Home / Romansa / Hasrat Terpendam Papa Tiriku / Bab 45. Nevan Merajuk.

Share

Bab 45. Nevan Merajuk.

Author: eslesta
last update Huling Na-update: 2025-11-20 23:08:04

Adrian menurunkan kacamatanya yang sedikit melorot, menjepit gagangnya di antara jari telunjuk dan ibu jari. Layar laptop di depannya menampilkan deretan tab wedding organizer lain—semuanya terbuka karena satu alasan: ia ingin menjauh sejauh mungkin dari Blissful Wedding. Setiap melihat nama itu, dadanya seperti mengencang lagi, mengingat kepanikan dan rasa tak percaya yang ia rasakan saat teh yang ia minum kemarin mendadak membuat tubuhnya terasa aneh dan berakhir dengan tidur bersama Olivia.

Ia mengusap pelipis. "Sial, kenapa kepikiran Celia lagi."

Ketukan pelan pada pintu ruangan, mengusik pikirannya.

“Siapa?!” Suaranya sedikit lebih keras dari yang ia maksudkan.

“Renata, Pak!” seru suara yang sudah tidak asing di telinganya.

“Oh. Masuk aja! Ada apa, Ren?”

Pintu terbuka pelan, Renata masuk dengan senyum yang terlihat ragu. “Pak, ada Mas Hadi dari Blissful Wedding. Mau ketemu langsung dengan Bapak. Saya sudah bilang Bapak sedang sibuk, tapi … sepertinya beliau nggak akan pergi sebel
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter
Mga Comments (1)
goodnovel comment avatar
NING
Aduh Gis. Kamu malah keblinger dg penjahat.
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Hasrat Terpendam Papa Tiriku   Bab 107. Yang Sudah Memeluk, dan Yang Masih Mendekat.

    Pagi itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Cahaya matahari baru saja merayap di permukaan kolam renang. Adrian bersandar di kursi malasnya, menatap Olivia yang duduk tak jauh darinya. Rambut istrinya tergerai bebas, kulitnya disapa lembut cahaya pagi, namun sorot matanya tampak sedikit redup. “Kamu capek, Sayang?” tanya Adrian pelan. “Hmm? Eh? Duh, apa, Mas?” Olivia menoleh, seolah baru tersadar. Pantulan air kolam menari di wajahnya. “Nah, kan,” Adrian menggeser tubuhnya, tak lagi bersandar. “Aku cuma nanya, kok kamu kelihatan bingung.” Olivia tersenyum tipis, senyum yang lebih seperti usaha daripada ekspresi bahagia. “Iya, Mas… sedikit.” “Lagi pikirin apa, Sayang?” “Pekerjaan di kantor lagi ramai banget. Untung ada Ayu sama Rayhan. Kalau nggak, mungkin aku sudah tumbang.” Adrian berpindah ke kursi malas Olivia. Ruang sempit itu justru membuat mereka terasa semakin dekat. Tanpa sadar, Olivia menyandarkan kepalanya di lengan Adrian, menikmati detak jantung suaminya yang stabil.

  • Hasrat Terpendam Papa Tiriku   Bab 106. Harga Sebuah Kepercayaan.

    Olivia berdiri di depan lobi kantor PT. Fast Track, membiarkan hembusan angin sore mengibaskan ujung rambutnya. Pandangannya mengikuti arus mobil yang keluar-masuk area lobi, tapi tak satu pun berhenti terlalu lama. Jam di pergelangan tangannya kembali ia lirik.“Tadi katanya udah dekat,” gumamnya pelan, nyaris kalah oleh deru mesin kendaraan. “Kok sepuluh menit belum kelihatan, sih…”Ia meraih ponsel, ibu jarinya sudah siap menyentuh nama Adrian, ketika sebuah mobil familiar berbelok memasuki gerbang gedung perkantoran. Sorot matanya langsung berubah cerah.“Ah, itu dia.”Begitu mobil melambat di depannya, Olivia melangkah cepat, lalu membuka pintu penumpang.“Hai, Mas. Kok lama?” katanya sambil duduk dan menarik sabuk pengaman.Adrian menghela napas pendek, tangannya masih mantap di kemudi. “Tadi ada keributan di halte depan. Aku mau ambil jalur kiri, tapi nggak bisa. Macet total.”“Keributan apa?”“Jambret ketahuan. Dicegat warga,” jawab Adrian singkat, lalu menginjak pedal gas per

  • Hasrat Terpendam Papa Tiriku   Bab 105. Api Kecil di Dapur Bisnis.

    Mobil yang dikemudikan Adrian melambat tepat di depan lobi gedung PT. Fast Track Logistic. Olivia melepaskan seatbelt, tubuhnya condong sedikit ke kanan. Ia mengecup pipi Adrian dengan lembut.“Makasih, Pak Suami,” katanya sambil tersenyum. “Hati-hati ya. Kabari aku kalau udah sampai Solaire.”Adrian tertawa kecil, meraih tangan Olivia dan mengecup punggungnya. “Siap, Sayang. Happy working, Nyonya Adrian.”Olivia membuka pintu, turun dengan langkah ringan sambil membawa paperbag berisi oleh-oleh. Ia melambaikan tangan sekali lagi sebelum mobil itu kembali melaju.Begitu melangkah masuk ke lobi, Rayhan, dengan tas selempang menggantung di bahu, mengangkat tangan tinggi-tinggi.“Hai, Via!” godanya nyaring. “Pengantin baru, gimana bulan madunya?”Olivia tersenyum sambil mempercepat langkah. “Menyenangkan,” jawabnya singkat, lalu menoleh dengan senyum nakal. “Kamu kapan nyusul? Buruan cari perempuan baik-baik, Ray.”Rayhan terkekeh, ikut berjalan di sampingnya melewati pemeriksaan keamana

  • Hasrat Terpendam Papa Tiriku   Bab 104. Hari-hari Setelah Sah.

    Olivia terbangun oleh dentuman petir yang memecah langit, begitu dekat hingga kaca jendela bergetar pelan. Matanya langsung terbuka, napasnya tercekat sesaat sebelum ia sadar ada lengan yang melingkar erat di pinggangnya. Lengan itu milik Adrian. Kehangatan tubuh suaminya membuat jantungnya perlahan tenang. “Ya Tuhan,” bisiknya lirih, suara hujan seperti tumpah dari langit. “Deres banget. Pantes petirnya serem.” Olivia mengangkat tangan Adrian dengan hati-hati, melepaskan diri pelan-pelan agar tak membangunkannya. Ia turun dari tempat tidur, melangkah mendekat ke jendela. Tirai tipis tersibak sedikit, memperlihatkan kilatan cahaya putih yang membelah langit pagi. “Kenapa, Sayang?” suara Adrian terdengar serak dari atas ranjang. Matanya menyipit, mengikuti siluet Olivia. Olivia menoleh, senyum kecil mengembang. Ia kembali mendekat, naik ke ranjang, lalu merebahkan diri kembali di samping Adrian. “Aku cuma mau nutup tirai. Tadi petirnya kelihatan jelas banget. Serem.” “Oh…” Adrian

  • Hasrat Terpendam Papa Tiriku   Bab 103. Satu Bahagia, Satu Terluka.

    Adrian menata pakaian mereka satu per satu ke dalam koper yang terbuka di atas ranjang. Kaosnya dilipat rapi, celana disusun sejajar, lalu gaun Olivia ia ratakan pelan. Bulan madu yang manis terasa seperti baru dimulai, padahal koper sudah kembali terbuka dan siap menelan kenangan. Dari balik pintu kamar mandi, terdengar suara air berhenti. Beberapa detik kemudian, pintu terbuka. Aroma sabun bercampur uap hangat menyusup ke kamar. “Udah kamu rapihin pakaian kita, Mas?” suara Olivia muncul lebih dulu, lembut. Ia berdiri di ambang pintu, rambutnya basah dan dibalut handuk kecil. Tetesan air masih jatuh ke lantai saat ia melangkah masuk. “Udah, meringankan tugas istri,” jawab Adrian tanpa menoleh. Olivia tersenyum. Ia berjalan mendekat, lalu tanpa banyak kata, duduk di pangkuan Adrian. Berat tubuhnya ringan, tapi kehadirannya langsung memenuhi ruang. “Sweet banget suami aku,” ujarnya sambil menyenderkan kepala sebentar. Adrian tertawa pelan. Tangannya refleks melingkar di p

  • Hasrat Terpendam Papa Tiriku   Bab 102. Nikmatnya Bulan Madu.

    Adrian melajukan mobilnya perlahan menuju Puncak, menembus jalanan hijau yang berliku. Di kursi depan sedan itu, dua hati yang baru sehari disatukan dalam pernikahan menikmati perjalanan pertama mereka sebagai suami istri. “Mas, habis dari Puncak, ada rencana ke tempat lain?” tanya Olivia. Adrian menoleh sekilas, lalu meraih tangan Olivia dan meletakkannya di depan dadanya. “Sejauh ini belum ada, Sayang. Kamu masih pengen jalan-jalan?” “Pengen sih, tapi aku cuma cuti satu minggu, Mas,” jawab Olivia. Adrian tersenyum hangat. “Lain kali kita atur waktu, ya.” “Iya, Mas. Tempat yang lebih jauh, gimana? Aku mau ke Nusa Penida,” bisik Olivia. “Boleh. Aku juga pengen banget ke sana.” “Asiiik! Nanti aku coba cari tahu trip ke sana.” Mereka terus berbincang ringan sepanjang perjalanan. Udara cerah meski langit Bogor sempat meneteskan gerimis di atas kaca mobil Adrian. Tak lama, mobil yang membawa mereka akhirnya melambat, lalu berhenti mulus di depan sebuah bangunan kecil yang tersemb

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status