LOGINSetelah puas berbelanja, mereka pun beranjak meninggalkan keramaian dan menuju hotel yang telah ditentukan oleh rombongan untuk menginap malam ini.Sampai di hotel, Erfan seperti biasa menyewa kamar terbaik yang ada di hotel tersebut. Setelah itu, mereka pergi ke kamar.Kali ini, Cika tak ikut ke kamar Erfan dan Bu Susan, dia pergi ke kamar Bu Dita dan Sita.Sampai di dalam kamar, Bu Susan langsung menanggalkan pakaiannya."Aku mau mandi dulu!" ucap Bu Susan."Kamu sudah gak sabar, mau menghilang jejak pria tadi yah?" tanya Erfan dengan nada main-main."Apaan sih kamu!" ucap Bu Susan ketus, sambil melemparkan pakaian kepada Erfan.Erfan menangkap pakaian itu, sambil tertawa terbahak-bahak.Setelah semua pakaian terlepas, Bu Susan masuk ke dalam kamar mandi.Erfan tersenyum nakal, lalu dia dengan cepat melepaskan semua pakaian. Setelah itu, dia pun ikut masuk ke dalam kamar mandi.Bu Susan yang sedang membilas tubuhnya di bawah guyuran shower, seketika menoleh kepada Erfan yang melangk
Melihat Tuan Waji yang begitu ketakutan terhadap Erfan, para polisi pun semakin yakin bahwa identitas Erfan tidak sederhana. "Kalau boleh tahu... Tuan Muda ini... siapa?" tanya Komandan Gao kepada Erfan.Sebelum Erfan menjawab, Reza menyela."Komandan Gao... apa anda, tak mengenal Tuan Muda Erfan?" Reza tampak heran.Komandan Gao menggelengkan kepalanya."Kalau gitu... saya perkenalkan!" ucap Reza dengan suara lantang. "Ini adalah... Tuan Muda Erfan Purnama, dari Keluarga Purnama Ibukota!"Mendengar nama keluarga dan asal dari keluarga itu, Komandan Gao dan bawahannya seperti tersambar petir."A-anda... tak bercanda kan?" tanya Komandan Gao kepada Reza dengan nada kaku ~ penuh keterkejutan."Buat apa saya bercanda," balas Reza, santai.Keterkejutan Komandan Gao, berubah menjadi kepanikan. Dia buru-buru membungkuk ke arah Erfan."Tu-tuan muda... ma-maaf, saya tidak... tidak mengenal anda," ucapnya dengan nada terbata-bata."Tak masalah..." balas Erfan singkat, ekspresi wajahnya tampak
Tak ada satu pun pegawai yang berhasil melerai amarah Erfan. Tenaganya begitu besar, setiap kali ada yang mencoba menariknya, justru pegawai itu yang terdorong hingga terlempar."Tuan... Jangan bertindak gegabah... kalau tidak, anda juga akan terkena hukuman!" pegawai itu memperingatkan Erfan.Erfan melirik pegawai itu, lalu dia berkata dengan penuh dominasi. "Apa menurutmu... petugas hukum akan peduli, jika aku menghabisi orang rendahan sepertinya?" "Sana telepon polisi! Aku ingin melihat, apa mereka berani menangkapku!" perintah Erfan, lalu dia lanjut menghajar pria itu.Salah satu pegawai, buru-buru menghubungi kepolisian setempat.BUGHH! BUGHH!ARGGHH! ARGHHH!Suara-suara pukulan dan ringisan kesakitan terus terdengar di tempat itu.Para menonton merasa ngeri, saat melihat ke ganas Erfan. Setelah Erfan puas menghajar pria itu, dia melepaskannya. Dia melap darah yang melumuri tangannya me
"Sial! Gimana ini… Sayang, cepat datang!" gumam Bu Susan dalam hati, paniknya semakin menjadi.Engsel kunci itu mulai berderit keras, tampak sudah tak mampu menahan tekanan. Setiap dobrakan dari pria di luar membuat pintu bergetar hebat, seolah bisa jebol kapan saja.Keringat dingin mengalir di pelipis Bu Susan. Napasnya memburu, dadanya naik turun dengan cepat. Dia tahu, waktunya hampir habis.Pria itu menambah tenaga dobrak kan nya. BRAKK!Pintu itu terbuka, Bu Susan terpental ke belakang, sampai menabrak dinding, lalu dia terduduk di toilet.Tampak wajah wanita itu sangat pucat. Jelas, dia sangat ketakutan.Pria itu menatap Bu Susan dengan tatapan penuh hasrat. Dia berjalan perlahan menuju Bu Susan."Nona... kau benar-benar sangat cantik," ucap pria itu. Pandangannya berkenalan di tubuh Bu Susan."Jangan mendekat! Pergi.... pergi!" Bu Susan berteriak, mencoba mengusir."Hehehe...." pria itu
Terlihat, tubuh keduanya saling berpelukan erat di atas kasur. Keringat deras membanjiri tubuh keduanya. Saat ini, penampilan keduanya, tampak sangat berantakan. "Tuan Muda... aku belum pernah merasa sepuas ini! kamu sangat perkasa, tuan," ucap Bu Dita dengan suara lemas, namun ada kepuasan di nada suaranya dan juga di raut wajahnya. "Semua wanita yang tidur denganku... pasti ku pastikan mereka puas!" ucap Erfan dengan nada bangga. "Sepertinya... aku akan ketagihan," ucap Bu Dita dengan nada manja. "Kalau kamu mau... hubungi saja aku!" balas Erfan sambil mengelus wajah cantik wanita itu. "Aku gak akan nolak, menidurimu," lanjutnya. Bu Dita mengangguk, senyuman nakal tersungging di bibir ranum nya. "Apa kamu gak akan meminta apapun kepadaku? Setelah bercinta denganku?" tanya Erfan. Bu Dita menggelengkan kepalanya. "Aku bercinta bukan untuk meminta apapun darimu. Aku hanya ingin merasakan tidur denganmu," bala
Erfan bisa merasakan, kalau apem wanita itu masih sangat sempit. Rasanya, masih sangat nikmat, tidak jauh lebih buruk, dari para wanitanya yang belum pernah melahirkan. "Bu Dita, vaginamu... masih sangat sempit!" ucap Erfan sambil terus mendorong batangnya ~ secara perlahan. "Ahhh... itu... karena batang Tuan Muda, terlalu besar!" balas Bu Dita dengan suara berat. Ekspresinya tampak mengernyit, seperti sedang menahan rasa sakit. Setelah batang itu masuk setengahnya, Erfan menghentak kuat, sehingga dengan cepat ~ batang itu masuk sepenuhnya. "Ahhhh...." desahan nikmat keluar dari mulut keduanya, ketika sensasi nikmat dari penyatuan sempurna itu, bisa mereka rasakan."Shh... ahh, sangat sesak! mentok di dalam lagi," ucap Bu Dita dengan nada penuh kenikmatan.Erfan tak mengatakan apapun. Dia tampak memejamkan matanya, sedang fokus menikmati.Setelah cukup menikmati sensasi itu, Erfan mulai menggerakkan batangnya di dala
Keesokan harinya, pada siang hari. Erfan pergi ke cafe yang kemarin dia kunjungi, untuk bertemu Tuan Gubernur dan para pemilik bisnis di kota zau. Erfan ditemani Calista, karena Shara kuliah dan sedangkan Bu Jessy sedang mengurus urusan Club. Sampai di Cafe, Tuan Gubernur dan para pemilik bisnis
Erfan dan para wanita sampai di vila, mereka masuk ke dalam vila lalu duduk di sofa ruang tamu.Bu Evi duduk di samping Erfan. Ekspresi wajahnya terlihat masih syok.Erfan merangkul wanita itu."Semuanya sudah selesai! kamu tidak perlu takut seperti itu!" ucap Erfan dengan nada lembut.Bu Evi menga
Calista menatap Nayla dengan tatapan berbinar, dia langsung mencubit pipi bulat Nayla dengan gemas."Sayang, ini putri kamu? gemas banget," ucapCalista, sambil terus mencubit pipi Nayla."Aduh sakit ih, jangan cubit Nayla, Nayla engga nakal," Nayla merengek.Calista buru-buru melepaskan cubitannya
Penampilan Calista selesai pada jam tengah malam, Erfan dan Ketiga wanita itupun kembali keruangan Bu Jessy.Ketiga wanita itu sudah mabuk, karena terlalu banyak minum. "Sayang, Apa di sini tidak ada kamar?" tanya Erfan kepada Jessy."Ti...tidak ada, sayang," balas Jessy, dengan nada khas orang ma