MasukErfan tidak langsung bergerak, dia ingin menikmati sensasi penyatuan awal terlebih dahulu.
"Tante, apa suamimu... masih suka meminta jatah kepadamu?" tanya Erfan dengan nada main-main. "Itu sudah pasti! kamu gak harus bertanya," balas Tante Yurike dengan nada manja. "Tapi... kenapa vaginamu begitu sempit?" "Kamu jangan seolah-olah gak tahu deh!" balas Tante Yurike sedikit ketus. Erfan terkekeh lucu. Dia tahu kond"Nyonya... goyang yang bagus! Biar anakmu itu menikmati permainanmu," ucap Erfan dengan nada main-main. Wanita itu mulai kegoyangan pinggulnya. Terlihat batang Rizal, keluar masuk di dalam apem itu. "Mmm... mmm... mm.." Hanya suara desahan-desahan lembut yang keluar dari mulut wanita itu. Rizal hanya bisa pasrah di bawah sana. Namun, tak dapat di pungkiri, dia masih merasakan rasa nikmat yang di alirkan batangnya. Meski begitu, tetap saja rasa sakit yang lebih dominan. Erfan menghembuskan asap rokok. "Rizal... kau harus berterima kasih kepadaku. Sebelum mati, kau menikmati kenikmatan dulu," ucap Erfan dengan nada main-main. Goyangan wanita itu semakin lama semakin lincah. Sehingga, suara benturan kulit pun tercipta di sana. "Mantap sekali! Bagus... terus!" ucap Erfan dengan nada memuji. Suara-suara itu mungkin terdengar indah bagi orang lain. Namun, tida
Setibanya di sana, suami Viona dan keluarganya langsung berbicara dengan putus asa. "Tuan Muda, tolong... jangan sekejam ini. Kasih aku kesempatan!" ucap Rizal, suami Viona. "Hmm... aku gak bisa memberi kesempatan kepada musuhku," ucap Erfan sambil menghampiri Rizal. Dia berjongkok di hadapan pria itu, lalu menghantam kan botol anggur ke lantai. PRAKK! Botol itu pecat, hanya menyisakan pegangan atas botolnya saja. Terlihat, ujung bawahnya lancip, itu pastilah sangat tajam. Semua keluarga Rizal pucat pasi, dengan tubuh yang bergetar hebat. "Tuan Muda... anda... anda mau apa," ucap ayahnya Rizal. Erfan tak menjawab. Dia menjambak Rizal, lalu menghantamkan wajahnya ke area pecahan kaca botol. KRASS! "Arghhh..." Rizal berteriak kesakitan, saat serpihan botol itu menancap ke wajahnya. Melihat kekejaman itu, semua orang di s
Beberapa saat kemudian, Erfan sampai di sebuah bangunan tinggi, yang terlihat dari luar tampak terbengkalai. Namun, saat Erfan masuk ke dalam, terlihat di dalam bangunan itu banyak sekali orang.Saat melihat Erfan, orang-orang itu langsung menyapanya dengan hormat."Tuan Muda," ucap mereka serentak."Gak perlu begitu sopan!" balas Erfan sambilmelambaikan tangannya."Tuan Muda, para bajingan itu sudah di tempat eksekusi," ucap seorang pria bertubuh tinggi kekar."Oke. Remon sama yang lainnya ada di sini?" tanya Erfan."Mereka semua ada di sana, lagi minum-minum," balas pria itu.Erfan mengangguk, lalu dia melangkah pergi ke ruangan yang di maksud pria kekar tadi.Setibanya di sana, terlihat belasan orang yang sedang berlutut, dengan tubuh yang di ikat kuat. Semua orang itu tampak menyedihkan, dengan luka memar yang memenuhi wajah mereka.Dari semua orang itu, terus meronta dan berteriak meminta di lepaskan."Apa maksudnya ini? Aku gak pernah menyinggung kalian, kenapa kalian melakukan
"Anak aku? Kok bisa?" teriak Erfan dengan ekspresi penuh keterkejutan. "Aku lebih sering bercinta sama kamu. Lagi pula, pas si bajingan itu meniduriku, cuma dua kali dia mengeluarkannya di dalam. Jadi... anak di kandunganku itu, sudah pasti anak kamu," balas Viona. Erfan mematung, saking terkejutnya. "Maaf, Fan... aku gak menjaga baik kandunganku. Gara-gara jatuh, aku keguguran," ucap Viona dengan air mata yang menetes keluar dari sudut matanya. Erfan menghela nafas panjang, mencoba menenangkan hatinya yang kacau itu. "Ini semua gara-gara si bajingan itu! Kalau bukan gara-gara dia, aku gak bakalan kehilangan anakku!" gumam Erfan di dalam hatinya. "Lihat saja... kau pasti menderita di tanganku!" Erfan menghapus air mata di sudut mata Viona. "Sudah... gak apa-apa! Semua sudah terjadi. Di masa depan, kamu juga pasti bisa mengandung lagi anakku." Viona mengangguk pelan. "Besok, aku antar kamu ke rumah sakit. Kamu harus periksa kesehatan tubuhmu. Selain bekas para bajingan itu ~ y
Setibanya di rumah, Viona menatap seisi rumah Erfan dengan tatapan linglung. Dia masih merasa seperti bermimpi, bisa melihat rumah itu lagi. Tuan Wijaya yang kebetulan sedang duduk di di ruang keluarga bersama beberapa bawahannya, langsung bangkit saat melihat Erfan membawa Viona. Erfan menatap Tuan Wijaya. "Ayah sialan, aku berhasil bawa menantumu kembali," ucap Erfan dengan nada arogan seperti biasanya. Melihat Viona, Tuan Wijaya buru-buru melangkah menghampiri. "Baguslah... baguslah, kau berhasil bawa dia pulang," ucap Tuan Wijaya dengan ekspresi penuh syukur. Melihat pria tua itu, Viona buru-buru menyapanya dengan hormat, namun sedikit gugup. "Tu-Tuan." "Viona... maafkan pria tua ini! Gara-gara saya gak menyelidiki lebih dalam masalahmu, kamu jadi menderita," ucap Tuan Wijaya dengan nada meminta maaf. "Tuan, kamu tidak salah. Saya sendiri yang salah. Saya yang memendam masalah s
Beberapa menit kemudian, bawahan Erfan yang pergi menangkap keluar suami Viona dan keluarga Viona kembali. Masing-masing menyeret satu orang. Terlihat, ada 5 pria dan 4 wanita. "Lepaskan! Kalian siapa... mau apa kalian!" orang-orang itu tampak terus memberontak. BUGHH! Bawahan Erfan memukul orang itu. "Diam kau bajingan!" Saat seorang pria paruh baya melihat ke arah suami Viona, pria itu langsung berteriak histeris. "Rizal... itu kamu!" teriaknya. Semua orang yang di seret pun menatap ke arah suami Viona yang bernama Rizal itu, dengan ekspresi penuh keterkejutan. "A-ayah!" Rizal berkata pelan. "Akhirnya kalian sampai!" ucap Erfan sambil menatap orang-orang yang di seret itu. Saat keluarga Rizal dan keluarga Viona melihat Erfan yang sedang memeluk Viona, mereka semua langsung memucat. Jelas, kalau mereka langsung mengenali so
"Sayang, malam ini aku tidur sama kamu yah!" ucap Yesi, karena malam ini gilirannya.Erfan tersenyum, lalu menarik gadis cantik dan seksi itu ke pangkuannya."Malam ini giliranmu kan?" goda Erfan."Iya. Kau sudah menahannya, kamu harus membuatku puas!" balas Yesi dengan tegas."Tentu saja, aku akan
Seorang wanita dewasa cantik berpenampilan anggun, berjalan menghampiri Erfan. Senyuman indah terlukis di bibir merah wanita itu. Senyumannya itu membuat siapa saja yang melihatnya pasti sulit untuk melupakannya. "Tuan Muda! saya Rita, manajer PT Coleri," ucap wanita cantik itu dengan sopan. "Ha
Matahari tenggelam, datanglah kegelapan malam. Erfan dan para wanitanya menunggu kabar dari Bayu dengan penuh kesabaran.Para gadis Shara, Diva, dan Yesi, sedang fokus ke laptop mereka masing-masing. Mereka sedang mencatat pembelajaran yang mereka dapat tadi saat kunjungan.Dosen Ratna memperhat
Beralih ke tempat Shara dan wanita lainnya berada. Para wanita itu, terlihat sedang berjalan beriringan dengan mahasiswa lainnya. Mereka mengikuti seorang staf pergi ke suatu tempat dia dalam perusahaan tersebut. Shara berjalan sambil mengobrol dengan Diva. Seperti biasa yang mereka bahas hanyalah







