung.” Olivia tersenyum tipis, senyum yang lebih seperti usaha daripada ekspresi bahagia. “Iya, Mas… sedikit.” “Lagi pikirin apa, Sayang?” “Pekerjaan di kantor lagi ramai banget. Untung ada Ayu sama Rayhan. Kalau nggak, mungkin aku sudah tumbang.” Adrian berpindah ke kursi malas Olivia. Ruang sempit itu justru membuat mereka terasa semakin dekat. Tanpa sadar, Olivia menyandarkan kepalanya di lengan Adrian, menikmati detak jantung suaminya yang stabil.

  • Hasrat Terpendam Papa Tiriku   Bab 106. Harga Sebuah Kepercayaan.

    Olivia berdiri di depan lobi kantor PT. Fast Track, membiarkan hembusan angin sore mengibaskan ujung rambutnya. Pandangannya mengikuti arus mobil yang keluar-masuk area lobi, tapi tak satu pun berhenti terlalu lama. Jam di pergelangan tangannya kembali ia lirik.“Tadi katanya udah dekat,” gumamnya pelan, nyaris kalah oleh deru mesin kendaraan. “Kok sepuluh menit belum kelihatan, sih…”Ia meraih ponsel, ibu jarinya sudah siap menyentuh nama Adrian, ketika sebuah mobil familiar berbelok memasuki gerbang gedung perkantoran. Sorot matanya langsung berubah cerah.“Ah, itu dia.”Begitu mobil melambat di depannya, Olivia melangkah cepat, lalu membuka pintu penumpang.“Hai, Mas. Kok lama?” katanya sambil duduk dan menarik sabuk pengaman.Adrian menghela napas pendek, tangannya masih mantap di kemudi. “Tadi ada keributan di halte depan. Aku mau ambil jalur kiri, tapi nggak bisa. Macet total.”“Keributan apa?”“Jambret ketahuan. Dicegat warga,” jawab Adrian singkat, lalu menginjak pedal gas per

  • Hasrat Terpendam Papa Tiriku   Bab 105. Api Kecil di Dapur Bisnis.

    Mobil yang dikemudikan Adrian melambat tepat di depan lobi gedung PT. Fast Track Logistic. Olivia melepaskan seatbelt, tubuhnya condong sedikit ke kanan. Ia mengecup pipi Adrian dengan lembut.“Makasih, Pak Suami,” katanya sambil tersenyum. “Hati-hati ya. Kabari aku kalau udah sampai Solaire.”Adrian tertawa kecil, meraih tangan Olivia dan mengecup punggungnya. “Siap, Sayang. Happy working, Nyonya Adrian.”Olivia membuka pintu, turun dengan langkah ringan sambil membawa paperbag berisi oleh-oleh. Ia melambaikan tangan sekali lagi sebelum mobil itu kembali melaju.Begitu melangkah masuk ke lobi, Rayhan, dengan tas selempang menggantung di bahu, mengangkat tangan tinggi-tinggi.“Hai, Via!” godanya nyaring. “Pengantin baru, gimana bulan madunya?”Olivia tersenyum sambil mempercepat langkah. “Menyenangkan,” jawabnya singkat, lalu menoleh dengan senyum nakal. “Kamu kapan nyusul? Buruan cari perempuan baik-baik, Ray.”Rayhan terkekeh, ikut berjalan di sampingnya melewati pemeriksaan keamana

  • Hasrat Terpendam Papa Tiriku   Bab 104. Hari-hari Setelah Sah.

    Olivia terbangun oleh dentuman petir yang memecah langit, begitu dekat hingga kaca jendela bergetar pelan. Matanya langsung terbuka, napasnya tercekat sesaat sebelum ia sadar ada lengan yang melingkar erat di pinggangnya. Lengan itu milik Adrian. Kehangatan tubuh suaminya membuat jantungnya perlahan tenang. “Ya Tuhan,” bisiknya lirih, suara hujan seperti tumpah dari langit. “Deres banget. Pantes petirnya serem.” Olivia mengangkat tangan Adrian dengan hati-hati, melepaskan diri pelan-pelan agar tak membangunkannya. Ia turun dari tempat tidur, melangkah mendekat ke jendela. Tirai tipis tersibak sedikit, memperlihatkan kilatan cahaya putih yang membelah langit pagi. “Kenapa, Sayang?” suara Adrian terdengar serak dari atas ranjang. Matanya menyipit, mengikuti siluet Olivia. Olivia menoleh, senyum kecil mengembang. Ia kembali mendekat, naik ke ranjang, lalu merebahkan diri kembali di samping Adrian. “Aku cuma mau nutup tirai. Tadi petirnya kelihatan jelas banget. Serem.” “Oh…” Adrian

  • Hasrat Terpendam Papa Tiriku   Bab 103. Satu Bahagia, Satu Terluka.

    Adrian menata pakaian mereka satu per satu ke dalam koper yang terbuka di atas ranjang. Kaosnya dilipat rapi, celana disusun sejajar, lalu gaun Olivia ia ratakan pelan. Bulan madu yang manis terasa seperti baru dimulai, padahal koper sudah kembali terbuka dan siap menelan kenangan. Dari balik pintu kamar mandi, terdengar suara air berhenti. Beberapa detik kemudian, pintu terbuka. Aroma sabun bercampur uap hangat menyusup ke kamar. “Udah kamu rapihin pakaian kita, Mas?” suara Olivia muncul lebih dulu, lembut. Ia berdiri di ambang pintu, rambutnya basah dan dibalut handuk kecil. Tetesan air masih jatuh ke lantai saat ia melangkah masuk. “Udah, meringankan tugas istri,” jawab Adrian tanpa menoleh. Olivia tersenyum. Ia berjalan mendekat, lalu tanpa banyak kata, duduk di pangkuan Adrian. Berat tubuhnya ringan, tapi kehadirannya langsung memenuhi ruang. “Sweet banget suami aku,” ujarnya sambil menyenderkan kepala sebentar. Adrian tertawa pelan. Tangannya refleks melingkar di p

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status