LOGINKakak perempuan pertama Diva yang bernama, Gisel, tampak ingin berkata, namun dia tampak ragu.
Diva menyadari itu, lalu dia bertanya kepada kakaknya itu. "Ada apa kak? kalau ada yang mau kakak katakan, katakan saja!""Sebenarnya... aku kepikiran membuka bisnis di sana. Tapi... bisnis yang bisa aku buat hanyalah bisnis sederhana," ujar Kak Gisel dengan nada canggung."Emangnya... bisnis apa yang kakak ingin buat?" tanya Erfan dengan serius."Bisnis penginap"Sayang, ada ini Nona Alana, pemilik dealer mobil auto, tempat kamu beli mobil," ucap Erika memperkenalkan. "Oh, silakan duduk!" ucap Erfan, sambil memberi gerakan mempersilakan ke arah sofa. Wanita itu mengangguk sambil tersenyum. Erfan bangkit dari kursi, lalu berjalan ke sofa. Wanita itu buru-buru mengikuti. Jessy mengikuti Erfan, sementara Erika pergi menyiapkan minuman dan camilan. Melihat Jessy yang begitu dekat dengan Erfan, sedangkan tadi Erika memanggil Erfan dengan sebutan sayang, wanita bernama Alana itu secara kasar menebak ~ bahwa semua wanita yang ada di ruangan tersebut adalah wanita Erfan. "Tuan Muda Erfan masih seperti biasa," gumam Alana di dalam hati. Setelah duduk santai di sofa, Erfan mulai berkata. "Nona Alana, ada apa datang jauh-jauh ke mari?" "Saya ke sini hanya untuk mengucapkan terima kasih kepada Tuan Muda. Soalnya, Tuan Muda sudah membeli banyak mobil mewah di dealer saya,. Saya juga mau minta maaf, karena saat Tuan Muda membeli mobil sa
Erfan melajukan mobilnya dengan kecepatan yang tak terlalu kencang. Di sepanjang jalan, dia terus bernyanyi dan bersiul, yang menunjukkan bahwa suasa hatinya sangat baik. Beberapa saat kemudian, dia pun sampai di vila. Mendengar ruangan mobil sport masuk ke dalam parkiran vila, para wanita yang ada di dalam vila, langsung beranjak keluar. Setelah mobil terparkir, Erfan turun dari mobil, lalu melangkah ke arah pintu masuk vila. Melihat para wanitanya berjalan cepat keluar dari vila, senyuman cerah perlahan terlukis di bibir Erfan. "Sayang..." sapa Erfan, sambil melangkah lebih cepat. "Sayang... kamu pulang," ucap para wanita itu. Erfan memeluk para wanita itu satu persatu. Bahkan, tanpa sadar ia memeluk Riana ~ yang statusnya bukan wanitanya. Saat wanita itu mendapatkan pelukan, hatinya berdebar seperti genderang perang. Seketika, wajahnya pun memerah. Namun, reaksi Riana itu tak ada yang menyadarinya. "Sayang... beli gak susu buat Serina, Dewi, sama Erlina?" tanya Bu
"Siapa lagi yang kamu tiduri? Jangan bilang... kalau kamu meniduri teman-teman Tante juga," tebak Nyonya Yuli. "Hehe, benar sekali! Tante memang pintar!" balas Erfan terus terang. "Kamu... kamu nakal banget, sih.... siapa saja yang kami tiduri?" bentak Nyonya Yuli, sambil mencubit pipi Erfan. "Nyonya Abel, Nyonya Wini, sama Nyonya Retno! Mereka bertiga yang semalam menggodaku. Jadi, aku gak akan biarkan mereka lepas tanpa aku cicipi dulu," balas Erfan dengan nada main-main. "Yang lainnya engga?" tanya Nyonya Yuli. "Enggak! Soalnya... cuma mereka bertiga yang menarik minatku," balas Erfan. "Tapi... apa mereka bertiga sadar? Pas kamu tiduri?" tanya Nyonya Yuli. "Enggak! Mereka sama kayak tante! Udah tepar... sampai gak sadarkan diri," balas Erfan. "Berati mereka gak tau, dong... kalau kamu meniduri mereka," ucap Nyonya Yuli. "Enggak tahu juga sih..." balas Erfan dengan nada ragu. "Tapi... mereka pastinya sadar sih... soalnya aku keluarin di dalam! Palingan mereka nanyai
Keesokan paginya. Di ruangan tempat teman-teman Nyonya Yuli tertidur tadi malam. Terlihat, para wanita itu sudah terbangun dari tidurnya. Mereka tak ada yang merasa aneh ~ saat terbangun di ruangan itu. Karena mereka menebak, kalau Erfan lah yang menyediakan ruangan itu untuk mereka. Tiga wanita yang Erfan tiduri tadi malam, merasakan ada yang aneh di area apem mereka. Mereka merasakan apem mereka sangat lembab. Namun, ketiga wanita itu tak berkata apapun. Satu persatu dari mereka pergi ke toilet ~ jelas kalau mereka ingin mengecek kondisi apemnya masing-masing. Karena toilet yang ada di ruangan itu hanya satu, ketiga wanita itu masuk secara bergantian. Wanita pertama yang masuk ke toilet adalah Nyonya Wini. Di dalam, dia buru-buru membuka CDnya, lalu menyentuh apemnya. Saat merasakan cairan lengket yang sudah sedekat mengering, keningnya seketika berkerut. Jelas, dia tahu kalau itu cairan milik pria. "Aku... aku ditiduri pria? Siapa yang meniduriku?" gumam Nyonya Wini
Setelah itu, Erfan mengatur posisi bercinta. Dia berlutut di antara kaki wanita itu, lalu memosisikan ujung batangnya di apem wanita itu. "Tante... aku masukin, yah," ucap Erfan dengan nada main-main, sambil mendorong masuk batang besarnya ke dalam apem wanita itu. "Ahhhh..." Nyonya Retno hanya merespons oleh sebuah desahan yang cukup panjang. "Ahhh... sempit banget... sangat nikmat," ucap Erfan dengan nada menikmati, sambil terus mendorong batangnya sampai mentok di dalam sana. Setelah mentok di dalam, Erfan langsung saja menggempur apem itu. "Ahhh... ahh..." desahan-desahan lembut itu terus keluar dari mulut Nyonya Retno. Erfan menunduk, lalu dia melumat ganas bibir wanita merah wanita itu. Walau tak ada respons, tapi Erfan tetap melanjutkannya sampai dia puas. Karena Nyonya Retno menggunakan dress tanpa lengan, Erfan ingin mencicipi ketiak wanita itu. Dia meraih kedua tangan Nyonya Retno, lalu menyerang ketiak yang tampak sangat mulus itu dengan lidahnya. Aroma yang
Di dalam ruangan, mata panas Erfan menyapu pemandangan di sana. Terlihat semua teman Nyonya Yuli tergeletak di sofa bahkan ada yang yang di lantai. Ada berapa dari mereka yang masih punya sedikit kesadaran, ada pula yang sudah tidur karena saking mabuknya. Karena cahaya di ruangan itu cukup terang, Erfan bisa melihat jelas tampilan para wanita itu. Erfan melangkah menghampiri Nyonya Abel yang tergeletak di atas sofa. Menurutnya, di antara semua wanita, Nyonya Abel yang paling cantik. Jadi dia ingin mencicipinya terlebih dahulu, sebelum yang lainnya. Erfan naik ke aras sofa, lalu dengan cepat dia melepaskan seluruh pakaiannya. Dalam waktu singkat, semua pakaiannya sudah terlepas sepenuhnya. Dia memosisikan Nyonya Abel menghadap ke atas, sambil berkata. "Tante, apa kamu masih sadar?" Terlihat mata wanita itu sedikit terbuka. "Tuan... Muda... itu kamu," ucapan pelan khas orang mabuk keluar dari mulut wanita itu. "Iya ini aku. Aku mau minta ijin... boleh gak aku menidurimu
Tidak lama Erfan kembali, membawa beberapa tas belanja. Dia membagi rata tas belanjaan itu. Dewi tidak melihat belanjaan lainnya, dia hanya fokus mencari pesanannya. Setelah menemukannya, Dewi mengeluarkannya. Melihat barang di tangan Dewi, membuat Bu Evi membelalak. "Itu dalam? sangat seksi," u
Tapi alam berkehendak lain, beberapa menit kemudian, Pak Jukri suami Bu Susan meninggal, tidak lama setelah itu, Ningsih juga meninggal.Akhirnya Erfan memutar balik mobil, tidak ada gunanya melanjutkan perjalanan ke rumah sakit.Di jalan pulang, Pak RW menelepon salah satu warga di kampung, member
Bu Susan yang mendengar suaminya di gigit ular sangat cemas. "Mereka mereka bercinta di dalam hutan, lalu digigit ular!" jawaban Anne, membuat Erfan dan Bu Susan seketika terdiam.Wajah Bu Susan seketika memucat, yang perasaan khawatirnya di gantikan dengan amarah."Bajingan! ternyata begitu kelak
"Bu Jessy, hal apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Erfan, dengan nada santai. "Ohh iya, aku lupa! aku ingin memberitahu tuan muda, jika uang pembangunan klub, masih ada sisa sebesar 200 juta," "Apa uangnya mau di kembalikan kepada tuan







