เข้าสู่ระบบ“Masuk..!” seru Budi dari dalam ruang kerjanya, setelah Bimo mengetuk pintu ruangan itu.
“Selamat Pagi Pak Budi. Bapak memanggil saya?” ucap Bimo sopan. “Duduklah Bimo! Ada peringatan yang harus kaudengar dan perhatikan baik-baik!” ucap tegas Budi, dengan tatapan tajam ke arah Bimo. “Bimo! Aku mendapat laporan dari Bu Devi, tentang perilakumu yang ceroboh dan tak senonoh dalam bekerja! Karenanya aku langsung memberikan peringatan kedua padamu!” “Ahh! Langsung peringatan kedua Pak Budi..?” desah tegang Bimo bertanya. “Ya! Dan kau tahu artinya peringatan kedua itu Bimo..?! Sekali lagi kau membuat kesalahan, maka tak ada pilihan lain selain kau dipecat dan keluar dari kantor ini! Paham Bimo..?!” “Paham Pak Budi,” sahut Bimo, seraya memberanikan diri balas menatap wajah kepala personalia itu. Dan sebuah lintasan tentang Budi pun langsung tergambar jelas di benak Bimo. “Ahh..!” seru Bimo tanpa sadar. Hal yang tentu saja mengejutkan bagi Budi, pria berumur 39 tahun itu. “Kenapa kau terkejut seperti itu Bimo..?!” tanya kesal Budi. “Maaf Pak Budi. Bolehkah saya bicara secara pribadi dengan Pak Budi, di luar masalah peringatan untuk saya..?” tanya Bimo hati-hati. Ya, dalam lintasannya itu, Bimo melihat suatu masalah yang cukup fatal dalam rumah tangga atasannya itu. “Bicaralah Bimo. Tapi jangan coba-coba menjilatku untuk mendapatkan keringanan sangsi!” sahut ketus Budi, dengan setengah hati mempersilahkan Bimo bicara. “Maaf Pak Budi. Apakah Bapak merasakan ada hal yang aneh dengan ‘kemampuan’ Pak Budi di ranjang akhir-akhir ini? Dan hal aneh itu hanya terjadi di rumah Pak Budi saja,” ujar Bimo pelan. “Heii..! D-darimana kau tahu soal itu Bimo..?!” kejut dan gugup Budi bukan kepalang. Wajahnya memerah seketika, karena rasa malu dan penasaran bercampur aduk. Ya, sudah dua bulan ini Budi memang merasakan kemampuannya di ranjang seperti lenyap. Burungnya loyo dan tak mampu menunaikan tugasnya untuk sang istri tercinta. Namun anehnya, jika dia mengajak istrinya bercinta di luar rumah, maka burungnya bisa tegak dan gagah seperti biasanya. “Tenanglah Pak Budi. Saya juga baru saja mengetahuinya setelah melihat Pak Budi. Apakah ada tetangga baru di sekitar kediaman Pak Budi? Sepertinya dia menanam sesuatu di halaman rumah Bapak, karena dia menaruh hasrat pada istri Pak Budi,” ungkap Bimo, sambil setengah pejamkan matanya. “Hahh..! Kau benar lagi Bimo..! Memang ada tetangga baru yang berselisih 3 rumah dari rumahku. Dan dia baru 3 bulan pindah di situ!” seru terkejut Budi, demi mendengar kebenaran dari ucapan Bimo. “Tapi Pak Budi harus janji tak akan mendendam pada orang itu. Karena apa yang di tanamnya akan berbalik menyerangnya. Setelah Pak Budi membakar benda yang di tanam di halaman rumah Pak Budi,” ujar Bimo tenang. Ya, sungguh hati Bimo sendiri juga heran. Bagaimana dia bisa bersikap setenang itu berbicara dengan Pak Budi. Bimo merasa yang tengah berbicara dengan Budi seperti bukan dirinya. Lalu siapa..?! “B-benda apa sebenarnya yang di tanam si brengsek itu Mas Bimo..?! Sungguh membuatku ingin pulang sekarang juga!” seru Budi geram, panggilannya seketika berubah menjadi sopan pada Bimo. Ya, Budi seperti melihat pancaran wibawa dan kharisma Bimo yang sungguh berbeda saat itu. Hal yang membuatnya seketika merasa hormat dan segan pada pemuda itu. Aneh! “Pak Budi tak perlu membuka bungkusan kain putih pada benda itu. Pak Budi cukup langsung membakarnya saja di halaman belakang rumah. Maka pengaruh buruk benda itu akan hilang, dan kemampuan Pak Budi akan normal kembali,” ujar Bimo tenang. “Ahh..! L-lalu dimana tepatnya benda terkutuk itu berada Mas Bimo..?” sentak Budi semakin penasaran. “Benda itu memiliki kekuatan Pelemah Hasrat, dan ditanam di bawah pot bonsai beringin halaman rumah Pak Budi. Biarlah akan saya pagari rumah Pak Budi dari jauh, agar dia tak bisa lagi mengerjai keluarga Pak Budi.” Seth, seth, seth! Bimo langsung pejamkan matanya dan membuat garis berbentuk kotak, dengan jari telunjuknya yang tiba-tiba saja bergetar kepulkan asap putih. “Hahh..!” seru terkejut Budi dengan mata terbelalak. Karena dia bukan hanya melihat kepulan asap putih dari jari Bimo, namun dia juga merasakan hawa hangat yang tiba-tiba menebar di ruangannya. ‘Gila..! Bagaimana Bimo bisa tahu soal tanaman bonsai beringin kesayanganku..?! Ke rumahku saja dia belum pernah! Fix..! Bimo memang asli orang pintar!’ seru batin Budi, merasa takjub dan yakin akan kemampuan Bimo. “Sudah Pak Budi. Kini Pak Budi tinggal membakar saja benda yang di tanam itu. Dan bersikap biasa sajalah pada penanam benda itu. Karena akibat buruk benda itu akan balik menyerangnya, dan akan terus begitu sampai dia minta maaf pada Pak Budi.,” ujar Bimo tersenyum. “Ahh..! M-maafkan saya Mas Bimo..! Saya percaya kejadian kemarin dengan Bu Devi itu hanya ketidaksengajaan belaka. Saya pribadi menarik kembali peringatan kedua itu ya Mas Bimo. Terimakasih atas bantuan Mas Bimo..!” sentak rikuh Budi, karena rasa tak enaknya telah bersikap keras pada Bimo tadi. “Tak apa Pak Budi. Pak Budi hanya menjalankan tugas saja kok. Saya permisi ya Pak Budi,” ujar Bimo tersenyum maklum, seraya beranjak dari kursi. “S-silahkan Mas Bimo. Terimakasih.. terimakasih ya Mas Bimo,” ucap sopan dan gugup Budi. Dia langsung beranjak mengiringi Bimo dan sekaligus membukakan pintu ruangannya untuk Bimo. ‘Tak kusangka! Di balik kelemahanmu, ternyata kau menyembunyikan kemampuan yang luar biasa Bimo!’ bathin Budi kagum dan takjub. Dari ruangan Budi, Bimo pun langsung menuju ke ruang OB. Nampak rekan-rekan OBnya tengah berbincang di sana. Namun mereka serentak menoleh ke arah Bimo, saat menyadari kehadirannya. “Bagaimana Bimo..?!” “Apakah kau dipecat..?!”"Hhh..! Kalian ini orang muda, memang paling bisa mendesak kami yang sudah tua! Jika kalian sudah memutuskan demikian, maka kami juga tak bisa bicara apa-apa lagi.Toh kalian juga yang akan menjalani kehidupan itu nantinya," ujar Baskara seraya mengerling ke arah istrinya. Dan Rini pun akhirnya mengangguk padanya, sebagai tanda setuju dengan pendapat suaminya itu. "Devi, Lidya. Ibu tak akan mempersulit langkah dan keinginan kalian. Devi, ibu merestui dan mengijinkan niat kalian bertiga. Kalian tentunya sudah dewasa dan mampu menentukan yang terbaik bagi jalan hidup kalian," ujar Rini akhirnya merestui, dengan mata beriak basah. Ya, baik Baskara maupun Rini memaklumi, jika Devi telah sejak lama mencintai Bimo. Bahkan puteri mereka itu rela mengorbankan pekerjaannya, untuk bisa bekerja di perusahaan konsultan Bimo. Dan mereka pun sangat mengerti, pada saat Devi nampak terguncang saat pernikahan Bimo dan Lidya. Hal yang membuat putri mereka Dev, bagai kehilangan semangat hidupnya. Ba
"Ehh..?!" sentak kaget Rini, saat melihat sosok wanita yang tengah hamil di sebelah Devi. 'Bukankah itu Lidya, putri dari Bos Winata Grup..?' bathin Rini. Keheranan yang sama juga dirasakan oleh Baskara. Tentu saja dia masih mengenali sosok Lidya, karena dia dan istrinya juga hadir pada pesta pernikahan Bimo dan Lidya dulu. Namun hal sebenarnya yang menjadi pertanyaan di benak kedua orangtua Devi itu adalah, 'Ada apa gerangan Lidya yang sedang hamil tua itu datang bersama Devi ke rumah..?' "Salam Ayah, Ibu! Tentunya kalian masih ingat dengan Kak Lidya kan..?" sapa Devi tersenyum ceria, pada kedua orangtuanya yang nampak masih tertegun itu. "Oalah! Ya masih dong Devi. Wah! Sudah berapa bulan kandungannya Lidya..?" sahut heboh Rini, yang langsung 'ngeh' kalau putrinya sedang dekat dengan Lidya. "Wah! Pastinya senang sekali Pak Hendra itu. Karena sebentar lagi dia akan menimang cucu! Hehe..!" Baskara pun ikut menimpali ucapan istrinya. "Salam Om Baskara, Tante Rini. Ini usia kandun
'Hmm..! Sudah saatnya kuhancur leburkan markas ini..!' bathin Bimo murka. Karena memang sudah tak ada lagi lawan yang berarti baginya di markas itu. Seluruh anggota Gank Shadow yang tersisa pun terpaku gentar dan dilanda kebingungan. Karena keempat pimpinan mereka kini telah tewas..!Dan tak ada diantara mereka yang berani mengambil alih komando, di saat genting seperti itu. "Bagaimana ini..?! Jika kita keluar, senjata pihak musuh sudah siap menghabisi kita tanpa ampun..!" seru gentar seorang anggota gank pada rekan lainnya. "Huh..! Mati ya mati..! Lebih baik kita mati dalam perlawanan, dari pada diam di markas menunggu mati..!" seru seorang anggota lainnya. "Benar..! Ayo semuanya bersama-sama menerobos pintu depan saja..! Siapkan senjata kita semua..! Kita akan balas tembak siapapun di depan sana..!" seru anggota lainnya, membakar semangat semangat rekan-rekannya. "Ayo semuanya berkumpul dan siap menerobos pintu utama..!!" Klekh..! Seorang anggota gank pun akhirnya memberanikan
"Hihh..!" Dambhh..! Bimo berseru seraya hentakkan kaki kanannya ke bumi. Seketika selimut bola cahaya hijau Pagar Sukma pun aktif melindungi dirinya. Blagh..! Plaghk..! ... Splaagh..!! Empat serangan dari Edo cs bagaikan menghantam sebuah dinding baja, yang panasnya bukan olah-olah. Dan ... "Hargks..! ... Aarrghsk..!!" Weesshk..!! Terdengar seruan kesakitan serentak, yang diiringi dengan terpentalnya sosok empat pentolan Gank Shadow itu ke empat arah berbeda. Bruugghk..!! Hampir bersamaan sosok Edo, Raka, Jono, dan Darko jatuh bergedebukan di tanah. Akibat mereka tak bisa lagi mengendalikan keseimbangan tubuh mereka. Ya, rasa sakit di tapak tangan keempat orang itu memang sungguh menyengat tak tertahankan, akibat pukulan mereka membentur tabir Pagar Sukma yang diterapkan Bimo.Dan rasa sakit itu tentu saja memecah konsentrasi dan kendali tubuh mereka. Karena sebelah tangan milik mereka, otomatis memegangi pergelangan tangan mereka yang melepuh hancur. Akibat arus balik power pukul
"B-bangsat..! Siapa kau..?!" seru panik bergetar penuh amarah Edo. Dia memang belum pernah bertatap muka langsung dengan Bimo. Ya, hanya Yoga, Dewinda, dan Prayoga sendiri, yang memang pernah bertemu dengan Bimo. Sementara para anggota Gank Shadow hanyalah kenal nama 'Bimo' belaka, tanpa mereka pernah bertatap muka langsung. Namun sebaliknya Bimo bisa menduga, jika Edo adalah salah satu pimpinan dan orang kepercayaan Yoga di Gank Shadow. "Hmm! Sebaiknya kau panggil saja semua anggota terkuat dari gank Shadow ini, untuk melawanku seorang! Aku Bimo, pimpinan Pijar Taruna yang akan menghabisi kalian..!" Bimo berseru seraya tersenyum dingin. "Hah..?! K-kau Bimo..! Musuh besar Bos Yoga..!" seru Edo bertambah panik dan gentar. 'Melawan anak buahnya saja sudah merepotkan..! Bagaimana pula melawan langsung pimpinan Pijar Taruna ini..?!' bathin Edo jerih. "Ketahuilah, dua pintu keluar dari markas ini telah dijaga oleh pasukkan bersenjataku..! Silahkan coba keluar, jika ingin ratusan pelur
"Siap Mas Bimo..!" "Hiahh..!" Splashh..!! Bimo berseru seraya terapkan aji 'Bayu Lampah'nya, dia melesat keluar melalui pintu helikopter yang terbuka itu.Sosok Bimo pun langsung melayang dalam posisi bersila, perlahan sepasang mata Bimo terpejam. Dia tengah pusatkan pikiran dan bathinnya, untuk terapkan pagaran aji 'Perisai Bathin'nya. Aji Perisai Bathin adalah ilmu spesial milik Bimo, yang mampu memblokade atau memutus hubungan bathin orang pada area yang diselimuti ajian itu. Bahkan pagaran Perisai Bathin juga bisa mengacaukan dan menghilangkan sinyal area network..! Badas..! Pulau Duyung banyak ditumbuihi cemara laut, ketapang, pandan laut, serta pohon sukun. Dan tentu saja bukanlah hal yang sulit bagi Bimo, untuk memagari pulau yang luasnya hanya sekitaran 7 hektar itu. "Hupsh..!" Spyarrshk..!Bimo berseru seraya tinjukan dua kepalan tangannya ke arah langit. Dan secara tak kasat mata, muncullah kubah parabola bercahaya biru cemerlang menaungi Pulau Duyung itu. Ya, itulah wu







