Home / Fantasi / Hati liar sang Alpha / Jalan Menuju Dunia Manusia

Share

Jalan Menuju Dunia Manusia

Author: Chatrin
last update Petsa ng paglalathala: 2026-05-26 14:59:25

Hujan belum berhenti.

Kabut tipis menyelimuti Lunaris sejak pagi, membuat seluruh lembah tampak pucat dan dingin. Langit retak di atas sana masih menggantung seperti luka besar yang tidak bisa sembuh.

Dan suasana pack jauh lebih buruk dibanding cuaca.

Aula utama Lunaris dipenuhi ketegangan.

Lyra menyebarkan gulungan tua dan botol-botol ramuan di atas meja panjang dengan wajah frustrasi. Rambut merahnya diikat asal, sementara lingkar hitam samar mulai terlihat di bawah matanya karena tidak tidur
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Hati liar sang Alpha   Kehidupan yang Tidak Pernah Terjadi

    Cahaya emas perlahan memudar.Ruangan kembali sunyi.Namun kesunyian itu terasa jauh lebih berat dibanding sebelumnya.Di hadapan mereka... Tiga sosok berdiri tanpa bergerak, tidak ada aura membunuh, tidak ada permusuhan. Yang ada justru sesuatu yang jauh lebih menyesakkan.Kemungkinan.Kemungkinan hidup yang tidak pernah mereka jalani.Elara menatap sosok dirinya sendiri.Rambut emas panjang tergerai hingga menyentuh lantai. Mahkota Matahari bertengger di atas kepalanya. Jubah putih keemasan menjuntai anggun, sementara di belakang punggungnya berputar dua belas lingkaran cahaya.Tidak ada luka, tidak ada air mata, tidak ada cincin pernikahan. Tatapannya tenang, namun kosong.Begitu kosong hingga membuat dada Elara sendiri terasa nyeri.Di sisi lain...Aelmon membeku. Di hadapannya berdiri Alpha lain, masih berambut hitam, masih bermata hijau, akan tetapi sorot matanya begitu dingin.

  • Hati liar sang Alpha   Gerbang Kelima: Tangan yang Tidak Dilepaskan

    Klang...Rantai-rantai hitam bergesekan perlahan.Suaranya panjang, berat, seolah berasal dari dasar dunia.Gerbang Kelima terbuka sedikit demi sedikit.Udara hangat yang mereka rasakan di Gerbang Keempat menghilang. Digantikan aroma tanah basah, dedaunan yang membusuk, dan embun yang terasa dingin saat menyentuh kulit.Di balik gerbang itu terbentang sebuah hutan.Sunyi.Pohon-pohonnya menjulang tinggi tanpa daun. Akar-akar raksasa mencengkeram tanah seperti jemari yang enggan melepaskan sesuatu.Tidak ada burung atau serangga. Hanya, suara napas mereka bertiga.Elara mengangkat ujung gaunnya sedikit agar tidak terseret lumpur. Gaun dewi yang semula bersih kini dipenuhi bercak tanah dan sobekan halus di bagian bawah. Rambut emasnya yang biasanya rapi mulai tergerai diterpa angin.Aelmon memperhatikannya beberapa saat.Tanpa berkata apa pun, ia berlutut.Elara berkedip.

  • Hati liar sang Alpha   Orang yang Menunggu

    Lorong batu itu lembap.Setiap tetes air yang jatuh dari langit-langit gua memantulkan cahaya keemasan yang samar.Tik...Tik...Tik...Suara itu menjadi irama perjalanan mereka.Tidak ada seorang pun yang terburu-buru.Setelah percakapan di depan gerbang, langkah Aelmon berubah.Ia masih menggenggam tangan Elara, tetapi tidak lagi sekuat sebelumnya.Bukan karena ingin melepaskan, melainkan karena ia mulai belajar. Belajar bahwa cinta bukan hanya tentang menggenggam erat, terkadang... ia juga harus memberi ruang agar orang yang dicintainya tetap dapat bernapas.Elara menyadari perubahan kecil itu.Perubahan yang mungkin tidak akan diperhatikan orang lain.Ia melirik jemari mereka. Masih saling bertaut, namun kini terasa jauh lebih nyaman.Tanpa sadar, Elara justru menyelipkan jemarinya lebih dalam di sela jari Aelmon.Alpha itu menoleh. "Kenapa?"Ela

  • Hati liar sang Alpha   Kakak yang Tidak Pernah Ada

    tap... tap... tap...Suara langkah itu tidak tergesa.Namun setiap pijakannya membuat pasir keemasan yang berhamburan di lantai perlahan melayang kembali ke udara.Ruangan menjadi sunyi.Bahkan tetesan air dari langit-langit gua ikut berhenti.Waktu...Seakan menundukkan kepalanya kepada seseorang.Kabut emas perlahan menyingkir.Seorang wanita muncul dari balik retakan jam pasir.Gaunnya panjang berwarna hitam keperakan, dihiasi benang-benang emas yang menyerupai gugusan bintang. Rambutnya terurai hingga menyentuh lantai, berwarna putih pucat dengan kilau kebiruan di ujungnya. Sebuah mahkota tipis dari ranting emas melingkar di kepalanya.Yang paling mencolok adalah matanya.Satu berwarna emas.Satunya lagi hitam pekat.Seolah siang dan malam dipaksa hidup dalam satu tubuh.Elara membeku."...Kau."Wanita itu tersenyum.Sudut

  • Hati liar sang Alpha   Gerbang Keempat: Lembah Waktu yang Terlupakan

    Kelopak bunga matahari itu masih berada di telapak tangan Elara.Warnanya keemasan.Hangat, seolah baru saja dipetik dari taman yang disinari matahari pagi.Padahal, si Dunia Bawah tidak ada matahari.Elara menatapnya cukup lama, lalu menggenggamnya perlahan."Masih hidup..." gumamnya. "Harapan..."Aelmon memperhatikan wajah istrinya.Sejak memasuki sembilan gerbang, ia mulai menyadari sesuatu. Semakin dekat Elara pada takdirnya, semakin jauh wanita itu darinya. Perasaan itu membuat dadanya sesak.Mereka berdiri di depan Gerbang Keempat. Rantai-rantai hitam melingkar pada pintu batu raksasa, sesekali bergetar mengeluarkan bunyi berat.Klang...Klang...Setiap denting terdengar seperti hitungan mundur.Rowan melangkah mendekat. "Belum dibuka?"Elara menggeleng. "Belum."Aelmon justru mundur satu langkah. Kemudian dua langkah, ia menatap pintu itu dengan mata yang dingin. "Aku tidak ingin masuk."Elara dan Rowan sama-sama menoleh. "Aelmon?"Alpha itu tidak menjawab. Ia hanya memandang r

  • Hati liar sang Alpha   Janji yang Tidak Pernah Mati.

    "...Belum pernah mati."Kalimat itu menggantung di atas jurang. Tidak ada angin, atau suara.Bahkan gema langkah mereka seakan ikut menghilang.Aelmon perlahan memalingkan wajah ke arah Elara."Apa kau mengingatnya?"Elara tidak langsung menjawab. Kelopak matanya tertutup perlahan, ia menarik napas panjang. Lalu menggeleng. "Aku tidak ingat wajahnya.""Tapi... aku ingat perasaannya." Suara itu lirih, seolah baru saja diambil dari tempat yang telah terkubur ribuan tahun.Penjaga Gerbang kembali muncul dari kabut."Sebutkan, siapa yang menerima sumpahmu?"Elara menatap sosok itu. "Aku tidak bisa. Karena aku tidak mengingat namanya.""Kalau begitu. gerbang tidak akan terbuka."Retakan mulai menjalar.Krrrkk...Jembatan berguncang. Batu-batu di bawah kaki mereka bergeser, jurang hitam menganga semakin lebar.Rowan mencabut pedangnya. "Apa kita lawan saja?"Penjaga Gerbang menggeleng. "Pedang tidak dapat melukai janji.""Dan kekuatan tidak dapat mengalahkan penyesalan."Elara memejamkan ma

  • Hati liar sang Alpha   Batas yang mulai retak.

    Selamat membaca.Latihan tidak berhenti. Hari demi hari, Elara kembali ke lingkaran batu itu. Mengulang hal yang sama. Menghadapi hal yang sama. Dan setiap kali itu terjadi, Rasa sakitnya tidak pernah benar-benar berkurang.***“Fokus.”Suara Lyria tenang, namun tegas. Elara berdiri di tengah lingk

  • Hati liar sang Alpha   Latihan yang Mengoyak Jiwa.

    Selamat membaca.Keputusan itu tidak terasa seperti kemenangan. Lebih seperti… hukuman yang dipilih sendiri.Elara berdiri di tengah lingkaran batu di bagian terdalam wilayah pack, rempat yang jarang digunakan, kecuali untuk latihan yang berbahaya. ***Hari masih pagi. Namun udara sudah terasa ber

  • Hati liar sang Alpha   Perang yang tidak bisa dihindari

    Selamat membaca.Kata itu terus terngiang di kepala Elara, 'Perang' Bukan lagi kemungkinan, bukan lagi ancaman jauh. Tapi sesuatu yang, sedang dipersiapkan.Di depan matanya.***“Apa maksudnya perang?”Elara langsung menyusul Aelmon, langkahnya cepat menyamai langkah panjangnya. Ia tidak berhenti

  • Hati liar sang Alpha   Yang mulai menjauh

    Selamat membaca.Pagi di Lunaris terasa berbeda. Bukan karena langit, bukan juga karena udara. Tapi karena jarak.Elara merasakannya sejak membuka mata, sesuatu telah berubah. Dan Elara tahu persis apa itu.Aelmon.Elara keluar dari kamarnya lebih awal dari biasanya. Lorong sudah mulai ramai, angg

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status