로그인Malam semakin larut.Api unggun di tengah Lunaris mulai mengecil, menyisakan bara merah yang berpendar pelan di antara kayu-kayu hangus. Tawa para anggota pack perlahan mereda, digantikan suara angin malam dan langkah kaki yang mulai menjauh menuju tempat istirahat masing-masing.Namun wajah Elara masih panas, sangat panas. Penyebabnya duduk tepat di sampingnya dengan ekspresi terlalu tenang.Aelmon.“Aku membencimu.” Gumaman Elara membuat Aelmon menoleh perlahan.“Karena?”“Kau sengaja mengatakan itu di depan semua orang.”Aelmon mengangkat alis sedikit. “Aku hanya membicarakan tradisi manusia.” ujarnya.“Kau membicarakannya sambil menatapku seperti itu.”“Seperti apa?” godanya menatap mata Elara, Namun sesekali menatap bibir pengantin di sampingnya itu.Deg....Elara langsung kehilangan kata-kata, karena masalahnya justru itu.Tatapan Aelmon terlalu tenang. Terlalu dalam, seolah pria itu benar-benar menikmati setiap reaksi kecil yang Elara berikan.Dan itu membuatnya semakin malu.A
Pagi di Lunaris dimulai dengan kekacauan. Bukan karena monster, atau karena serangan.Namun karena satu orang.Lyra.“Apa maksudmu kain putihnya habis?!”Suara Lyra menggema di seluruh area pack sejak matahari bahkan belum sepenuhnya naik. Para anggota yang biasanya tenang sekarang mondar-mandir membawa kayu, bunga liar, kain, bahkan lilin.Rowan berdiri di tengah kekacauan itu dengan wajah kosong.Ia menatap Asterion yang masih berada di balik jeruji batu bawah tanah.Lalu menatap Lira di sel sebelah. Lalu kembali ke luar,ke tempat Lyra sedang berteriak pada tiga anggota pack sekaligus.“…apa aku melewatkan sesuatu?” gumamnya.“Kurasa Lyra kehilangan akal sehatnya,” jawab Lira datar dari dalam sel.“Akhirnya kau sadar,” sahut Asterion santai.Lira langsung menendang jerujinya sendiri karena kesal.Lyra berjalan cepat sambil membawa tumpukan bunga putih di tangannya.Rambutnya sedikit berantakan, matanya tidak tidur. Dan untuk pertama kalinya, aura penyembuh tenangnya hilang total.
Malam di Lunaris tidak pernah benar-benar tenang lagi.Setelah pertengkaran di reruntuhan tua itu, udara pack dipenuhi ketegangan yang tidak terlihat. Para anggota berjalan lebih pelan, berbicara lebih lirih, seolah suara yang terlalu keras bisa memicu sesuatu yang lebih buruk.Langit di atas mereka terus retak.Dan setiap denyut cahayanya terasa seperti hitungan mundur.***Di gerbang wilayah utara, Seekor serigala abu gelap berlari cepat menembus kabut malam.Tubuhnya besar, gerakannya ringan namun penuh kewaspadaan. Mata peraknya tajam, mengamati setiap perubahan kecil di sekitar hutan.Sylas Thornridge, Gamma Lunaris.Dan orang yang selama ini menjaga perbatasan terluar pack.Tubuhnya berubah kembali menjadi manusia saat ia melompati batu besar di dekat area belakang lembah. Napasnya stabil, mantel hitamnya sedikit basah oleh embun malam.Ia baru kembali setelah patroli panjang, Namun sesuatu langsung terasa salah.Terlalu sunyi dan terlalu berat.Langkah Sylas melambat saat ia me
Malam terasa lebih dingin setelah pertengkaran itu.Kabut turun tebal di sekitar reruntuhan tua, membungkus pepohonan dan tanah dalam sunyi yang menekan. Langit di atas Lunaris kembali berdenyut pelan, retakan-retakannya memancarkan cahaya pucat seperti luka yang tidak pernah benar-benar menutup.Dan di tengah reruntuhan itu, Elara masih berdiri diam.Napasnya belum sepenuhnya stabil. Matanya masih basah, sementara Aelmon berdiri beberapa langkah di depannya, rahangnya mengeras, tangannya mengepal kuat di sisi tubuhnya.Tidak ada yang bicara.Namun emosi di antara mereka terlalu besar untuk disebut hening.Drap... drap... drap...Langkah cepat terdengar dari luar.Rowan muncul lebih dulu, disusul Lira dan beberapa anggota pack lain. Mereka langsung merasakan sesuatu yang salah bahkan sebelum melihat ekspresi Aelmon.Dan saat pandangan Rowan jatuh pada buku yang sudah hancur di lantai.Ia menutup mata sebentar. Seolah sudah tahu hari ini akan datang.“Akhirnya ketemu juga,” gumamnya pe
Suara langkah kaki terdengar ringan di sepanjang jalan, suara senandung juga ikut melengkapi.Kabut turun lebih cepat malam itu.Hutan Lunaris dipenuhi cahaya bulan pucat yang menembus sela pepohonan tinggi, menciptakan bayangan panjang di tanah. Udara dingin, namun tidak menusuk. Hanya saja, terlalu sunyi.Elara berjalan sendirian. Awalnya ia hanya ingin mencari udara segar, setelah berhari-hari berada di sekitar pack, mendengar diskusi para tetua, merasakan tatapan khawatir semua orang… kepalanya terasa terlalu penuh. Apalagi Aelmon terus menariknya ke dalam tenda.Ia butuh diam. Di saat Aelmon sedang pergi bersama Rowan untuk memeriksa batas wilayah, meski Rowan harus memaksa Aplhanya itu yang seperti akan memakan Rowan karena Elara tidak ikut.Tapi akhirnya ia mengalah juga.Jadi Elara pergi sendiri. Daun-daun kering berderak pelan di bawah langkahnya.Ia terus berjalan tanpa benar-benar memperhatikan arah. Cahaya bulan membuat semuanya terlihat sama, pepohonan, batu, jalan kecil
Keesokan harinya, Elara benar-benar tidak keluar selama seharian karena ulah Aelmon. Seharian ia hanya menatap cermin dengan bekas gigitan pria itu di lehernya, belum lagi bibirnya yang sedikit terluka.Hingga sore tiba, Langit masih menyimpan retakan yang sama, namun cahaya keemasannya jatuh lebih hangat di tanah Lunaris. Angin bergerak pelan, tidak lagi membawa tekanan, hanya sisa dingin yang mulai terbiasa.Elara duduk di atas batu datar. Tangannya masih berada dalam genggaman Aelmon. Jari mereka saling bertaut, tidak lagi canggung, tidak lagi ragu. Sesekali ibu jari Aelmon bergerak pelan di punggung tangan Elara, gerakan kecil, namun cukup untuk membuat Elara sadar… ia tidak sendirian.Kenapa dia diajak keluar?Ia melirik Aelmon. “Kalau kau terus menatapnya seperti itu, dia bisa salah paham.”Suara Lira datang dari belakang.Lunae menoleh sedangkan Aelmon tidak. Namun rahangnya sedikit mengeras.Lira berdiri beberapa langkah dari mereka, tangan disilangkan, ekspresinya seperti bi







