MasukHujan turun saat malam semakin dalam.Bukan hujan deras.Namun cukup untuk membuat tanah Lunaris basah dan udara dipenuhi aroma dingin yang menusuk paru-paru. Langit retak di atas mereka memantulkan kilatan cahaya pucat setiap beberapa menit, membuat seluruh hutan terlihat asing.Aelmon berdiri di gerbang wilayah pack.Tubuhnya diam. Namun auranya tidak, tekanan Alpha menyebar liar ke seluruh penjuru lembah, membuat semua serigala di sekitar secara naluriah menundukkan kepala.Bahkan Rowan, jarang sekali melihat Aelmon seperti ini.Bukan hanya marah. Namun kehilangan sesuatu yang menjadi pusat kendalinya. Dan itu membuat Alpha mereka… berbahaya.“Aku ikut.”Suara Asterion datang dari belakang.Aelmon tidak menoleh. “Aku tidak meminta bantuanmu.”“Dan aku tidak meminta izin.”Nada suara Asterion tetap tenang. Namun matanya serius, "Lunae tidak mengenal hutan luar. Kalau dia terus berjalan tanpa arah, wilayah utara bisa menelannya hidup-hidup.”Hening.Aelmon tahu itu benar. Namun em
Sunyi Sepi. Itu hal pertama yang dirasakan Aelmon.Bukan kepanikan atau amarah yang menjadi-jadi. Namun hening yang terlalu kosong hingga terasa menyakitkan.Matanya terpaku pada anggota pack di depannya, seolah otaknya menolak memahami kata-kata itu.Elara menghilang.Tidak.Tidak mungkin.Aelmon bergerak. Terlalu cepat hingga kursi di belakangnya terbalik menghantam lantai batu. Aura Alpha langsung meledak memenuhi aula.Tekanan liar menyapu seluruh ruangan hingga beberapa anggota pack refleks menundukkan kepala.Rowan langsung berdiri.“Aelmon..., ”Namun pria itu sudah pergi. Langkahnya bergema keras di koridor batu menuju kamar Elara.Pintu terbuka kasar. Dan untuk pertama kalinya sejak Elara datang ke Lunaris, Ruangan itu terasa benar-benar kosong.Tidak ada napas lembut, tidak ada aroma bunga liar yang selalu tertinggal di selimut Dan tidak ada suara kecil yang biasanya memanggil namanya pelan.Hanya, sunyi.Tap... tap... tap...Aelmon berjalan masuk perlahan. Namun setiap lang
Pagi itu terlalu sunyi.Tidak ada suara tawa, tidak ada teriakan Lyra yang biasanya memaksa anggota pack bekerja lebih cepat. Atau keluhan.Bahkan angin terasa bergerak lebih lambat di antara pepohonan Lunaris.Seolah seluruh lembah, menahan napas.Kael terbangun lebih dulu.Tangannya masih melingkari Elara yang tertidur di sampingnya. Gadis itu tampak lebih tenang malam tadi, napasnya pelan dan hangat di dekat dadanya. Tanpa sehelai pakaian pun.Untuk beberapa saat, Aelmon hanya diam menatapnya.Mengingat bagaimana Elara memerah setiap kali ia menggoda sedikit saja semalam. Dan bagaimana suara nafas indah itu keluar tanpa beban.Dan tanpa sadar, Senyum kecil muncul di sudut bibirnya."Arg..."Namun ketenangan itu tidak bertahan lama. Jeritan terdengar dari luar, Keras, penuh ketakutan. Dan langsung membuat seluruh tubuh Aelmon menegang.Elara juga ikut terbangun dari tidurnya.Beberapa menit kemudian, seluruh pack berkumpul di area bunga liar tempat Aelmon dan Elara bertukar cincin s
Malam semakin larut.Api unggun di tengah Lunaris mulai mengecil, menyisakan bara merah yang berpendar pelan di antara kayu-kayu hangus. Tawa para anggota pack perlahan mereda, digantikan suara angin malam dan langkah kaki yang mulai menjauh menuju tempat istirahat masing-masing.Namun wajah Elara masih panas, sangat panas. Penyebabnya duduk tepat di sampingnya dengan ekspresi terlalu tenang.Aelmon.“Aku membencimu.” Gumaman Elara membuat Aelmon menoleh perlahan.“Karena?”“Kau sengaja mengatakan itu di depan semua orang.”Aelmon mengangkat alis sedikit. “Aku hanya membicarakan tradisi manusia.” ujarnya.“Kau membicarakannya sambil menatapku seperti itu.”“Seperti apa?” godanya menatap mata Elara, Namun sesekali menatap bibir pengantin di sampingnya itu.Deg....Elara langsung kehilangan kata-kata, karena masalahnya justru itu.Tatapan Aelmon terlalu tenang. Terlalu dalam, seolah pria itu benar-benar menikmati setiap reaksi kecil yang Elara berikan.Dan itu membuatnya semakin malu.A
Pagi di Lunaris dimulai dengan kekacauan. Bukan karena monster, atau karena serangan.Namun karena satu orang.Lyra.“Apa maksudmu kain putihnya habis?!”Suara Lyra menggema di seluruh area pack sejak matahari bahkan belum sepenuhnya naik. Para anggota yang biasanya tenang sekarang mondar-mandir membawa kayu, bunga liar, kain, bahkan lilin.Rowan berdiri di tengah kekacauan itu dengan wajah kosong.Ia menatap Asterion yang masih berada di balik jeruji batu bawah tanah.Lalu menatap Lira di sel sebelah. Lalu kembali ke luar,ke tempat Lyra sedang berteriak pada tiga anggota pack sekaligus.“…apa aku melewatkan sesuatu?” gumamnya.“Kurasa Lyra kehilangan akal sehatnya,” jawab Lira datar dari dalam sel.“Akhirnya kau sadar,” sahut Asterion santai.Lira langsung menendang jerujinya sendiri karena kesal.Lyra berjalan cepat sambil membawa tumpukan bunga putih di tangannya.Rambutnya sedikit berantakan, matanya tidak tidur. Dan untuk pertama kalinya, aura penyembuh tenangnya hilang total.
Malam di Lunaris tidak pernah benar-benar tenang lagi.Setelah pertengkaran di reruntuhan tua itu, udara pack dipenuhi ketegangan yang tidak terlihat. Para anggota berjalan lebih pelan, berbicara lebih lirih, seolah suara yang terlalu keras bisa memicu sesuatu yang lebih buruk.Langit di atas mereka terus retak.Dan setiap denyut cahayanya terasa seperti hitungan mundur.***Di gerbang wilayah utara, Seekor serigala abu gelap berlari cepat menembus kabut malam.Tubuhnya besar, gerakannya ringan namun penuh kewaspadaan. Mata peraknya tajam, mengamati setiap perubahan kecil di sekitar hutan.Sylas Thornridge, Gamma Lunaris.Dan orang yang selama ini menjaga perbatasan terluar pack.Tubuhnya berubah kembali menjadi manusia saat ia melompati batu besar di dekat area belakang lembah. Napasnya stabil, mantel hitamnya sedikit basah oleh embun malam.Ia baru kembali setelah patroli panjang, Namun sesuatu langsung terasa salah.Terlalu sunyi dan terlalu berat.Langkah Sylas melambat saat ia me





![Thai Qu Cing Si Anak Kotoran 2 [Penyembuh yang Terkutuk]](https://www.goodnovel.com/pcdist/src/assets/images/book/43949cad-default_cover.png)

