LOGINWarning 21+! Renata Calista Amara tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah seratus delapan puluh derajat. Anak semata wayangnya sakit keras, dan dia terlilit hutang karena ulah suaminya yang suka bermain judi online. Di titik terendah Renata, dia justru dijual oleh suaminya sendiri pada sepupu pria itu yang bernama Arthur. Arthur Wijaya adalah presdir Wijaya Group yang terkenal arogan, mesum, dan angkuh. Renata pun tidak punya pilihan selain menyerahkan dirinya pada Arthur, tanpa tahu jika pria berkuasa itu sebenarnya sudah lama mengincarnya. Arthur tidak hanya menginginkan kepatuhan Renata, tapi dia juga menginginkan tubuh wanita itu jadi miliknya. Sepenuhnya. Ketika Arthur mengungkung Renata dalam gelora gairahnya, bisa kah Renata melepaskan diri? Atau jangan-jangan Renata sudah jatuh terlalu jauh dalam pesona Arthur, sang presdir. Dan di balik meja presdir, desahan-desahan mereka saling bersahutan. Membebaskan gairah yang telah lama mereka tahan.
View More"Ahhh .... Pak Arthur, pelan-pelan," desah seorang wanita cantik di bawah kungkungan pria bernama Arthur Wijaya.
Arthur Wijaya adalah presdir Wijaya Group, perusahaan tekstil terbesar di dunia. Mendengar wanita di bawahnya kewalahan, Arthur mengulas senyum miring. Lantas, dia menurunkan tubuhnya sedikit untuk memberikan tanda kepemilikannya pada leher wanita itu. "Renata, mulai sekarang kamu milikku," desis Arthur ke telinga Renata dengan dipenuhi gairah yang bergelora. Renata hanya bisa pasrah saat tubuhnya terus dipermainkan Arthur, sepupu suaminya sendiri. *** Satu minggu sebelumnya. "Renata, jangan diam saja! Cepat cari jalan keluarnya!" sentak Wira yang melimpahkan semua kemarahannya pada istrinya. Renata Calista Amara hanya bisa diam menunduk dengan hati terluka saat Wira terus membentakinya. Anaknya yang masih berusia tiga tahun harus menjalani operasi karena menderita kelainan hati berat. Keluarga kecilnya pun terlilit hutang karena suaminya terlibat judi online. Dia butuh setidaknya uang tujuh ratus juta. Tapi, suaminya itu tidak mau tahu dan tidak mau berusaha mencari pekerjaan. Wira hanya menuntut Renata untuk banting tulang berjualan kue di pasar lebih keras lagi demi bisa memenuhi semua kebutuhannya. "Pinjam siapa kek! Kalau tidak, kamu kembali kerja aja sama bosmu itu!" sentak Wira lagi, tak peduli kepala Renata terasa mau pecah mendengar bentakannya yang bertubi-tubi itu. "Tidak bisa, Mas," sahut Renata lirih. Suaranya bergetar menahan tangis. "Kenapa?" tanya Wira dengan suara meninggi. "Bosku sudah menemukan sekretaris baru yang kompeten. Sulit untuk aku kembali ke sana," balas Renata sambil meremas kedua tangannya. Air matanya siap tumpah. Dalam hati, Renata meratapi ketidakpedulian suaminya. Padahal, Wira-lah yang menyuruh Renata berhenti bekerja setelah mereka menikah. Tapi, kini suaminya itu justru menyuruhnya bekerja kembali. "Halah! Itu cuma alasan kamu aja!" Wira lalu menendang meja di depannya dengan keras sampai Renata terjingkat kaget. Renata memejamkan kedua matanya. Dia sudah bersiap jika Wira akan membanting barang-barang di sekitar mereka untuk melampiaskan emosi. Namun, suara dering ponsel yang mendadak terdengar mengurungkan niat Wira tersebut. Renata membuka kedua matanya lagi dan melihat Wira terburu-buru merogoh saku celana untuk mengambil ponselnya. Kening Wira tampak berkerut begitu menatap layar ponselnya. Arthur Wijaya, sepupu Wira yang kini sukses menjadi presdir di perusahaan raksasa itu sedang menghubungi Wira. Kebetulan sekali, Wira sedang membutuhkan uang yang banyak. Sepupunya itu pasti mau membantunya. Wira mengangkat panggilan dari Arthur. Dia sedikit menjauh dari Renata saat membicarakan sebuah kesepakatan dengan sepupunya itu. "Deal," ucap Wira setelah cukup lama dia bernegosiasi dengan Arthur. Dia lalu menatap Renata singkat dengan tatapan tak terbaca. "Siapa Mas?" tanya Renata saat Wira sudah kembali di sampingnya. "Arthur. Katanya dia mau mampir ke sini nanti malam," jawab Wira pada Renata sambil menyimpan kembali ponselnya ke saku celana. Renata mengangguk saja. Meski, dia tidak terlalu peduli pada sepupu suaminya itu. Toh, pria itu hanya perlu bertemu dengan Wira, dan bukan dirinya. Renata pun tidak terlalu dekat dengan sepupu suaminya itu. Tapi, pikiran Renata tersebut segera terusik oleh ucapan Wira yang selanjutnya. "Kamu masakin makanan yang enak ya. Dia bakal makan malam sekalian di sini," tukas Wira pada Renata, membuat Renata menyatukan alisnya heran. "Mas nyuruh aku masak pakai apa? Di kulkas tidak ada bahan satu pun," balas Renata. "Terakhir sawi yang aku masak tadi." Wira menepuk salah satu pundak Renata. "Tenang. Nanti biar Mas yang beliin bahannya. Kamu tinggal masak." Kening Renata berkerut. Dia semakin heran dengan Wira. Dari mana pria itu mendapatkan uang? Enteng sekali suaminya itu bilang seperti itu. Di dompetnya saja hanya tinggal uang dua ribu rupiah. Tidak bisa dibelikan apa-apa. Melihat Renata yang menatapnya curiga, Wira cepat-cepat berucap lagi. "Uangnya dari Arthur. Dia juga bakal bantuin kamu nyari pekerjaan. Yang penting nanti kamu bersikap baik sama dia, dan turuti semua ucapannya. Oke?" "Iya, Mas," balas Renata mendengus pasrah. *** Malam itu pun tiba. Renata dan Wira sudah duduk di ruang tamu untuk menunggu kedatangan Arthur. "Mas, aku ganti baju aja ya? Baju ini terlalu terbuka," ucap Renata merasa tidak nyaman dengan pakaian yang dipilihkan Wira. Sebuah dress tidur yang panjangnya hanya sejengkal dari pangkal paha. "Udah, pakai itu aja. Kamu yang anteng. Jangan cerewet. Setelah ini Arthur pasti datang." Baru saja Wira selesai berucap, pintu rumahnya diketuk oleh seseorang dari luar sana. "Itu pasti Arthur," pekik Wira yang berlari membuka pintu penuh dengan semangat. Renata segera berdiri dari sofa untuk turut menyambut Arthur. Seorang pria tampan dengan tubuh tinggi menjulang segera muncul dari pintu yang Wira bukakan. Meski, pria itu dan Wira masih bersaudara. Tapi, fisik mereka jauh berbeda. Bagaikan langit dan bumi. Renata sempat terkesima melihat ketampanan Arthur yang seperti jelmaan dewa Yunani. Mata tajam berwarna coklat, hidung mancung, rahang tegas. Semuanya itu dilengkapi dengan kulitnya yang putih bersih. Renata memang sudah pernah bertemu dengan Arthur di acara keluarga satu kali. Tapi, baru sekarang dia bisa melihatnya sedekat ini. "Arthur, kamu masih ingat Renata kan? Dia istriku. Kalian pernah bertemu satu kali di acara reuni keluarga besar kita," ucap Wira sambil mendorong Renata agar istrinya itu lebih dekat dengan Arthur. "Tentu saja aku ingat. Sangat ingat." Tatapan tajam Arthur mulai menelusuri tubuh indah Renata. Renata merasa tidak nyaman dengan cara Arthur memandanginya. Pria itu seolah ingin menelanjanginya.Mendengar suara ibu mertuanya, Renata sontak mendorong Arthur menjauh darinya.Arthur terpaksa melepaskan kejantanannya dari milik Renata. Padahal, dia masih ingin bercinta dengan wanita itu."Dia siapa, Renata?" tanya Arthur menyadari betapa paniknya Renata sekarang.Renata tidak menjawab pertanyaan Arthur. Dia memilih buru-buru memakai semua pakaiannya yang tercecer di atas kasur. Lalu, dia mendorong Arthur untuk bersembunyi di dalam lemari pakaiannya.Namun, karena tubuh Arthur lebih besar dan lebih tinggi dari tubuhnya, Renata kesulitan menggeser tubuh Arthur ke arah lemari.Pasalnya sekeras apapun Renata mendorong tubuh Arthur. Tubuh gagah pria itu tidak bergeser sama sekali.Renata pun memohon dengan sangat pada Arthur. "Pak Arthur, sembunyi dulu sebentar di lemari ya. Aku mohon. Nanti akan aku jelaskan semuanya."Arthur mendengus kasar. Selama menjadi seorang presdir, dia tidak pernah disuruh bersembunyi di lemari pakaian seperti ini.Rasanya sungguh memalukan."Kenapa harus se
"Anda harus banyak istirahat, Bu Renata. Anda tidak boleh terlalu banyak pikiran dan kelelahan agar tipes Anda tidak kambuh lagi. Dan, jangan lupa minum obatnya tiga kali sehari setelah makan sesuai resep yang saya berikan.""Baik, Dok. Terima kasih." Renata tersenyum pada dokter pribadi Arthur yang sudah memeriksa keadaannya dan juga sudah memberikan obat."Kalau begitu, saya permisi." Dokter pribadi Arthur itu segera mengambil tasnya yang berisi peralatan medis dan obat, lalu berderap keluar kamar.Sesuai perintah dari Arthur, dia tidak boleh terlalu lama memeriksa wanita bernama Renata itu.Dia tidak tahu hubungan Arthur dengan Renata. Tapi, dia merasa ada sesuatu di antara mereka. Karena sebelumnya Arthur tidak pernah menyuruhnya untuk memeriksa orang lain di luar keluarga pria itu."Bagaimana keadaannya?" tanya Arthur begitu dokter pribadinya keluar dari kamar Renata. Dia kini tengah berdiri menyandar pada dinding sambil menyelipkan sebelah tangan ke saku celana."Oh!" Si dokter
Arthur merasa geram sendiri. Sudah tiga kali dia menelepon Renata, tapi ponsel sekretarisnya itu tidak aktif. Panggilannya tetap berada di luar jangkauan.Sebenarnya apa yang terjadi pada Renata? Tanya Arthur dalam hati heran sendiri.Sekarang sudah hampir waktunya Arthur melakukan rapat penting, dan dia memerlukan Renata di sampingnya."Bagaimana, Pak Arthur? Renata masih tidak bisa dihubungi?" tanya Pak Surya seolah tahu kekalutan yang tengah dirasakan tuannya itu.Pak Surya sudah menjadi pengawal pribadi Arthur sejak pria itu masih kecil sehingga dia sudah mengenal Arthur dengan sangat baik."Apa Anda ingin saya mencoba melihat keadaannya di rumahnya, Pak Arthur?" sambung Pak Surya menawarkan diri.Namun, Arthur yang sebelumnya duduk di balik meja kebesarannya sambil mengetuk jari ke meja dengan kesal, segera berdiri dan mengambil jasnya yang dia sampirkan di kepala kursi."Biar aku saja. Katakan pada para petinggi perusahaan rapat akan ditunda besok pagi," tukas Arthur yang sudah
Kening Renata berkerut samar saat dia melihat ada sepatu high heels yang tergeletak di depan pintu rumah. Sepatu high heels itu tampak asing. Bukan miliknya. Apalagi milik ibu mertuanya. Lalu milik siapa?Sudah jam sepuluh malam. Tidak mungkin ada tamu yang sedang berkunjung di rumah. Lagi pula, Renata dan Wira tidak pernah kedatangan tamu akhir-akhir ini. Kecuali Arthur, sepupu suaminya itu.Dan rasa penasaran Renata semakin membuncah saat didapatinya pintu rumah sedang dikunci dari dalam.Padahal, Wira tidak pernah mengunci rumah seperti ini.Buru-buru Renata merogoh tasnya untuk mencari kunci cadangan yang dia simpan di saku tasnya.Beruntung, Renata memiliki kunci cadangan. Kalau tidak, dia tidak tahu harus tidur di mana malam ini.Suaminya itu sangat aneh. Bisa-bisanya mengunci pintu saat Renata belum pulang.Begitu mendapatkan kuncinya, Renata membuka pintu perlahan.Kerutan di dahi Renata semakin dalam saat tidak melihat siapapun di ruang tamu.Dan samar-samar Renata mendenga












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore