LOGINKeesokan harinya, Beni berdiri di depan sebuah apartemen mewah di kawasan segitiga emas. Marmer dan kaca gedung itu memantulkan sinar matahari, menyilaukannya. Ia merasa seperti ikan yang tersesat di akuarium mewah. Tas kamera ayahnya terasa semakin berat di pundak.
“Ini demi Ibu,” desisnya, memaksakan satu kaki melangkah masuk. Produser Rendra menyambutnya di lantai paling atas. Pria itu mengenakan kemeja linen putih yang mahal, celana chino, dan senyum yang terlalu sempurna. Apartemennya minimalis, didominasi warna putih dan abu-abu, dengan peralatan elektronik mutakhir yang terpajang. Rasanya sangat kontras dengan kekumuhan kamar kos Beni. “Silakan duduk, Beni,” ujar Rendra, menunjuk sofa kulit yang lembut. “Kau mau minum apa?” “Tidak, terima kasih,” jawab Beni singkat, tangannya berkeringat. “Baiklah. Kita akan langsung ke pokok persoalan.” Rendra menyilangkan kaki, matanya mengamati Beni dengan cermat. “Apa kau berubah pikiran dengan tawaran kemarin?” Beni mengangguk pelan, tenggorokannya kering. “Apa benar kau akan membayarku 10 juta untuk satu video?” “Tentu saja, Beni.” Senyum Rendra semakin lebar. Ia mengambil tabletnya, menunjukkan rincian gaji yang didapat setiap kru. “Aku tak akan main-main dalam berbisnis.” Beni membeku ketika menatap tulisan di bagian kameramen. Jumlah itu bukan hanya 10 juta, tapi 15 juta. Cukup untuk membayar uang muka rumah sakit dan beberapa hari perawatan berikutnya. “Bagaimana?” tanya Rendra. “5 juta dibayar di muka, sisanya setelah selesai.” “Saya… setuju,” gumamnya akhirnya, suara itu terasa asing di telinganya sendiri. “Tapi bisakah aku mendapat 10 juta? Aku butuh untuk biaya rumah sakit ibuku.” Senyum Rendra sedikit melebar, tapi matanya tetap tajam dan berhitung. “Tak masalah. Tapi sebelum kita lanjut, ada baiknya kita terbuka sepenuhnya.” Dia menyandar ke kursinya, jari-jemarinya menyilang di atas meja. “Ini agak sedikit berbeda dari proyek videografi biasa, Beni. Konten yang kita buat adalah… video dewasa. Untuk pasar khusus, jadi ada beberapa situasi khusus.” Beni mengangguk pelan, keringat mengucur deras di pelipisnya. “Saya mengerti ini terasa asing bagimu. Tapi pikirkan baik-baik. Bayarannya tunai. Besok uang mukanya bisa langsung masuk ke kantongmu.” Dia jeda, memastikan kata-katanya menyelinap masuk. “Dan ingat, posisimu aman. Kau cuma di balik kamera. Tugasmu hanya merekam. Hanya memastikan angle dan pencahayaan bagus. Tidak lebih dari itu.” Tapi... ini video mesum! Batinnya berteriak. Apa yang akan dikatakan Ayah? Ini menghina warisannya! Beni berusaha tetap tenang di depan Rendra. Kerongkongannya terasa kering tak bisa menelan ludah. Bayangan kamera SLR tua di tasnya terasa menyala-nyala, menegurnya. Tapi lalu, seperti tamparan yang lebih keras, wajah ibunya yang pucat dan lemah di balik kaca ICU menghantam pikirannya. Suara petugas administrasi yang dingin, “Tanpa uang muka, perawatan lanjutan sulit dilakukan.” Demi Ibu. Ini semua demi Ibu, desis hatinya, mencoba membungkam semua protes dan rasa jijik yang menggelegak. Hanya memegang kamera. Aku tidak akan melakukan apa-apa selain merekam. Melihat keraguan di wajah Beni mulai retak, Rendra dengan lancar mengeluarkan selembar kertas dari laci meja. “Ini kontraknya. Standard saja. Melindungi hak kedua belah pihak.” Dengan tangan gemetar, Beni mengambil kertas itu. Matanya menyusuri baris-baris klausul baku. Gaji, jadwal, hak cipta. Lalu, matanya tertuju pada satu paragraf di bagian tengah. Bunyinya samar, tentang “kesiapan talent untuk beradaptasi dengan kebutuhan konsep kreatif yang dinamis demi hasil akhir terbaik.” Kalimat itu terasa licin, meninggalkan ruang tafsir yang luas. Ada firasat buruk menggelitik di benaknya, tapi kelelahan dan tekanan yang begitu besar membuatnya mengabaikannya. Pikirannya hanya tertuju pada kata tunai dan uang muka. Dia mencoba mengusir semua keraguan dalam benaknya yang terus mengganggu. Dia menatap Rendra, mencoba mencari kepastian. “Jadi… saya hanya memegang kamera? Hanya merekam?” Rendra mengangguk, senyumnya tidak sampai ke mata. “Tentu. Itu tugasmu. Yang lain, urusan talent di depan kamera.” Tanpa keyakinan penuh, tapi dengan beban yang terlalu berat untuk ditanggung sendiri, Beni menghela napas panjang. Dengan gerakan lambat, ia mengeluarkan pulpen dari saku jaketnya. Dengan napas berat yang seakan menguras seluruh sisa tenaganya, Beni menurunkan pulpen. Coretan namanya di atas kertas kontrak itu terasa seperti noda hitam yang permanen, mengukir keputusasaan di atas putihnya dokumen. Rendra segera menyambar kontrak itu, wajahnya merekah dalam senyum puas yang licik. “Keputusan yang tepat,” katanya, sambil menjabat tangan Beni dengan erat. Genggamannya terasa dingin dan kokoh, seperti belenggu yang baru saja dikunci. Dia berdiri, mengantarkan Beni yang masih limbung ke pintu. Saat Beni melangkah keluar, suara Rendra terdengar sekali lagi, menggema di lorong apartemen yang mewah dan steril. “Selamat datang di dunia yang berbeda, Nak.” Ada nada yang merendahkan dan penuh kemenangan dalam suaranya. “Besok kau akan paham maksudku.” Pintu tertutup dengan senyap, meninggalkan Beni sendirian di koridor yang dingin. Dia menatap tangannya sendiri, tangan yang baru saja menandatangani kontrak itu. Seolah-olah ada darah atau kotoran yang melekat di ujung jarinya. Di telinganya masih bergema kata-kata Rendra, “dunia yang berbeda”. Dunia apa yang telah dia masuki? Dengan suara lirih yang dipenuhi rasa sesal dan ngeri, dia berbisik pada dirinya sendiri, “Apa... apa yang sudah kulakukan?”Pintu kayu tebal kamar 312 hotel butik itu tertutup dengan bunyi klik yang halus, mengisolasi mereka dari dunia luar. Suite-nya elegan namun minimalis: tempat tidur king size dengan sprei putih, lampu temaram, dan balkon kecil dengan pemandangan lampu kota. Begitu masuk, Catherine melepas blazernya dengan gerakan yang sudah begitu biasa, lalu duduk di tepi tempat tidur, melepaskan sepatu hak tingginya dengan helaan napas lega.Beni masih berdiri dekat pintu, keraguan akhirnya menyeruak mengatasi hasrat dan kepatuhannya sepanjang malam ini.“Bu,” ujarnya, suaranya serak. “Ini… apa yang kita lakukan ini benar?”Catherine mengangkat alis, memandangnya dengan ekspresi datar. “Kau baru mempertanyakannya sekarang? Setelah kita melakukan lebih saat di kantor.”“Tapi… suamimu. Bagaimana jika…” Beni tak melanjutkan, tapi pertanyaannya menggantung di udara ber-AC yang sejuk.Wanita itu mengeluarkan tawa pendek, getir, dan tanpa kebahagiaan. Dia memutar gelang emas sederhana di pergelangan tanga
“Kau... benar-benar pria muda yang tak kenal lelah,” ucap Bu Catherine, suaranya serak namun ada nada kagum yang tak sepenuhnya bisa disembunyikan. Dia meninggalkan blazernya dan mendekat lagi, tapi langkahnya tidak lagi seanggun tadi. Ada goyangan kecil, bukti bahwa tubuhnya sudah mencapai batas.Dia berlutut di sisi sofa, wajahnya hanya berjarak sehasta dari hasrat Beni yang masih menyala. “Aku ingin melanjutkan,” bisiknya, jari-jarinya yang dingin menyentuh kulit panas Beni, membuat keduanya sama-sama terkesiap. “Tapi tubuhku... sungguh lelah.”Dia menarik napas dalam, dan untuk pertama kalinya malam itu, Beni melihat kerentanan sejati di wajahnya—kerutan halus di sudut mata, gemetar kecil di tangan yang biasanya begitu tegas.“Ronde kedua,” gumam Bu Catherine, lebih kepada dirinya sendiri. Matanya menatap Beni dengan intensitas baru. “Tapi tidak di sini. Tidak di sofa kantor yang sempit ini.”Dia berdiri dengan sedikit kesulitan, lalu mengambil blazernya. Saat mengenakannya, dia b
“Aku... aku tidak tahu,” jawab Beni, tapi tangannya meraih pinggul Catherine.“Kau tahu,” bantah Catherine sambil mempercepat ritme. “Kau hanya takut mengakuinya. Semua pria sesungguhnya ingin menikmati hidangan. Melepas beban tanggung jawab.” Dia berdiri, bibirnya menghampiri telinga Beni. “Lepaskan saja. Biarkan aku yang mengendalikan. Untuk saat ini, kau hanya pria yang membutuhkan pelarian.”Pelarian?” tanya Beni terengah.“Dari segala tekanan,” bisik Catherine, napasnya semakin berat. “Dari ekspektasi. Dari tugas besok. Dari...” Dia berhenti sejenak, sebelum akhirnya duduk di pangkuan Beni hingga menyatu. “Dari segala hal yang membuatmu takut di luar pintu ini.”Gerakannya semakin intens. “Sekarang, jangan berpikir. Rasakan saja. Rasakan bagaimana aku menggerakkan tubuhmu. Rasakan bagaimana kau menanggapi setiap perintahku.” Suaranya menjadi lebih rendah, lebih dalam. “Karena besok, kita akan kembali ke peran kita. Tapi untuk sekarang...”Dia menarik napas tajam sebelum meneruska
Beni memalingkan wajah, menghindari sentuhannya. “Saya menolak, Bu Catherine. Tolong, kita harus punya batasan sebagai atasan dan bawahan.”Penolakan itu justru seperti bensin pada api. Cahaya di mata Bu Catherine berubah dari rayuan menjadi kobaran keputusasaan dan amarah yang terpendam. “Batasan?” hardiknya, suara meninggi. “Kau pikir kau bisa masuk ke kantorku, menanyakan tentang kartu terkutuk itu, lalu bersikap suci? Tidak semudah itu!”Dia mengepalkan tangan di dada kemben hitamnya, napasnya memburu. “Aku tahu tentang investigasi sembunyi-sembunyimu dengan Nadia! Aku tahu kalian menyelidiki hal-hal yang tidak kalian pahami! Kau butuh pelindung, Beni. Dan aku bisa jadi pelindungmu… atau aku bisa menjadi mimpi buruk terbesarmu di kantor ini.”Ancaman itu menggantung, jelas dan tajam. Bu Catherine menggunakan semua kartunya—hasrat, kekuasaan, dan pengetahuan rahasia.“Apakah ini ancaman untuk saya, Bu?” tanya Beni, berusaha tetap tenang meski jantungnya berdebar kencang.“Aku menaw
Beni menelan ludah. Jantungnya berdebar kencang. Dia melihat ketegangan di wajah Bu Catherine—tidak hanya kemarahan, tetapi juga, sebuah kewaspadaan yang berlebihan. Seperti seseorang yang sedang mengantisipasi sebuah nama yang tak ingin didengarnya.Dengan tangan yang hampir gemetar, dipenuhi oleh keputusasaan dan keyakinan bahwa ini adalah satu-satunya jalan, Beni merogoh saku jaketnya. Dia mengeluarkan kartu hitam itu, dan dengan gerakan cepat meletakkannya di atas meja kerja Bu Catherine, tepat di bawah cahaya lampu.“Ini, Bu,” katanya, suaranya serak. “Apakah ini berarti sesuatu bagi Anda?”Efeknya instan.Wajah Bu Catherine yang semula maskulin penuh kendali, mendadak pucat. Dia tidak menjerit atau menarik napas tajam, tapi seluruh tubuhnya kaku. Matanya membelalak, menatap kartu itu seperti melihat ular sungguhan. Kesal dan ketakutan itu berperang di raut wajahnya, sebelum akhirnya dikubur di bawah topeng dingin yang cepat kembali. Namun, keretakannya sudah terlihat.Dia mengan
“Kau juga akan meliput kafe ini?” Tanya Jocelyn yang samar-samar mendengar gumaman Beni.Beni tersentak dari lamunan. “I—iya, atasanku memberi tugas untuk meliput kafe milikmu besok.”“Mungkin atasanmu juga tahu tentang mereka jika dia memberimu tugas untuk meliput ini.” Balas Jocelyn dengan sorot mata penuh kelelahan.“Itu... membuat segalanya semakin rumit,” gumam Beni, suaranya berat. Jocelyn mengangguk pelan, matanya berkaca. “Aku juga merasa hal yang sama. Aku seperti boneka. Diberi makan, dihias, tapi tali di leher ini tetap ada.” Dia melihat kartu nama yang Beni berikan.Kafe yang ramai di balik pintu kini terasa seperti panggung boneka, dan dia tidak tahu siapa yang menarik tali-tali itu, atau berapa banyak orang di sekitarnya yang juga terikat oleh benang yang sama.Beni mengepalkan kartu hitam itu. Rasa ingin tahu dan ketakutan kini bercampur dengan kewaspadaan yang membara. “Aku akan menanyakan langsung pada atasanku, Jocelyn. Terima kasih atas waktunya.”Beni keluar dari







