Beranda / Urban / Hasrat Terpendam Sang Kameramen / Bab 2 - Sebuah Jalan Keputusasaan

Share

Bab 2 - Sebuah Jalan Keputusasaan

Penulis: Frands
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-29 18:55:45

“Video dewasa!” Beni sedikit berteriak dengan mata melebar.

“Apa ada yang salah?” Rendra justru terkekeh melihat ekspresi Beni. “Kau bisa mendapat banyak uang dengan itu.”

Beni berada dalam dilema, pikiran awalnya dia hanya mendapat pekerjaan yang wajar dan mendapat uang untuk membayar sewa kos. Tapi justru pekerjaan yang ditawarkan sangat di luar prediksinya sebagai juru rekam.

“Maaf, Pak Rendra. Untuk pekerjaan yang bapak tawarkan saya tidak bisa menerimanya.”

Dengan berat hati, Beni melewatkan tawaran itu karena tak sesuai dengan moral yang selama ini diajarkan.

“Baiklah, aku bisa mengerti.” Rendra menyodorkan selembar kartu nama. “Jika suatu saat kau berubah pikiran, datanglah ke alamat ini.”

Rendra menepuk pundak Beni lalu melangkah pergi meninggalkan kafe.

“Mungkin belum rejeki.” Beni menghela napas panjang sambil menatap punggung Rendra yang baru saja melewati pintu kafe.

Beni sendirian di kafe yang sepi.

Dia berusaha kembali memikirkan cara lain untuk mendapat uang. Namun suara ponselnya memecah kesunyian dengan getaran yang terasa seperti sengatan listrik di saku celananya.

“Lintang?” Gumamnya ketika melihat nama adiknya berkedip di layar.

"Kak..." suara Lintang di seberang sana langsung menyayat hati Beni. Suaranya terisak, bergetar ketakutan, jauh berbeda dari suara ceria biasanya yang selalu memanggilnya. "Ibu... Ibu jatuh di kamar mandi tadi sore. Tetangga yang bantu bawa ke rumah sakit. Sekarang... sekarang di UGD. Kata dokter kondisinya... kritis.”

Dunia Beni benar-benar berhenti.

Kepalanya kosong. Semua ide dan beban pikirannya—langsung lenyap, digantikan oleh rasa takut yang begitu dalam dan menusuk.

“Baik aku ke sana sekarang!”

Tanpa pikir panjang, Beni beranjak dari tempat duduknya dan meninggalkan kafe dengan tergesa-gesa.

Motor Beni melesat kencang menuju rumah sakit yang berjarak 20 km dari tempatnya. Selama 20 menit Beni memecah kepadatan jalanan dengan pikiran yang kalut tentang ibunya.

Sesampainya di rumah sakit, suasana UGD membuat dadanya sesak. Ruangan itu berjubel dengan orang-orang, berisik, dan bau campuran obat-obatan, desinfektan, serta keringat menusuk hidungnya. Matanya panik mencari-cari.

"Permisi, Mbak! Saya cari Ibu Surti, baru masuk tadi sore!" teriak Beni pada seorang perawat yang berlalu-lalang.

Perawat itu melihat daftar di clipboard-nya. "Surti... usia 50? Cedera kepala?"

Beni mengangguk cepat, jantung berdebar kencang.

"Ranjang 5, di sudut sana," ujar perawat itu sambil menunjuk.

Beni bergegas menuju sudut ruangan. Di sanalah ibunya terbaring. Wajahnya yang biasanya ramah dan hangat, kini pucat pasi dan tampak menua sepuluh tahun dalam beberapa jam. Selembar perban membalut kepalanya, dan selang infus menancap di tangannya yang kurus. Lintang, adiknya, duduk tergugu di samping ranjang, memegangi tangan ibu mereka, matanya sembab.

"Ibu..." desis Beni, suaranya parau. Ia bergegas menghampiri, meraih tangan ibunya yang dingin. Ibunya hanya mengerjapkan mata lemah, tidak bisa berkata-kata.

Tak lama kemudian, seorang dokter mendekati mereka. Wajahnya tampak lelah. "Anda keluarga Ibu Surti?"

"Iya, Dok. Saya anaknya, Beni. Gimana kondisi Ibu?" tanya Beni dengan cemas.

"Beliau mengalami cedera kepala akibat jatuh. Kami sudah melakukan pertolongan pertama, tapi ada indikasi pendarahan dalam yang perlu dipantau. Ibu harus dirawat inap di ICU untuk observasi ketat. Selain itu, kami perlu melakukan beberapa pemeriksaan lanjutan, CT Scan dan MRI, untuk memastikan tingkat keparahannya."

Beni mengangguk pelan, mencoba menelan semua informasi itu. Lalu, pertanyaan yang paling ditakutinya pun meluncur. "Kira-kira... biayanya berapa, Dok?"

Dokter itu melihatnya dengan tatapan yang hampir kasihan. "Untuk biaya awal perawatan ICU, pemeriksaan, dan obat-obatan, estimasinya sekitar lima belas juta. Itu belum termasuk operasi jika diperlukan.”

Kaki Beni langsung lemas. Lima belas juta. Angka itu bergema di kepalanya seperti lonceng kematian. Dunia di sekelilingnya seakan berputar. Ia bersandar pada ranjang ibunya untuk menahan tubuhnya yang goyah. Uang segitu mustahil bisa ia kumpulkan.

Matanya yang berkaca-kaca menatap wajah ibunya yang tak berdaya, lalu ke adiknya yang ketakutan. Rasanya seperti ada tangan tak terlihat mencekik lehernya, membuatnya sulit bernapas.

Dengan napas berat yang masih berusaha ditahan, Beni beringsut mendekati Lintang yang masih terisak. Ditepuknya pundak gadis itu perlahan.

“Lintang, dengar Kakak,” suaranya berusaha tenang, meski dadanya sesak oleh keputusasaan. “Ibu pasti bisa melewati ini. Kita harus kuat buat Ibu, ya.”

Lintang mengangguk lemah. “Tapi, Kak... kata dokternya parah...”

“Iya, Kakak dengar. Tapi Ibu kita kuat. Kamu tunggu di sini, jangan jauh-jauh dari Ibu. Kakak urus administrasi dulu.”

Setelah memastikan adiknya sedikit lebih tenang, Beni berjalan menuju loket administrasi dengan langkah gontai. Seorang petugas dengan wajah lelah menyambutnya di balik kaca.

“Maaf, Mbak. Untuk Ibu Surti, saya mau tata cara pembayarannya...”

Petugas itu menghela napas. “Untuk pasien ICU, harus bayar uang muka dulu sepuluh juta. Tanpa itu, obat-obatan khusus dan pemeriksaan lanjut seperti CT Scan sulit kami proses.” Perempuan itu melihat wajah pucat Beni. “Ada asuransi?”

Beni menggeleng, mulutnya kering. “Tidak, Mbak.”

“Mungkin... silakan diusahakan ya, secepatnya. Semakin cepat semakin baik untuk kondisi pasien.”

Beni mengangguk dan kembali menuju ruangan ibunya. Dengan perasaan semakin berat, Beni memutuskan untuk mencoba satu-satunya cara yang dia tahu. Berdiri di lorong rumah sakit yang sepi, dia menghubungi satu per satu klien yang masih menunggak.

“Pak Andi, tolong ini urgent sekali. Ibu saya di ICU butuh biaya. Saya mohon lunasi pembayaran video pernikahan anak Bapak.”

“Saya turut berduka untuk musibah yang menimpamu. Tapi saya juga lagi tidak ada uang.”

Panggilan berikutnya. “Bu Sari, saya benar-benar butuh uangnya sekarang. Ibu saya...”

“Lho, kan tadi sudah saya bilang? Masalah pembayaran akan saya negosiasi sama kantor, sabar ya.”

Satu per satu penolakan datang.

Hampir tanpa emosi, Beni menutup teleponnya. Rasanya dunia ini begitu kejam. Dia kembali ke kursi tunggu, tubuhnya lunglai. Matanya menatap tas kamera ayahnya yang selalu dia bawa. Jari-jarinya membuka resleting, mengeluarkan kamera SLR tua itu.

Dia ingat, dulu ayahnya dengan bangga memotret mereka sekeluarga di studio. “Ayo, senyum yang manis untuk Ibu!” seru ayahnya, sebelum jepretan kamera mengabadikan momen bahagia itu. Kameranya dulu adalah kebanggaan, alat untuk mengukir kenangan indah.

Sekarang, benda yang sama terasa seperti beban. Namun kamera tua ini juga menjadi satu-satunya harapan yang dia punya.

Beni berada dalam kebingungan dan putus asa yang terus menghantam kepalanya.

Tiba-tiba, dia teringat ucapan Rendra saat di kafe.

“Aku butuh orang dan akan membayar 10 juta untuk satu video.”

Beni terdiam sejenak, otaknya yang lelah mencerna kata-kata yang terngiang di kepalanya. “Tawaran itu memang bagus. Tapi…”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Hasrat Terpendam Sang Kameramen   Bab 65 - Atasan dan Bawahan Part 4

    Pintu kayu tebal kamar 312 hotel butik itu tertutup dengan bunyi klik yang halus, mengisolasi mereka dari dunia luar. Suite-nya elegan namun minimalis: tempat tidur king size dengan sprei putih, lampu temaram, dan balkon kecil dengan pemandangan lampu kota. Begitu masuk, Catherine melepas blazernya dengan gerakan yang sudah begitu biasa, lalu duduk di tepi tempat tidur, melepaskan sepatu hak tingginya dengan helaan napas lega.Beni masih berdiri dekat pintu, keraguan akhirnya menyeruak mengatasi hasrat dan kepatuhannya sepanjang malam ini.“Bu,” ujarnya, suaranya serak. “Ini… apa yang kita lakukan ini benar?”Catherine mengangkat alis, memandangnya dengan ekspresi datar. “Kau baru mempertanyakannya sekarang? Setelah kita melakukan lebih saat di kantor.”“Tapi… suamimu. Bagaimana jika…” Beni tak melanjutkan, tapi pertanyaannya menggantung di udara ber-AC yang sejuk.Wanita itu mengeluarkan tawa pendek, getir, dan tanpa kebahagiaan. Dia memutar gelang emas sederhana di pergelangan tanga

  • Hasrat Terpendam Sang Kameramen   Bab 64 - Atasan dan Bawahan Part 3

    “Kau... benar-benar pria muda yang tak kenal lelah,” ucap Bu Catherine, suaranya serak namun ada nada kagum yang tak sepenuhnya bisa disembunyikan. Dia meninggalkan blazernya dan mendekat lagi, tapi langkahnya tidak lagi seanggun tadi. Ada goyangan kecil, bukti bahwa tubuhnya sudah mencapai batas.Dia berlutut di sisi sofa, wajahnya hanya berjarak sehasta dari hasrat Beni yang masih menyala. “Aku ingin melanjutkan,” bisiknya, jari-jarinya yang dingin menyentuh kulit panas Beni, membuat keduanya sama-sama terkesiap. “Tapi tubuhku... sungguh lelah.”Dia menarik napas dalam, dan untuk pertama kalinya malam itu, Beni melihat kerentanan sejati di wajahnya—kerutan halus di sudut mata, gemetar kecil di tangan yang biasanya begitu tegas.“Ronde kedua,” gumam Bu Catherine, lebih kepada dirinya sendiri. Matanya menatap Beni dengan intensitas baru. “Tapi tidak di sini. Tidak di sofa kantor yang sempit ini.”Dia berdiri dengan sedikit kesulitan, lalu mengambil blazernya. Saat mengenakannya, dia b

  • Hasrat Terpendam Sang Kameramen   Bab 63 - Atasan dan Bawahan Part 2

    “Aku... aku tidak tahu,” jawab Beni, tapi tangannya meraih pinggul Catherine.“Kau tahu,” bantah Catherine sambil mempercepat ritme. “Kau hanya takut mengakuinya. Semua pria sesungguhnya ingin menikmati hidangan. Melepas beban tanggung jawab.” Dia berdiri, bibirnya menghampiri telinga Beni. “Lepaskan saja. Biarkan aku yang mengendalikan. Untuk saat ini, kau hanya pria yang membutuhkan pelarian.”Pelarian?” tanya Beni terengah.“Dari segala tekanan,” bisik Catherine, napasnya semakin berat. “Dari ekspektasi. Dari tugas besok. Dari...” Dia berhenti sejenak, sebelum akhirnya duduk di pangkuan Beni hingga menyatu. “Dari segala hal yang membuatmu takut di luar pintu ini.”Gerakannya semakin intens. “Sekarang, jangan berpikir. Rasakan saja. Rasakan bagaimana aku menggerakkan tubuhmu. Rasakan bagaimana kau menanggapi setiap perintahku.” Suaranya menjadi lebih rendah, lebih dalam. “Karena besok, kita akan kembali ke peran kita. Tapi untuk sekarang...”Dia menarik napas tajam sebelum meneruska

  • Hasrat Terpendam Sang Kameramen   Bab 62 - Atasan dan Bawahan Part 1

    Beni memalingkan wajah, menghindari sentuhannya. “Saya menolak, Bu Catherine. Tolong, kita harus punya batasan sebagai atasan dan bawahan.”Penolakan itu justru seperti bensin pada api. Cahaya di mata Bu Catherine berubah dari rayuan menjadi kobaran keputusasaan dan amarah yang terpendam. “Batasan?” hardiknya, suara meninggi. “Kau pikir kau bisa masuk ke kantorku, menanyakan tentang kartu terkutuk itu, lalu bersikap suci? Tidak semudah itu!”Dia mengepalkan tangan di dada kemben hitamnya, napasnya memburu. “Aku tahu tentang investigasi sembunyi-sembunyimu dengan Nadia! Aku tahu kalian menyelidiki hal-hal yang tidak kalian pahami! Kau butuh pelindung, Beni. Dan aku bisa jadi pelindungmu… atau aku bisa menjadi mimpi buruk terbesarmu di kantor ini.”Ancaman itu menggantung, jelas dan tajam. Bu Catherine menggunakan semua kartunya—hasrat, kekuasaan, dan pengetahuan rahasia.“Apakah ini ancaman untuk saya, Bu?” tanya Beni, berusaha tetap tenang meski jantungnya berdebar kencang.“Aku menaw

  • Hasrat Terpendam Sang Kameramen   Bab 61 - Penawaran sang Atasan

    Beni menelan ludah. Jantungnya berdebar kencang. Dia melihat ketegangan di wajah Bu Catherine—tidak hanya kemarahan, tetapi juga, sebuah kewaspadaan yang berlebihan. Seperti seseorang yang sedang mengantisipasi sebuah nama yang tak ingin didengarnya.Dengan tangan yang hampir gemetar, dipenuhi oleh keputusasaan dan keyakinan bahwa ini adalah satu-satunya jalan, Beni merogoh saku jaketnya. Dia mengeluarkan kartu hitam itu, dan dengan gerakan cepat meletakkannya di atas meja kerja Bu Catherine, tepat di bawah cahaya lampu.“Ini, Bu,” katanya, suaranya serak. “Apakah ini berarti sesuatu bagi Anda?”Efeknya instan.Wajah Bu Catherine yang semula maskulin penuh kendali, mendadak pucat. Dia tidak menjerit atau menarik napas tajam, tapi seluruh tubuhnya kaku. Matanya membelalak, menatap kartu itu seperti melihat ular sungguhan. Kesal dan ketakutan itu berperang di raut wajahnya, sebelum akhirnya dikubur di bawah topeng dingin yang cepat kembali. Namun, keretakannya sudah terlihat.Dia mengan

  • Hasrat Terpendam Sang Kameramen   Bab 60 - Kembali ke Kantor

    “Kau juga akan meliput kafe ini?” Tanya Jocelyn yang samar-samar mendengar gumaman Beni.Beni tersentak dari lamunan. “I—iya, atasanku memberi tugas untuk meliput kafe milikmu besok.”“Mungkin atasanmu juga tahu tentang mereka jika dia memberimu tugas untuk meliput ini.” Balas Jocelyn dengan sorot mata penuh kelelahan.“Itu... membuat segalanya semakin rumit,” gumam Beni, suaranya berat. Jocelyn mengangguk pelan, matanya berkaca. “Aku juga merasa hal yang sama. Aku seperti boneka. Diberi makan, dihias, tapi tali di leher ini tetap ada.” Dia melihat kartu nama yang Beni berikan.Kafe yang ramai di balik pintu kini terasa seperti panggung boneka, dan dia tidak tahu siapa yang menarik tali-tali itu, atau berapa banyak orang di sekitarnya yang juga terikat oleh benang yang sama.Beni mengepalkan kartu hitam itu. Rasa ingin tahu dan ketakutan kini bercampur dengan kewaspadaan yang membara. “Aku akan menanyakan langsung pada atasanku, Jocelyn. Terima kasih atas waktunya.”Beni keluar dari

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status