LOGINDi sore hari, Alana sampai di vila baru Erfan. Wanita yang baru saja bercerai itu, tidak menampakkan raut kesedihan sama sekali. Sebaliknya, dia tampak semringah, seperti telah mendapatkan suatu hal yang membahagiakan."Sayang, aku datang," ucap Alana sambil melompat ke pelukan Erfan.Erfan menangkap wanita itu, lalu balik memeluknya. "Gimana? Proses perceraiannya sudah selesai?" tanya Erfan."Sudah! Aku sekarang jadi janda," balas Alana dengan nada manja."Gak apa-apa... nanti juga kamu gak jadi janda lagi," ucap Erfan, sambil mengelus wajah cantik wanita itu. "Tanggapan keluargamu gimana?" "Keluargaku malah seneng banget aku cerai sama mantan suamiku itu... pas aku bilang aku lagi deket sama kamu, mereka semakin senang," balas Alana."Kirain keluargamu bakalan menentang kalau kamu deket sama aku ~ yang terkenal play boy ini," ucap Erfan dengan nada main-main."Gak bakalan lah... walau kamu play boy, kamu terkenal sebagai pria yang sangat menyayangi wanita," balas Alana sambil berg
Singkat cerita, tiga hari telah berlalu. Sejak pagi, suasana di vila sudah tampak ramai. Erfan dan para wanita sibuk membereskan barang-barang pribadi mereka, untuk pindah ke vila baru. Karena bertepatan dengan hari Minggu, semua wanita berada di sana, termasuk Nayla, putri angkat Erfan, dan Cika, putri tirinya. Dewi menghampiri Erfan yang tampak sedang menonton para wanita berkemas, sambil menggendong Nayla. "Sayang, apa mobil kita juga pindahkan ke vila yang baru?" tanya Dewi. Erfan menatap ke arah Dewi. "Iya, dong... bawa saja ke sana," balas Erfan sambil tersenyum cerah. Dewi mengangguk. Setelah selesai berkemas, Erfan dan para wanita ~ turun ke lantai bawah. Mata Erfan menoleh ke arah Bu Alin. "Alin, apa ada yang perlu di bawa dari vila ini?" tanyanya. "Gak ada. Semua fasilitas di sana, sudah lengkap!" balas Bu Alin. "Baiklah, kalau gitu... ayo kita pergi!" ajak Erfan dengan nada penuh semangat. Mereka pun melangkah pergi keluar dari vila yang menjadi titik awal tem
Para wanita itu mulai memilih mobil yang mereka suka. Para wanita muda tampak lebih antusias. Sementara, para wanita dewasa tampak lebih tenang. Bahkan, mereka tidak bergerak sama sekali untuk memilih mobil."Hey, kenapa kalian gak milih?" tanya Erfan kepada para wanita dewasa itu."Biarkan yang muda dulu! Lagi pula, apapun warnanya aku gak masalah," balas Dewi dengan nada lembut.Ucapan Dewi di beri anggukan setuju oleh para wanita dewasa lainnya."Kak, aku mau warna pink!" ucap Tesa dengan nada penuh kegembiraan."Aku mau warna merah!" ucap Diva sambil duduk di cap mobil yang dia pilih."Warna biru kelihatan cocok sama aku," ucap Frisa."Aku lebih suka warna hitam, gak terlalu mencolok," sahut Geya."Aku mau warna putih aja," sahut Yesi."Aku mau warna merah kayak Diva," ucap Shara sambil menghampiri mobil Porsche merah yang ada di sebelah mobil pilihan Diva.Setelah semua wanita muda memilih mobil, barulah giliran para wanita dewasa memilih mobil.Para wanita itu memilih dengan pen
Sambil menyantap makanan, Erfan dan para wanita itu terus berbincang santai. Erfan memberitahu para wanita, kalau tiga hari lagi mereka akan pindah ke vila yang baru. Mendengar itu, para wanita merasa sangat gembira dan tidak sabar. "Ayu, kasih tau Tesa sama Frisa, kalau tiga hari lagi... mereka juga pindah saja ke vila yang baru. Soalnya di sana, aku sudah menyiapkan studio konten buat mereka berdua," ujar Erfan. "Oke, aku bakalan kasih tau kedua gadis itu!" balas Bi Ayu, sambil membentuk hari telunjuk dan jempolnya menjadi huruf O. Setelah selesai makan, mereka kembali meninggalkan ruang makan ~ kembali ke ruangan bersantai. Setelah bersantai sebentar, Erfan, Jessy, Anne, dan Erika, pergi ke perusahaan. Sementara, para wanita lainnya kembali ke kesibukan masing-masing. === Singkat cerita, keesokan harinya. Sekitar pukul 9 pagi, puluhan mobil truk yang mengangkut mobil sport dari merek Porsche, sampai di kampung Mawar. Arah yang di tuju puluhan mobil itu adalah vila Erfan.
Rasa nikmat yang cukup hebat, di rasakan oleh Erfan, yang membuat pria itu tak kuasa menahan desahannya."Ahhh... ahhh, enak banget... ahh.. terus... lebih keras lagi!" ucap Erfan.Bu Alin meningkatkan goyangannya sesuai dengan apa yang diinginkan Erfan.Melihat ekspresi penuh kenikmatan pria itu, membuat Bu Alin merasa semakin bersemangat."Ahhh... iya begitu! Ahh... enak banget, ahh..." racau Erfan."Ahhh... ahh, Tuan Muda... remas payudaraku! Biar aku lebih bersemangat!" pinta Bu Alin.Tanpa pikir panjang, Erfan meraih kedua payudara besar wanita itu, lalu meremasnya nya dengan keras. Tidak hanya meremasnya! Erfan juga sesekali memilin puting merah gelap yang ada di payudara wanita itu."Ahhh... enak Tuan Muda... ahh.." Bu Alin tampak sangat menikmati dengan apa yang dilakukan Erfan.Erfan tak hanya puas meremas payudara wanita itu, dia menarik wanita itu agar sedikit membungkuk, lalu dia melahap salah satu puting payudaranya. Isapan kuat dia lakukan ke puting itu, yang membuat Bu
Erfan menundukkan kepalanya, lalu mencium ganas bibir wanita itu. Sambil menikmati sensasi penyatuan awal, mereka berciuman panas terlebih dahulu. Setelah cukup menikmati, barulah Erfan mulai menggerakkan pinggangnya perlahan. Batang besar pria itu tampak masuk keluar di dalam apem tembem dan becek wanita itu. "Ahhh... ahhh... ahhh.." Desahan-desahan nikmat keluar dari mulut mereka berdua. Saat sensasi aneh yang sangat nikmat di rasakan oleh mereka. "Ahhh... hah, enak banget... ah.. lebih cepat!" pinta Bu Alin. Erfan memegang pinggang wanita itu, lalu dia meningkatkan intensitas gempurannya. Sampai suara benturan antara kulit terdengar jelas di kamar tersebut. "Ahhh... ahhh... apemmu sungguh nikmat, ahh.." ucap Erfan dengan nada yang sangat menikmati. "Nikmati saja... cuma batang Tuan Muda... yang bisa merasakan kenikmatan apemku," balas Bu Alin.Erfan meraih kedua tangan Bu Alin, lalu mengangkatnya ke atas ~ menahannya di atas kepalanya. Setelah itu, dia menundukkan kepalanya
Kakak perempuan pertama Diva yang bernama, Gisel, tampak ingin berkata, namun dia tampak ragu.Diva menyadari itu, lalu dia bertanya kepada kakaknya itu. "Ada apa kak? kalau ada yang mau kakak katakan, katakan saja!" "Sebenarnya... aku kepikiran membuka bisnis di sana. Tapi...
Beberapa saat kemudian, Bu Sumi bangkit, lalu menghampiri Erfan. Dia bergerak naik ke atas pangkuan Erfan dengan posisi kaki yang di lebarkan. "Tuan muda... aku belum pernah merasa senikmat ini saat bercinta," ucap Bu Sumi dengan nada menggoda sambil melingkarkan tangannya di leher Erfa
Melihat Erfan yang sudah menikmati, Dosen Salwa mulai memberikan yang lebih panas pagi. Dia menjulurkan lidahnya, kemudian menjilati batang itu dengan jilatan yang tampak liar. "Ahh...enak terus ahh....jilatanmu sangat nikmat!" Erfan semakin merasa nikmat. Setelah puas menjila
Erfan menatap wanita dewasa itu, dengan mata panas. Karena wanita tersebut terlihat masih sangat muda dan segar, dia sangat penasaran dengan statusnya, yang akhirnya memutuskan untuk bertanya. "Apakah anda memiliki suami?" tanya Erfan. "Aku seorang janda," Jawab Bu Evi dengan nada genit. Erfan