Home / Romansa / Hasrat di Balik Meja Presdir / Bab 2. Tawaran Menggiurkan

Share

Bab 2. Tawaran Menggiurkan

Author: Cececans
last update publish date: 2026-06-24 12:46:59

"Mas aja ya yang temani Arthur makan malam," bisik Renata memohon pada Wira saat dirinya hendak memindahkan hasil masakannya ke meja makan.

Rasa canggung dan tidak nyaman membuat Renata enggan berada di dekat sepupu suaminya itu.

Namun, Wira malah mengibaskan sebelah tangan dengan dengusan kesal. "Kamu dong! Aku mau keluar setelah ini. Tadi Ibu nelepon nyuruh aku beliin obat sakit kepala. Sekalian aku nanti mau antar obatnya ke rumah Ibu."

Belum sempat Renata memprotes alasan Wira yang terkesan dibuat-buat itu, Wira sudah meraih jaket dan kunci motornya.

Sebelum keluar rumah, Wira membisikkan sesuatu pada Arthur sambil menepuk pundak sepupunya itu.

Setelahnya, Wira tersenyum dan melenggang menaiki motornya.

Ketika suara motor Wira sudah tidak terdengar lagi, Renata menarik napas berat.

Pikiran-pikiran cemas segera membanjiri benak Renata. Tidak seharusnya Wira meninggalkannya berduaan saja dengan Arthur. Tatapan pria itu sedari awal sudah membuat seluruh tubuh Renata merasa merinding.

Sambil menekan rasa canggungnya, Renata menghela napas panjang sekali lagi sebelum membawa piring-piring berisi hasil masakannya menuju meja makan tempat Arthur sudah menunggu.

"Ini, Arthur. Kamu makan ya. Semoga kamu suka," ucap Renata hati-hati. Dia meletakkan hidangan itu perlahan di atas meja, lalu mendudukkan dirinya di kursi berseberangan dengan Arthur.

"Terima kasih, Renata," balas Arthur tersenyum tipis. Tatapannya yang tajam lagi-lagi terpusat pada tubuh molek dan wajah cantik Renata sehingga Renata menjadi salah tingkah.

Tatapan Arthur tersebut terasa begitu menguliti dan sarat akan sesuatu yang tidak bisa Renata pahami, membuatnya refleks merapatkan dress tidur tipisnya yang terasa terlalu terbuka.

Dengan memakai dress tidur pilihan Wira ini, belahan payudara dan paha mulus Renata jadi lebih terekspos.

Renata diam-diam merutuki keputusannya mengikuti perintah Wira tadi mengenakan dress kurang bahan ini, sambil berusaha menaikkan tali dressnya untuk menutupi bagian payudaranya.

"Renata," panggil Arthur memecah keheningan di antara mereka.

Renata sontak mendongak, menatap Arthur dengan bingung. "Kenapa? Masakannya tidak enak?" tanyanya dengan mengedipkan kedua mata menunggu.

"Kata Mas Wira kamu barusan pulang setelah lama tinggal di Belanda. Pasti kamu belum terbiasa makan masakan Indonesia ya?" tanya Renata lagi.

"Tidak. Aku sangat suka ayam goreng buatanmu," balas Arthur menyunggingkan seulas senyum, pandangannya lurus mengunci mata Renata.

Mendengar ucapan Arthur, Renata merasa kedua pipinya memanas.

Renata belum pernah dipuji seperti ini oleh suaminya sendiri.

"Wira tadi berbicara padaku soal kesulitan perekonomian keluarga kalian. Aku menawarkan pekerjaan di perusahaanku kalau kamu mau. Posisi sekretaris sedang kosong. Karena kamu pernah bekerja jadi sekretaris sebelumnya, sepertinya kamu akan cocok," tukas Arthur pada Renata. "Gajinya lumayan. Tiga puluh juta per bulan. Kamu berminat?"

Mendengar tawaran Arthur, kedua mata Renata seketika berbinar-binar.

Renata langsung bersemangat karena akhirnya ada secercah harapan untuk dia bisa membayar biaya operasi buah hatinya, serta mencicil hutang suaminya.

Saking senangnya, Renata seolah lupa dengan rasa canggung yang tadi dia rasakan.

Renata sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Arthur saat berucap kembali.

"Kamu serius, Arthur? Aku boleh melamar di perusahaan kamu?" tanya Renata tidak percaya.

Wira pernah bilang sepupunya itu adalah presdir perusahaan Wijaya Group. Perusahaan impian Renata sejak lama.

Dan kini Arthur menawarkan pekerjaan sekretaris di sana. Tentu, Renata tidak akan menyia-nyiakan kesempatan emas ini.

"Kalau kamu berminat. Besok kamu bisa menemuiku di ruanganku. Bertanya saja pada bagian resepsionis, nanti kamu akan diantarkan ke ruanganku," balas Arthur meletakkan sendoknya ke piring.

"Iya, Arthur. Terima kasih banyak. Aku akan menemui kamu besok dengan membawa lamaranku," ucap Renata dengan penuh semangat. Senyum ceria menghiasi wajahnya yang cantik.

"Tidak perlu bawa lamaran, Renata. Kamu bisa langsung bekerja besok."

"Terima kasih banyak, Arthur. Terima kasih," ucap Renata tidak henti-hentinya berterima kasih.

Renata merasa sangat senang. Akhirnya dia bisa mendapatkan jalan keluar untuk masalahnya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Hasrat di Balik Meja Presdir   Bab 16. Ibu Mertua Dajal

    Mendengar suara ibu mertuanya, Renata sontak mendorong Arthur menjauh darinya.Arthur terpaksa melepaskan kejantanannya dari milik Renata. Padahal, dia masih ingin bercinta dengan wanita itu."Dia siapa, Renata?" tanya Arthur menyadari betapa paniknya Renata sekarang.Renata tidak menjawab pertanyaan Arthur. Dia memilih buru-buru memakai semua pakaiannya yang tercecer di atas kasur. Lalu, dia mendorong Arthur untuk bersembunyi di dalam lemari pakaiannya.Namun, karena tubuh Arthur lebih besar dan lebih tinggi dari tubuhnya, Renata kesulitan menggeser tubuh Arthur ke arah lemari.Pasalnya sekeras apapun Renata mendorong tubuh Arthur. Tubuh gagah pria itu tidak bergeser sama sekali.Renata pun memohon dengan sangat pada Arthur. "Pak Arthur, sembunyi dulu sebentar di lemari ya. Aku mohon. Nanti akan aku jelaskan semuanya."Arthur mendengus kasar. Selama menjadi seorang presdir, dia tidak pernah disuruh bersembunyi di lemari pakaian seperti ini.Rasanya sungguh memalukan."Kenapa harus se

  • Hasrat di Balik Meja Presdir   Bab 15. Sentuh Aku, Pak Arthur

    "Anda harus banyak istirahat, Bu Renata. Anda tidak boleh terlalu banyak pikiran dan kelelahan agar tipes Anda tidak kambuh lagi. Dan, jangan lupa minum obatnya tiga kali sehari setelah makan sesuai resep yang saya berikan.""Baik, Dok. Terima kasih." Renata tersenyum pada dokter pribadi Arthur yang sudah memeriksa keadaannya dan juga sudah memberikan obat."Kalau begitu, saya permisi." Dokter pribadi Arthur itu segera mengambil tasnya yang berisi peralatan medis dan obat, lalu berderap keluar kamar.Sesuai perintah dari Arthur, dia tidak boleh terlalu lama memeriksa wanita bernama Renata itu.Dia tidak tahu hubungan Arthur dengan Renata. Tapi, dia merasa ada sesuatu di antara mereka. Karena sebelumnya Arthur tidak pernah menyuruhnya untuk memeriksa orang lain di luar keluarga pria itu."Bagaimana keadaannya?" tanya Arthur begitu dokter pribadinya keluar dari kamar Renata. Dia kini tengah berdiri menyandar pada dinding sambil menyelipkan sebelah tangan ke saku celana."Oh!" Si dokter

  • Hasrat di Balik Meja Presdir   Bab 14. Kekhawatiran Arthur

    Arthur merasa geram sendiri. Sudah tiga kali dia menelepon Renata, tapi ponsel sekretarisnya itu tidak aktif. Panggilannya tetap berada di luar jangkauan.Sebenarnya apa yang terjadi pada Renata? Tanya Arthur dalam hati heran sendiri.Sekarang sudah hampir waktunya Arthur melakukan rapat penting, dan dia memerlukan Renata di sampingnya."Bagaimana, Pak Arthur? Renata masih tidak bisa dihubungi?" tanya Pak Surya seolah tahu kekalutan yang tengah dirasakan tuannya itu.Pak Surya sudah menjadi pengawal pribadi Arthur sejak pria itu masih kecil sehingga dia sudah mengenal Arthur dengan sangat baik."Apa Anda ingin saya mencoba melihat keadaannya di rumahnya, Pak Arthur?" sambung Pak Surya menawarkan diri.Namun, Arthur yang sebelumnya duduk di balik meja kebesarannya sambil mengetuk jari ke meja dengan kesal, segera berdiri dan mengambil jasnya yang dia sampirkan di kepala kursi."Biar aku saja. Katakan pada para petinggi perusahaan rapat akan ditunda besok pagi," tukas Arthur yang sudah

  • Hasrat di Balik Meja Presdir   Bab 13. Siapa Wanita Itu, Mas?!

    Kening Renata berkerut samar saat dia melihat ada sepatu high heels yang tergeletak di depan pintu rumah. Sepatu high heels itu tampak asing. Bukan miliknya. Apalagi milik ibu mertuanya. Lalu milik siapa?Sudah jam sepuluh malam. Tidak mungkin ada tamu yang sedang berkunjung di rumah. Lagi pula, Renata dan Wira tidak pernah kedatangan tamu akhir-akhir ini. Kecuali Arthur, sepupu suaminya itu.Dan rasa penasaran Renata semakin membuncah saat didapatinya pintu rumah sedang dikunci dari dalam.Padahal, Wira tidak pernah mengunci rumah seperti ini.Buru-buru Renata merogoh tasnya untuk mencari kunci cadangan yang dia simpan di saku tasnya.Beruntung, Renata memiliki kunci cadangan. Kalau tidak, dia tidak tahu harus tidur di mana malam ini.Suaminya itu sangat aneh. Bisa-bisanya mengunci pintu saat Renata belum pulang.Begitu mendapatkan kuncinya, Renata membuka pintu perlahan.Kerutan di dahi Renata semakin dalam saat tidak melihat siapapun di ruang tamu.Dan samar-samar Renata mendenga

  • Hasrat di Balik Meja Presdir   Bab 12. Ciuman Selamat Malam

    "Pikirkan tawaranku ini baik-baik, Renata. Kamu hanya perlu memberikan tubuhmu padaku satu malam. Maka aku akan memberikan uang seberapa pun kamu minta."Mulut Renata sudah terbuka hendak membalas ucapan Arthur barusan, tapi dia mengurungkan niat saat mobil yang mereka tumpangi sudah memasuki area parkir restoran.Arthur dengan sigap turun lebih dulu untuk membukakan pintu mobil di samping Renata dan mengulurkan tangannya membantu wanita itu turun dari mobil.Renata memegang tangan Arthur dengan menahan perasaannya.Tawaran Arthur memang menggiurkan. Tapi, juga sangat berbahaya.Bagaimana tidak berbahaya? Renata harus menjual tubuhnya pada atasannya itu demi uang.Walaupun Renata sangat memerlukan uang itu sekarang. Dia tidak akan semudah itu tergiur oleh tawaran Arthur.Sebagai wanita dan seorang istri, Renata akan menjaga harga dirinya dengan baik. Dia juga tidak akan membiarkan pesona Arthur dan harta yang dimiliki atasannya itu membuat Renata jatuh dalam dosa perselingkuhan. Karen

  • Hasrat di Balik Meja Presdir   Bab 11. Aku Perlu Tubuhmu, Renata

    "Putra Anda harus dioperasi secepatnya. Kelainan hati yang putra Anda derita sangat parah. Jika tidak segera dioperasi nyawa putra Anda tidak akan tertolong. Paling lambat minggu depan. Saya akan menjadwalkan operasinya secepat mungkin. Jika Anda sudah membayar biayanya sesuai prosedur rumah sakit, Anda bisa menginfokannya pada saya."Hancur sudah hati Renata mendengar ucapan dokter di depannya. Dia jatuh terduduk di kursi dengan bahu merosot. Matanya berkaca-kaca.Alvaro harus segera dioperasi, dan keadaannya sekarang sedang kritis.Tapi, Renata tidak tahu dari mana dia bisa mendapatkan uang ratusan juta untuk biaya operasi Alvaro di waktu dekat ini.Renata tidak memiliki kerabat ataupun keluarga yang bisa dia minta tolongi. Dia yatim piatu dan dibesarkan di panti asuhan sejak lahir.Ibu panti yang sudah Renata anggap seperti ibunya sendiri pun telah meninggal satu tahun yang lalu.Sementara kerabat dan saudara dari Wira pasti tidak mau meminjamkan uang pada Renata dengan berbagai al

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status