Início / Fantasi / Hati liar sang Alpha / Pilihan yang membakar bumi

Compartilhar

Pilihan yang membakar bumi

Autor: Chatrin
last update Data de publicação: 2026-04-10 15:03:10

Selamat membaca.

"Akar itu menekan dadaku." Dingin, berat dan hidup. Seolah bumi sendiri sedang mencoba menelannya perlahan.

Napas tercekat. Jantung Elara berdebar kacau, namun di balik rasa takut itu, ada sesuatu yang terus meletus, berjalan-jalan tanpa arah dalam dirinya.

Cahaya. Seperti listrik yang mencari keselarasan.

Bukan sekadar refleks. Bukan lagi ledakan kacau, Tapi kesadaran akan kemampuannya.

Elara menutup mata sejenak. Suara Aelmon terdengar samar di kejauhan, “Lunae, jangan!”

"Aku
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Hati liar sang Alpha   Jalan Menuju Dunia Manusia

    Hujan belum berhenti.Kabut tipis menyelimuti Lunaris sejak pagi, membuat seluruh lembah tampak pucat dan dingin. Langit retak di atas sana masih menggantung seperti luka besar yang tidak bisa sembuh.Dan suasana pack jauh lebih buruk dibanding cuaca.Aula utama Lunaris dipenuhi ketegangan.Lyra menyebarkan gulungan tua dan botol-botol ramuan di atas meja panjang dengan wajah frustrasi. Rambut merahnya diikat asal, sementara lingkar hitam samar mulai terlihat di bawah matanya karena tidak tidur semalaman.Sylas berdiri di dekat jendela batu sambil membaca buku tua yang sudah hampir hancur.Sedangkan Aelmon, masih berdiri terlalu dekat dengan Elara.Seolah Kaelum akan menculik istrinya kapan saja jika ia lengah.Elara duduk di kursi besar dekat perapian dengan selimut gelap menyelimuti tubuhnya. Demamnya sedikit turun, namun kulitnya masih terasa panas dan cahaya samar kadang muncul di jemarinya tanpa kendali.Itu membuat Aelmon semakin gelisah.Dan Kaelum terlihat terlalu tenang melih

  • Hati liar sang Alpha   Istri Alpha atau Dewi Matahari

    Hujan turun sejak dini hari.Rintiknya membentur atap kayu Lunaris perlahan, menciptakan suara tenang yang biasanya menenangkan. Kabut tipis menyelimuti lembah, sementara langit retak di atas sana tampak lebih redup dibanding malam sebelumnya.Namun kamar Alpha justru terasa semakin sesak.Elara masih demam.Tubuh manusianya terasa lemah sejak semalam, meski Lyra sudah memaksanya meminum tiga jenis ramuan berbeda yang rasanya mengerikan.Kini ia duduk bersandar di ranjang besar Aelmon, dibungkus selimut tebal berwarna gelap. Rambut panjangnya sedikit berantakan, pipinya pucat karena panas tubuh yang belum turun sepenuhnya.Sedangkan Aelmon—Masih duduk terlalu dekat.Tangannya memegang jemari Elara sejak tadi pagi seolah takut gadis itu menghilang hanya karena ia lengah sesaat.“Aku benar-benar bisa bernapas sendiri.”Suara Elara masih sedikit serak karena demam.Kael tidak melepaskan tangannya.“Aku tahu.”“Lalu kenapa kau terus menatapku seperti pasien sekarat?”Tatapan emas Aelmon t

  • Hati liar sang Alpha   Ketakutan yang Yidak Bisa Dijelaskan Serigala

    Malam berubah menjadi dini hari.Kabut tipis turun menyelimuti Lunaris, membuat seluruh lembah tampak pucat di bawah cahaya bulan yang tertutup awan. Angin membawa aroma pinus basah dan sisa hujan dari utara.Udara semakin dingin. Dan tubuh manusia Elara mulai merasakannya.Saat kembali ke kamar Aelmon, langkah Elara sudah melambat. Pipi dan ujung hidungnya memerah karena udara malam, sementara jemarinya terasa dingin meski masih dibungkus mantel hitam milik Aelmon yang terlalu besar untuk tubuhnya.Di bawah mantel itu, Elara mengenakan gaun tidur sederhana berwarna putih pucat dengan lengan panjang tipis. Rambutnya yang panjang jatuh berantakan di bahu akibat angin malam.Sedangkan Aelmon masih mengenakan pakaian hitam khas Alpha Lunaris. Kemeja gelap dengan kerah sedikit terbuka di bagian leher, celana panjang hitam, serta mantel tebal berbulu abu gelap yang kini dipakai Elara.Dan untuk pertama kalinya, Aelmon terlihat benar-benar tenang hanya karena melihat Elara berjalan di sampi

  • Hati liar sang Alpha   Rumah yang Dipilih Hati

    Cahaya Helior perlahan menghilang bersama angin malam. Meninggalkan keheningan yang terasa aneh di antara pepohonan Lunaris.Elara masih berdiri diam. Jantungnya belum tenang, Karena kata-kata terakhir Helior terlalu manusiawi untuk seorang dewa.Aku hanya ingin menjadi rumahmu lebih dulu...Aelmon memperhatikan wajah Elara beberapa detik.Lalu tanpa banyak bicara ia melepas mantelnya dan menyampirkannya di bahu Elara pelan.Gerakan sederhana, namun cukup membuat Elara kembali sadar pada keberadaannya. Berbeda dari cahaya Helior yang terasa terlalu jauh untuk disentuh.“Kau memikirkannya.” Suara Aelmon rendah, Jelas sekali ia tidak menyukai fakta bahwa Helior berhasil meninggalkan sesuatu di pikiran Elara.Elara menunduk sedikit. “Aku cuma…” Ia kesulitan mencari kata yang tepat. Karena apa yang ia rasakan sekarang terlalu rumit.Aelmon menghela napas pelan. Lalu mendekat, “Tanya saja.”Elara mengangkat kepala perlahan, dan setelah beberapa detik ragu, “Kalau seseorang datang lebih dul

  • Hati liar sang Alpha   Yang Seharusnya Tinggal di Hatinya.

    Malam semakin larut. Namun Elara tidak bisa tidur.Kata-kata Helior terus berputar di kepalanya seperti bisikan yang tidak mau pergi.Semakin dia mencintaimu… semakin mudah dunia ini hancur.Api kecil di perapian kamar Aelon mulai mengecil, meninggalkan cahaya redup keemasan yang bergerak pelan di dinding batu.Di sampingnya, Aelmon akhirnya tertidur.Meski satu tangannya masih melingkar di pinggang Elara seolah bahkan dalam tidur pun pria itu takut dirinya menghilang lagi.Elara menatap wajahnya diam-diam, tenang, lelah dan entah kenapa itu membuat dadanya semakin sesak. Karena semua orang terus mengatakan bahwa dirinya adalah awal bencana. 'Aku bencana' batin Elara, dadanya terasa nyeri.Namun saat melihat Aelmon seperti ini, Elara justru hanya melihat seseorang yang terlalu tulus mencintainya.Pelan-pelan Elara bergerak turun dari ranjang agar tidak membangunkan Aelmon, tapi baru satu langkah suara rendah pria it

  • Hati liar sang Alpha   Hal yang Tidak Bisa Dikuasai Alpha

    Lunaris menjadi sunyi.Hanya suara napas berat serigala hitam besar di tengah lembah yang masih terdengar di bawah langit retak.Semua orang diam. Karena tidak ada yang pernah melihat Kael kehilangan kendali sejauh ini sebelumnya.Dan lebih tidak masuk akal lagi, hanya Elara yang bisa menghentikannya.Elara masih berdiri di depan Aelmon, tangannya menyentuh bulu hitam tebal di wajah serigala itu pelan, meski tubuhnya sendiri masih gemetar akibat tekanan aura Alpha yang belum sepenuhnya stabil. Namun perlahan, geraman rendah Aelmon mulai mereda.Mata hijau liar itu tetap menatap Elara. “Bagus…” gumam Asterion pelan dari belakang. “Terus bicara padanya.”Elara menelan ludah kecil. Lalu mengusap bulu Aelmon perlahan. “Ael…” Suaranya lembut, penuh kehati-hatian. Seolah berbicara pada sesuatu yang terluka. “Aku baik-baik saja.”Serigala besar itu bergerak sedikit mendekat. Hidungnya menyentuh bahu Elara pelan. Dan saat itu juga, tekanan mengerikan yang memenuhi seluruh lembah mulai turun

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status