Home / Romansa / Hasrat di Balik Meja Presdir / Bab 1. Tamu Tak Terduga

Share

Hasrat di Balik Meja Presdir
Hasrat di Balik Meja Presdir
Author: Cececans

Bab 1. Tamu Tak Terduga

Author: Cececans
last update publish date: 2026-06-24 12:17:34

"Ahhh .... Pak Arthur, pelan-pelan," desah seorang wanita cantik di bawah kungkungan pria bernama Arthur Wijaya.

Arthur Wijaya adalah presdir Wijaya Group, perusahaan tekstil terbesar di dunia.

Mendengar wanita di bawahnya kewalahan, Arthur mengulas senyum miring. Lantas, dia menurunkan tubuhnya sedikit untuk memberikan tanda kepemilikannya pada leher wanita itu.

"Renata, mulai sekarang kamu milikku," desis Arthur ke telinga Renata dengan dipenuhi gairah yang bergelora.

Renata hanya bisa pasrah saat tubuhnya terus dipermainkan Arthur, sepupu suaminya sendiri.

***

Satu minggu sebelumnya.

"Renata, jangan diam saja! Cepat cari jalan keluarnya!" sentak Wira yang melimpahkan semua kemarahannya pada istrinya.

Renata Calista Amara hanya bisa diam menunduk dengan hati terluka saat Wira terus membentakinya.

Anaknya yang masih berusia tiga tahun harus menjalani operasi karena menderita kelainan hati berat. Keluarga kecilnya pun terlilit hutang karena suaminya terlibat judi online.

Dia butuh setidaknya uang tujuh ratus juta. Tapi, suaminya itu tidak mau tahu dan tidak mau berusaha mencari pekerjaan.

Wira hanya menuntut Renata untuk banting tulang berjualan kue di pasar lebih keras lagi demi bisa memenuhi semua kebutuhannya.

"Pinjam siapa kek! Kalau tidak, kamu kembali kerja aja sama bosmu itu!" sentak Wira lagi, tak peduli kepala Renata terasa mau pecah mendengar bentakannya yang bertubi-tubi itu.

"Tidak bisa, Mas," sahut Renata lirih. Suaranya bergetar menahan tangis.

"Kenapa?" tanya Wira dengan suara meninggi.

"Bosku sudah menemukan sekretaris baru yang kompeten. Sulit untuk aku kembali ke sana," balas Renata sambil meremas kedua tangannya. Air matanya siap tumpah.

Dalam hati, Renata meratapi ketidakpedulian suaminya. Padahal, Wira-lah yang menyuruh Renata berhenti bekerja setelah mereka menikah. Tapi, kini suaminya itu justru menyuruhnya bekerja kembali.

"Halah! Itu cuma alasan kamu aja!" Wira lalu menendang meja di depannya dengan keras sampai Renata terjingkat kaget.

Renata memejamkan kedua matanya. Dia sudah bersiap jika Wira akan membanting barang-barang di sekitar mereka untuk melampiaskan emosi.

Namun, suara dering ponsel yang mendadak terdengar mengurungkan niat Wira tersebut.

Renata membuka kedua matanya lagi dan melihat Wira terburu-buru merogoh saku celana untuk mengambil ponselnya.

Kening Wira tampak berkerut begitu menatap layar ponselnya.

Arthur Wijaya, sepupu Wira yang kini sukses menjadi presdir di perusahaan raksasa itu sedang menghubungi Wira. Kebetulan sekali, Wira sedang membutuhkan uang yang banyak. Sepupunya itu pasti mau membantunya.

Wira mengangkat panggilan dari Arthur. Dia sedikit menjauh dari Renata saat membicarakan sebuah kesepakatan dengan sepupunya itu.

"Deal," ucap Wira setelah cukup lama dia bernegosiasi dengan Arthur. Dia lalu menatap Renata singkat dengan tatapan tak terbaca.

"Siapa Mas?" tanya Renata saat Wira sudah kembali di sampingnya.

"Arthur. Katanya dia mau mampir ke sini nanti malam," jawab Wira pada Renata sambil menyimpan kembali ponselnya ke saku celana.

Renata mengangguk saja. Meski, dia tidak terlalu peduli pada sepupu suaminya itu.

Toh, pria itu hanya perlu bertemu dengan Wira, dan bukan dirinya. Renata pun tidak terlalu dekat dengan sepupu suaminya itu.

Tapi, pikiran Renata tersebut segera terusik oleh ucapan Wira yang selanjutnya.

"Kamu masakin makanan yang enak ya. Dia bakal makan malam sekalian di sini," tukas Wira pada Renata, membuat Renata menyatukan alisnya heran.

"Mas nyuruh aku masak pakai apa? Di kulkas tidak ada bahan satu pun," balas Renata. "Terakhir sawi yang aku masak tadi."

Wira menepuk salah satu pundak Renata. "Tenang. Nanti biar Mas yang beliin bahannya. Kamu tinggal masak."

Kening Renata berkerut. Dia semakin heran dengan Wira. Dari mana pria itu mendapatkan uang? Enteng sekali suaminya itu bilang seperti itu. Di dompetnya saja hanya tinggal uang dua ribu rupiah. Tidak bisa dibelikan apa-apa.

Melihat Renata yang menatapnya curiga, Wira cepat-cepat berucap lagi. "Uangnya dari Arthur. Dia juga bakal bantuin kamu nyari pekerjaan. Yang penting nanti kamu bersikap baik sama dia, dan turuti semua ucapannya. Oke?"

"Iya, Mas," balas Renata mendengus pasrah.

***

Malam itu pun tiba.

Renata dan Wira sudah duduk di ruang tamu untuk menunggu kedatangan Arthur.

"Mas, aku ganti baju aja ya? Baju ini terlalu terbuka," ucap Renata merasa tidak nyaman dengan pakaian yang dipilihkan Wira. Sebuah dress tidur yang panjangnya hanya sejengkal dari pangkal paha.

"Udah, pakai itu aja. Kamu yang anteng. Jangan cerewet. Setelah ini Arthur pasti datang."

Baru saja Wira selesai berucap, pintu rumahnya diketuk oleh seseorang dari luar sana.

"Itu pasti Arthur," pekik Wira yang berlari membuka pintu penuh dengan semangat.

Renata segera berdiri dari sofa untuk turut menyambut Arthur.

Seorang pria tampan dengan tubuh tinggi menjulang segera muncul dari pintu yang Wira bukakan.

Meski, pria itu dan Wira masih bersaudara. Tapi, fisik mereka jauh berbeda. Bagaikan langit dan bumi.

Renata sempat terkesima melihat ketampanan Arthur yang seperti jelmaan dewa Yunani. Mata tajam berwarna coklat, hidung mancung, rahang tegas. Semuanya itu dilengkapi dengan kulitnya yang putih bersih.

Renata memang sudah pernah bertemu dengan Arthur di acara keluarga satu kali. Tapi, baru sekarang dia bisa melihatnya sedekat ini.

"Arthur, kamu masih ingat Renata kan? Dia istriku. Kalian pernah bertemu satu kali di acara reuni keluarga besar kita," ucap Wira sambil mendorong Renata agar istrinya itu lebih dekat dengan Arthur.

"Tentu saja aku ingat. Sangat ingat." Tatapan tajam Arthur mulai menelusuri tubuh indah Renata.

Renata merasa tidak nyaman dengan cara Arthur memandanginya. Pria itu seolah ingin menelanjanginya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Hasrat di Balik Meja Presdir   Bab 9. Gunung Kembar yang Nikmat

    "Kamu sengaja menggodaku ya?"Arthur menarik satu sudut bibirnya ke atas. Tatapannya jatuh pada gunung kembar Renata yang tampak menggoda di balik kemeja yang dikenakan wanita itu.Renata yang menyadari arah pandang Arthur tertuju segera menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Tidak, Pak Arthur. Braku basah jadi aku melepasnya," ucap Renata panik.Sebelum Renata sempat berucap lagi, sebelah tangan Arthur sudah lebih dulu meraih pinggang ramping Renata dan menarik wanita itu mendekat. Sangat dekat sampai puting payudara Renata terasa menekan dada bidang Arthur.Ketika jarak mereka sedekat ini, Arthur menarik napas panjang untuk menikmati aroma tubuh Renata yang dia suka.Sudah tiga tahun berlalu. Wanita ini tidak berubah sama sekali.Arthur kemudian mengumpat dalam hati. Kejantanannya merespon lebih cepat dari yang dia duga.Kini celana Arthur terasa sangat sesak. Miliknya yang besar itu meronta-ronta minta segera dilepaskan.Tak ingin membuang-buang waktu lagi, kedua tangan Arthu

  • Hasrat di Balik Meja Presdir   Bab 8. Siluet Indah Renata

    "Apa aku perlu mengulanginya lagi, Renata?" tanya Arthur yang sudah berdiri menjulang di depan Renata. Sedang, sekretarisnya itu masih terpaku karena ucapan Arthur barusan.Renata mendongak menatap Arthur, lalu berkedip beberapa kali. Akal sehatnya pun segera menyadarkan Renata untuk tidak mengikuti perintah gila atasannya itu yang menyuruhnya membuka kemejanya. Selain kurang ajar, ternyata Pak Arthur juga mesum. Batin Renata yang memundurkan langkah untuk menghindari tatapan tajam Arthur yang seolah sudah tidak sabar melahapnya bulat-bulat."Maaf, Pak Arthur. Aku akan membersihkannya sendiri," tukas Renata buru-buru.Wanita berambut panjang itu pun segera berlari keluar dari ruangan Arthur menuju toilet umum perempuan yang biasa dipakai karyawan biasa.Begitu Renata sudah menghilang dari pandangannya, Arthur memanggil pengawal pribadinya yang bernama Pak Surya.Pak Surya dengan sigap masuk ke dalam ruangan menghadap Arthur."Ada yang perlu saya lakukan, Pak Arthur?" tanya Pak Surya

  • Hasrat di Balik Meja Presdir   Bab 7. Lepas Bajumu, Renata!

    Arthur menatapi langit-langit kamarnya dengan muak. Di kamarnya yang sangat luas ini, dia merasa kesepian. Hanya ada dirinya, para pelayan, dan pengawalnya yang tinggal di mansion mewah miliknya. Tidak ada anggota keluarganya. Arthur bahkan sudah lupa jika sebenarnya dia masih memiliki keluarga di Jakarta, kota tempatnya tinggal sekarang. Karena dia sudah terbiasa hidup sendiri sejak kecil. Arthur melepaskan selapis udara dari hidungnya dengan kasar. Arthur kira dengan dirinya mempunyai kekayaan dan kekuasaan, dia bisa hidup bahagia. Namun, nyatanya tidak. Meski, Arthur bergelimang harta dan menjadi pengusaha nomor satu di Indonesia, dia tidak pernah merasa bahagia. Arthur mengeluarkan napasnya dengan keras sekali lagi, lalu memejamkan kedua matanya untuk mengistirahatkan kepalanya yang berdenyut-denyut sakit. Namun, ketenangannya malah terganggu karena ponselnya yang ada di atas meja mendadak berdering nyaring. "Shit!" umpat Arthur terpaksa membuka lagi kedua matanya, dan

  • Hasrat di Balik Meja Presdir   Bab 6. Kejantanan Pak Arthur

    "Ahh .... Ahh ...." "Aku mau keluar. Ahh ...." Renata terkejut mendengar suara berat Arthur yang berulang kali mendesah saat dia keluar dari kamar mandi. Dia mengerutkan keningnya dengan heran, dan melanjutkan langkahnya menuju meja Arthur. Tapi, begitu Renata sudah berdiri tidak jauh dari meja Arthur. Kedua mata Renata seketika membulat melihat apa yang sedang dilakukan atasannya itu. Arthur sedang masturbasi di balik meja kerjanya. Renata bisa melihatnya dengan jelas karena sudut pandangnya ada di samping meja pria itu. "Ahh .... Shit!" Arthur pun mengerang puas saat dia mencapai klimaksnya. Renata buru-buru bersembunyi di balik rak buku. Dia tidak menduga Arthur masturbasi di ruang kerja. Apa karena melihat tubuh Renata dalam balutan lingerie tadi membuat atasannya itu terangsang? Renata tak berkedip sama sekali menatap pusaka Arthur yang sangat besar, berurat, dan gagah. Sangat berbeda dengan milik suaminya yang hanya sebesar jari jempol. Berdaki pula. Renata menelan

  • Hasrat di Balik Meja Presdir   Bab 5. Dalaman Transparan

    Arthur menelan ludahnya berulang kali saat melihat Renata berdiri di depannya dalam balutan lingerie seksi. Matanya menelusuri tubuh indah Renata dengan berdecak kagum. Sepasang payudara wanita itu yang bulat dan besar nyaris terlihat sepenuhnya. Hanya bagian tengahnya saja yang tertutupi bordiran berbentuk bunga. Kulitnya putih dan mulus, sehingga sangat menyatu dengan warna lingerie yang cerah. Arthur merasa puas dengan penampilan pertama Renata. Dia sampai merasakan kejantanannya mulai bangkit dari tidurnya. "Bagaimana?" tanya Renata meminta pendapat. Dia merentangkan kedua tangannya di sisi badan. "Berputarlah!" titah Arthur yang diam-diam mengelus pusaka raksasanya yang kelaparan di balik mejanya. Renata menganggukkan kepala patuh. Dia lalu memutar tubuhnya membelakangi Arthur, membiarkan atasannya itu melihat semua bagian tubuhnya. Di saat Renata bergerak, pantatnya yang sintal dan payudaranya yang besar ikut bergetar. Semakin memancing gairah Arthur. "Lumayan. Coba g

  • Hasrat di Balik Meja Presdir   Bab 4. Bibirnya Terasa Lembut

    Timbul sensasi aneh yang menjalari tubuh Renata, saat bibir Arthur yang basah dan lembab menempel di bibirnya. Sensasi mendebarkan itu membangkitkan sesuatu di dalam diri Renata yang telah lama mati. Yaitu gairah terpendamnya. Namun, Renata segera tersadar jika dia telah melakukan hal terlarang dengan sepupu suaminya itu. Sontak, Renata mendorong Arthur menjauh dengan keras. "Arthur. Maksudku Pak Arthur. Tidak seharusnya kita berciuman. Anda adalah sepupu suamiku," ucap Renata, buru-buru menghindari tatapan mata Arthur yang menatap lekat wajahnya. Membuat debaran jantungnya semakin kencang. "Aku hanya mencoba memperbaiki lipstikmu yang meluber ke mana-mana, Renata. Maaf jika aku membuatmu tidak nyaman," balas Arthur dengan suara tenang. Seolah apa yang baru saja dia lakukan itu bukan sesuatu yang mengejutkan. Pipi Renata langsung memanas mendengar jawaban enteng dari Arthur. Pria itu memperbaiki lipstiknya dengan cara mencium bibirnya? Tidak ada kah cara yang lain? Lagi pula,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status