MasukBimo pun menghampiri kotak jati warisan itu dan langsung menjamahnya.
“Ahks..!” Bimo berseru terkejut, saat merasakan tangannya bagai terkena setrum dan di jalari oleh ribuan semut. Namun sekuat tenaga Bimo bertahan tetap memegang erat kotak jati ukir itu. Hingga akhirnya hawa hangat bercampur dengan hawa sejuk yang menenangkan, terasa menggantikan rasa mengejutkan itu. ‘Aku hampir saja lupa dengan kotak warisan leluhur warisan Kakek! Tak ada jalan lain lagi! Aku akan memakai warisan ilmu leluhurku ini! Tak peduli apapun resikonya..!’ batin Bimo bertekad. Klagh! Clapsh..! Bimo langsung membuka kotak jati ukir seukuran kotak sepatu itu, dan seberkas cahaya merah terang pun langsung memancar dari dalam kotak itu. Aroma kayu akar wangi dan cendana pun seketika menguar semerbak, di dalam kamar Bimo. Sungguh menebarkan hawa mistis yang kental, namun damai dan menenangkan bagi Bimo. Nampak sebuah benda bulat sebesar kelereng yang berpijar merah terang, berada di tengah sampul kitab tebal yang cekung di bagian tengahnya. Srrrhh..! “Ehh..!” seru terkejut Bimo. Dirasakannya hawa sejuk dan hangat bersamaan mengalir disertai rasa kesemutan di tangannya, saat dia memegang Mustika Merah Delima itu. Pluk! Namun dengan nekat Bimo langsung saja menelan Mustika itu, karena hatinya sudah bulat ingin mengubah nasib hidupnya. “Arkh..!” seru gemetar Bimo, dia merasakan seperti ada ratusan semut yang tengah merayap dan mengalir di dalam rongga mulutnya. Pyaarrh..! Dan dirasakan Bimo ada sesuatu yang ambyar pecah di dadanya, saat mustika itu telah melalui tenggorokkannya. “Ahhkssh..!” kembali Bimo berseru kaget, saat gejolak energi hangat bercampur dingin bagai berpusaran dahsyat dan mengalir di seluruh tubuhnya. Ya, Bimo merasa tubuhnya bagai mengembang dan hendak meledak saja layaknya. Bimo merasa seluruh jaringan di dalam tubuhnya berdenyut dan bergejolak hebat. Keringat dingin pun seketika membanjiri tubuhnya. Sakit sekali! “Huarghhks..!” Akhirnya Bimo pun bergulingan di ranjangnya dengan menutup wajahnya dengan bantal. Agar suara teriakkan kesakitannya tak terdengar oleh orang di luar kamarnya. Pandangan Bimo pun perlahan menjadi samar dan menggelap. Dan di ambang daya batas rasa sakit yang tak mampu di tahan lagi oleh Bimo, akhirnya dia pun pingsan di atas ranjangnya! *** Pagi pun menjelang. Jam dinding kamar Bimo sudah menunjukkan pukul 5 pagi, saat.. “Ahh..!” Bimo mulai terbangun dari tidurnya, sepasang matanya nampak perlahan membuka. Reflek dilihatnya jam dinding kamarnya. “Wah! sudah jam 5..!” seru terkejut Bimo, seraya langsung beranjak duduk di tepi ranjangnya. “Ehh..!” sentak Bimo, karena dia merasakan sesuatu yang aneh pada tubuhnya. Ya, Bimo merasa gerakkan tubuhnya lebih ringan dari biasanya, dan pandangan matanya pun kini terasa lebih terang dan jelas. ‘Aneh! apakah ini pengaruh dari Mustika Merah Delima yang kutelan semalam..?’ batin Bimo menduga. Tak mau larut dalam kebingungannya, Bimo pun langsung masuk ke kamar mandinya. ‘Semoga saja Devi sudah tak marah lagi padaku’, batin Bimo berharap, sambil kenakan pakaiannya dan membayangkan sosok cantik Devi. ‘Ting!’ Seketika nampak jelas di benak Bimo, kilasan sosok Devi yang hendak mengenakan bra warna hitam renda di sebuah kamar mewah. Sungguh buah dada yang kencang mencuat ke atas, dengan bulatan merah muda sebesar kelereng. Hal yang menandakan buah itu masih tersegel, dan belum terjamah oleh tangan lelaki manapun. “Hahh..!” seruan terkejut terlepas tanpa disadari sendiri oleh Bimo. Ya, karena sosok Devi yang terlintas di benaknya teramat nyata. Bimo bagai sedang berada dalam kamar Devi dan menatap langsung pemandangan itu! Bahkan kini Bimo bisa melihat segitiga pengaman krem yang dikenakan Devi, serta betapa kenyal dan kencangnya belahan belakang gadis itu. Gila..! “Hhh..! Aku bisa gila..!” sentak Bimo, seraya menggelengkan kepalanya mengusir bayangannya tentang Devi. Dan kilasan itu pun lenyap, setelah Bimo tak lagi membayangkan sosok Devi. Bimo pun bergegas merapihkan diri dan bersiap untuk berangkat ke kantornya. Namun matanya tak sengaja menatap ke arah pojok ranjang, di mana kotak kayu jati ukir warisan leluhurnya masih tergeletak di sana. Cepat Bimo meraih kotak itu sambil sekilas menatap Kitab Pusaka di dalamnya. Nampak tulisan aksara kuno di sampul kitab itu. ‘Kitab ini hanya berjodoh bagi pemilik Mustika Merah Delima!’ ‘Hahh..! Kenapa aku kini bisa membacanya..?!’ seru heran batin Bimo. Karena sebelumnya dia memang tak bisa membaca, apalagi memahami tulisan aksara kuno itu. Bimo cepat meletakkan kembali kotak jati itu di sudut lemari pakaiannya, dia berniat nanti saja mempelajari isi dari kitab pusaka warisan leluhurnya itu. “Berangkat ya Bimo,” sapa Tante Rindy, sang pemilik kost. Janda muda yang masih nampak cantik di usianya yang 35 tahun itu. “Iya Tante Rindy. Maaf buru-buru Tante,” sahut Bimo tersenyum, seraya melintas di depan teras kediaman ibu kostnya itu. “Silahkan Bimo,” ucap Rindy memaklumi. ‘Aneh! Kenapa Bimo nampak lebih gagah dan berwibawa hari ini..?’ bathin Rindy kagum dan heran, seraya menatap punggung Bimo hingga lenyap di balik pagar rumahnya. *** “Tumben si Bimo belum datang..! Kalau sudah datang, suruh dia segera menemuiku ya,” ucap Pak Budi, sang kepala personalia kantor. Ya, Budi terpaksa masuk lebih pagi hari itu, karena adanya laporan dari Devi tentang prilaku ceroboh Bimo kemarin. “Baik Pak Budi. Nanti akan saya sampaikan begitu Bimo datang,” sahut Luki. Tak lama kemudian Bimo pun tiba di kantornya. Belum terlambat memang, tapi para OB memang harus sudah masuk sebelum jam kantor dimulai. “Bimo..! Cepat kemari..!” panggil Luki, saat dia melihat Bimo melintas. “Ya Kak Luki,” sahut Bimo seraya menghampiri seniornya itu. “Kau langsung saja ke ruangan Pak Budi. Dia sudah menunggumu di sana! Dan ingat Bimo! Aku juga akan melaporkan kejadian piring pecah kemarin ke bagian logistik hari ini. Bersiaplah kau dipotong gaji!” seru Luki, tanpa rasa kasihan sedikitpun pada Bimo, sebagai sesama OB. “Baik Kak,” sahut Bimo seraya bergegas menuju ke ruang personalia. Sungguh dia sangat sebal dengan seniornya itu. Tok, tok, tok! “Masuk..!”..."Baik! Aku berangkat sekarang..!" seru tegas Yoga, di tengah rasa galaunya. Ya, bagaimana Yoga tak merasa galau dan jengkel, karena tak ada satupun kabar mengenai keadaan markas Gank Shadownya di Pulau Duyung..? Tak lama kemudian sebuah helikopter pun take of dari heliport kediaman Prayoga, membawa serta Yoga yang tengah dicekam rasa amarahnya. Tak sampai limabelas menit kemudian, helikopter yang membawa Yoga sudah mengapung di atas Pulau Duyung. 'Hmm. Kemana tabir perisai yang tadi menghalangi pandanganku..?! Aneh..!' bathin Yoga bingung tapi juga kesal. Namun kini Yoga dapat melihat tembus dengan jelas dengan mata bathinnya, dari atas helikopter yang membawanya itu. Dan siratan bayangan peristiwa yang terjadi di pulau Duyung pun mulai bermunculann di benak dan bathinnya. Seiring tatapan tajam Yoga menelusuri kondisi markasnya, dari dalam helikopter yang ditumpanginya. "Bajingan..! Bedebah kau Bimo..!" Byarsshk..! Meledak sudah kemarahan Yoga, powernya meledak bersamaan dengan
"Bagus..! Rupanya memang harus aku sendiri yang menghadapi dan menghabisi Bimo keparat itu..!" desis tajam Yoga, seolah pada dirinya sendiri. Dan pada sore harinya, jet pribadi milik Prayoga pun kembali menuju ke Kajarta. 'Bimo kautunggulah pembalsanku..! Setelah aku berada dalam kondisi puncakku beberapa hari lagi. maka kehancuran markas Pijar Taruna adalah sebuah kepastian adanya..! Bedebah kau bangsat..!' bathin Yoga penuh amarah dan dendam berkobar. Ya, tanpa melihat kondisi markasnya di Pulau Duyung itu, Yoga seperti sudah bisa meraba, jika markas dan para anggota Gank Shadow telah terbantai di sana..! Karena pastinya, jika ada anggotanya yang selamat dari pulau itu. Maka anggota itu pasti akan menghubungi dan melaporkan kondisi markas dan para anggota Gank Shadow padanya..! *** Sore hari di teras villa Bimo. "Hayo silahkan diminum dan dicicipi sajiannya ya," ujar Bi Sum, istri Pak Adi yang biasa melayani Bimo dan Lidya di villa Gorbo itu. "Makasih Bi..!" ucap serentak De
Splassh..! Sukma Yoga pun lepas dan langsung melesat lenyap, menembus dinding kamar hotel itu. 'Bedebah sialan..! Siapa yang lancang memagari pulau ini..?!' bathin Yoga marah bukan main, saat melihat tabir selimut kebiruan menghalangi pandangannya.Ya, Pulau Duyung bagaikan lenyap tertutup tabir Perisai Bathin Bimo, yang berbentuk kubah setengah lingkaran itu. 'Pantas saja bathinku seolah putus hubungan dengan orang-orang kepercayaanku di markas ini..! Bangsat..!' bathin Yoga lagi murka. Kini jelas sudah, jika ada kejadian gawat dan besar di markas pusatnya dalam dua hari belakangan.Namun sukmanya juga tak mampu menembus tabir Perisai Bathin milik Bimo. Maka bulat sudah tekadnya untuk segera kembali ke Kajarta. Karena hanya dengan wujud fisiknya, Yoga baru mampu melenyapkan tabir Perisai Bathin yang dibuat oleh Bimo itu. Splassh..! Sukma Yoga pun melesat lenyap seketika, kembali menuju raganya di Mantankali..! *** Sementara di sofa balkon lantai dua kediaman Bimo."Mas Bimo, apa
"Hhh..! Kalian ini orang muda, memang paling bisa mendesak kami yang sudah tua! Jika kalian sudah memutuskan demikian, maka kami juga tak bisa bicara apa-apa lagi.Toh kalian juga yang akan menjalani kehidupan itu nantinya," ujar Baskara seraya mengerling ke arah istrinya. Dan Rini pun akhirnya mengangguk padanya, sebagai tanda setuju dengan pendapat suaminya itu. "Devi, Lidya. Ibu tak akan mempersulit langkah dan keinginan kalian. Devi, ibu merestui dan mengijinkan niat kalian bertiga. Kalian tentunya sudah dewasa dan mampu menentukan yang terbaik bagi jalan hidup kalian," ujar Rini akhirnya merestui, dengan mata beriak basah. Ya, baik Baskara maupun Rini memaklumi, jika Devi telah sejak lama mencintai Bimo. Bahkan puteri mereka itu rela mengorbankan pekerjaannya, untuk bisa bekerja di perusahaan konsultan Bimo. Dan mereka pun sangat mengerti, pada saat Devi nampak terguncang saat pernikahan Bimo dan Lidya. Hal yang membuat putri mereka Dev, bagai kehilangan semangat hidupnya. Ba
"Ehh..?!" sentak kaget Rini, saat melihat sosok wanita yang tengah hamil di sebelah Devi. 'Bukankah itu Lidya, putri dari Bos Winata Grup..?' bathin Rini. Keheranan yang sama juga dirasakan oleh Baskara. Tentu saja dia masih mengenali sosok Lidya, karena dia dan istrinya juga hadir pada pesta pernikahan Bimo dan Lidya dulu. Namun hal sebenarnya yang menjadi pertanyaan di benak kedua orangtua Devi itu adalah, 'Ada apa gerangan Lidya yang sedang hamil tua itu datang bersama Devi ke rumah..?' "Salam Ayah, Ibu! Tentunya kalian masih ingat dengan Kak Lidya kan..?" sapa Devi tersenyum ceria, pada kedua orangtuanya yang nampak masih tertegun itu. "Oalah! Ya masih dong Devi. Wah! Sudah berapa bulan kandungannya Lidya..?" sahut heboh Rini, yang langsung 'ngeh' kalau putrinya sedang dekat dengan Lidya. "Wah! Pastinya senang sekali Pak Hendra itu. Karena sebentar lagi dia akan menimang cucu! Hehe..!" Baskara pun ikut menimpali ucapan istrinya. "Salam Om Baskara, Tante Rini. Ini usia kandun
'Hmm..! Sudah saatnya kuhancur leburkan markas ini..!' bathin Bimo murka. Karena memang sudah tak ada lagi lawan yang berarti baginya di markas itu. Seluruh anggota Gank Shadow yang tersisa pun terpaku gentar dan dilanda kebingungan. Karena keempat pimpinan mereka kini telah tewas..!Dan tak ada diantara mereka yang berani mengambil alih komando, di saat genting seperti itu. "Bagaimana ini..?! Jika kita keluar, senjata pihak musuh sudah siap menghabisi kita tanpa ampun..!" seru gentar seorang anggota gank pada rekan lainnya. "Huh..! Mati ya mati..! Lebih baik kita mati dalam perlawanan, dari pada diam di markas menunggu mati..!" seru seorang anggota lainnya. "Benar..! Ayo semuanya bersama-sama menerobos pintu depan saja..! Siapkan senjata kita semua..! Kita akan balas tembak siapapun di depan sana..!" seru anggota lainnya, membakar semangat semangat rekan-rekannya. "Ayo semuanya berkumpul dan siap menerobos pintu utama..!!" Klekh..! Seorang anggota gank pun akhirnya memberanikan







