Share

Bab 12. Hari Pertama.

Penulis: eslesta
last update Tanggal publikasi: 2025-10-10 08:02:35

Olivia berdiri tegak di depan pintu rumah besar Adrian, dada berdebar tak karuan meski blazer sage-green yang dikenakannya tampak rapi menutupi gemetar halus. Celana bahan hitamnya berlipat sempurna, rambutnya yang diikat setengah ke belakang menambah kesan profesional meski pipinya merona merah, seolah make-up tipis di wajahnya tak mampu menutupi ketegangan yang menggerogoti. Tangannya menggenggam ponsel dengan jari yang sedikit gemetaran, siap memesan ojek online untuk pergi ke kantor—hari pertamanya bekerja.

Langkah kaki menghentak pelan dari dalam rumah. Adrian muncul dari lorong, memakai kemeja santai, jam tangan mahal melingkar di pergelangan kirinya. Senyum tipisnya seolah sudah tahu betul waktu yang tepat untuk muncul.

"Udah siap berangkat?" tanyanya santai, tapi tatapan matanya begitu tajam menatap Olivia.

Olivia mengangguk cepat. "Iya. Tinggal pesan ojek online, Om."

Adrian menyipitkan mata menatap layar ponsel gadis cantik itu. Ia menghela napas panjang sebelum berkata, "Nggak usah pesan ojek. Biar aku aja yang antar."

Kening Olivia langsung berkerut, bibirnya menegang. "Om, aku bisa sendiri. Aku nggak mau merepotkan. Lagi pula Om pasti habis ini mau ke restoran."

"Tapi aku nggak bisa tenang kalau kamu berangkat sendirian," sahut Adrian cepat. Ia melangkah lebih dekat, berdiri beberapa meter di depannya. "Hari pertama, Via. Kamu pikir Mama kamu nggak akan khawatir?"

Olivia terdiam. Kalimat itu lagi. Kalimat yang selalu jadi senjata Adrian sejak kepergian Sheila.

Wajah Adrian datar, tapi ada kehangatan yang terselip di balik itu. "Kalau Sheila masih ada, Mama kamu pasti mau aku yang antar. Pastikan kamu sampai dengan aman. Masa aku biarin kamu naik motor sama orang asing?"

Olivia menatap Adrian, hatinya mulai goyah. Satu sisi dia merasa masih perlu menjaga jarak. Tapi sisi lainnya—yang rapuh, yang merindukan rasa aman—mulai terbuka perlahan.

Gadis cantik itu menghela napas pelan. "Tapi ... jangan antar sampai depan lobi, ya. Turunin di belokan sebelum gedung."

Adrian mengangguk cepat, wajahnya melunak. "Deal. Asal kamu ikut, turunnya di mana pun nggak masalah."

Olivia membuang napas berat, matanya menyipit sedikit. "Om sengaja banget, ya, keluar pas aku mau berangkat?"

Adrian menyeringai kecil. "Jujur, aku nggak bisa tidur tadi malam. Ngebayangin kamu pergi sendiri, malah aku yang nggak tenang."

"Ya sudah. Ayo berangkat, Om."

"Ayo. Aku ambil kunci mobil dulu."

Tak berapa lama, keduanya melangkah menuju mobil yang terparkir di bawah carport.

"Hati-hati, Via."

"Iya, Om. Aku bukan anak kecil yang pertama kali naik mobil," kata Olivia pura-pura mendengus kesal dan memalingkan wajah, padahal dalam hatinya entah mengapa dia mulai nyaman diperhatikan Adrian.

Adrian hanya tersenyum lebar sambil membuka pintu mobil. Keduanya naik dan memakai seatbelt hampir bersamaan.

Beberapa menit kemudian, mereka sudah dalam perjalanan menuju kantor baru Olivia.

Mobil sedan hitam itu melaju pelan di jalan protokol yang mulai ramai. Di dalam kabin, suasana sempat hening, hanya suara pelan dari lagu milik Billie Eilish berjudul Wildflower yang mengisi kekosongan di antara dua penumpangnya.

Adrian tanpa sadar beberapa kali melirik ke arahnya, matanya menangkap perubahan yang selama ini tersembunyi.

Dengan suara lembut, ia memecah diam, "Kamu cocok banget pakai baju itu."

Olivia cepat menoleh, sedikit canggung. "Blazer ini?" jawabnya, berusaha sembunyikan kebingungan.

Adrian menyunggingkan senyum kecil, tangan masih mantap menggenggam setir. "Iya, elegan. Dewasa. Tapi tetap kamu."

Olivia memutar bola matanya, tapi sudut bibirnya mengkhianati—senyum tipis hampir terbit. "Om mulai berlebihan deh."

"Nggak berlebihan, cuma jujur," jawab Adrian santai.

Keheningan kembali, tapi kali ini terasa berbeda. Hangat, penuh arti. Adrian sekali lagi melirik Olivia, matanya menanyakan sesuatu tanpa kata, sebelum akhirnya kembali fokus ke jalan.

"Kamu gugup?" tanyanya pelan.

"Banget, Om!" jawab Olivia jujur. "Aku takut bikin kesalahan di hari pertama. Lagipula, aku belum pernah punya pengalaman kerja sama sekali."

"Kalau kamu udah terbiasa ngadepin Mama kamu yang keras kepala, ngadepin dunia kerja itu setengahnya sudah lulus," Adrian menggoda.

Olivia terkekeh, meski senyumnya cepat memudar. "Aku jadi kangen Mama," katanya pelan.

Adrian menoleh sebentar, hatinya seperti diremas. "Aku juga."

Mereka kembali diam. Tapi tidak ada rasa tak nyaman. Hanya ada dua orang yang sama-sama kehilangan, duduk bersebelahan dan saling memahami kesunyian satu sama lain.

Beberapa menit kemudian, mobil mulai mendekati kawasan perkantoran.

"Turunin di tikungan depan aja ya, Om," kata Olivia cepat, mengatur nada agar tidak terdengar terlalu lembut.

Adrian mengangguk. "Oke. Tapi kabarin aku kalau kamu udah selesai nanti. Aku jemput misalnya aku bisa."

"Lihat nanti, Om. Aku belum tau pulang jam berapa. Bisa jadi lebih lama karena anak baru," jawab Olivia, membuka pintu mobil. Sebelum turun, ia menoleh, ragu sejenak. "Makasih ya, udah maksa nganterin."

Adrian tersenyum tipis. "Nggak maksa. Cuma tanggung jawab aja."

Olivia turun, dan sebelum pintu tertutup, Adrian sempat berkata pelan, nyaris seperti angin.

"Good luck, Via."

***

Lantai dua bagian sayap kanan gedung tiga lantai itu tampak modern tapi sederhana. Cahaya matahari pagi yang menyusup lewat dinding kaca dari arah timur melukis bayang-bayang meja panjang dan partisi setinggi dada yang membatasi area kerja open space. Rak-rak arsip minimalis berjejer rapi di sudut ruangan, sedangkan aroma kopi dan dingin pendingin ruangan menguar samar, khas kantor startup yang masih berkembang.

Langkah kaki Olivia terdengar pelan di koridor, seiring pintu kaca bertuliskan PT. Fast Track Logistic terbuka otomatis. Ia menatap seorang staf wanita di balik meja resepsionis yang langsung melihat ke arahnya. Lanyard bergelantungan di leher wanita itu bertuliskan nama "Gianni".

"Pagi, Mbak," sapanya dengan suara sedikit bergetar, masih meraba suasana baru.

"Ya, pagi," jawab Gianni sambil tersenyum tipis, matanya menelisik penuh perhatian.

"Aku, Olivia. Kerja hari pertama di sini."

"Oh, karyawan baru ya?" tanya Gianni ramah.

"Iya, Mbak."

"Sebentar, aku kasih kartu akses gedung dulu, ya."

"Baik, Mbak." Olivia mengangguk, menahan degup jantungnya.

Gianni sedang mengulurkan kartu akses untuk Olivia ketika tiba-tiba, langkah cepat dan suara panggilan dari sisi lain koridor memecah suasana.

"Via!" seru Bastian dengan suara hangat.

Olivia menoleh, bibirnya mengukir senyum tipis, "Hai, Mas."

"Ayo! Ikut aku, aku temani kamu ke ruanganmu dan berkenalan dengan tim lain," ajak Bastian tanpa menunggu jawaban, langsung menarik lengannya.

Detik berikutnya, Olivia langsung menyambar kartu akses dari tangan Gianni dengan sedikit ragu dan mengekori Bastian menuju pintu kaca tebal.

Olivia menelan saliva. Jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya.

Begitu ia melangkah masuk, beberapa pasang mata langsung tertuju padanya, terutama dia muncul bersama sosok Bastian. Si pemilik perusahaan sekaligus pria dengan tubuh tegap dan pembawaan berwibawa.

Bastian membuka suara sambil berjalan santai di sampingnya, "Teman-teman, ini Olivia. Mulai hari ini, dia jadi staff admin logistik kita."

"Hai, Olivia! Selamat bergabung di Fast Track."

"Hai, Olivia. Welcome aboard!"

"Olivia, semoga betah ya!"

Sapaan dari beberapa rekan kerja terdengar. Di antara kerumunan, ada yang hanya mengangguk biasa atau pura-pura sibuk. Tapi desas-desus kecil mulai terdengar, dibungkam suara papan ketik yang ditekan lebih cepat dari biasanya. Tak sedikit yang melirik Olivia dari ujung kepala sampai kaki, menilai sosok pendatang baru itu yang masuk dengan ditemani langsung oleh Bos Besar.

Olivia hanya bisa membalas dengan anggukan kecil sambil tersenyum.

"Ayo, kita langsung ke Mbak Laras, ya."

"Baik, Mas."

Keduanya melangkah pelan ke sebuah ruangan terpisah yang terletak di pojokan. Bastian mendorong pintu ruangan itu dengan hati-hati.

"Silakan masuk, Olivia," ujarnya lembut, memberi ruang.

Olivia masuk dengan langkah yang masih terasa berat di dadanya. Matanya segera tertuju pada seorang wanita berbalut kemeja navy, rambut sebahunya tersisir rapi, dan ekspresi wajah yang sulit ditebak—serius tanpa sedikit pun senyum. Wanita itu berdiri di balik meja, ujung ruangan, seolah mengamati setiap gerakan yang ada. Perkiraan Olivia, usianya sekitar tiga puluhan.

"Pagi, Bu Laras," sapa Olivia, bibirnya membentuk senyum sopan tapi ada getar ragu di nadanya.

Tatapan tajam Laras menyambut, menelusup sampai ke tulang. Suaranya pelan, namun setiap katanya mengandung ketegasan yang sulit diabaikan. "Selamat datang di tim saya. Kita kerja di sini bukan buat senyum-senyum. Ikuti ritme saya, dan kamu akan baik-baik saja."

Olivia menelan salivanya lagi, Ia buru-buru mengangguk, berusaha menenangkan dirinya sendiri. "Siap, Bu. Tapi mohon bimbingannya juga."

Laras hanya mengangkat alis sedikit, lalu mengangguk singkat tanpa kata.

Di sisi kiri, dua rekan kerja sudah berdiri, menunggu. Yang pertama pria dengan rambut bergaya slick-back dan kemeja lengan digulung rapi, wajahnya menunjukkan antusiasme tipis. Di sampingnya, seorang perempuan berhijab dengan senyum kecil dan wajah yang tenang, memberi sedikit rasa nyaman di suasana yang penuh tekanan itu.

"Kenalin, Rayhan. Gue bagian pengurusan dokumen pengiriman kargo ke luar kota dan luar pulau. Yang ribet-ribet, gue handle," kata Rayhan dengan nada santai sambil menyodorkan tangan.

"Dan aku Ayu. Aku bantu bagian tracking barang dan follow-up vendor," ujar Ayu pelan, sopan.

"Hai, aku Olivia. Panggil aja Via," jawabnya sambil menjabat tangan mereka.

"Langsung duduk aja, ya," potong Laras, menunjuk meja kosong yang berada tak jauh dari mejanya. Seperti sengaja diletakkan dekat, seolah ingin memastikan Olivia tak akan bisa bekerja santai.

Bastian menyadari ketegangan itu. Ia melirik Olivia dengan senyum tipis. "Santai aja. Kalau ada yang nggak jelas, tanya aja dulu. Tapi aku yakin kamu bisa cepat menyesuaikan diri."

Suara Bastian cukup untuk membuat suasana kembali cair tapi juga justru membuat tatapan Laras semakin ketat. Ia menoleh sekilas ke Bastian, lalu kembali ke layar monitornya. Dia tahu ada sesuatu dengan pria itu karena tidak biasanya karyawan baru didampingi olehnya.

"Oke, aku tinggal ya, Via."

"Makasih, Pak," balas Olivia, dia sengaja merubah panggilan untuk Bastian karena menurutnya tidak etis didengar karyawan lain.

Bastian mengernyit sekilas, tapi akhirnya dia mengangguk. "Kalau ada apa-apa, hubungi aku," bisiknya pelan sebelum meninggalkan ruangan.

Olivia menarik napas panjang sebelum duduk, membuka laptop yang sudah disiapkan, dan mencoba menyalakan semangatnya. Tapi tetap saja, perasaan gugup seakan menempel di udara.

"Ya Tuhan, semoga aku bisa bekerja dengan baik di sini," bisik Olivia sambil memandangi ruangan yang tampak asing.

Bersambung...

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Hasrat Terpendam Papa Tiriku   Bab 148. Sebentar Lagi.

    “Jadi, nanti saya bakal mules-mules, Suster?” tanya Olivia, suaranya bergetar sedikit saat matanya menatap cairan yang mengalir perlahan dari infus.Perawat berseragam hijau terang dengan name tag bertuliskan 'Gloria' itu mengangguk sambil tersenyum lembut.“Iya, Bu Olivia. Kontraksi biasanya mulai terasa setelah obatnya bekerja, tapi waktunya bisa berbeda-beda. Bisa setengah jam, bisa juga lebih lama, tergantung bagaimana respons tubuh Ibu.”Olivia mengangguk pelan, bibirnya berusaha melengkung membentuk senyum tipis. “Jadi, saya tinggal menunggu, ya, Sus?”Gloria membenarkan posisi selang infus yang mulai sedikit tertekuk di pangkal tiang penyangga. “Betul, Bu. Kalau nanti mulas mulai terasa, perut mengencang, atau ada perubahan yang membuat Ibu nggak nyaman, langsung bilang ya. Jangan ditahan sendiri.”“Baik, Suster,” jawab Olivia, suaranya pelan. Namun matanya tetap menatap cairan bening itu, seakan mencari tanda apa pun dari detik yang terus berjalan.Perlahan, telapak tangannya

  • Hasrat Terpendam Papa Tiriku   Bab 147. Menjelang Persalinan.

    Adrian melangkah terburu-buru di depan pintu IGD First Hospital, napasnya masih tersengal.“Suster! Tolongin, istri saya udah pecah ketuban!”Teriakannya menggema, membuat beberapa orang menoleh heran.Olivia di sampingnya tampak menegang, bibirnya bergetar kecil. “Mas…” gumamnya sambil menarik lengan Adrian lembut. “Kok bisa teriak-teriak? Tadi di mobil janji nggak akan panik pas sampai rumah sakit.”Adrian menoleh, dadanya naik turun cepat. Tangannya tetap erat menggenggam lengan Olivia, seolah takut dia akan goyah. “Itu kan di mobil. Di sini aku nggak bisa, Sayang.”Olivia mengangkat alis. “Kenapa?”“Aku takut kamu telat ditangani.” Suara Adrian bergetar, mencampur cemas dan takut lalu menatap penuh harap, memindahkan genggamannya ke punggung Olivia, mendorongnya pelan menuju nurse station.Tak lama, seorang perawat dengan seragam bersih dan name tag ‘Citra’ menghampiri mereka. Matanya cepat menangkap keadaan Olivia.“Siang, Pak. Ibu sudah pecah ketuban, ya?” Citra bertanya ramah s

  • Hasrat Terpendam Papa Tiriku   Bab 146. Menjelang Persalinan.

    “Huh… tenang, Via. Katanya ketuban pecah itu nggak langsung bikin bayi langsung keluar sekarang juga…”Olivia terdiam sesaat, matanya menatap lantai pantri yang kini basah oleh cairan bening yang tadi merembes dari balik dress hamilnya, menggenang tipis di sekitar kedua kakinya.Seharusnya pemandangan itu membuatnya panik, namun dia berusaha mengeraskan napas, menarik udara panjang pelan-pelan—satu kali, dua kali—seolah ingin menenangkan badai yang mulai bergemuruh di dadanya.Tangannya refleks mengusap perut yang sudah begitu besar.“Tenang… tarik napas, Via...” bisiknya lagi, kali ini lebih untuk menenangkan dirinya sendiri. “All is well…”Ucapan Adrian beberapa minggu terakhir kembali terngiang di kepalanya. Tentang tanda persalinan, kontraksi, dan apa yang harus dilakukan saat ketuban pecah. Ternyata semua obrolan yang dulu terasa seperti beban informasi, kini malah jadi pegangan kuat di tengah ketidakpastian.Olivia menarik napas dalam-dalam, lalu pelan menutup mata. “Pertama, ak

  • Hasrat Terpendam Papa Tiriku   Bab 145. Tanpa Aba-aba.

    “Via!” Suara yang memanggilnya dari ujung koridor membuat Olivia menghentikan langkah. Ia menoleh, lalu seketika senyumnya merekah lebar saat melihat sosok yang begitu dikenalnya berlari kecil menghampiri. “Mariska!” serunya senang. “Kamu ngapain di sini?” Mariska langsung mengaitkan lengannya di lengan Olivia dengan akrab, hati-hati agar tidak menyenggol perut buncit sahabatnya. “Aku ada urusan sebentar sama Mas Tian.” Tatapannya turun ke perut Olivia yang sudah membesar sempurna. “Ya ampun, kamu masih masuk kerja? Emang dibolehin sama Mas Adrian?” Olivia terkekeh pelan. “Lusa aku mulai cuti melahirkan.” Tangannya refleks mengusap perutnya yang menonjol. “Perkiraan lahir sekitar sepuluh hari lagi. Kata dokter bisa lebih cepat, bisa juga mundur.” Mereka terus berjalan berdampingan menuju pantry. “Terus kenapa masih ke kantor?” Mariska menggeleng kecil. “Aku aja lihat kamu jalan begini udah deg-degan.” Olivia membuka pintu pantry lebih dulu, lalu menoleh sambil terseny

  • Hasrat Terpendam Papa Tiriku   Bab 144. Suami Siaga.

    Memasuki usia kehamilan tiga puluh enam minggu, tubuh Olivia seolah melangkah ke babak baru yang jauh lebih berat. Kaki jenjangnya kini sudah tampak bengkak. Wajahnya yang dulu tirus kini membulat, dengan semburat merah muda khas ibu hamil. Perutnya membuncit sempurna, membuat setiap gerakan kecil—bangkit dari tempat tidur, membungkuk, atau bahkan sekadar berganti posisi tidur—terasa seperti perjuangan sendiri. Namun, dari semua perubahan itu, ada satu hal yang paling sering membuatnya menangis diam-diam: varises yang mulai menjalar di betisnya. Guratan kebiruan itu bukan hanya mengganggu pandangan, tapi juga membawa nyeri tiba-tiba yang menusuk dan tak kenal waktu. Setiap malam hampir pasti rasa kram datang menyerang, memaksa Olivia terbangun dalam keadaan panik. Malam ini pun sama. Jam digital di atas nakas menyala merah, menunjukkan pukul 02.03 dini hari. Olivia meringis, napasnya terengah tipis seiring rintihan lirih yang keluar dari bibirnya. "Mas..." suaranya hampir sepert

  • Hasrat Terpendam Papa Tiriku   Bab 143. Persiapan Menyambut si Kecil.

    “Mas, yang ini lucu nggak?”Suara Olivia terdengar riang dari ujung lorong perlengkapan bayi.Adrian yang sedang membolak-balik sepatu bayi mungil langsung menoleh. Di bawah lampu toko yang terang, Olivia berdiri sambil mengangkat selimut bayi bermotif rusa kecil.Adrian tersenyum tanpa sadar. “Lucu banget.”“Iya kan?” Olivia memeluk selimut itu ke dada.“Cocok buat bayi kita,” kata Adrian lembut, membuat senyum Olivia melebar.Perlahan tangan Olivia turun mengusap perutnya yang sudah membuncit sempurna di balik dress hamil berwarna krem.Usia kehamilan memasuki Delapan bulan. Sebentar lagi mereka tak perlu lagi membayangkan wajah si kecil. Mereka akan benar-benar bertemu.“Aku masih nggak percaya,” gumam Olivia pelan.“Hmm?” tanya Adrian.“Sebentar lagi kita bisa lihat wajahnya langsung,” kata Olivia, Tatapannya jatuh ke perutnya sendiri. Bibirnya melengkung lembut. “Aku udah nggak sabar banget.”Adrian menghampirinya sambil membawa sepasang kaus kaki bayi berwarna putih dengan telin

  • Hasrat Terpendam Papa Tiriku   Bab 45. Nevan Merajuk.

    Adrian menurunkan kacamatanya yang sedikit melorot, menjepit gagangnya di antara jari telunjuk dan ibu jari. Layar laptop di depannya menampilkan deretan tab wedding organizer lain—semuanya terbuka karena satu alasan: ia ingin menjauh sejauh mungkin dari Blissful Wedding. Setiap melihat nama itu, d

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-22
  • Hasrat Terpendam Papa Tiriku   Bab 125. Rumah Yang Kembali Hangat.

    “Pelan-pelan saja, Sayang…”Suara Adrian terdengar sangat dekat dan hangat, seperti sesuatu yang sudah lama tak didengar Olivia.Tangannya menggenggam siku Olivia dengan hati-hati saat wanita itu menuruni anak tangga kecil di depan rumah sakit. Gerakannya penuh kesabaran.Olivia menoleh sejenak. En

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-04-05
  • Hasrat Terpendam Papa Tiriku   Bab 123. Perhatian Bastian.

    Kesadaran Olivia merayap masuk perlahan, bukan seperti terbangun dari tidur yang nyenyak. Rasanya lebih seperti seseorang yang mendadak muncul dari dasar air dan itu terasa sangat berat, pelan, dan membingungkan.Ia merasakan kepalanya ringan, tapi tubuhnya aneh, seperti bukan bagian dirinya sendir

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-04-05
  • Hasrat Terpendam Papa Tiriku   Bab 109. Harapan Yang Pupus.

    “Hamil?” suara Adrian terdengar pelan, setelah beberapa saat keheningan menggantung di antara mereka. Olivia menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering, sementara perutnya kembali bergejolak halus dan itu sebenarnya bukan sakit, lebih seperti peringatan yang samar tapi mengganggu. “Apa iya, Mas?

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-04-02
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status