Mag-log inElara Valen adalah Omega yang dianggap cacat oleh klannya sendiri. Ia gagap, tidak diinginkan, dan selalu gagal dalam perjodohan yang dipaksakan pamannya. Suatu malam ia bertemu Joseph Warcliff, Alpha paling berbahaya di wilayah Utara yang membawa kutukan serigala hitam. Tidak ada yang mampu menghentikan Monster dalam diri Joseph… sampai Elara melakukannya dengan lukisan dan sentuhannya. Joseph segera menyadari satu hal. Jika para tetua klan Warcliff mengetahui ada seseorang yang bisa menjinakkan Alpha mereka, Elara tidak akan dibiarkan hidup. Sekarang Joseph harus memilih. Menyerahkan Elara kepada klannya… atau melindungi gadis yang bisa menghancurkan rahasia klan Warcliff.
view more"Keluar! Dasar Omega gagap tidak berguna!" teriakan itu meluncur dari mulut paman Elara, Victor Valen.
Tubuh Elara sontak terlempar keras ke atas trotoar yang dingin. Tas usang berisi kanvas dan tabung cat ikut jatuh ke aspal dengan bunyi debuk yang membuat dada Elara ikut sesak.
Elara mengernyitkan dahi, merasakan rasa sakit di tubuhnya. Mulutnya terbuka, namun tak ada suara kencang yang keluar dari sana. Hanya rintihan-rintihan kecil. “A.. ah…”
Perih yang membakar di telapak tangannya yang lecet akibat gesekan dengan permukaan jalan yang kasar membuat Elara meringis. Bau aspal basah dan debu malam menusuk hidungnya saat ia berusaha menghirup udara.
"Kamu memalukan keluarga Valen!" teriak Victor lagi dari ambang pintu rumah. "Tiga keluarga sudah menolakmu, Elara!"
Mendengar cacian Victor, tangan Elara pun bergetar. Walaupun ia sudah terbiasa diperlakukan demikian, tapi ia tetap merasa kesulitan bernapas.
"Kamu bahkan tidak bisa menyebut nama calon suamimu sendiri!" Victor mendengus. "Siapa yang mau menikahi Omega cacat sepertimu?"
Brak!
Pintu kayu jati itu lalu tertutup rapat. Elara langsung mematung.
Ia ingin membalas, ingin berteriak membela dirinya. Namun, tenggorokannya terasa tersumbat. Lidahnya hanya bisa bergerak kaku tanpa mengeluarkan suara.
Elara harus menelan pil pahit karena dirinya kesulitan bicara akibat gagap. Namun, amarah rasanya memuncak ketika mengingat alasannya, Victor, pamannya sendiri.
Victor dulu ingin merebut kekuasaan klan dari ayah Elara. Pertarungan pun terjadi dan kedua orang tua Elara mati di depan mata Elara sendiri.
Ia trauma berat melihat pemandangan itu sehingga menjadi gagap.
Tapi malam ini, Victor malah mengusirnya. Dengan lutut gemetar, Elara bangkit berdiri. Ia menepuk debu di rok katunnya sebelum akhirnya berjalan menjauh.
Kakinya secara insting membawanya menjauh dari lingkungan klan yang selalu memandangnya sebelah mata.
Ia menuju satu-satunya tempat di mana ia bisa merasakan damai, sebuah galeri lukis peninggalan ayah dan ibunya di pinggiran kota.
Elara menyusuri pinggir jalanan yang biasanya menjadi arena balap liar. Malam ini, tempat itu terdengar kacau. Raungan mesin mobil yang memekakkan telinga berpadu dengan suara teriakan dan langkah kaki yang berlarian.
Bau bensin dan asap knalpot membuat mata Elara perih. Ia segera menjauh dari keramaian kota malam itu.
Elara terus berjalan dengan langkah cepat menuju galeri tua di sudut gang. Elara mempercepat langkahnya, mengabaikan denyut nyeri di telapak tangannya.
Gang sempit menuju galeri itu biasanya sunyi, namun malam ini atmosfernya terasa berbeda. Udara di sekitar sana terasa berat dan panas.
Saat matanya tertuju pada pintu kayu tua galerinya, jantung Elara mencelos. Grendel besi yang biasanya mengunci rapat tempat persembunyiannya itu terkulai patah.
Kayu di sekitar lubang kunci itu retak dan tercerabut. Bekasnya kasar seakan baru saja dijebol dengan paksa.
Pintu itu sedikit menganga, menyisakan celah gelap yang membuat firasatnya tidak enak.
‘Apa itu Albert?’ batin Elara.
Albert adalah pria paruh baya yang selama ini menjaga galeri tersebut. Albert adalah satu-satunya orang yang tahu bahwa Elara sering menyelinap ke sini untuk menumpahkan trauma di atas kanvas.
Pria tua itu sudah seperti mentor sekaligus orang yang paling dipercayai Elara. Namun, tidak biasanya Albert datang malam-malam, apalagi ia sampai merusak pintu.
Dengan hati-hati, Elara mendorong pintu itu perlahan.
Suara derit kayu yang panjang memecah kesunyian di dalam ruangan yang hanya diterangi cahaya bulan dari jendela.
Bau bensin yang menyengat dan aroma maskulin yang tajam langsung menyerbu indra penciuman Elara.
Bau itu sangat dominan, menutup aroma cat minyak yang biasanya menenangkan.
Di tengah ruangan, seorang pria berdiri mematung. Tubuhnya tinggi kekar, dibalut jaket kulit hitam yang kotor oleh noda oli dan debu jalanan.
Pria itu membelakangi Elara dan berdiri dekat dinding utama. Di dinding itu terpajang lukisan Serigala Hitam, karya paling personal milik Elara.
Elara bisa melihat bahu pria itu naik turun dengan napas yang memburu. Otot-otot lengannya menegang hebat, seolah ia sedang menahan rasa sakit yang luar biasa.
"S-si... ap... pa?" suara Elara keluar dengan susah payah, pecah dan bergetar di ujung lidahnya.
Sosok pria yang ditemuinya berbalik dengan gerakan cepat yang hampir tidak tertangkap mata. Elara tersentak mundur hingga punggungnya menabrak bingkai pintu.
Pria itu memiliki rahang yang tegas dengan beberapa luka goresan segar di pipinya. Namun, yang paling mengerikan adalah matanya.
Pupilnya sempat berkilat kuning keemasan sebelum meredup menjadi warna gelap yang sangat dingin.
Itu bukan sekadar tatapan marah, tapi tatapan seorang pria yang nampaknya membawa beban luka yang dalam.
Pandangan pria itu turun, berhenti tepat pada punggung tangan kanan Elara yang memegang erat tas kanvasnya. Di sana, sebuah tato kecil berbentuk bulan sabit perak terlihat jelas di bawah cahaya bulan. Itu adalah tanda garis keturunan murni klan Valen.
"Kamu... anggota klan Valen?" suara pria itu rendah dan parau, terdengar seperti geraman yang tertahan.
Elara membeku.
Ia merasa seluruh sendinya terkunci. Bau dominan yang memancar dari pria ini memberikan sinyal bahaya bagi insting Omeganya. Ia mengenali wajah itu dari berita dan desas-desus klan yang selalu ditakuti kelompoknya.
Pria di depannya adalah Joseph Warcliff. Sang Alpha terkuat dari wilayah utara. Sosok yang dikabarkan memiliki sisi berbahaya. Kata mereka, pria ini memiliki sisi lain, seperti monster yang tak terkendali.
Elara tidak bisa mengeluarkan suara. Ia hanya mampu mengangguk pelan dengan tubuh yang mulai bergetar hebat.
Joseph membuang muka seketika. Sorot matanya berubah dari waspada menjadi benci yang tidak bisa disembunyikan.
Rahangnya mengeras, dan ia mencengkeram tepi meja kayu di dekatnya hingga kayu itu berderit retak.
"Klan Valen …," desis Joseph dengan nada menghina. "Klan pembunuh."
Pintu sudah terkunci rapat. Jendela tertutup hingga tidak ada celah udara yang masuk. Ruangan itu kini benar-benar sunyi, sebuah kesunyian yang terasa menekan gendang telinga.Elara berdiri mematung di tengah kamar. Napasnya masih terasa berat, sisa-sisa ketegangan dari pertemuan dengan Isabella belum juga hilang. Lehernya masih berdenyut kencang.Rasa panas itu tetap bertahan di sana, menjalar hingga ke belakang telinga. Elara tahu, Isabella tidak hanya mengancamnya. Wanita itu telah memicu sesuatu yang selama ini ia tekan habis-habisan."Sekarang," bisik Elara lirih.Ia menatap pantulannya di cermin tua. Bayangan di sana terlihat rapuh dengan mata yang membelalak cemas. Tidak ada lagi waktu untuk sekadar ragu atau bersembunyi."Aku harus bisa mengontrol ini," ucapnya lagi. Ia mengepalkan tangan, mencoba mencari pijakan mental di tengah badai yang mulai terbentuk di dalam dirinya.Elara menarik napas panjang. Pelan-pelan ia menutup mata, berusaha mengusir bayangan Joseph yang menunt
Kalimat itu membuat memori Elara berputar cepat ke arah cairan ungu dan tatapan kejam Isabella di aula tadi. "S-saya t-tidak," Elara mencoba membela diri.Isabella tersenyum tipis, kepalanya sedikit miring menatap Elara. "Kau selalu bilang begitu. Lucu sekali. Orang yang paling banyak menyembunyikan sesuatu selalu mengaku tidak tahu apa-apa."Elara terdiam. Tangannya perlahan turun ke samping tubuh. Ia bersiap untuk apa pun yang mungkin akan dilakukan wanita ini. Isabella menyadari perubahan sikap itu.Matanya sedikit menyipit, memperhatikan setiap gerak-gerik Elara. "Jangan khawatir. Aku tidak datang ke sini untuk menyakitimu sekarang. Aku datang untuk memahami."[Memahami apa?] tulis Elara. Sesaat setelah ia meraih buku catatan dan pensil arangnya yang tergeletak di atas meja meskipun jantungnya masih berdebar kencang.Isabella berhenti beberapa langkah di depan Elara. Jarak mereka kini cukup dekat untuk saling merasakan aura masing-masing. "Memahami kau," jawab Isabella singkat.Mer
Elara menelan ludah dengan susah payah. Napasnya terasa sangat berat di dalam paru-parunya yang sesak. "D-dan k-kamu?" tanya Elara lirih.Evan mengangkat alisnya sedikit, menunggu kelanjutan pertanyaan itu. "K-kamu d-di p-pihak s-siapa dalam hal ini?" ulang elara yang masih terbata.Kali ini Elara benar-benar memberanikan diri untuk bertanya sesuatu yang mungkin tidak seharusnya ia tanyakan.Albert benar. Tidak seharusnya ia percaya pada siapapun di Kastil Warcliff ini. Harusnya ia tidak kembali lagi ke Kastil ini. Tapi jika ia tidak kembali, ia akan menjadi buronan.Semuanya sama saja. Tidak akan memberikan rasa aman baginya.Suasana kembali sunyi. Pertanyaan itu membuat keadaan di koridor terasa kaku. Evan terus menatap Elara lama tanpa menghindar."Aku akan berpihak pada yang akan bertahan hingga akhir," jawab Evan. Sederhana, dingin, namun sangat jujur.Elara menatapnya, mencoba memahami makna di balik kata-kata itu. Namun semakin ia mencoba mencari jawaban, semakin ia sadar akan
Langkah Elara masih tidak stabil saat ia keluar dari koridor. Pikirannya penuh dengan bayangan rencana Isabella dan sekutunya. Serta tatapan tajam Joseph yang seolah ingin menembus jiwanya. Suara rendah Joseph masih terngiang, memberikan peringatan yang membuat bulu kuduknya berdiri.Tangannya masih sedikit gemetar saat ia merapatkan kembali jubah yang membungkus tubuh kecilnya. Ia hampir mencapai tangga pelayan yang suram dan sempit ketika sebuah bayangan menghalangi jalannya."Jangan buru-buru." sergah suara itu dengan nada tenang yang sudah sangat familiar.Elara langsung berhenti. Napasnya tertahan di kerongkongan. Evan berdiri di sana, bersandar di dinding dekat tangga. Sepertinya dia sudah menunggu sejak lama.Tatapannya langsung jatuh ke arah Elara. Tatapannya tenang, namun tajam. Evan menjauh dari dinding dan melangkah perlahan mendekat ke arahnya. "Kamu lama sekali di dalam sana," ucap Evan. Matanya menatap pergelangan tangan Elara yang tadi dicengkeram Joseph. “Apa yang d
"Apa yang kau tunggu? Tuan Robert sudah menunggu tehnya di perpustakaan!"Suara melengking kepala dapur itu menghantam punggung Elara. Wanita itu berkacak pinggang di ujung koridor dengan wajah merah padam. Elara tersentak, hampir saja menjatuhkan nampan perak yang terasa semakin berat di tangannya
Mobil logistik itu berhenti dengan sentakan pelan di area bongkar muat belakang dapur. Elara segera turun dan membantu menurunkan beberapa karpet rami berisi sayuran segar dan potongan daging.Kepala dapur mendekat dengan wajah yang tidak lagi segalak tadi. Ia memeriksa isi karung dan menghitung ke
Saat mobil melewati gerbang besar Kastil Warcliff, Elara sempat menoleh ke arah jendela tinggi di Sayap Kanan. Ia tahu Joseph masih berada di sana, terkurung dalam siksa yang menyakitkan. Anehnya, ia merasakan ada bagian yang hilang saat ia semakin menjauh dari kastil Warcliff. Suatu perasaan yang
"Hei! Ada gerakan di balkon luar!" teriak seorang pengawal lain dari ujung koridor.Pengawal di depan Elara yang hampir memergokinya segera berbalik dan berlari menuju sumber suara.Elara mengembuskan napas panjang yang sejak tadi tertahan di tenggorokan. Ia tidak membuang waktu dan segera bergerak






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
RebyuMore