MasukMalam pun menjelang. "Uhhgsh..! T-terus lebih cepat lagi Mas Yoga sayang..sh!" desah keras Dewinda, seraya tangannya mencengkram sisi jendela kamar yang terbuka lebar.Semua adegan super hot itu terjadi di lantai 2 bangunan villa milik Prayoga, yang kini dijadikan markas sementara Gank Shadow.Ya, itu memang gaya favorit Dewinda dan Yoga dalam berolah asmara. Keduanya memang kerap terobsesi melakukan hal itu, sambil menikmati pemandangan indah dan udara bebas..! Edan..! Dan dari jendela kamar itu, keduanya memang bisa melihat panorama cukup indah. Mulai dari taman villa dengan aneka warna lampu, desiran angin dan suara ombak, hingga kerlip bintang-bintang di langit malam itu. "Ohsk..! Ok, Winda sayang..sh..! Sebentar lagi aku sam.. paihsk..!" erang serak Yoga, seraya terus menghantam penuh stamina, sosok setengah polos Winda dari belakang. Keduanya memang nampak masih kenakan baju atasan mereka, jika orang melihatnya dari bawah atau luar. Namun sesungguhnya bagian bawah mereka ter
"Nah Devi adikku. Mari bicara soal rencana kita bersama Mas Bimo di dalam kamarku," ajak Lidya seraya tersenyum penuh arti. Devi pun akhirnya mengikuti langkah Lidya menuju kamarnya, dengan tangannya setengah ditark oleh Lidya. Sepertinya memang Lidya yang nampak antusias sekali saat itu. Bimo yang sejak tadi memang bersifat pasif dalam pembicaraan antara istrinya dan Devi, dia pun mengikuti langkah kedua wanita cantik itu ke kamarnya. 'Hhh.. Biarlah mereka berdua membahas semuanya dengan leluasa. Aku hanya bisa menjalani garis hidupku yang aneh ini', bathin Bimo pasrah. Ya, Bimo sengaja memilih bersikap 'non aktif' dalam masalah jodohnya dengan Devi. Karena dia paham, hal itu akan menyakitkan bagi Lidya yang tengah mengandung anaknya. Dan setibanya di depan kamarnya, Bimo melihat pintu kamarnya dalam keadaan tertutup. Maka menjadi pahamlah Bimo, bahwa Lidya tak menginginkan dirinya ikut dalam pembicaraan dua wanita itu. Bimo pun memilih duduk menunggu, di kursi panjang yang ada
Claapsh..! "Aihh..!!" seruan serentak keluar dari mulut Lidya dan Devi, saat melihat mata batu hijau dari gelang dan liontin itu saling melekat erat. Seolah hendak menyatu..! Blaphss..! Mewujud seketika sosok Naga Hijau berkepala wanita yang sungguh cantik. Sebuah mahkota kencana berada di atas kepala wanita itu, dengan sosoknya yang diselimut cahaya hijau cemerlang. "Hahh..!!" kini bukan hanya Lidya dan Devi yang berseru kaget, bahkan Bimo pun ikut terkejut melihat kemunculan penghuni batu Mustika Naga Hijau itu. Hawa sejuk bukan main menebar di seantero ruangan itu, suasana ruangan itu pun bagaikan diselimuti aura magis seketika. Lengang dan sunyi, bagaikan hampa udara..! "Ehh..! A-apa itu..?! T-tolongg..!" Sontak Bi Inah berseru kaget bukan main, saat dia masuk ke ruang tengah dan langsung menyaksikan pemandangan ngeri dan hawa sejuk yang menebar.Prangkh..! Brugh! Nampan berisi sajian camilan dan minuman yang dibawa Bi Inah pun langsung lepas, dan jatuh berantakkan di lantai
"Aihh..! Ehh..!" Bimo dan Lidya yang tengah berada di ruang tengah kediaman mereka, keduanya sama tersentak pendek. Otomatis mereka pun saling tatap dengan wajah heran dan aneh. Ya, keduanya merasakan hembusan angin sejuk, yang tiba-tiba saja menerpa sekujur tubuh mereka. Dan itu dirasakan mereka, tepat saat datangnya seseorang ke rumah mereka, Devi..! Datang Bi Inah dari arah depan menghampiri kedua majikkannya itu. "Mas Bimo, Bu Lidya. Ada Mbak Devi di teras menunggu," ujar Bi Inah mengabarkan. "Baik Bi. Hayuk Mas, kita temui Devi di depan," ucap Lidya, seraya langsung mengamit lengan Bimo untuk menemui Devi. Srrssh..! 'Degh!' Bimo dan Lidya kembali merasakan sensasi hembusan energi sejuk yang semakin kuat, seiring dengan semakin dekatnya mereka menuju teras rumah. 'Kenapa hawa sejuknya persis sama, dengan saat pertama aku bertemu Lidya dulu..?' bathin Bimo bertanya-tanya. 'Sepertinya hawa sejuk ini sangat familiar dengan diriku!', bathin Lidya, seraya mengajak suaminya berjal
"Wah..! Tapi Bos, kenapa tidak sekalian saja kita musnahkan Ganks Shadow itu dalam satu serangan..?" tanya penasaran Maux. "Itu karena aku tak mau jatuh banyak korban di pihak kita. Dan jika Yoga hendak menuntut balas, aku sendiri yang akan menghadapinya. Karena pastinya dia juga tak bisa banyak membawa anggotanya yang sudah kita bantai. Dan keuntungan lainnya bagi kita, khususnya bagiku. Berduel dengan orang yang tengah emosi dan kalap, tentunya akan lebih mudah untuk mengatasinya..!" jelas Bimo tegas. Evan pun langsung berdiri seraya menganggukkan kepalanya, "Ahh..! Rupanya begitu maksud Mas Bimo. Aku mengerti!" seru Evan antusias. Sementara para rekan lainnya kini juga bisa menerima alasan dibalik siasat yang akan dilakukan Bimo. 'Sungguh Bos sangat memikirkan keselamatan kami! Dan kemenangan pada serangan lusa besok juga sepertinya sudah di tangan', bathin para rekan semua. Merasa tak tahan, Alimsyah pun berkata, "Terimakasih atas kepedulian Bos pada kami semua. Tapi Bos juga
'Hmm. Pulau Duyung..? Di mana letaknya pulau itu ya? Sudahlah, lebih baik aku kembali secepatnya saja. Lagi pula informasi yang kucari juga sudah kudapatkan'. "Hehehe! Siapa bilang aku tak akan mengajak Yoga untuk mengawalku ke Mantankali, Winda. Yoga akan ikut serta bersama kita ke sana besok lusa," ucap terkekeh Prayoga, mendengar putri kesayangannya yang merajuk itu. "Waw..! Kalau begitu lain ceritanya Ayah..! Winda pasti siap berangkat..! Hihihi..!" seru Winda heboh, seraya tertawa senang. 'Hmm. Dapat info tambahan lagi. Mantap!' bathin Bimo senang. Lalu... Splaashp..! Sukma Bimo pun langsung melesat menembus dinding ruangan itu. Berniat kembali menuju raganya di kantor pusat Pijar Taruna. *** Malam itu Devi telah membulatkan tekadnya untuk sebuah keputusan. 'Baiklah! Sepertinya pergi sejauh-jauhnya dari Kajarta ini, adalah keputusan terbaik yang harus kuambil!' bathin Devi memutuskan. 'Pasporku masih berlaku, sementara visa untuk tinggal sudah diurus oleh Yuriko. Hanya ti







