Beranda / Romansa / Hasrat Terpendam Papa Tiriku / Bab 51. Riak Kenikmatan Di Bathtub. (21++)

Share

Bab 51. Riak Kenikmatan Di Bathtub. (21++)

Penulis: eslesta
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-30 06:17:08

Suara gemericik air di dalam bathtub membuat suasana tiba-tiba berubah menjadi syahdu. Olivia meremas tepian bathtub saat Adrian menghisap kulit leher dengan dalam, sementara kedua tangan Adrian terus meremas dadanya dengan lembut. Kiri dan kanan dengan ritme pas, tak buru-buru, lembut namun penuh gairah, dan itu membuat Olivia semakin terpancing hasrat. Sesekali Adrian memainkan puncak dadanya yang mengeras.

“Eumh... pelan aja, Mas...” desah Olivia, memiringkan lehernya sedikit lebih jauh, me
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Hasrat Terpendam Papa Tiriku   Bab 124. Ketika Adrian Merasa Terancam.

    Adrian berdiri di ambang pintu, mengenakan kemeja yang masih rapi meski kainnya tampak kusut, dan rambutnya tak setertata biasanya. Ia langsung masuk dengan langkah tergesa, dalam sekejap sudah berada di sisi ranjang.Sebelum Olivia sempat berkata apa pun, Adrian memeluknya erat. Tangannya melingkari bahu Olivia dengan kuat.“Maaf. Aku minta maaf…” Suaranya teredam di rambut Olivia.Olivia kaku beberapa saat, lalu perlahan mengangkat tangan dan membalas pelukan itu.“Aku nggak tau kamu sampai dibawa ke rumah sakit,” Adrian melanjutkan pelan. “Aku baru liat pesan setelah meeting selesai.”Napasnya terasa berat di telinga Olivia.“Aku biarin kamu berjuang sendirian.”Olivia menutup mata sejenak. “Mas… aku nggak apa-apa.”Adrian sedikit menjauh, tapi tangannya masih menyentuh bahu istrinya. Ia menelusuri wajah Olivia dengan tatapan penuh cemas.“Tapi kamu pucat.”“Aku cuma pingsan sebentar.”Tatapan Adrian beralih ke arah lain dalam ruangan itu, tepatnya ke Bastian.Pria itu masih berdir

  • Hasrat Terpendam Papa Tiriku   Bab 123. Perhatian Bastian.

    Kesadaran Olivia merayap masuk perlahan, bukan seperti terbangun dari tidur yang nyenyak. Rasanya lebih seperti seseorang yang mendadak muncul dari dasar air dan itu terasa sangat berat, pelan, dan membingungkan.Ia merasakan kepalanya ringan, tapi tubuhnya aneh, seperti bukan bagian dirinya sendiri.Perlahan-lahan, ia mengedip dan membuka mata, yang pertama kali terlihat hanyalah langit-langit putih menyilaukan. Beberapa kali ia mengedip, berusaha menyesuaikan diri dengan cahaya.Tiba-tiba, suara laki-laki terdengar di dekatnya.“Via? Kamu sudah sadar?”Suara itu membuat alisnya berkerut. Bukan suara yang ia inginkan. Matanya menoleh, dan di sana—wajah Bastian menatapnya.Pria itu duduk di kursi dekat ranjang, tubuhnya condong ke depan, tangan tertekuk di lutut, seolah menahan napas menunggu momen ini. Saat matanya bertemu dengan Olivia yang kini benar-benar terbuka, bahunya merosot sedikit lega, dan napasnya yang tertahan akhirnya terlepas dengan lirih.“Syukurlah kamu akhirnya bena

  • Hasrat Terpendam Papa Tiriku   Bab 122. Ketika Suami Terlalu Sibuk Menyelamatkan Dunia.

    Aroma nasi goreng yang hangat memenuhi ruang makan, tapi entah kenapa udara di sana terasa dingin dan kaku. Olivia menundukkan kepala, jemarinya saling meremas di bawah meja, seolah mencari pegangan. Di seberangnya, Adrian dengan cepat menyendok nasi goreng, matanya tak pernah menatap wajah Olivia. Sendoknya malah sibuk memindahkan potongan cabai merah dari piring satu per satu, tanpa semangat. “Kamu yakin udah kuat kerja?” Adrian bertanya tiba-tiba, suaranya datar dan seolah cuma rutinitas. Olivia mengangguk pelan, memaksakan senyum yang hampir tidak sampai ke matanya. “Yakin, Mas. Aku nggak enak udah seminggu nggak masuk. Ayu sama Rayhan pasti kewalahan. Bu Laras juga.” Dia menyuap nasi dengan gerakan lambat. Rasa mual menyergap pelan, seperti gelombang kecil yang siap membesar kapan saja. Tangannya refleks bergerak ke perutnya di bawah meja, menahannya. “Kalau belum kuat, di rumah aja,” Adrian menjawab ringan, kata-katanya terdengar seperti sekadar formalitas. “Bu Laras pasti

  • Hasrat Terpendam Papa Tiriku   Bab 121. Berusaha Terlihat Kuat.

    “Pak Adrian.” Suara itu memecah keheningan dari dengung pelan pendingin ruangan dan bunyi ketikan yang tak henti sejak pagi. Adrian hanya melirik sekilas ke arah Renata yang duduk di seberang meja, lalu kembali menatap layar laptopnya. Deretan angka merah memenuhi kolom laporan keuangan. Grafik yang biasanya naik stabil kini menukik tajam seperti tebing curam. “Maaf, Pak. Saya baru dapat info. Pihak akun gosip minta dua puluh lima juta untuk takedown video.” Jari Adrian berhenti mengetik. “Hah? Semahal itu?!” Kepalanya terangkat cepat. Renata mengangguk. “Awalnya bahkan mereka minta di lima puluh.” Adrian mendengus kasar. Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi, tangan menyilang di dada. “Ngaco.” Rahangnya mengeras. Tatapannya kembali ke layar, pada angka kerugian yang sudah membuat pelipisnya berdenyut sejak seminggu terakhir. “Jadi gimana, Pak?” “Satu juta. Maksimal.” Ucapannya tegas. “Kalau nggak mau, biarkan saja. Video itu sudah telanjur menyebar. Sekarang yang penting kita pu

  • Hasrat Terpendam Papa Tiriku   Bab 120. Untung Ada Papa.

    Olivia membuka mata perlahan. Langit kamar masih pucat kebiruan. Jam digital di nakas menyala redup: 06.02.Napasnya tiba-tiba terasa sesak, seolah ada beban berat yang mendesak dari dalam perutnya, menekan hingga dada ikut sesak.Sebelum sempat berpikir, gelombang mual itu menyergap tanpa ampun.Ia segera bangkit, hampir tersandung selimut sendiri. Tangannya menutup mulut, menahan cairan asam yang naik ke tenggorokan. Kakinya bergegas menuju kamar mandi.Tubuhnya membungkuk di depan kloset.“Ukh—”suara serak keluar bersamaan dengan muntahan sisa makanan yang tumpah.Beberapa detik berlalu, perutnya seperti dikuras hingga hanya tersisa cairan bening yang terasa sangat asam, menusuk sampai ke ujung hidungnya.Dadanya naik turun tak beraturan, tenggorokannya terasa terbakar. Air mata mengalir begitu saja, refleks tubuh yang tersiksa.“Ya Tuhan…” lirihnya lemah di sela batuk keras.Tubuhnya gemetar, tangannya mencari sesuatu untuk berpegangan dan menemukan tepi wastafel. Jemarinya memut

  • Hasrat Terpendam Papa Tiriku   Bab 119. Tanpa Perhatian.

    Kelopak mata Olivia terbuka perlahan, menolak sepenuhnya menerima siang yang beranjak sore. Cahaya temaram keemasan merayap lewat tirai, menyelimuti tubuhnya dengan kehangatan yang terasa asing. Tanpa berpikir panjang, tangannya bergerak otomatis meraih ponsel di atas nakas.Layar menyala, matanya terpaku pada jam di sudut layar: 17.03.Dadanya mengempis pelan. Ponselnya sepi dari notifikasi ataupun panggilan tak terjawab dari Adrian. Padahal sejak siang, ia sudah menelpon berkali-kali dan mengirim pesan, tapi ada balasan dari Adrian yang dinantinya.“Ya ampun… sibuk banget sih kamu?” gumamnya dengan suara serak.Tiba-tiba ponselnya bergetar, membuat Olivia terkejut. Jantungnya melonjak, berharap ada sesuatu yang berbeda. Namun saat nama “Mama Erika” terpampang di layar, bahunya kembali turun dengan lemas.Ia menarik napas dalam dan menyeka wajahnya. “Halo, Ma…” suaranya lirih, terdengar lebih rapuh dari yang ia duga.“Via? Kamu sakit?” Erika langsung terdengar cemas. “Suara kamu sera

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status