LOGINKeheningan.Itulah yang pertama kali menyambut mereka ketika melewati Gerbang Kedua.Tidak ada suara angin.Tidak ada desir dedaunan.Pepohonan putih menjulang tinggi hingga menutupi langit. Batangnya sebening kristal, sementara ranting-rantingnya dipenuhi daun transparan yang memantulkan bayangan masa lalu setiap kali disentuh cahaya.Anehnya...Mereka bertiga masih dapat mendengar napas satu sama lain.Seolah hutan ini hanya menghapus suara dunia, tetapi membiarkan suara hati tetap hidup.Elara melangkah perlahan.Gaun keemasannya bergesekan pelan dengan rumput putih yang terasa selembut sutra."Indah..." gumamnya lirih. "Namun sepi."Aelmon yang berjalan di sampingnya mengamati setiap sudut tanpa lengah."Terlalu sepi.""Itu yang membuatku tidak tenang."Rowan mengangguk pelan."Tempat yang terlalu tenang biasanya menyembunyikan sesuatu."Belum selesai kalimat itu...Krek...Suara ranting patah terdengar. Mereka serentak menoleh, tidak ada siapa pun. Hanya seekor kupu-kupu putih ya
Api masih menyala.Namun tidak lagi terasa panas.Justru keheninganlah yang membuat dada mereka sesak.Di hadapan Elara, Aelmon, dan Rowan berdiri tiga sosok yang sama persis dengan mereka. Tidak hanya wajah dan pakaian, bahkan cara mereka bernapas pun identik.Perbedaannya hanya satu. Mereka tidak memiliki bayangan, sebuah tulisan emas kembali muncul di udara.'Gerbang Pertama — Cermin Keinginan. Mereka adalah dirimu yang paling kau inginkan, bunuh mereka, maka kau membunuh dirimu sendiri. Biarkan mereka hidup, maka kau akan terjebak selamanya.'Sunyi."Aku membenci teka-teki." gumam Rowan.Elara mengamati bayangannya.Versi dirinya mengenakan mahkota Matahari yang utuh. Tidak ada luka di tubuhnya. Tidak ada kesedihan di matanya.Ia adalah Dewi Matahari yang sempurna. Sementara bayangan Aelmon...Masih memegang tangan Elara. Tubuhnya utuh, tidak pernah terkena kutukan. Ia bisa menyentuh Elara tanpa rasa sakit, sedangkan bayangan Rowan masih memiliki kedua lengannya.Tidak ada bekas p
Suara Aurelion masih menggema di benak Elara ketika dunia bawah perlahan memudar. 'Mempercayai Dewa Kematian... sama artinya dengan mempercayai kematian itu sendiri.'Kegelapan runtuh. Cahaya kembali memenuhi pandangannya.Saat Elara membuka mata...Ia kembali berdiri di aula Lunaris, seolah ia tidak pernah pergi.Namun waktu yang sebelumnya berhenti mulai bergerak lagi.Tik...Udara kembali mengalir. Api di perapian menyala, jubah para tetua kembali berkibar.Semua terjadi dalam satu tarikan napas.Tak seorang pun menyadari Elara baru saja menghilang. Hanya Aelmon, Alpha itu langsung memegang bahu Elara."Luna?" Tatapan emasnya penuh kecemasan."Kau pucat."Elara tidak langsung menjawab.Deg! deg!Jantungnya masih berdetak cepat.Ia memandang wajah Aelmon cukup lama. Lalu, dengan sangat perlahan ia mengangkat kedua tangannya dan memeluk pria itu sangat erat.Aelmon terdiam.Ia membalas pelukan itu tanpa bertanya apa pun.Keheningan itu terasa jauh lebih berarti daripada ribuan kalima
"hah!" Dingin. Adalah rasa pertama yang Elara rasakan setelah ia membuka matanya—jantungnya kembali berdetak."Ini..."Jelas bukan dingin yang menggigit kulit, melainkan dingin yang merambat perlahan ke dalam ingatan.Elara membuka mata. Tidak ada lagi langit Lunaris, tidak ada kastel, tidak ada aroma kayu pinus yang biasa dibawa angin.Yang menyambutnya hanyalah hamparan tanah hitam sejauh mata memandang.Retakan-retakan besar membelah bumi seperti luka yang belum pernah sembuh. Dari celah itu muncul cahaya kebiruan yang redup, diiringi bisikan ribuan roh.Ssshh...Haa...Suara mereka saling bertumpuk, seperti doa yang kehilangan tujuannya.Akar-akar hitam menjalar di atas tanah.Sebagian menggantung dari langit yang gelap, sebagian lagi melilit tulang-tulang raksasa yang telah menjadi bagian dari negeri itu.Elara mengembuskan napas pelan.Ia mengenal tempat ini. "Dunia bawah..." gumamnya lirih.Tidak jauh di hadapannya berdiri sebuah istana berwarna hitam keperakan. Tidak megah,
Tok... tok...Suara itu kembali terdengar. Bukan dari pintu kastel, bukan pula dari dinding batu yang mengelilingi Lunaris.Suara itu datang dari langit.Seluruh ruangan terdiam.Api yang tadi padam belum juga menyala kembali. Cahaya rembulan yang masuk melalui jendela pun tampak redup, seolah ada sesuatu yang menutupi seluruh langit.Elara perlahan berdiri tapi wajahnya kehilangan warna, tatapannya tidak lagi memandang siapa pun di dalam ruangan.Ia hanya memandang retakan langit. Aelmon langsung berdiri di depannya, "Apa itu?"Elara tidak menjawab.Jari-jarinya justru mulai gemetar. Tetua Darian mengerutkan dahi. "Aku belum pernah mendengar suara seperti itu."Tetua Maereth menggeleng pelan. "Bukan.""Aku pernah membacanya."Semua menoleh. Wanita tua itu menarik napas panjang. "Di naskah kuno, suara itu disebut Ketukan Gerbang."Rowan mengernyit."Gerbang?""Gerbang yang memisahkan dunia." Tatapan Maereth berubah muram. "Ketika seseorang mengetuknya, berarti ada sesuatu di balik lan
Tak seorang pun berbicara.Api di perapian hanya mengeluarkan bunyi kecil.Krek... krek...Cahayanya menari di wajah setiap orang yang berada di aula.Tetua Darian masih memegang gulungan tua itu sedangkan, Tetua Maereth memejamkan mata.Rowan berada di belakang Aelmon dengan satu lengan yang tersisa, sementara Aelmon tidak pernah sekalipun melepaskan tatapannya dari Elara.Kalimat terakhir itu masih menggantung."Dia... memilih mati."Keheningan itu terasa begitu berat hingga suara napas setiap orang terdengar jelas.Aelmon akhirnya melangkah mendekati gulungan tua itu.Tatapannya tidak lagi membaca gambar. Ia justru melihat kembali semua kenangan yang selama ini terasa janggal, pertemuan pertama mereka.Tatapan Elara yang selalu seolah mengetahui sesuatu.Cara gadis itu menerima kebencian tanpa pernah benar-benar membalas.Cara ia berkali-kali berkata bahwa setiap orang bebas memilih. Dan...Cara ia selalu menangis ketika seseorang mati.Bukan karena terkejut.Melainkan seperti sese
Hujan turun sejak dini hari.Rintiknya membentur atap kayu Lunaris perlahan, menciptakan suara tenang yang biasanya menenangkan. Kabut tipis menyelimuti lembah, sementara langit retak di atas sana tampak lebih redup dibanding malam sebelumnya.Namun kamar Alpha justru terasa semakin sesak.Elara ma
Sinar senja jatuh hangat di sela dedaunan, seperti mencoba menyentuh tanah dengan hati-hati. Angin berhembus pelan, membawa aroma kayu dan tanah.Elara duduk di dekat api kecil yang hampir padam.Selimut tipis masih melingkari bahunya, rambutnya jatuh sedikit berantakan di sisi wajah. Ia memegang c
Selamat membaca.Langit tidak lagi hanya retak. Ia berdenyut. Seperti sesuatu yang hidup, menunggu keputusan yang belum dibuat.Udara di Lunaris terasa semakin berat. Setiap tarikan napas membawa tekanan yang tidak kasat mata, namun nyata. Tanah di bawah kaki mereka retak halus, menyebar dari pusat
Cahaya turun lebih deras, seperti hujan emas yang terlalu terang untuk ditatap lama. Di sela-selanya, bayangan merembes turun seperti tinta yang menodai langit, perlahan tapi pasti. Dua kekuatan itu tidak lagi menunggu."AUUUU!"Mereka datang.Udara di Lunaris berubah menjadi berat, menekan dada se







