首頁 / Fantasi / Hati liar sang Alpha / Ketukan dari Langit.

分享

Ketukan dari Langit.

作者: Chatrin
last update publish date: 2026-07-19 14:03:20

Tok... tok...

Suara itu kembali terdengar. Bukan dari pintu kastel, bukan pula dari dinding batu yang mengelilingi Lunaris.

Suara itu datang dari langit.

Seluruh ruangan terdiam.

Api yang tadi padam belum juga menyala kembali. Cahaya rembulan yang masuk melalui jendela pun tampak redup, seolah ada sesuatu yang menutupi seluruh langit.

Elara perlahan berdiri tapi wajahnya kehilangan warna, tatapannya tidak lagi memandang siapa pun di dalam ruangan.

Ia hanya memandang retakan langit. Aelmon langs
在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP
已鎖定章節

最新章節

  • Hati liar sang Alpha   Melepaskan Bukan Berarti Kehilangan

    Benang-benang merah itu bergetar pelan.Ting...Ting...Setiap bunyinya terdengar seperti petikan kecapi yang dimainkan sangat pelan, tetapi cukup untuk membuat dada terasa sesak.Pergelangan tangan Elara mulai memerah.Aelmon segera mengendurkan tenaganya.Ia bahkan membuka sedikit jemarinya agar tekanan pada kulit Elara berkurang.Elara memperhatikan perubahan kecil itu."Kau berhenti?" Aelmon mengembuskan napas panjang. "Aku lebih rela kehilangan kesempatan memelukmu...""...daripada membuatmu terluka."Kalimat itu lagi, namun justru membuat tenggorokan Elara terasa tercekat.Ia mengangkat tangan perlahan. Jari-jarinya menyentuh pipi Aelmon, sentuhan yang begitu ringan hingga nyaris seperti embusan angin."Kenapa selalu aku?" tanyanya mulai kesal."Apa?""Kenapa kau selalu memilih aku... dibanding dirimu sendiri?"Aelmon menutup matanya

  • Hati liar sang Alpha   Hutan Ikatan

    Duum...Suara akar yang saling bertaut mengguncang tanah.Gerbang hidup itu perlahan membuka, memperlihatkan lorong gelap yang dipenuhi akar-akar berwarna hitam keperakan. Di sepanjang dindingnya, ribuan benang merah membentang dari satu sisi ke sisi lain, berdenyut pelan seperti urat nadi.Elara menghentikan langkahnya.Benang-benang itu... Bukan benda mati, mereka bernapas."Hati-hati." cemas Rowan, dia mengambil sikap waspada."Jangan menyentuh apa pun."Aelmon mengangguk pelan, tetapi matanya masih tertuju pada tangan Elara yang berada dalam genggamannya.Ia mengusap pelan punggung tangan wanita itu dengan ibu jarinya.Gerakan kecil. Nyaris tidak terasa, namun berhasil membuat Elara menoleh. "Ada apa?"Aelmon menggeleng. "Hanya memastikan.""Memastikan apa?""Kau masih di sampingku."Elara tersenyum kecil. "Aku tidak ke mana-mana! mengapa kau selalu mengatakan hal

  • Hati liar sang Alpha   Berani Mencintai

    Api biru di dalam lentera bergoyang perlahan.Tidak ada angin.Namun setiap nyalanya bergerak mengikuti langkah mereka, seolah hutan itu sedang mengawasi setiap napas yang mereka ambil.Perempuan tua berjubah hijau telah menghilang.Yang tersisa hanyalah lorong akar yang memanjang tanpa ujung.Rowan mengamati sekitar. "Aneh.""Tidak ada jebakan."Aelmon justru mendengus pelan."Itu berarti jebakannya belum dimulai."Elara mengangguk setuju. Jemarinya masih bertaut dengan tangan Alpha itu. Hangat yang mengalir dari telapak tangan Aelmon sedikit mengurangi dingin yang merayapi tubuhnya.Beberapa langkah kemudian...Tap... tap...Sepatu Elara menginjak akar pohon yang licin.Tubuhnya oleng.Belum sempat ia kehilangan keseimbangan, sebuah lengan sudah lebih dulu melingkari pinggangnya."Aku dapat."Suara Aelmon terdengar begitu dekat.E

  • Hati liar sang Alpha   Kehidupan yang Tidak Pernah Terjadi

    Cahaya emas perlahan memudar.Ruangan kembali sunyi.Namun kesunyian itu terasa jauh lebih berat dibanding sebelumnya.Di hadapan mereka... Tiga sosok berdiri tanpa bergerak, tidak ada aura membunuh, tidak ada permusuhan. Yang ada justru sesuatu yang jauh lebih menyesakkan.Kemungkinan.Kemungkinan hidup yang tidak pernah mereka jalani.Elara menatap sosok dirinya sendiri.Rambut emas panjang tergerai hingga menyentuh lantai. Mahkota Matahari bertengger di atas kepalanya. Jubah putih keemasan menjuntai anggun, sementara di belakang punggungnya berputar dua belas lingkaran cahaya.Tidak ada luka, tidak ada air mata, tidak ada cincin pernikahan. Tatapannya tenang, namun kosong.Begitu kosong hingga membuat dada Elara sendiri terasa nyeri.Di sisi lain...Aelmon membeku. Di hadapannya berdiri Alpha lain, masih berambut hitam, masih bermata hijau, akan tetapi sorot matanya begitu dingin.

  • Hati liar sang Alpha   Gerbang Kelima: Tangan yang Tidak Dilepaskan

    Klang...Rantai-rantai hitam bergesekan perlahan.Suaranya panjang, berat, seolah berasal dari dasar dunia.Gerbang Kelima terbuka sedikit demi sedikit.Udara hangat yang mereka rasakan di Gerbang Keempat menghilang. Digantikan aroma tanah basah, dedaunan yang membusuk, dan embun yang terasa dingin saat menyentuh kulit.Di balik gerbang itu terbentang sebuah hutan.Sunyi.Pohon-pohonnya menjulang tinggi tanpa daun. Akar-akar raksasa mencengkeram tanah seperti jemari yang enggan melepaskan sesuatu.Tidak ada burung atau serangga. Hanya, suara napas mereka bertiga.Elara mengangkat ujung gaunnya sedikit agar tidak terseret lumpur. Gaun dewi yang semula bersih kini dipenuhi bercak tanah dan sobekan halus di bagian bawah. Rambut emasnya yang biasanya rapi mulai tergerai diterpa angin.Aelmon memperhatikannya beberapa saat.Tanpa berkata apa pun, ia berlutut.Elara berkedip.

  • Hati liar sang Alpha   Orang yang Menunggu

    Lorong batu itu lembap.Setiap tetes air yang jatuh dari langit-langit gua memantulkan cahaya keemasan yang samar.Tik...Tik...Tik...Suara itu menjadi irama perjalanan mereka.Tidak ada seorang pun yang terburu-buru.Setelah percakapan di depan gerbang, langkah Aelmon berubah.Ia masih menggenggam tangan Elara, tetapi tidak lagi sekuat sebelumnya.Bukan karena ingin melepaskan, melainkan karena ia mulai belajar. Belajar bahwa cinta bukan hanya tentang menggenggam erat, terkadang... ia juga harus memberi ruang agar orang yang dicintainya tetap dapat bernapas.Elara menyadari perubahan kecil itu.Perubahan yang mungkin tidak akan diperhatikan orang lain.Ia melirik jemari mereka. Masih saling bertaut, namun kini terasa jauh lebih nyaman.Tanpa sadar, Elara justru menyelipkan jemarinya lebih dalam di sela jari Aelmon.Alpha itu menoleh. "Kenapa?"Ela

  • Hati liar sang Alpha   Jalan Menuju Dunia Manusia

    Hujan belum berhenti.Kabut tipis menyelimuti Lunaris sejak pagi, membuat seluruh lembah tampak pucat dan dingin. Langit retak di atas sana masih menggantung seperti luka besar yang tidak bisa sembuh.Dan suasana pack jauh lebih buruk dibanding cuaca.Aula utama Lunaris dipenuhi ketegangan.Lyra me

  • Hati liar sang Alpha   Istri Alpha atau Dewi Matahari

    Hujan turun sejak dini hari.Rintiknya membentur atap kayu Lunaris perlahan, menciptakan suara tenang yang biasanya menenangkan. Kabut tipis menyelimuti lembah, sementara langit retak di atas sana tampak lebih redup dibanding malam sebelumnya.Namun kamar Alpha justru terasa semakin sesak.Elara ma

  • Hati liar sang Alpha   Cara Sederhana untuk Tetap Tinggal

    Sinar senja jatuh hangat di sela dedaunan, seperti mencoba menyentuh tanah dengan hati-hati. Angin berhembus pelan, membawa aroma kayu dan tanah.Elara duduk di dekat api kecil yang hampir padam.Selimut tipis masih melingkari bahunya, rambutnya jatuh sedikit berantakan di sisi wajah. Ia memegang c

  • Hati liar sang Alpha   Membawa Bulan Bersama dengannya

    Selamat membaca.Langit tidak lagi hanya retak. Ia berdenyut. Seperti sesuatu yang hidup, menunggu keputusan yang belum dibuat.Udara di Lunaris terasa semakin berat. Setiap tarikan napas membawa tekanan yang tidak kasat mata, namun nyata. Tanah di bawah kaki mereka retak halus, menyebar dari pusat

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status